
Nadhifa membuka matanya dengan perlahan, pipinya merona saat menyadari bahwa ia tengah berada dalam pelukan hangat suaminya.
Memandang wajah suaminya yang masih terlelap itu, tanpa sadar Nadhifa menyentuh wajah Revan, mulai dari kening, mata, hidung dan bibirnya, hingga tangannya berhenti untuk mengusap pipi, menampilkan senyuman yang menandakan jika dirinya begitu bahagia.
"Walaupun tidur, kamu tetap tampan mas" gumam Nadhifa pelan.
Pergerakan kecil membuatnya gelagapan, memiringkan tubuhnya untuk membelakangi Revan, Revan yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi semakin senang untuk menggoda istrinya.
"Siapa yang tampan sayang?" goda Revan berbisik di telinga Nadhifa.
Jantung Nadhifa berdetak kencang, padahal bukan sekali saja dirinya berdekatan dengan Revan, bahkan mereka sudah beberapa kali menghabiskan waktu bersama.
Nadhifa terdiam, menyembunyikan rona merah yang menjalari pipinya, sibuk mengatur degup jantung yang berdetak kencang.
Tak ada jawaban, Revan melingkari pinggang istrinya untuk merapatkan pelukannya.
"Tak usah malu" ucap Revan semakin mendekatkan diri untuk menghirup aroma tubuh istrinya yang begitu memabukkan.
"Berbalik lah " titah Revan.
Menuruti perintah suaminya, Nadhifa menyembunyikan wajahnya yang masih merona dalam dekapan Revan, membuat pria itu tertawa kecil.
Mengelus kepala Nadhifa dengan sayang, Revan begitu menikmati kegiatan mereka saat ini.
"Mau pulang?" tanya Revan.
"Kerjaan mas Re gimana?" sahut Nadhifa memberanikan menatap wajah tampan suaminya.
"Mas Re?" ucap Revan mengerutkan dahi.
Nadhifa tersenyum saat melihat wajah suaminya kebingungan.
"Aku panggil mas Re boleh ?" tanya Nadhifa hati-hati, pasalnya ia ingin mempunyai nama panggilan yang berbeda dengan yang lain.
"Iya, baiklah" sahut Revan tersenyum.
Nadhifa mengembangkan senyumnya, dan refleks mengeratkan pelukannya.
"Kenapa kamu senang sekali?" tanya Revan.
"Sebenarnya dari awal aku mau panggil mas Re, tapi aku takut mas Re gak setuju" jelas Nadhifa mengungkapkan isi hatinya.
"Panggil aku sesuai yang kamu inginkan, sayang" ucap Revan yang mengambil tangan Nadhifa untuk ia usapkan di pipinya.
"Kerjaan mas Re udah selesai?" tanya Nadhifa yang masih mengikuti tingkah Revan untuk mengusap pipinya.
"Udah"
Nadhifa mengangguk melepaskan pelukannya, Nadhifa membuka hijab yang sejak tadi menutupi rambut indahnya.
"Aku ke kamar mandi dulu mas"
Revan mengangguk membiarkan istrinya berlalu, sembari menunggu istrinya di kamar mandi, Revan merapikan ranjang itu seperti biasa yang ia lakukan.
Wajah Nadhifa sudah terlihat segar, walaupun tanpa Makeup sekalipun, wajah itu tetap menawan.
Mengambil tas yang ia letakkan di atas meja, Nadhifa mencari lipstik yang biasa ia pakai, warna yang tidak terlalu mencolok membuat Nadhifa menyukai lipstik itu.
Pintu ruangan terbuka saat Nadhifa mengoleskan sedikit lipstik itu di bibirnya, terlihat Revan membawa dua botol air mineral di tangannya.
"Pantas saja ada yang berbeda" ucap Revan berjalan mendekati Nadhifa yang masih berdiri di dekat kaca.
"Mas Re gak suka?" tanya Nadhifa hati-hati.
"Suka, warnanya tidak terlalu menor" jawab Revan.
