
Bu Rahma dan yang lain akhirnya tiba di rumah setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam.
Nadhifa berjalan beriringan dengan Revan, dengan tangan yang saling bertautan.
Barang bawaan Nadhifa sudah di bawa masuk oleh Reno, di bantu pak Ratno.
Gadis itu memandangi rumah besar yang ada di hadapannya, rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya, di sana terlihat beberapa tanaman bunga yang menghiasi halaman.
Bu Rahma mendekati Nadhifa.
"Ayo sayang, kita masuk" ucap Bu Rahma.
"Iya"sahut Nadhifa.
Nadhifa berjalan disamping Revan, mengikuti langkah kaki mertuanya itu.
Terlihat wanita paruh baya menghampiri mereka dengan senyuman lebar.
"Nadhifa, ini namanya bik Minah, beliau adalah asisten rumah tangga disini" ucap Bu Rahma.
"Iya Bu, perkenalkan saya Nadhifa" ucap Nadhifa lembut dengan menyalami tangan bik Minah.
Bik Minah tersentak dengan perlakuan majikan barunya itu. Bik Minah buru-buru melepaskan tangannya.
"Maaf non, tangan saya kotor" sesal bik Minah.
"Tidak apa-apa bik" ucap Nadhifa.
"Non Nadhifa cantik banget" puji bik Minah.
"Terima kasih bik" sahut Nadhifa.
Mereka duduk di sofa setelah bik Minah pamit ke dapur untuk membuat Minuman yang sudah diminta.
Nadhifa duduk dengan Canggung di samping Revan, membiarkan keluarga Revan berbincang ringan, sesekali menjawab saat ada pertanyaan yang diajukan padanya.
"Dhifa, kamu tidak perlu sungkan, sekarang kita adalah keluarga" ucap Bu Rahma.
"Iya Bu" ucap Nadhifa.
"Jangan panggil ibu sayang, Sekarang kamu harus panggil mama, seperti anak mama yang lain," pinta Bu Rahma.
"I..iya ma" ujar Nadhifa ragu-ragu.
Bu Rahma tersenyum melihat Nadhifa yang masih Canggung berkumpul dengan keluarga barunya
Bikk Minah datang membawa nampan di tangannya dan mempersilahkan para majikannya untuk minum.
"Kami pamit ke atas dulu ya" ucap si kembar.
"Iya ma, kami juga mau ke atas , ingin mandi, badan sudah terasa lengket" ucap Ranti.
"Ya sudah, kalau begitu kalian masuklah ke atas" titah Bu Rahma.
Merekapun pergi meninggalkan Bu Rahma bersama Nadhifa dan Revan.
"Revan, bawalah istrimu ke atas" ucap Bu Rahma.
"Iya ma" jawab Revan.
" Bu...eh..ma, kami ke atas dulu ya" pamit Nadhifa.
"Iya nak, istirahatlah" ucap Bu Rahma.
Revan dan Nadhifa berjalan menuju kamar Revan, gadis itu berjalan dibelakang Revan.
Revan menghentikan langkahnya kemudian menoleh menghadap Nadhifa.
Revan tersenyum dan menggandeng tangan Nadhifa.
Nadhifa tersipu saat Revan menggandeng tangannya, mereka berjalan melewati tangga.
Saat Mereka berdua sudah sampai didepan kamar, Revan melepaskan tangan Nadhifa dan mulai membuka pintu kamarnya.
Pria itu masuk ke dalam kamar sedangkan Nadhifa masih menunggu diluar.
Revan menyadari jika istrinya masih ada diluar, kemudian menarik tangan Nadhifa lembut.
"Ayo, masuklah" Tutur Revan lembut.
__ADS_1
"I..iya mas" jawab Nadhifa pelan.
Mereka memasuki kamar yang sudah dihias dengan sangat indah, terdapat kelopak bunga mawar yang berbentuk love di atas ranjang, lampu kamar yang terlihat redup, menambah kesan romantis di ruangan itu.
Revan terbelalak melihat pemandangan di depannya, tak menyangka jika mamanya menyiapkan ini semua untuk mereka, pantas saja semalam bu Rahma meminta Revan untuk tidur di kamar tamu.
Revan tersenyum melihat Nadhifa yang juga terbelalak melihat pemandangan indah di kamar itu.
"Ayo" ajak Revan dengan menarik tangan Nadhifa lembut dan mendudukkannya di atas ranjang indah itu, membuat Nadhifa semakin gugup.
Pria itu duduk di samping Nadhifa yang masih setia menunduk, perlahan ia menarik dagu Nadhifa membuat wajah Nadhifa terlihat jelas di matanya.
