
Menyingkirkan rasa sedih yang ia rasa, wanita itu memilih untuk menyusul suaminya ke dalam kamar, di sana ia tak melihat Revan namun suara gemercik air membuatnya yakin jika suaminya sedang membersihkan diri.
wanita itu duduk di ranjang menunggu Revan, hingga hampir satu jam Revan baru keluar dari tempat itu dengan handuk yang ia gosokkan di rambutnya.
Nadhifa mendekat untuk membantu Revan seperti biasa namun Revan menghindar membuat Nadhifa semakin sedih.
wanita itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang tepat di samping Revan yang membelakanginya, air mata menetes di pipi mulusnya namun ia cepat menghapusnya.
' aku gak boleh cengeng, mas Revan pasti cuma lelah ' ucap Nadhifa dalam hati.
menyingkirkan pemikiran buruk yang terlintas di pikirannya, Nadhifa memejamkan matanya yang memang sudah sangat mengantuk.
...
pagi hari biasanya Revan akan gunakan untuk bermanja-manja dengan istrinya, namun tidak untuk hari ini semenjak semalam Revan tak bertegur sapa dengan Nadhifa.
bahkan pakaian kerja yang Nadhifa siapkan tidak tersentuh sama sekali, Revan lebih memilih pakaian kerjanya sendiri.
Nadhifa keluar kamar saat melihat Revan menggunakan pakaian kerjanya sendiri, biasanya Nadhifa yang akan merapikan dasi dan jasnya, sebisa mungkin Nadhifa menahan air mata yang siap tumpah kapan saja.
di dapur Nadhifa bersikap ceria seperti biasanya, ia tak sungkan bercanda dengan Bu Rahma dan bik Minah.
usai menata makanan di atas meja makan, Nadhifa diminta Bu Rahma untuk memanggil adik ipar kembarnya yang masih ada di kamar.
di meja makan sudah ada Revan yang sudah terlihat rapi, tak lupa ia juga membawa tas kerjanya.
Nadhifa mendekati Revan dan mulai menyiapkan sarapan Revan seperti biasa, tak ada penolakan membuat Nadhifa sedikit senang.
mereka makan dalam diam, hingga akhirnya Revan mengakhiri sarapannya, ia mencium punggung tangan Bu Rahma dan bergegas berangkat kerja meninggalkan Nadhifa yang memandangnya dengan tatapan sendu.
usai menguasai perasaannya, Nadhifa mengambil piring kotor untuk ia letakkan di wastafel dan mulai mencucinya.
" tumben kamu gak antar Revan ke depan?" ucap Bu Rahma saat menghampiri Nadhifa yang sibuk mencuci piring.
" tadi mas Revan bilang ada rapat penting pagi ini ma" sahut Nadhifa tenang.
Bu Rahma hanya mengangguk mendengar jawaban menantunya, ia kembali membantu bik Minah merapikan meja makan.
usai dengan pekerjaannya Nadhifa pamit untuk ke kamarnya untuk melakukan sholat Dhuha seperti biasa.
usai sholat Nadhifa mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, tak terasa air mata mengalir deras saat Nadhifa mengingat Revan yang sejak tadi malam mengabaikannya.
baru kali ini Revan melakukan hal yang melukai hatinya, tak pernah Revan mengacuhkannya seperti ini.
...
__ADS_1
usai menenangkan hati, Nadhifa berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk suaminya, ia meminta bik Minah untuk diam saja.
ia ingin membuatkan makanan spesial untuk Revan, dengan semangat Nadhifa memotong ayam yang akan Nadhifa olah menjadi ayam rica-rica hingga ia tak sadar saat pisau tak sengaja menggores jari telunjuknya.
bik Minah yang tak sengaja melihat itu membantu Nadhifa membersihkan darah yang tak henti menetes dari jari tangannya yang terluka.
" non Dhifa, kok sampai luka seperti ini?" ucap bik Minah yang sudah kembali dengan kotak obat di tangannya, wanita paruh baya langsung membersihkan luka dan membalutnya.
" biar bibik yang lanjutkan masaknya ya?" ucap bik Minah.
" ini hanya luka biasa bik, Dhifa masih bisa lanjutkan masaknya" sahut Nadhifa yang sudah kembali berkutat dengan daging ayam.
bik Minah mendekati Nadhifa, bermaksud mengambil alih pekerjaan Nadhifa.
" biar bibik yang potongin non" ucapnya.
" tidak usah bik, Dhifa mau buatin makan siang spesial buat mas Revan" sahut Nadhifa dan kembali melanjutkan pekerjaan.
