Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
39. RENCANA


__ADS_3

Suara deru kendaraan terdengar saat Nadhifa selesai membuat minuman hangat untuk suaminya, ia bergegas untuk menyambut kedatangan pria yang ia cintai.


Pria itu tersenyum saat Nadhifa menyambutnya, tak lupa ia mengecup puncak kepala istrinya setelah Nadhifa mengecup punggung tangannya.


"Ayo mas, minum dulu" Nadhifa menyodorkan secangkir teh hangat pada suaminya yang sudah duduk.


"Terima kasih" sahut Revan.


pria itu tak akan sungkan untuk berterima kasih, baginya semua yang dilakukan istrinya harus ia hargai.


Iya kemudian mengajak istrinya untuk segera memasuki kamar pribadi mereka, ia ingin segera membersihkan diri dan beristirahat.


Revan menghampiri istrinya yang saat ini sudah memakai baju tidur berbahan satin, ia sengaja meminta Nadhifa menggunakannya, Karena malam ini ia ingin melihat Nadhifa kembali menggunakan baju itu.


Wajah cantik istrinya terlihat begitu menggoda, dengan lipstik yang berwarna merah menyala dan aroma parfum yang ia sukai, tak lupa rambut sebahu yang indah sudah tergerai menambah kesan seksi yang ada pada Nadhifa.


Revan sudah tak dapat menahan dirinya lagi, ia memeluk istrinya dari belakang dan mencium tengkuk istrinya yang selalu wangi.


Pantulan cermin memperlihatkan wajah Nadhifa yang merona, ia terpejam menikmati sentuhan lembut yang Revan ciptakan di tengkuknya, lalu ciuman Revan berpindah pada pundak istrinya yang sudah terbuka, ia menciumnya berkali-kali membuat Nadhifa semakin bergairah.


Revan membalik tubuh istrinya, hingga ia dapat melihat wajah istrinya yang sudah merona, ia mengecup kening, hidung dan kedua pipi istrinya.


pria yang saat itu hanya menggunakan celana pendek selutut semakin bergairah saat melihat bibir istrinya yang dipoles lipstik berwarna merah menyala, ia mengelus bibir itu dengan lembut membuat jantung Nadhifa semakin tak karuan.


Revan meraih pinggang istrinya, begitu dekat ia dapat merasakan hembusan nafas yang berasal dari wanita yang ada dalam dekapannya.


Nadhifa memejamkan mata saat suaminya semakin mendekat, kedua tangannya ia letakkan di atas dada bidang suaminya yang saat ini bertelanjang dada, memejamkan mata Nadhifa menikmati ciuman Revan yang lembut namun semakin lama ciuman itu berubah semakin panas.


Revan menuntun istrinya untuk mendekati tempat peraduan mereka tanpa melepaskan ciumannya, Nadhifa membuka mata saat menyadari dirinya sudah berada di bawah Kungkungan suaminya.


Wanita itu dapat melihat kabut gairah yang terpancar dari mata teduh suaminya, tanpa ragu ia mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya seakan memberi sinyal jika ia siap melayani suaminya saat ini.


Revan tersenyum senang, tak membutuhkan waktu lama ia mulai melakukan kegiatan indah bersama istri tercinta.


Isai membersihkan diri keduanya kembali berbaring di balik selimut yang menutupi tubuh polos mereka, pria itu tak henti memberikan ciuman di puncak kepala istrinya yang saat ini sudah terpejam sepertinya wanita itu sangat kelelahan.

__ADS_1


"Terima kasih sayang" ucap Revan dan kembali mencium kening istrinya, mengeratkan dekapannya Revan memejamkan mata untuk menyusul istrinya ke alam mimpi.


...


"Terima kasih, kau selalu hebat" ucap Revan usai ia mengganti baju kokohnya dengan pakaian kerja.


Pria itu memeluk mesra istrinya yang saat ini sedang mengambil jas dan dasi yang sudah disiapkan.


Wanita itu tersipu, apalagi saat Revan mencium tengkuknya, perlakuan Revan membuatnya menjadi istri yang begitu dicintai suami.


Revan tak pernah membentaknya, ia selalu memperlakukan istrinya dengan baik, jika istrinya tak bisa maka ia akan melakukan sendiri.


"Udah mas, jangan godain aku terus" ucap Nadhifa dan melepaskan tangan Revan yang melingkari perutnya.