Nadhifa tersenyum dan melanjutkan kegiatannya, merapikan hijab dan pakaian yang ia kenakan.
"Udah?"
__ADS_1
Nadhifa mengangguk, meraih rantang yang tadi ia bawa dan berjalan disamping Revan, seperti biasa Revan akan menggandeng mesra tangan Nadhifa.
Melewati meja kerja Rey yang sudah kosong, sekertaris muda itu masih disibukkan dengan beberapa berkas yang harus diselesaikannya.
Revan berjalan dengan tenang, menampilkan wajah datar yang biasa ia tunjukkan di kantor, tak ada senyuman di wajahnya.
Para karyawan yang tak sengaja berpapasan dengan Revan, menatap heran wanita yang sedang berjalan bersama CEO mereka, tak hanya itu tangan mereka yang bertautan membuat mereka bertanya-tanya.
Seperti biasa, sapaan yang mereka ucap hanya di jawab singkat, berbanding terbalik saat Revan menampilkan senyuman saat memandangi wajah istrinya.
Nadhifa hanya terdiam, mengikuti langkah Revan, saat berpapasan dengan karyawan suaminya, senyuman kecil ia tampakkan untuk menyapa mereka.
"Bukankah itu wanita yang mau bertemu pak Revan?" ucap resepsionis yang saat itu ditanyai Nadhifa, ia bertanya pada temannya dengan suara pelan.
"Iya benar, apa mungkin dia istri pak Revan? soalnya tadi aku lihat ayaknya dia bawa rantang makanan" sahut resepsionis yang lain.
Mereka menampilkan senyum saat melihat objek perbincangan itu berjalan melewati mereka.
Ruangan mendadak ramai saat kedua insan itu sudah keluar kantor, para karyawan asyik berbincang dengan yang lain, mengeluarkan isi hati mereka.
"Siapa wanita itu ya, sepertinya cukup dekat dengan pak Revan?"
"Iya, tidak biasanya pak Revan membawa wanita ke kantor"
"Tapi mereka terlihat sangat serasi"
"Iya, wanita itu kelihatannya baik, buktinya dia membalas sapaan kita dengan senyuman"
"Apa mungkin istrinya?"
"Mungkin juga"
Suara bising itu terhenti seiring kembalinya mereka sibuk dengan pekerjaan yang harus diselesaikan.
...
Revan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang cukup padat.
"Gak mas, langsung pulang aja" jawab Nadhifa.
Revan mengangguk kembali fokus menyetir, Nadhifa hanya diam melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Satu jam berlalu akhirnya mereka tiba di rumah menjelang waktu sholat.
"Aku mandi duluan ya, gerah banget" ucap Revan saat sampai di kamar dan langsung berlalu menuju kamar mandi.
Nadhifa mengambil baju Koko dan sarung, meletakkannya di atas ranjang seraya menanti Revan yang sedang membersihkan diri.
Membuka lemari, mengambil gamis yang akan ia pakai setelah mandi nanti, Nadhifa tak menyadari jika Revan sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya.
"Dhifa, mana pakaianku?" ucap Revan.
Nadhifa refleks menutup matanya, saat mendapati Revan yang tak memakai baju.
"Mas Re, kenapa gak pakai baju?" teriak Nadhifa secara menutup kedua matanya.
Revan terkekeh, istrinya masih saja malu padahal mereka sering menghabiskan malam indah bersama.
"Aku lupa bawa baju, tolong ambilkan ya" ucap Revan tersenyum.
Memalingkan wajahnya, Nadhifa mengambil kaos tipis yang biasa Revan gunakan untuk sholat, Nadhifa memberikan kaos itu pada Revan dengan mata tertutup membuat Revan terkekeh geli.
"Kenapa kamu masih malu sayang?, bukankah kita sering menghabiskan malam indah bersama?" goda Revan membuat semburat merah muncul memenuhi pipi Nadhifa.
