Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
72. KELAHIRAN BABY TWINS.


__ADS_3

Usai mempercayakan semua pekerjaannya pada Raihan, Revan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sebenarnya ia ingin cepat sampai di rumah sakit namun ia tak bisa mengabaikan keselamatannya.


butuh waktu beberapa menit untuk Revan sampai di rumah sakit, ia segera memarkirkan mobilnya dan berlari kecil untuk mencari ruangan Nadhifa.


setelah bertanya pada perawat, ia segera berlari menuju ruangan bersalin, ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari keluarganya.


pandangannya tertuju pada kedua adik kembarnya yang saat ini sedang menunggu diluar, wajah keduanya yang terlihat khawatir membuat Revan semakin cemas.


" gimana keadaan Nadhifa?" tanya Revan dengan nafas memburu.


" Abang sudah datang, kak Dhifa belum lahiran bang, ada mama di dalam" sahut Windi.


tanpa buang waktu Revan segera masuk ke ruangan itu dan menemukan Nadhifa yang sedang berjalan tertatih di bantu Bu Rahma.


" sayang" ucap Revan membuat Nadhifa menolehkan kepalanya dan tersenyum kecil, nampak sekali wajah itu sedang menahan sakit.


" mas Re sudah disini?" sahut Nadhifa, Revan langsung menghampiri Nadhifa dan mengecup kening Nadhifa dengan sayang.


" mama istirahat saja, biar Revan yang jagain Dhifa" ucap Revan, Bu Rahma mengangguk mengerti dan keluar ruangan usai mengelus kepala Nadhifa dan memberikan dukungan.


" katanya sakit, kenapa masih jalan-jalan?"


tanya Revan yang menuntun Nadhifa berjalan di ruangan itu.


" iya mas, masih pembukaan lima jadi kalau bisa sebaiknya jalan dulu, supaya lahirannya lancar" sahut Nadhifa sesekali meringis membuat Revan khawatir.


" kalau kamu gak sanggup bilang ya, operasi saja" ucap Revan, namun wanita itu menggeleng cepat.


" tidak mas, biarkan aku menikmati semua rasa sakit ini" sahut Nadhifa tersenyum kecil.


" baiklah, aku selalu mendukungmu"


Revan kembali menuntun Nadhifa mengitari ruangan itu, sesekali berhenti saat rasa sakit Nadhifa rasakan.


" mas, sakit" ucap Nadhifa mencengkram lengan Revan dengan erat, Revan melihat cairan yang merembes membasahi gamis istrinya.


" suster tolong bantu saya" titah Revan pada salah satu perawat yang ada disana, dengan bantuan suster itu Revan berhasil membaringkan tubuh Nadhifa di ranjang rumah sakit.


"sabar ya sayang, suster tolong panggilkan dokter" ucap Revan.


tak lama dokter perempuan datang untuk memeriksa keadaan Nadhifa.


" masih pembukaan sembilan, belum sempurna pak" jelas dokter itu.


" tapi tadi ada cairan yang keluar dokter" ucap Revan cemas, pasalnya saat ini Nadhifa hanya diam menahan rasa sakitnya, wanita itu memilih untuk mencengkram lengan Revan daripada bersuara.


" ditunggu jalan lahirnya sempurna pak, mungkin butuh beberapa menit lagi" ucap dokter itu membuat Revan menghela nafasnya, pasrah.

__ADS_1


" apa ini tidak masalah dokter?"


" tidak pak, posisi kedua bayi kalian sudah tepat, insyaallah saya bisa mengatasinya"


" dokter sakit, mas Re sakit" ucap Nadhifa yang mencengkram lengan Revan lebih kuat dari sebelumnya, bagian perut bawahnya sudah sangat sakit sepertinya baby twins sudah tidak sabar ingin segera lahir.


Dokter perempuan itu segera memeriksa jalan lahir Nadhifa.


" sekarang pembukaannya sudah sempurna, ayo Bu Dhifa ikuti instruksi dari saya ya"


Nadhifa mengangguk, Revan membiarkan istrinya mencengkram salah satu lengannya, satu tangan yang lain ia gunakan untuk membersihkan bulir-bulir keringat yang membasahi istrinya.


" ayo sayang kamu pasti kuat" bisik Revan.


Nadhifa mengikuti instruksi dari dokter itu dengan baik, mengambil nafas dan mengejan semampunya, yang ia harapkan saat ini kedua bayinya bisa lahir dengan selamat.


" ayo Bu, sedikit lagi, kepala bayinya sudah kelihatan" ucap dokter memberikan semangat.


" kamu bisa sayang, sebentar lagi baby twins akan segera lahir" bisik Revan dengan mata berkaca-kaca, melihat perjuangan Nadhifa yang tak mudah membuat Revan ingin menangis, namun ia tahan karena saat ini Nadhifa membutuhkan dukungannya.


mendengar motivasi dari Revan, Nadhifa kembali mengumpulkan tenaganya, sekali lagi ia mengejan hingga terdengar suara bayi membuatnya sedikit lega dan tak lupa mengucapkan syukur dalam hatinya.


