Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
65. ANEH


__ADS_3

Waktu seminggu benar-benar dimanfaatkan oleh Revan dan Nadhifa untuk refreshing, saat siang hari keduanya akan berjalan-jalan menyusuri pantai dan tempat indah lain yang dekat dengan penginapan mereka, dan malam hari mereka gunakan untuk memadu kasih tanpa merasa sungkan ada yang melihat mereka.


Nadhifa begitu bahagia, ia sangat beruntung dapat menjadi istri Revan, walaupun saat ini ia belum juga hamil namun Revan tak pernah mempermasalahkannya.


Revan sudah kembali bekerja ke kantor, mengerjakan setumpuk berkas yang memerlukan tanda tangannya dan mempelajarinya dengan sebaik mungkin.


Nadhifa sedang duduk di dalam kamarnya, ia memandangi ponselnya yang menampilkan foto-foto mereka saat berlibur, satu bulan berlalu namun kenangan saat mereka bersama masih membekas di hatinya.


" Terimakasih mas, sudah menerima kekuranganku" ucap Nadhifa lirih.


Wanita itu meletakkan ponselnya di atas nakas, ia memasuki kamar mandi dan berwudhu, seperti biasa ia akan sholat Dhuha setelah Revan berangkat bekerja, lalu ia akan membaca Alquran supaya hatinya lebih tenang.


Usai mengaji Nadhifa meletakkan kitab suci itu di tempat yang tersedia, ia segera mengambil ponselnya yang sedang berbunyi, senyumnya merekah saat mengetahui siapa yang menghubunginya.


" Assalamualaikum" sapa Nadhifa ceria.


" waalaikum salam Tante" sahut seseorang di seberang sana, terlihat seorang bayi berusia 5 bulan sedang menggerak-gerakkan tangannya menggapai kamera yang diarahkan padanya.


" apa kabar keponakan Tante yang tampan?" ucap Nadhifa.


" aku baik Tante, Tante apa kabar?" sahut Zahra menirukan suara anak kecil membuat Nadhifa terkekeh.


" Tante baik-baik saja sayang" sahut Nadhifa.


" Tante kangen banget sama kamu" imbuhnya dengan wajah sedih.


layar ponselnya berubah menampilkan sosok wanita cantik yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya.


" kenapa kamu sedih?" tanya wanita itu.


" tidak apa-apa, aku kangen sama si kecil" sahut Nadhifa.


" dasar kamu ya, padahal kemarin kamu baru kesini" ucap Zahra terkekeh.


" entahlah, tapi aku sungguh kangen sama si kecil"


Zahra mengarahkan kameranya pada bayinya yang sedang menguap membuat Nadhifa terkekeh.


" lucu sekali, sepertinya dia sudah mengantuk"


" iya, aku tutup telponnya ya, kamu bisa kesini kapan saja" sahut Zahra.


" iya, assalamualaikum"

__ADS_1


Nadhifa mematikan ponselnya saat Zahra menjawab salamnya, ia membuka mukena dan mengenakan hijab instan, kemudian ia turun ke bawah untuk membantu bik Minah memasak.


...


Ponsel Revan berbunyi saat pria itu akan memasuki mobilnya, ternyata ada pesan yang istrinya kirimkan.


My Wife


mas Re, jangan lupa pesanan ku ya


aku tunggu di rumah


😍😍😍


Revan memijat pelipisnya, ia tak yakin dapat membawa makanan yang dipesan istrinya karna waktu sudah cukup malam, Revan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ia yakin jika kedai itu sudah tutup.


Sebenarnya Revan sedikit aneh dengan tingkah istrinya, beberapa hari terakhir Nadhifa selalu memesan makanan sebelum ia pulang, bahkan wanita itu bisa menghabiskan dua porsi makanan seorang diri.


" semoga saja Dhifa tidak marah" ucap Revan lirih, sebelumnya pria itu datang untuk membeli makanan yang istrinya pinta, namun perkiraannya benar karna kedai itu sudah tutup.


Dengan berat hati ia pulang ke rumah, melewati jalan raya yang masih terlihat padat di malam hari.


Usai memarkirkan mobilnya di garasi, Revan segera melangkahkan kakinya menuju rumahnya, ia sudah tidak sabar untuk melihat istrinya yang sangat ia rindukan.


Saat membuka pintu, ia mendapati Nadhifa yang sedang menunggunya dengan wajah yang bersinar, namun wajah itu perlahan murung saat Revan tidak membawa apapun.


" Maaf sayang, tadi warungnya tutup"


" iya mas, tidak apa-apa" sahut Nadhifa tersenyum kecil, sebenarnya ia kecewa namun ia tak dapat menyalahkan Revan karena ia tahu jika suaminya sibuk bekerja.


" ayo mas Re minum dulu, aku sudah siapkan jahe hangat" ajak Nadhifa menarik Revan untuk duduk di meja makan.


Revan memperhatikan wajah istrinya yang terlihat murung dengan pelan ia menarik tangan Nadhifa untuk duduk di sampingnya.


