Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
34. SUNGGUH INDAH


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, sudah terhitung lima hari Revan kembali melanjutkan pekerjaan yang terasa lebih tenang, karna wanita yang bernama Nina itu sudah tak lagi menemuinya.


Sebagai seorang pria, Revan tahu jika wanita yang menjadi salah satu penanam saham di perusahaannya itu tertarik padanya, namun ia tak pernah menggubrisnya.


Pada awal perusahaan itu berdiri, wanita itu kerap sekali mengajaknya makan siang atau makan malam bersama, tapi Revan selalu mengatakan jika dirinya terlalu sibuk sehingga tak bisa menerima ajakannya.


Mungkin karna sudah lelah akhirnya ia berhenti mengganggu Revan, ia hanya akan datang ke perusahaan jika ada rapat pemegang saham saja.


Revan juga bisa bernafas lega untuk beberapa bulan ke depan, wanita itu tak akan mengganggunya karena disibukkan dengan usahanya yang lain, yang Revan tahu mengharuskan wanita itu untuk bepergian ke luar negeri.


Bunyi notifikasi pesan yang masuk membuat Revan mengalihkan perhatiannya pada benda pipih itu, meletakkan berkas yang sedang ia pelajari, mengambil ponsel dan mulai menekan pola yang menjadi pengaman benda yang cukup penting itu.


Terlihat wallpaper yang menampakkan dirinya dan sang istri yang terlihat begitu mesra, foto itu ia ambil saat mengajak istrinya pergi jalan-jalan ke mall.


*M**y wife*


Mas hari ini aku gak ke kantor ya, soalnya di ajakin si kembar belanja 😁


Me


Tak masalah


Aku juga ada rapat di luar


Jaga hati sayang 😘


My wife


Selalu mas


Jangan lupa makan 🤗


Me


Iya sayang kamu juga 😚


Revan tersenyum membaca pesan istrinya, meletakkan ponselnya, kini Revan sudah kembali fokus mempelajari berkas yang akan dibahas dalam rapat nanti.


...


Nadhifa dan kedua adik iparnya sedang berkeliling di pusat perbelanjaan, mereka menghabiskan waktu senggang sebelum kembali disibukkan dengan tugas-tugas kuliah.


"Kalian jadi kuliah dimana?" ucap Nadhifa setelah mereka duduk di salah satu cafe yang ada di tempat itu.


"Kami pilih di universitas yang kakak pilih" jawab Winda.


"Iya kak, menurut kami itu universitas yang paling bagus diantara yang lain" timpal Windi.


Percakapan mereka terhenti saat pelayan datang membawa minuman yang sudah mereka pesan sebelumnya.


"Kak, ayo ikut aku, aku mau beli baju tidur" rengek Winda.


"Iya kak, aku juga mau beli" timpal Windi yang membuat mereka kembali memasuki toko pakaian.


"Kakak gak beli juga?" tanya Winda yang hanya melihat Nadhifa mengikuti mereka.


" Baju tidur kakak masih banyak" sahut Nadhifa.


"Emang kakak sudah pernah beli?" tanya Windi.

__ADS_1


"Udah sama mas Revan" sahut Nadhifa.


"Emang kakak beli baju apa?" tanya Winda.


"Yang seperti ini" jawab Nadhifa dengan menunjuk piyama lengan panjang yang sedang ia pegang.


"Kakak, itu kan tertutup" ucap Winda malas.


"Lah terus, harusnya yang mana?" sahut Nadhifa yang merasa kebingungan melihat respon ipar kembarnya.


"Seharusnya kakak pakai baju yang lebih terbuka gitu" timpal Winda.


"Kalau bisa kayak gitu" tambahnya dengan menunjuk baju berbahan tipis transparan yang terpajang.


"Nggak ah, kakak malu" sahut Nadhifa dengan pipi yang sudah merona.


"Pakai ini aja kak, ini gak terlalu terbuka" ucap Winda yang sejak tadi melihat-lihat baju tidur yang cocok untuk kakak iparnya.


Mengarahkan sebuah baju tidur berbahan satin, terdapat bagian luar baju yang terpisah dengan bagian tangan berlengan panjang dan panjang bawah hanya sebatas paha membuat Nadhifa mengerutkan keningnya.


Melihat tatapan penuh harap iparnya, Nadhifa mengangguk pasrah.


...


Di malam hari yang sunyi, sebagian penduduk bumi sudah tertidur pulas di dalam kamarnya setelah seharian lelah bekerja mencari nafkah untuk keluarga tercinta.


Terdengar suara deru kendaraan, tak lama pintu rumah terbuka menampilkan sesosok pria tampan yang berjalan gagah, membawa tas kerja di tangannya ia memasuki dapur dan melihat istrinya sedang sibuk menyiapkan minuman untuknya.


"Sayang" ucap Revan membuat Nadhifa tersentak.


"Mas Re bikin kaget aja" sahut Nadhifa dan membawa segelas teh hangat untuk suaminya, meletakkan di atas meja, tepat dihadapan suaminya.


"Kamu belum tidur, ini sudah larut" sahut Revan di sela tegukan nya.


"Baiklah, ayo ke atas, aku lelah sekali" ajak Revan dan langsung menggandeng mesra tangan istrinya untuk memasuki kamar mereka.


...


"Mas Re, aku siapin air hangatnya dulu ya" ucap Nadhifa yang langsung memasuki kamar mandi dan menyiapkan kebutuhan suaminya.


Melihat istrinya yang sudah keluar, tanpa menunggu lama Revan memasuki kamar mandi itu untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.