"Kenapa kamu selalu menunduk Dhifa? Apa kamu takut?" Tanya Revan serius
"Ma..maaf mas..aku sungguh gugup" jawab Nadhifa terbata dengan memberikan diri menatap wajah tampan suaminya itu.
Revan tersenyum mendengar ucapan polos istrinya itu.
"Tenang saja dhifa, aku tidak akan melakukan sesuatu padamu" tutur Revan lembut dengan mengelus puncak kepala istrinya itu.
Nadhifa tersenyum manis mendengar penuturan Revan, mungkin Revan mengetahui jika dirinya masih belum terbiasa berdekatan seperti ini.
"Tapi bolehkah aku melakukan satu hal padamu?" Tanya Revan.
"A...apa mas?" sahut Nadhifa terbata.
Revan tidak menjawab pertanyaan Nadhifa, Revan mendekati Nadhifa dan memegang ubun-ubun Nadhifa untuk membacakan doa yang dianjurkan.
Nadhifa memejamkan matanya saat Revan membacakan doa untuknya dan mengamini doa itu dalam hati.
Saat melihat mata Nadhifa terpejam, Revan menarik wajah Nadhifa supaya lebih dekat, dan mengecup kening Nadhifa lebih lama daripada waktu di panti.
Gadis cantik itu terdiam menikmati kehangatan bibir Revan di keningnya, tak dapat dipungkiri jika dia merasa tenang saat Revan melakukan hal itu.
Revan melepaskan kecupannya melihat wajah Nadhifa yang memerah,ia tersenyum melihat Nadhifa yang masih malu-malu saat didepannya.
"Ayo kita sholat ashar dulu, setelah itu kita bisa beristirahat" ucap Revan.
"Iya mas, mas Revan duluan saja" jawab Nadhifa.
" Baiklah" Revan berjalan menuju lemari dan mengambil perlengkapan sholat yang memang terpisah dengan pakaian yang lain.
"Mas" seru Nadhifa membuat Revan menghentikan tangannya untuk mengambil pakaiannya.
"Boleh Dhifa bantu?" Ucap Nadhifa pelan.
Revan mengangguk dan mempersilahkan istrinya untuk memilihkan pakaian untuknya.
Nadhifa mengambil baju Koko dan sarung dan diberikan kepada Revan, Revan tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Terima kasih" ucap Revan sambil mengelus kepala Nadhifa yang berbalut hijab.
Revan berlalu masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Nadhifa yang menyentuh dadanya karena merasakan getaran hebat saat berada di samping Revan.
"Kenapa aku jadi deg degan seperti ini?" ucap Nadhifa.
Nadhifa menggelar karpet dan menyiapkan dua sajadah yang akan digunakan untuk sholat bersama suaminya, tak lupa mukena yang akan dipakai.
ia duduk di atas ranjang, memperhatikan isi kamar Revan, kamar Revan cukup besar dengan dinding kombinasi warna navy dan abu-abu.
"Ternyata warna favorit kita sama mas" ucap Nadhifa pelan.
Ia berdiri dan melihat dinding dan menemukan foto Revan yang sedang memakai baju toga ditemani mama dan adik-adiknya membuat Nadhifa tersenyum simpul.
"Mas Revan sepertinya sangat menyayangi keluarganya" ucap Nadhifa.
Saat dirasa cukup, Nadhifa kembali duduk di ranjang, tak lama Revan keluar dari kamar mandi, dan mempersilahkan Nadhifa masuk ke kamar mandi.
Setelah menunggu selama 10 menit, Nadhifa keluar dengan gamis berwarna abu-abu tua dan juga kerudung instan bermotif kotak-kotak di kepalanya.
Nadhifa langsung menghampiri Revan yang masih duduk menunggunya, ia memakai mukena, setelah Nadhifa sudah siap Revan mengumandangkan Iqamah.
Hati Nadhifa menghangat saat melakukan ibadah bersama suaminya.
Mereka berdua sholat dengan khusyuk, melanjutkan bacaan dan berdoa.
Nadhifa mengamini doa yang dipanjatkan suaminya, tak terasa Nadhifa meneteskan bulir-bulir air mata karena impiannya menjadi kenyataan.
Revan membalikkan badan setelah berdoa, dan melihat Nadhifa yang mengusap pipinya.
__ADS_1
"Ada apa ?" Tanya Revan dengan membelai lembut kepala Nadhifa.
"Tidak ada apa-apa mas, aku hanya merasa terharu " ucap Nadhifa dengan menatap wajah tampan suaminya.
