Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
61. CERIA


__ADS_3

Di dapur terlihat Nadhifa serta bik Minah sibuk menata menu sarapan di atas meja makan, keduanya sudah berkutat di sana selama hampir dua jam.


setelah semuanya siap Nadhifa menghampiri bik Minah.


" bik, Dhifa panggil yang lain dulu ya"


" iya non"


Dengan hati riang Nadhifa memanggil Bu Rahma dan si kembar lalu dia menaiki tangga untuk memanggil suaminya.


" mas Re, ayo sarapan" ajak Nadhifa.


" iya tunggu sayang" sahut Revan, pria itu meletakkan berkas yang baru saja ia pelajari.


Revan sangat senang melihat istrinya kembali ceria, usahanya berhasil untuk menghibur hati istrinya yang sedih.


keduanya berjalan beriringan menuju meja makan, di sana sudah ada Bu Rahma dan si kembar.


" kamu masak apa sekarang?"


" masak opor ayam mas"


" pasti enak" ucap Revan membuat Nadhifa tersenyum.


Nadhifa menarik tangan Revan dengan lembut.


" ayo, mas Re harus makan banyak, biar kerjanya semangat"


Nadhifa menyiapkan nasi dan lauk untuk Revan, tak lupa ia juga menuangkan air minum.


mereka makan dengan hening, hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.


" kalau begitu aku langsung pamit ya, ada hal penting yang harus aku selesaikan" ucap Revan setelah menyelesaikan makannya.


mereka semua mengangguk, Nadhifa mengikuti Revan memasuki kamar dengan senang hati Nadhifa membantu suaminya memakai dasi.


Revan meletakkan dua tangannya di pinggang Nadhifa, ia tersenyum melihat istrinya lalu mengecup bibir Nadhifa dengan lembut, hanya sekilas tapi membuat Nadhifa kaget, pasalnya ia masih sibuk merapikan dasi Revan.


" rasanya masih sama, manis" ucap Revan menyeringai.


" dasar suami mesum" sahut Nadhifa dengan pipi merona.


Revan terkekeh mendengar ucapan istrinya, ia merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan hangatnya.


" berjanjilah padaku"


" apa?" tanya Nadhifa.


" kamu tidak boleh sedih lagi" sahut Revan.


Nadhifa melepas pelukannya dan mengecup bibir Revan sekilas.


" iya suamiku sayang"


Nadhifa mengambil jas Revan membantu Revan memakainya.


" ayo turun, suamiku sudah terlihat sangat tampan" Nadhifa menarik tangan lembut Revan.


" masih ada yang kurang, sayang"


" apa mas? semuanya sudah siap" Nadhifa mengarahkan pandangannya pada Revan untuk melihat penampilan suaminya, tidak ada yang kurang.

__ADS_1


" baju mas Re sudah rapi, wajah mas Re juga sudah tampan, apalagi yang kurang?" tanya Nadhifa keheranan.


Revan tersenyum, ia mendekati Nadhifa dan merapatkan tubuhnya mereka, dapat ia lihat wajah istrinya yang kembali merona.


pandangan Revan tertuju pada bibir merah yang selalu menjadi candu untuknya, dengan lembut ia mengelus bibir itu dan mendaratkan ciuman yang cukup lama.


" ini yang kurang, tadi cuma sebentar" ucap Revan terkekeh.


Nadhifa mencubit perut Revan dengan gemas, ia sungguh malu. walaupun pernikahan mereka sudah cukup lama namun berdekatan dengan Revan masih membuat jantung Nadhifa berdetak tak karuan.


" kenapa sayang? mau lagi?" ucap Revan menaik-turunkan alisnya.


" mas Re, apaan sih, ayo turun nanti telat ke kantornya" ucap Nadhifa menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.


Revan terkekeh melihat respon istrinya, ia menurut saat Nadhifa mengajaknya turun, tak lupa ia membawa tas kerjanya.


...


" Rey, apa jadwal kita hari ini?" tanya Revan disela kesibukannya menatap layar laptopnya.


" siang ini, ada meeting dengan perwakilan PT. Anugerah abadi" sahut Raihan setelah membuka buku agendanya.


" baiklah, jam berapa?"


" jam dua siang pak"


Revan mengangguk paham, ia menutup laptop dan menghampiri Raihan yang sudah duduk di sofa seperti perintahnya.


" gimana keadaan istri dan anakmu?"


" baik pak, tapi tiap malam kasihan Zahra harus banyak terjaga, bayi kami sering menangis" sahut Raihan.


" nikmati saja Rey, kamu pasti membantu istrimu kan?" ucap Revan menepuk pundak Raihan.


" sebisa mungkin kamu harus membantunya Rey" ucap Revan yang mendapatkan anggukan dari Raihan.


" apa pekerjaan kita masih banyak Rey?"


" iya pak, masih ada banyak hal yang harus kita selesaikan, butuh waktu kurang lebih tiga bulan untuk menyelesaikan semuanya" sahut Raihan.


Revan menghembuskan nafasnya, sebenarnya dia ingin mengajak Nadhifa pergi berlibur namun pekerjaan kantornya tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


Raihan memperhatikan wajah Revan yang terlihat kecewa, ia memberanikan diri untuk bertanya.


