Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
25. KAMU KENAPA?


__ADS_3

Revan dan Nadhifa baru saja tiba di salah satu cafe yang cukup terkenal, terlihat banyak sekali pengunjung yang berdatangan meskipun hari sudah malam.


Sepulang dari panti, Revan mengajak Nadhifa untuk bertemu dengan para sahabatnya, kebetulan malam ini mereka berkumpul di cafe milik Dion, kali ini Sahabat Revan mengajak istri mereka untuk mengenal Nadhifa lebih jauh.


Perlahan tapi pasti Revan menggandeng mesra tangan Nadhifa, berjalan melewati para wanita yang memandangi wajah tampan Revan.


Baru kali ini Nadhifa melihat Revan menampakkan wajah dinginnya, membuat Nadhifa sedikit keheranan melihat Tingkah aneh suaminya.


"Ada apa ?" tanya Revan melihat Nadhifa yang terus saja memandang wajahnya.


"Tidak apa" jawab Nadhifa menampilkan senyum manisnya.


Revan tersenyum membalas senyuman istrinya, kembali memasang wajah datarnya dan berjalan hingga sampai di suatu tempat yang hanya di khususkan untuk orang tertentu.


Di ruangan itu sudah ada sahabat Revan dan istri mereka yang asyik bercengkrama.


"Wah, pengantin baru datang" ucap Rio saat melihat Revan yang datang bersama Nadhifa di sampingnya.


Revan tersenyum simpul, menarik kursi dan mempersilahkan Nadhifa duduk disampingnya.


"Revan, istri kamu cantik banget ya" ucap istri Dion yang terkenal dengan julukan gadis cerewet, berbanding terbalik dengan Dion yang lebih banyak diam.


"Ayo kita pindah tempat saja, Revan kami bawa istri kamu ya" ucap wanita itu terkekeh.


Nadhifa melihat Revan untuk meminta izin, membuat Revan mengangguk, membiarkan istrinya bergabung dengan istri sahabatnya.


Entah apa yang di bicarakan mereka, tapi melihat wajah istrinya yang bersemu merah membuat Revan yakin jika istri para sahabatnya pasti sedang menggodanya.


"Woi, sepertinya kita dari tadi bicara sama patung" ucap yang mengibaskan tangannya di depan wajah Revan yang sedang mengamati istrinya dari jauh.


Revan yang mendengar suara Rio yang cukup nyaring membuat Revan menolehkan kepalanya melihat sahabatnya yang sedang menatapnya.


"Jayak gak pernah jadi pengantin baru aja" ucap Revan yang mengundang godaan dari sahabatnya.


Revan hanya tersenyum mendengar para lelaki di hadapannya yang tak henti menggodanya, tak mengatakan apapun membuat mereka kesal.


"Apa kamu tak pernah mengajak istrimu berbicara Revan?" tanya pria yang duduk disamping Revan.


"Memangnya kenapa?" tanya Revan.


"Ya, aku jadi ingin tau gimana cara kamu mendekati istrimu itu, apalagi kamu adalah tipe orang yang jarang berbicara, terlebih pada perempuan" ucap Rio lagi.


Kedua sahabat Revan yang lain hanya geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan yang di ajukan Rio, ternyata sahabat yang satu ini memang mempunyai rasa penasaran yang tinggi.


Revan hanya menatap Rio dengan tatapan datar, membuat Dion dan Danu menahan tawa melihat Rio yang salah tingkah.


"Walaupun hubungan kami berawal dari perjodohan, tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuknya" ucap Revan tegas.


Ketiga sahabat Revan hanya manggut-manggut mendengar ucapan Revan, mereka terus membicarakan banyak hal, sesekali menyesap minuman yang sudah mereka pesan sebelumnya.


Nadhifa dan para wanita yang lain berjalan mendekati para suami mereka.


"Mas Revan, aku mau izin keluar" ucap Nadhifa saat berada di hadapan Revan.


"Mau kemana?" tanya Revan.


"Tenang aja Van, kami cuma mau ngajak istri kamu jalan-jalan sebentar, gak mungkin sampai satu jam" jelas istri Dion.