Revan tersenyum mendengar penuturan istrinya, Revan mengelus pipi Nadhifa yang basah karena air mata membuat Nadhifa memejamkan mata menikmati sentuhan hangat Revan di pipinya.
"Apa kamu terharu karna kita bisa sholat bersama?" Tanya Revan.
Nadhifa mengangguk kepala.
"Aku selalu bermimpi bisa sholat bersama dengan suamiku, dan akhirnya mimpiku ini jadi nyata" ungkap Nadhifa jujur.
"Boleh aku memelukmu?" Tanya Revan hati-hati, entah kenapa Revan ingin sekali memeluk Nadhifa.
"I..iya" jawab Nadhifa kaku.
Revan memeluk Nadhifa dengan erat, membuat Nadhifa memejamkan mata, merasakan pelukan hangat suaminya.
Nadhifa tersenyum karena merasa nyaman saat dekat dengan Revan, tak terasa Nadhifa membalas pelukannya membuat Revan tersenyum.
Revan menguraikan pelukan dan menatap wajah istrinya yang memerah itu.
"Ayo kita istirahat saja" ucap Revan.
Nadhifa mengangguk,melepaskan mukena dan meletakkannya di tempat yang sama dimana Revan meletakkan baju Koko dan sarungnya.
Revan berganti pakaian dengan kaos dan celana pendek di kamar mandi, lalu dia menghampiri Nadhifa yang masih duduk di ranjang, dan mengajaknya berbaring.
"Ayo kita tiduran saja" ajak Revan.
Nadhifa tampak ragu untuk berbaring, membuat Revan gemas.
"Ayo Dhifa, aku tak akan macam-macam" ajak Revan lagi membuat Nadhifa tak enak hati dan menuruti ajakan suaminya.
Revan dan Nadhifa berbaring di atas ranjang yang berhiaskan bunga mawar, mereka menghadap ke atas langit-langit kamar, merasakan rasa nyaman saat tubuh berbaring di atas kasur yang cukup besar, apalagi dengan wangi bunga mawar yang memenuhi hawa di ruangan itu.
Nadhifa memejamkan mata, menghirup aroma mawar yang menenangkan setelah melihat suaminya yang melakukan hal yang sama.
Tak lama Revan membuka kedua mata, dan memiringkan badan untuk menghadap Nadhifa yang masih setia terpejam.
"Dhifa " ucap Revan pelan.
Mendengar ucapan suaminya itu Nadhifa langsung membuka kedua matanya dan Menolehkan kepala menghadap Revan.
"Iya mas, ada apa ?" Tanya Nadhifa gugup.
"Apa kamu suka dengan kamarku?" Ucap Revan.
Nadhifa mengernyitkan dahi mendengar ucapan suaminya.
"Maksudku, jika kamu tidak suka warna cat atau yang lain kita bisa menggantinya" jelas Revan.
"Tidak apa mas, aku suka" ucap Nadhifa.
"Benarkah?" Tanya Revan lagi.
"Iya mas, lagi pula warnanya sangat bagus, aku sangat menyukainya" Jawab Revan.
"Baiklah kalau begitu, jika ada yang kamu tak suka, bilang saja padaku" pesan Revan.
"Iya mas" ucap Nadhifa.
Keduanya terdiam, merasa sangat canggung saat mereka berdua seperti ini, apalagi dengan status baru mereka yang sudah sah menjadi suami-istri.
"Dhifa" ucap Revan.
"Iya mas" sahut Nadhifa.
"Aku tahu, kamu tidak terbiasa berjauhan dengan orang-orang panti, tapi percayalah Keluargaku adalah orang baik, jika kamu mau kesana, aku bisa mengantarmu" tutur Revan lembut.
"Uya mas, terima kasih" ucap Nadhifa tulus.
Nadhifa sangat senang karena Revan selalu ingin membuatnya nyaman di lingkungan barunya, ia merasa sangat beruntung menjadi istri seorang Revano Aditya yang sangat lembut dan pengertian.
"Kalau begitu, aku akan ke kamar mandi dulu, sebentar lagi kita akan ke bawah dan sholat berjamaah di mushola bersama yang lain" ucap Revan.
"Uya mas". Sahut Nadhifa.
Revan memasuki kamar mandi dengan membawa pakaian sholat dan memakainya di sana.
__ADS_1
Setelah Revan keluar, Nadhifa langsung memasuki kamar mandi untuk berwudhu, membiarkan Revan yang ingin menunggunya.
Nadhifa dan Revan berjalan beriringan menuruni tangga menuju mushola untuk menunggu keluarga Revan yang lain.