" Alhamdulillah sayang, baby boy kita sudah lahir, kamu hebat" ucap Revan mengecup kening Nadhifa.


Nadhifa mengangguk lemah, ia memejamkan matanya dan mengatur nafasnya dengan baik, perjuangannya belum selesai, masih ada satu bayi lagi yang akan lahir.


tanpa buang waktu salah satu perawat membawa baby boy itu untuk ia bersihkan, selang lima menit Nadhifa kembali merasakan sakit hebat pada perut bagian bawahnya hingga ia kembali mencengkram lengan Revan.


Dokter yang mengerti situasi seperti itu, langsung memberikan arahan pada Nadhifa, kali ini lebih mudah karena jalan lahir sudah terbuka.


tangis bayi kedua terdengar membuat Revan tak henti bersyukur, pria itu mengecup kening Nadhifa yang saat itu tersenyum dengan lebar.


" terimakasih sayang, kamu hebat" bisik Revan yang tak menghilangkan senyuman di wajahnya, namun ia mendadak panik saat Nadhifa tiba-tiba memejamkan matanya.


" dokter, istri saya kenapa?" ucap Revan setengah berteriak.


" sebaiknya anda tunggu diluar" ucap dokter wanita itu singkat.


Revan segera keluar dari ruangan itu walaupun dalam hati ia ingin menemani istrinya, Revan menghampiri Bu Rahma dan si kembar yang menunggu di luar.


Revan segera menghambur dalam pelukan Bu Rahma membuat wanita paruh baya itu khawatir.


" ada apa sayang, istri kamu dan baby twins baik-baik saja kan?


" baby twins lahir dengan selamat ma, tapi istriku..." sahut Revan dengan suara bergetar.


" kamu tidak perlu khawatir, Dhifa pasti akan baik-baik saja" ucap Bu Rahma yang mengelus punggung Revan dengan lembut.

__ADS_1


" maafkan kesalahan Revan ma, Revan sering membuat mama sedih" ucap Revan membuat Bu Rahma terharu.


" tidak sayang, kamu adalah putra kebanggaan mama, kamu tidak pernah membuat mama sedih" sahut Bu Rahma melepaskan pelukannya, ia mengelus kepala Revan dengan sayang.


si kembar Winda dan Windi ikut terhanyut dalam suasana haru, keduanya menghambur dalam pelukan Bu Rahma.


" maafkan Winda ma"


" maafkan Windi juga ma"


" sudah jangan menangis, anak-anak mama yang terbaik, mama bangga mempunyai kalian" ucap Bu Rahma mengelus kedua punggung si kembar.


...


Saat ini Bu Rahma dan si kembar sedang melihat anggota baru keluarga mereka, kedua bayi yang baru saja lahir kini menjadi kesayangan mereka.


Sedangkan Revan sejak tadi duduk di samping ranjang Nadhifa, sesekali mencium punggung tangan Nadhifa berharap istrinya itu akan cepat sadar.


" sayang bangun, lihatlah baby twins kita" ucap Revan lirih, tak dapat dipungkiri jika ia masih khawatir karna Nadhifa belum juga membuka matanya.


" mas" ucap Nadhifa lirih, tubuhnya masih terasa sangat lemah.


" sayang, kamu sudah bangun? ada yang sakit?" sahut Revan dengan mata berbinar, tak lupa kecupan ia sematkan pada kening istrinya.


" tidak mas, mana baby twins?" sahut Nadhifa.


Revan berlalu dan memanggil Bu Rahma dan si kembar untuk membawa baby twins pada Nadhifa.


" selamat sayang, sekarang kamu sudah jadi seorang ibu" ucap Bu Rahma yang menyerahkan cucu laki-laki pertamanya pada Nadhifa.


" iya ma, terimakasih" sahut Nadhifa, ia kemudian menatap baby boy yang ia tunggu-tunggu.


" baby boy tampan sekali" ucap Nadhifa yang tak henti mencium pipi halus bayinya.


" iya, siapa dulu papanya" sahut Revan membuat Nadhifa tertawa kecil, baby boy itu memang terlihat sangat mirip dengan Revan.


" iya, papa juga tampan" ucap Nadhifa.


" mana putri kecilku papa?" tanya Nadhifa, ia menyerahkan baby boy itu pada Revan.


Revan menolehkan kepalanya pada suster yang membawa bayi perempuan mereka, tanpa diminta suster itu menyerahkan bayi mungil yang cantik dalam dekapan Nadhifa.


" putri mama cantik sekali" ucap Nadhifa yang memberikan ciuman di kedua pipi bayinya.


" iya sayang, dia cantik seperti kamu" sahut Revan membuat Bu Rahma dan si kembar tersenyum.


" lihatlah baby twins, papa kalian genit" ucap Nadhifa membuat mereka semua tertawa.

__ADS_1


__ADS_2