"Baiklah, bawalah ini, nomer PINnya tanggal pernikahan kita" ucap Revan tersenyum seraya menyerahkan kartu kredit yang bisa digunakan oleh Nadhifa.


"Terima kasih mas"


Revan hanya mengangguk, membuat Nadhifa melebarkan senyumnya.


"Hati-hati" pesan Revan.


"Iya mas" sahut Nadhifa.


Usai berpamitan, para wanita berjalan keluar, entah tempat apa yang menjadi tujuan mereka, Revan membiarkan Nadhifa untuk ikut bersama mereka, supaya istrinya lebih banyak interaksi dengan istri sahabatnya.

__ADS_1


Di dalam kafe, ketiga sahabat Revan tak henti memandang Revan, membuat Revan risih.


"Ada apa?" tanya Revan.


"Aku hanya tak menyangka jika kamu bisa bersikap lembut seperti itu" ucap Rio yang diiringi anggukan mantap Dion dan Danu.


"Jalian kira aku orang jahat" dengus Revan


ketiga sahabat Revan tertawa mendengar ucapan Revan, tak dapat dipungkiri bahwa mereka cukup lega setidaknya Revan bisa bersikap lembut kepada istrinya.


...


Keempat wanita berhijab berjalan beriringan menuju sebuah toko pakaian dalam, Nadhifa hanya mengikuti langkah kaki para wanita yang lebih tua darinya.


Mereka berhenti di sebuah bilik yang menyediakan lingerie, membuat Nadhifa sedikit malu, karena baru pertama kali Nadhifa menginjakkan kaki di tempat seperti ini.


"Ayo Dhifa, pilih menurut kamu bagus yang mana" ucap istri Dion yang memang lebih mendominasi percakapan diantara mereka.


"Aku gak tau" ucap Nadhifa malu, membuat mereka geleng-geleng kepala.


"Baiklah, kamu tunggu dulu biar kami yang memilihkan yang paling bagus untukmu" ucap istri Danu yang tak kalah antusias memilihkan lingerie untuk Nadhifa.


"Baiklah" ucap Nadhifa pasrah.


lingerie dari kak Ranti saja belum aku pakai, kenapa mereka memilihkan lingerie lagi, ucap Nadhifa dalam hati.


Nadhifa hanya tersenyum melihat mereka yang antusias, ingin menolak tapi Nadhifa tidak mau mengecewakan mereka.


Akhirnya mereka bertiga mendatangi Nadhifa dengan lingerie yang ada di tangan mereka.


"Ini bagus Dhifa, pasti Revan suka" ucap istri Rio, menyodorkan lingerie berwarna hitam.


"Ini juga bagus dhifa, warnanya sangat cocok dengan warna kulitmu" ucap istri Dion yang menyodorkan lingerie warna pink.


"Ini juga tak kalah bagus dhifa, ini adalah lingerie model terbaru" ucap istri Danu yang memperlihatkan lingerie dengan desain yang begitu terbuka, membayangkan saja Nadhifa sudah meringis.


Mata Nadhifa terbelalak saat melihat harga lingerie itu, ternyata baju tipis kekurangan bahan itu jauh lebih mahal dari gamis uang biasa Nadhifa beli.


semoga mas Revan gak marah, ucap Nadhifa dalam hati.


Mereka kembali ke kafe yang tak jauh dari tempat mereka berbelanja.


...


Sepanjang perjalanan Nadhifa hanya mengedarkan pandangan ke arah jendela menghindari bertatapan dengan Revan.


"Kenapa ?" tanya Revan.


"Tidak apa mas" jawab Nadhifa.


Revan terdiam, mungkin Nadhifa perlu waktu untuk diri sendiri.


Nadhifa menggelengkan kepalanya saat mengingat ucapan istri Dion.


"Nanti kamu tanya Revan, sukanya lingerie yang seperti apa, biar enak kalau kita berbelanja kita bisa langsung pilih lingerie kesukaan Revan"


Kelakuan Nadhifa tak luput dari perhatian Revan yang sejak tapi memperhatikannya.