"Mas, geli" ucap Nadhifa saat Revan mengelus perut ratanya, wanita itu masih terlihat sibuk merapikan dasi suaminya.


Revan tersenyum, namun ia kembali melakukan hal yang sama, ia suka sekali melihat wajah istrinya yang memerah.


Pria itu sangat tahu jika wanita dihadapannya itu tak tahan geli, sedikit sentuhan yang ia berikan di bagian perut istrinya yang tertutup baju pasti membuat istrinya kegelian.


Memakaikan jas di tubuh suaminya, Nadhifa tak menyadari jika Revan sejak tadi memperhatikannya dengan senyum yang tak pernah pudar di wajahnya.


"Nanti malam lagi ya, aku suka" bisik Revan saat keduanya sudah menuruni tangga.


Revan pura-pura meringis saat perut kotak-kotak nya di cubit oleh istrinya.


"Kenapa dicubit sayang?" goda Revan saat melihat wajah istrinya yang sudah merona.


" mas Re, jangan godain aku terus" ucap Nadhifa pelan, ia tak ingin ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.


Revan terkekeh dan memeluk pinggang istrinya, membuat Nadhifa semakin malu, namun pria itu bersikap biasa saja.


Usai berpamitan pada Bu Rahma, Revan bergegas keluar rumah di sana sudah tersedia kendaraan yang biasa ia gunakan.


Ia mengecup kening istrinya setelah wanita itu mengecup punggung tangannya, ia membunyikan klakson saat kendaraan yang ia tumpangi secara perlahan meninggalkan istrinya yang sedang melambaikan tangan.

__ADS_1


...


Sesuai dengan permintaan suaminya, dengan senang hati Nadhifa bergegas menuju kantor usai memasukkan makan siang di rantang yang biasa ia bawa.


Melangkahkan kakinya, Nadhifa melewati resepsionis seperti perintah suaminya, wanita itu menaiki lift dan tersenyum ramah saat ada karyawan yang melihatnya.


Para karyawan sudah tak penasaran dengan wanita di hadapan mereka, karena Revan sudah memberitahukan mereka untuk berlaku sopan pada Nadhifa.


Wanita itu melihat meja sekertaris yang sudah kosong, pasti Raihan sudah makan siang di luar.


Membuka pintu perlahan, Nadhifa mendapati suaminya yang sedang bersandar di sofa dengan kedua mata yang terpejam.


Berjalan pelan, ia duduk di samping suaminya dan mengelus rahang suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, Revan sedikit tersentak lalu membuka mata dan tersenyum saat melihat istri tercinta dihadapannya.


"Udah dari tadi?" ucap Revan serak menandakan jika pria itu memang baru saja bangun tidur.


"Baru saja sampai mas, maaf jika Dhifa mengganggu mas Re istirahat" sesal Nadhifa.


"Tak apa, aku hanya menunggumu" sahut Revan dan mulai membuat rantang makanan yang dibawa istrinya, pria itu sudah tak sabar menikmati makan siang lezat yang dibuat istri cantiknya.


"Mas Re, aku udah tanya sama Zahra tentang masalah kemarin" ucap Nadhifa saat kedua menyelesaikan makan siang.


"Oh ya, dia bilang apa?" Revan membenarkan posisi duduknya, ia sudah tak sabar untuk mendengarkan cerita dari istrinya.


Nadhifa mulai menceritakan percakapannya dengan Zahra kemarin, ia sudah memikirkan dengan matang jika ia harus menceritakan hal itu pada suaminya.


"Aku juga sudah bertanya pada Rey" timpal Revan usai Nadhifa menyelesaikan ceritanya.


"Waalaupun dengan paksaan sih" tambahnya dengan sedikit senyuman di wajahnya.


Nadhifa mendengarkan cerita suaminya dengan seksama mengenai perasaan Rey yang masih sama, bahkan pemuda itu masih menyimpan rasa pada sahabat istrinya itu, hanya saja Rey memilih menjauh usai menyadari jika Zahra tak pernah menggubrisnya.


"Sepertinya kita bisa mendekatkan mereka berdua" ucap Revan membuat kerutan timbul di dahi istrinya.


"Caranya?" sahut Nadhifa yang masih bingung.

__ADS_1


"Rahasia" ucap Revan yang membuat istrinya cemberut.


"Baiklah istriku yang cantik, aku akan memberitahumu, tapi tidak sekarang yaaa" ucap Revan mengelus hijab istrinya dengan sayang.


__ADS_2