" maafin aku ya, aku tadi sudah pergi ke sana tapi ternyata warungnya sudah tutup" ucap Revan mengecup punggung tangan Nadhifa dengan lembut.


" iya mas, gak apa-apa, yang penting mas Re pulang selamat" sahut Nadhifa menghibur suaminya, ia tahu pekerjaan kantor tidak akan ada habisnya, akan sangat egois jika ia hanya memikirkan dirinya sendiri sedangkan ia tahu jika suaminya sudah berusaha mendapatkan pesanannya.


" jangan dipikirkan lagi, aku sungguh tidak apa-apa" ucap Nadhifa meyakinkan Revan, ia meminta Revan untuk meminum minuman hangat yang sudah ia siapkan.


keduanya berjalan menuju kamar, Nadhifa meletakkan tas kerja Revan dan membantu Revan melepas jas dan dasi yang melekat ditubuhnya.


Saat Revan akan membuka kemeja Nadhifa menghentikannya, wanita itu membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu, ia sangat suka menghirup aroma tubuh Revan yang selalu ia suka.

__ADS_1


Revan merasa aneh dengan kelakuan istrinya, namun ia membiarkan saja sampai Nadhifa puas, ia juga memeluk tubuh Nadhifa yang selalu ia rindukan, tak lupa ia menghadiahkan kecupan-kecupan kecil di puncak kepala istrinya.


" sudah?" tanya Revan setelah Nadhifa melepaskan pelukannya.


" iya mas, maaf ya, Dhifa suka sekali aroma tubuh mas Re" sahut Nadhifa membuat Revan keheranan, pasalnya akhir-akhir Nadhifa memang selalu melakukan hal itu.


" aku baru pulang kerja sayang, badanku pasti bau" ucap Revan saat Nadhifa membantu melepaskan kancing kemejanya.


Nadhifa menggeleng dan kembali memeluk tubuh bagian atas Revan yang sudah tidak dilapisi apapun.


" tapi aku suka" sahut Nadhifa yang kembali memberikan ciuman kecil di dada bidang suaminya.


" kamu menggodaku lagi?" ucap Revan menggoda istrinya, ia berkata seperti itu karna kemarin wanita itu juga melakukan hal yang sama.


" sepertinya iya" sahut Nadhifa tersipu malu, membuat Revan tidak percaya.


" Baiklah kamu tunggu saja, aku akan mandi" ucap Revan pada akhirnya, sebenarnya ia lelah namun jika harus begadang dengan istrinya ia tak akan berpikir dua kali.


" airnya belum aku siapkan mas" ucap Nadhifa saat Revan akan memasuki kamar mandi.


" jangan khawatir aku bisa sendiri, sebaiknya kamu siapkan dirimu" sahut Revan membuat pipi Nadhifa merona.


Nadhifa tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, ia sadar jika akhir-akhir ini ia sering memesan makanan pada Revan dan ia selalu menginginkan Revan, sebenarnya ia malu namun ia tidak dapat menahan dirinya.


wanita itu berjalan membuka lemari pakaiannya dan mengambil baju berbahan tipis berwarna hitam, malam ini ia sangat ingin memakainya,entah apa yang akan Revan pikirkan tentangnya tapi ia tidak peduli.


Revan menggosokkan handuk di kepalanya, namun gerakannya terhenti saat melihat Nadhifa yang terlihat begitu cantik dan seksi sedang duduk di ranjangnya, dapat ia pastikan jika wanita itu sedang menunggunya.


Revan tersenyum kecil, ia meletakkan handuk di tempatnya dan mendekati Nadhifa yang sejak tadi menundukkan kepalanya.


" sayang" ucap Revan setelah duduk disamping Nadhifa.


" ada apa mas?" sahut Nadhifa.


" kamu sangat cantik" ucap Revan.


" dan seksi" lanjut Revan dengan berbisik telat di telinga Nadhifa membuat wanita itu geli.


" mas, aku malu" sahut Nadhifa dengan wajah yang sudah memerah.


" tidak perlu malu, katakan apa yang kamu inginkan, aku suamimu, semua yang ada pada diriku adalah milikmu sayang" sahut Revan lembut mengelus pipi Nadhifa.


Nadhifa menatap Revan yang saat ini juga menatapnya, ia memberanikan diri untuk mengelus rahang kokoh suaminya dan beralih pada bibir merah itu, Revan masih menunggu dengan sabar apa yang akan istrinya katakan ia sedikit tersentak kala wanita dihadapannya itu menciumnya begitu dalam, hingga wanita itu berhenti saat ia kehabisan nafas.

__ADS_1


" aku menginginkanmu mas" ucap Nadhifa pelan membuat Revan tersenyum senang.


" sepertinya yang kamu inginkan sayang, lakukan apa yang kamu mau" sahut Revan yang sudah menarik Nadhifa untuk duduk di pangkuannya, dapat ia lihat wajah istrinya semakin memerah.


__ADS_2