Ada apa dengannya? kenapa dia jadi aneh? tanya Revan dalam hati.


Kedua pasangan itu tiba di rumah sekitar jam sepuluh malam, orang rumah telah tidur, dan Revan membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang biasa Revan bawa.


"Aku ke kamar mandi dulu ya mas" ucap Nadhifa yang masih saja menunduk.


"Baiklah" sahut Revan.


Revan melihat paper bag yang sedari tadi dibawa Nadhifa, gadis itu tak membiarkan Revan untuk membawanya.


"Mereka membeli apa tadi" ucap Revan pelan.

__ADS_1


Tak lama Nadhifa keluar dengan memakai piyama lengan panjang, membuat Revan mendekati kamar mandi untuk menyegarkan diri.


"Jangan tidur dulu" ucap Revan pelan.


Nadhifa mengangguk membiarkan Revan berlalu, gadis itu mendekati meja rias dan mulai menyisir rambut.


Usai dengan pekerjaannya, Nadhifa mendudukkan diri di atas ranjang, menanti Revan yang masih berada di kamar mandi, mungkin pria itu sedang mandi.


Revan mendekati Nadhifa dan duduk di samping istrinya.


"Kamu kenapa Dhifa? dari tadi kamu diam saja" tanya Revan.


"Apa kamu gak suka bertemu dengan istri sahabatku?" tanya Revan lagi saat Nadhifa tak menjawab.


Nadhifa menggeleng, membuat Revan semakin penasaran.


"Apa aku ada salah?" tanya Revan lagi.


"Tidak mas, tapi mas Revan jangan marah ya" pinta Nadhifa.


"Ada apa?" tanya Revan.


Nadhifa meraih paper bag itu dan memberikannya pada Revan.


"Tadi mereka mengajakku untuk membeli sesuatu yang harganya cukup mahal" ucap Nadhifa.


"Terus?" tanya Revan tak sabaran.


"Aku takut mas Revan marah" ucap Nadhifa polos mengundang senyuman di bibir Revan.


"Tak apa, kamu bisa membeli apapun yang kamu mau, itu hak kamu" ucap Revan membelai lembut rambut Nadhifa.


"Jadi mas Revan gak marah?" tanya Nadhifa.


"Tidak ada alasan untuk marah, Dhifa" jawab Revan.


Revan berniat membuka paper bag itu,namun kedua tangannya di tahan Nadhifa.


"Kenapa?" tanya Revan.


"Jangan dibuka mas, aku malu" ucap Nadhifa dengan pipi yang bersemu merah.


"Tak apa, aku ingin tau apa yang kamu beli" ucap Revan santai.


Mata Revan terbelalak saat melihat tiga lingerie berbagai model ada di hadapannya, membuat Revan salah tingkah.


"Mas Revan, kan aku bilang jangan di buka" ucap Nadhifa yang menutup kedua matanya dengan tangan.


"Mereka yang pilih?" tanya Revan.


"Iya mas, aku terima saja, karena takut mengecewakan mereka" jelas Nadhifa.


"Iya tak apa, taruhlah di lemari" ucap Revan.


Nadhifa mengangguk mengambil lingerie yang di berikan Revan dan mulai menatanya di lemari, di tempat yang sama dengan lingerie yang diberikan Ranti.


Revan menggelengkan kepalanya, saat membayangkan istrinya menggunakan pakaian kekurangan dan tipis itu.


Revan, kenapa kamu jadi berpikiran mesum. ucap Revan pelan.


"Mas Revan kenapa?" tanya Nadhifa.


"Tak apa Dhifa" jawab Revan dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang diikuti Nadhifa.


Menarik selimut untuk menghangatkan tubuh mereka, Revan menarik tubuh Nadhifa dan mendekapnya erat.


"Tidurlah, sudah malam" ucap Revan lembut sambil mengecup puncak kepala istrinya.


Nadhifa mengangguk dan mulai memejamkan mata, membuat Revan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


__ADS_2