" baiklah" bik Minah melanjutkan pekerjaan lain yang belum diselesaikan.
...
Nadhifa berjalan memasuki kantor Revan dengan semangat, ia sudah tak sabar memberikan makan siang untuk Revan, namun langkah kakinya terhenti saat resepsionis mengatakan jika Revan tak ingin diganggu.
dengan berat hati Nadhifa meninggalkan kantor Revan, ia sedikit kecewa karena biasanya suaminya itu tak pernah seperti itu.
" iya pak, Dhifa lupa kalau mas Revan ada rapat di luar kantor" jawab Nadhifa menampakkan senyum palsunya.
Pak Ratno mengangguk dan membawa Nadhifa kembali pulang dengan selamat, tak lupa Nadhifa memberikan rantang yang ia bawa pada pak Ratno.
" kok udah pulang Dhifa?" ucap Bu Rahma yang melihat Nadhifa sudah pulang.
" iya ma, mas Revan tadi ada rapat di luar, Dhifa lupa gak tanya dulu" jawab Nadhifa.
...
usai makan siang, Nadhifa melihat Bu Rahma yang sudah siap pergi.
" bagaimana kalau kamu ikut mama? mama udah janjian sama teman mama" ucap Bu Rahma.
" kebetulan teman mama ada perlu ke panti, kamu juga bisa menginap di sana" imbuhnya.
" mas Revan gimana ma?" ucap Nadhifa membuat Bu Rahma mengernyitkan dahinya tak mengerti.
" Revan tadi bilang sama mama, ada kerjaan di luar kota selama tiga hari, emang kamu gak di kasih tau ?" ucap Bu Rahma.
__ADS_1
" Dhifa belum sempat lihat ponsel ma, ponsel Dhifa masih ada di kamar" sahut Nadhifa.
" baiklah, ayo kita bersiap, mama tunggu di luar ya"
Nadhifa mengangguk ia memasuki kamar untuk melihat ponselnya, namun ia tak menemukan adanya pesan dari Revan.
Me
Mas, aku izin nginap di panti selama mas Revan kerja.
cukup lama Nadhifa menunggu jawaban Revan, namun pesannya hanya Revan baca tanpa ada jawaban.
menyimpan rasa kecewanya, Nadhifa bergegas menemui Bu Rahma yang sudah menunggunya.
mereka menjemput teman Bu Rahma terlebih dahulu kemudian melanjutkan perjalanan ke panti.
Bu Rahma dan temannya sudah pulang, Sekarang Nadhifa sudah berada di kamar yang sangat ia rindukan.
bertahun-tahun ia menghabiskan waktunya disini ditemani tingkah anak panti yang beraneka ragam, dan hal itu sangat dirindukan Nadhifa.
usai memastikan anak-anak panti sudah tidur, Nadhifa memasuki kamar dan melihat Bu Rahma yang masih menunggunya.
" bunda belum tidur?"
" bunda nungguin kamu" sahut bunda Lastri.
Nadhifa membaringkan tubuhnya disamping Bunda Lastri, ia tak sungkan memeluk tubuh wanita paruh baya yang sudah merawatnya.
" ada apa sayang?" ucap bunda Lastri.
" gak apa-apa bunda, Dhifa kangen sama bunda" sahut Nadhifa manja.
" apa mereka memperlakukanmu dengan baik?" ucap bunda Lastri.
Nadhifa mengangguk, perlakuan Revan dan keluarganya begitu baik padanya.
setetes air mata mengalir dari sudut mata Nadhifa yang terpejam saat mengingat Revan yang mengacuhkannya bahkan Revan tak mengatakan apapun tentang kepergiannya ke luar kota.
bunda Lastri mengelus rambut Nadhifa dengan sayang, ia tahu jika Nadhifa sedang ada masalah, sebagai orang yang sudah merawat Nadhifa dari kecil ia sangat mengerti jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nadhifa.
apalagi raut wajah Nadhifa tak secerah biasanya, memang Nadhifa bersikap ceria seperti biasa, namun bunda Lastri dapat melihat ada yang Nadhifa sembunyikan.
" kalau kamu mau cerita, bunda siap mendengarkannya" ucap Bunda Lastri.
Nadhifa menggeleng, namun air mata yang mengalir di pipinya semakin deras membuat wanita itu terisak.
__ADS_1
bunda Lastri hanya mengelus rambut Nadhifa untuk menenangkan wanita yang saat ini menumpahkan tangis dalam pelukannya.