" ada apa pak? ada yang harus saya lakukan?"


" tidak Rey, sebenarnya saya mau mengajak Nadhifa liburan tapi pekerjaan kantor tidak bisa saya abaikan begitu saja, saya juga tidak bisa menyerahkan semuanya padamu, kamu pasti sangat lelah" sahut Revan.


" saya usahakan untuk membantu anda menyelesaikan semuanya, mungkin tidak sampai tiga bulan pekerjaan kita bisa rampung" ucap Revan.


" semoga saja"


Saat ini mereka masih duduk di sofa, menunggu informasi dari klien yang mereka tunggu, sebenarnya sekarang seharusnya mereka sudah melakukan rapat di dekat cafe kantor, namun klien itu mengatakan jika saat ini masih terjebak di jalan, ada kecelakaan yang menyebabkan kemacetan parah.


Raihan membuka ponselnya untuk memeriksa pesan yang masuk, tanpa sengaja ia salah pencet, hingga ia membuka sebuah tautan mengenai pengusaha yang baru saja masuk bui.


mata Raihan membulat saat melihat nama Dirgantara Wijaya, dengan segera ia membaca informasi itu, ia membacanya berulang kali takut ada kesalahan saat ia membacanya.


" Pak Revan, lihat ini pak" ucap Raihan menyodorkan ponselnya pada Revan yang duduk disampingnya.


Dengan heran Revan menerima ponsel Raihan dan mulai membaca berita itu, Revan nampak sangat terkejut saat nama Dirga menjadi tersangka kasus pembunuhan.

__ADS_1


" Rey, apa saya tidak salah baca?"


" tidak pak, saya juga membaca berita itu"


Revan tidak menyangka jika orang terpandang seperti Dirga melakukan hal yang sangat kejam, bahkan Dirga tak segan untuk membunuh ayah kandungnya demi harta dan perusahaan.


" aku tidak menyangka Dirga sejahat itu" ucap Revan.


" iya pak, dia kejam sekali" sahut Raihan.


" sepertinya dia mendapatkan hukuman yang setimpal karena dia sudah melakukan hal licik kepada anda pak"


" iya Rey, tapi kasihan ibunya pasti dia sangat terluka, bayangkan saja Rey, suami yang dia cintai sekarang mati di tangan anak kandungnya sendiri " ucap Revan prihatin.


" semoga ibunya kuat pak, bisa menghadapi semua dengan sabar"


" Amin"


...


Revan merasa sangat lelah, hari ini pekerjaannya begitu padat sampai ia melupakan makan malamnya, dengan langkah gontai Revan memasuki rumahnya.


terlihat sangat sepi karna ia meminta Nadhifa untuk tidur saja, karna waktu memang sudah lewat tengah malam.


Dengan perlahan Revan membuka pintu kamar, dapat ia lihat Nadhifa yang sedang tertidur di atas ranjang.


Revan duduk di samping Nadhifa mengelus rambut istrinya dengan lembut membuat Nadhifa terbangun, dengan segera wanita itu duduk.


" mas Re baru pulang?" tanya Nadhifa dengan suara seraknya.


" iya sayang" sahut Revan tersenyum.


" maaf ya, Dhifa gak tungguin mas Re pulang" sesal Nadhifa.


" tidak apa sayang, lagi pula ini sudah sangat larut" sahut Revan.


tanpa diminta Nadhifa membuka jas dan dasi Revan, dan membuka satu persatu kancing kemeja Revan.


" mas Re mau mandi?" tawar Nadhifa, wanita itu sudah membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


" kalau aku gak mandi, kamu gimana?" tanya Revan.


" ya gak apa-apa" sahut Nadhifa santai, karna ia tidak mempermasalahkan hal itu.


Revan menarik tubuh istrinya dalam pelukannya, menghirup aroma tubuh yang seharian ini ia rindukan.


Nadhifa menikmati pelukan itu, menghirup aroma tubuh Revan yang selalu ia suka, tubuh itu tetap wangi meskipun sudah seharian bekerja.


" mas Re, mandi aja ya? biar tidurnya nyenyak" ucap Nadhifa setelah pelukannya terlepas.


Revan mengangguk dan membiarkan Nadhifa menyiapkan air hangat untuknya. Revan mengambil kaos dan celana pendek di lemari dan memasuki kamar mandi usai Nadhifa mengatakan semuanya sudah siap.


tak butuh waktu lama tubuh Revan sudah terasa segar, Revan mendapati Nadhifa yang masih setia menunggunya.


"kamu belum tidur juga?"


" aku nungguin kamu mas" sahut Nadhifa yang mengambil alih handuk di tangan Revan.


" ayo kita tidur, mas Re pasti capek banget kan" ajak Nadhifa usai meletakkan handuk di tempat yang sudah tersedia.


Revan mengangguk dan berbaring di samping Nadhifa, meletakkan kepalanya di pelukan hangat istrinya, seakan mengerti yang suaminya inginkan Nadhifa mengelus rambut Revan hingga suaminya terlelap, sesekali Nadhifa mengecup kening Revan dengan sayang.

__ADS_1


" aku sangat mencintaimu mas" ucap Nadhifa lirih.


__ADS_2