Keluar dari kamar mandi, Revan disuguhkan pemandangan indah istrinya, wanita itu sedang terduduk di atas ranjang, sudah bisa Revan tebak jika wanita itu sedang menunggunya.


Berjalan pelan, Revan yang saat itu hanya mengenakan celana pendek langsung memeluk istrinya dari samping.


"Mas Re" ucap Nadhifa dengan wajah yang merona saat menyadari suaminya bertelanjang dada.


"Apa kau menggodaku?" ucap Revan seraya melihat penampilan istrinya yang berbeda dari biasanya.


Baju tidur satin yang dikenakan membuat istrinya terlihat sangat cantik, bagian bawah juga nampak jelas malam ini, paha mulus istrinya terlihat begitu menggoda.


Rambut istrinya yang terurai membuat wanita itu semakin cantik, menatap dalam mata istrinya, Revan dapat melihat tatapan penuh cinta yang terpancar.


Revan mengamati wajah cantik istrinya yang selalu menggoda, hidung mancung dan bibir merah merekah membuatnya tak sabar untuk menyentuhnya.


Di sentuhnya pipi mulus istrinya yang sedang merona itu, Revan sudah tak dapat menahan dirinya lagi, ia mencium bibir yang sudah menjadi candu untuknya dengan lembut, lama kelamaan ciuman itu menjadi lebih panas.


Nafas keduanya memburu saat ciuman panas itu terlepas, bahkan wajah Nadhifa sudah semakin memerah saat menyadari jika tadi ia juga membalas ciuman suaminya.

__ADS_1


Revan kembali mencium Nadhifa dengan rakus, seakan tak ingin berhenti, apalagi Revan menyukai respon istrinya kali ini.


Menurunkan ciuman pada leher istrinya, Revan melakukannya berkali-kali membuat istrinya mendesah.


Karena tak bisa menahan diri, Revan memutuskan untuk menghentikan kegiatannya, ia tak ingin melanggar batasan.


Terduduk dipinggir ranjang dengan tangan menyentuh kepalanya yang terasa begitu sakit, karna ia tak dapat melanjutkan kegiatannya.


"Kenapa mas?" ucap Nadhifa saat menyadari Revan berhenti, wanita mendekati suaminya dan menyentuh punggung tangan pria itu.


"Aku takut tak bisa menahan diri sayang, kamu kan lagi haid" sahut Revan yang masih memijit kepalanya yang terasa nyeri.


"Aku udah bersih mas" sahut Nadhifa malu-malu, mengalihkan pandangan pada istrinya, Revan seakan tak percaya mendengar ucapan istrinya.


"Beneran?" tanya Revan memastikan sesuatu yang sudah ia dengan sebelumnya.


"Iya mas" sahut Nadhifa dengan wajah yang kembali merona.


Revan tersenyum senang, tak butuh waktu lama pria itu sudah menindih istrinya, dapat ia lihat wajah istrinya yang begitu memerah.


"Jadi?" ucap Revan ambigu namun dengan nada yang begitu menggoda.


"Jadi apa?" sahut Nadhifa yang saat ini merasakan jantungnya semakin berdebar kencang apalagi tatapan mata suaminya yang begitu menggoda.


Tak berniat menjawab, namun Revan semakin mendekati istrinya dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


...


Pagi yang indah di hari libur benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh pria yang saat ini masih tertidur pulas di ranjang.


Usai sholat subuh, pria itu memutuskan untuk tidur kembali, bagaimana tidak ia baru saja terlelap saat waktu hampir subuh.


Tiga orang wanita berbeda usia masih sibuk menyiapkan makanan di dapur, mengerjakan pekerjaan itu dengan senang hati.


"Revan tumben dia tidur lagi?" ucap Bu Rahma di sela kegiatannya.


"Iya ma, semalam mas Revan pulangnya tengah malam ma" sahut Nadhifa yang saat ini juga sibuk memotong sayuran yang akan dimasak.


"Oh begitu"


Mereka melanjutkan acara masak-memasak itu dan menata hidangan yang terlihat begitu lezat.


Usai berpamitan pada mama mertuanya, Nadhifa berjalan ke kamarnya untuk membangunkan suaminya yang sedang terlelap.


"Mas, bangun dulu" ucap Nadhifa setelah mendudukkan diri di samping suaminya, ia mengusap lembut wajah tampan itu, membuat sang empunya terganggu namun masih belum mau membuka mata.


Sedikit tersentak saat pria di hadapannya menarik tubuhnya untuk masuk dalam dekapan hangat suaminya.


"Mas Re, ayo makan dulu, mama sudah nungguin di bawah" ucap Nadhifa yang kembali mengelus rahang kokoh suaminya.


Membuka mata, Revan menyentuh kedua pipinya secara bergantian membuat wanita itu mengerti.


"Morning kiss sayang" ucap Revan dan berlalu untuk menyegarkan diri ke kamar mandi.


Nadhifa tersenyum mendengar ucapan suaminya, ia malah mengingat kejadian panas yang terjadi tadi malam.


Suaminya itu pasti sangat mengantuk, bayangkan saja pulang bekerja tengah malam namun bukannya tidur, suaminya malam mengerjakan sesuatu yang membutuhkan banyak tenaga.


Pipi Nadhifa merona saat mengingat kejadian tadi malam, saat Revan mengajaknya menikmati surga dunia berkali-kali, ia menepuk kedua pipi yang sudah terasa panas itu.

__ADS_1


Hal yang ia lakukan tak luput dari pandangan pria yang baru saja keluar dari kamar mandi, menghampiri istrinya, Revan meraih istrinya ke dalam pelukan dan berbisik mesra


"Terima kasih, hadiahnya sungguh indah"


__ADS_2