"Udah mas Re, jangan dibahas lagi aku malu, ayo cepetan sholat nanti keburu isya"
Revan tersenyum melihat istrinya yang terlihat malu-malu, Revan mengambil kaos yang sejak tadi disodorkan istrinya itu.
"Aku udah pakai baju sayang" ucap Revan.
__ADS_1
"Beneran?" tanya Nadhifa memastikan.
"Iya, ayo bukan matamu"
"Gak mau, mas Re pasti bohong" tolak Nadhifa.
Revan merasa gemas melihat tingkah laku Nadhifa, ingin sekali ia merengkuh Nadhifa dalam pelukannya, namun tak ia lakukan karena ia belum sholat.
"Ya udah kalau gitu, aku ke bawah dulu" Nadhifa membuka mata saat meyakini Revan sudah turun.
Meletakkan handuk yang sudah digunakan Revan, Nadhifa menggelengkan kepala saat dirinya mengingat perut kotak-kotak milik Revan.
"Ya ampun Dhifa, kenapa kamu sekarang jadi mesum" ucap Nadhifa pelan.
...
"Perut kamu masih sakit?" tanya Revan saat melihat Nadhifa selesai mandi, wanita itu menggosokkan handuk di kepalanya.
Nadhifa menggeleng pelan, menuruti kemauan Revan untuk duduk di atas ranjang dengan wajah penuh kebingungan.
"Aku bantu" ucap Revan yang mengambil alih handuk di tangan Nadhifa.
Nadhifa hanya mengangguk, membiarkan Revan melakukan keinginannya.
"Gimana kalau kita jalan-jalan?, mumpung besok weekend" tawar Revan.
Nadhifa mengangguk setuju, membiarkan Revan berlalu untuk kembali sholat bersama keluarga yang lain.
Usai sholat Revan menghampiri Nadhifa yang sibuk menata pakaian di lemari, ia melihat sudah ada pakaian yang disiapkan untuknya.
"Mas Re, bajunya udah aku siapkan" ucap Nadhifa yang menyadari kehadiran Revan.
Revan mengambil baju itu dan mulai memakainya, merapikan penampilan di depan meja rias, Revan melihat istrinya yang sedang berjalan mendekatinya.
"Aku bantu mas" mengambil sisir yang ada di tangan Revan, Nadhifa secara perlahan menyisir rambut suaminya.
Setelah memastikan Revan sudah rapi, Nadhifa mengambil wadah yang terlihat seperti tempat parfum.
Mengoleskan ujung wadah itu secara perlahan di atas bibirnya membuat Revan mengernyit heran.
"Itu apa?" tanya Revan yang begitu penasaran, pasalnya baru kali ini ia melihat Nadhifa melakukan hal itu.
"Ini madu mas, aku kan gak suka lipstik, jadi aku pakai ini aja" jelas Nadhifa.
"Pantas saja" ucap Revan ambigu membuat Nadhifa bingung.
"Apa?" tanya Nadhifa.
Tak menjawab pertanyaan istrinya, Revan mendekat meraih pinggang Nadhifa untuk merapatkan tubuh mereka.
Jantung Nadhifa bertalu-talu, saat Revan mengangkat dagunya dan mulai menyesap bibirnya, hanya sebentar tapi sukses membuat Nadhifa lemas.
"Manis" ucap Revan membuat wajah Nadhifa memerah menahan malu.
Menjauhkan diri Nadhifa mengambil hijab dan mulai memakainya, mencoba meredakan degup jantungnya yang semakin menggila.
Revan tersenyum kecil saat menyadari istrinya sedang malu.
"Aku tunggu di bawah ya" ucap Revan seraya meninggalkan Nadhifa.
Usai berpamitan pada Bu Rahma dan kedua adik ipar kembarnya, Nadhifa bergegas menemui Revan yang pasti sedang menunggunya.
"Mas kita mau kemana?" tanya Nadhifa saat kendaraan yang mereka tumpangi membelah jalanan yang cukup padat.
"Rahasia" ucap Revan.
***
jangan lupa like, dan komentar, biar author semakin semangat 🤗
__ADS_1
Terima kasih