Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
50. ANCAMAN


__ADS_3

Usai kepergian Alif dan Tasya saat ini Revan dan Nadhifa kembali duduk berdua, dapat Revan lihat wajah istrinya yang masih berbinar.


" aku kapan bisa kayak gitu mas?" ucap Nadhifa lirih, wanita itu menatap wajah tampan Revan yang saat ini juga menatapnya.


" kita harus sabar sayang, semua pasangan pasti menginginkan keturunan tapi hanya Allah yang bisa mengabulkannya" sahut Revan bijak, pria itu mengelus kepala istrinya dengan lembut.


" sabar ya" imbuhnya yang mendapat anggukan dari Nadhifa.


" kamu mau nginap di panti?" tanya Revan membuat Amira mengangguk dan tersenyum senang.


" boleh, aku akan ikut menginap di sana" lanjut Revan.


" mas Re besok kerjanya gimana?" ucap Nadhifa saat mendengar ucapan suaminya.


" aku akan berangkat dari sini" sahut Revan.


" Baiklah, terimakasih mas" ucap Nadhifa tulus.


" kembali kasih sayang" sahut Revan membuat Nadhifa tertawa.


" tapi jangan lupa hadiahku" bisik Revan tepat di telinga Nadhifa membuat semburat merah menghiasi wajah cantik Nadhifa.


" dasar mesum" ucap Nadhifa pelan.


" biarin, kamu juga suka" sahut Revan.


Revan senang bisa melihat wajah Nadhifa kembali ceria, pria itu memeluk tubuh istrinya dari samping.


" ayo kita ke panti saja, aku mau istirahat" ucap Revan.


" kita pamit dulu sama bibi dan paman Zahra" sahut Nadhifa, wanita itu sudah menggandeng tangan Revan untuk mengikuti langkah kakinya.


hingga keduanya berhenti dihadapan sepasang suami istri yang terlihat begitu serasi dengan pakaian senada.


" bibi, paman, Dhifa dan suami Dhifa pamit pulang dulu ya" ucap Nadhifa


" mau langsung pulang ke rumah?" tanya bibi Zahra.


" tidak bik, Dhifa nginap di panti" sahut Nadhifa.


usai berpamitan keduanya langsung berjalan kaki menuju panti, rumah Zahra terletak sangat dekat dengan panti.


" mereka bukan orang tua kandung Zahra?" ucap Revan.


" bukan mas, bibi Zahra itu adik dari almarhum ayah Zahra, kedua orang tua Zahra meninggal dunia setelah mengalami perawatan akibat kecelakaan lalu lintas" jelas Nadhifa.


" mereka sebenarnya punya seorang anak seusia Zahra, tapi sudah meninggal karena penyakit DBD, karna tak tega melihat Zahra sendiri mereka mengangkat Zahra menjadi anak mereka" lanjut Nadhifa.


Revan mengangguk mendengar penjelasan Nadhifa hingga keduanya tak sadar jika sudah tiba di panti.


kedatangan mereka disambut oleh bunda Lastri dan bunda Naya yang saat ini sedang duduk di depan mushola.

__ADS_1


" bunda, Nadhifa mau nginap disini boleh?" ucap Nadhifa.


" tentu saja, bunda akan sangat senang" sahut bunda Lastri.


" iya Dhifa, kamu kan juga jarang nginap disini" timpal bunda Naya.


" kamu tinggal di rumah bunda saja, nanti kamu bisa tidur di kamar Arman "ucap bunda Naya.


" iya Dhifa, kamu tidur di rumah bunda Naya saja" ucap bunda Lastri.


" iya bunda"


...


Di pagi hari Revan sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya, bahkan semua perlengkapan kerja sudah ia siapkan di mobilnya.


" kapan mas Re beres-beres baju? Dhifa kok gak tahu" tanya Nadhifa setelah selesai membuatkan teh untuk suaminya.


" waktu kamu bungkus hadiah buat Zahra" sahut Revan yang sudah menyesap teh hangat buatan istrinya.


" kenapa gak bilang Dhifa mas? kan Dhifa bisa bantu" ucap Nadhifa.


" aku lihat kamu sibuk jadi aku beresin sendiri" sahut Revan.


" baiklah, aku berangkat kerja dulu ya" ucap Revan.


" tapi kan mas Re belum sarapan" ucap Nadhifa.


" tidak apa sayang, aku nanti sarapan di kantin kantor saja karna ada hal yang harus aku urus sekarang" sahut Revan.


" hati-hati dijalan mas" ucap Nadhifa tak lupa mencium punggung tangan suaminya.


" kamu juga, jika ada apa-apa kabari aku ya" sahut Revan setelah mengecup kening Nadhifa.


" iya mas" ucap Nadhifa menampilkan senyuman manisnya, wanita itu melambaikan tangan saat kendaraan roda empat yang dikendarai suaminya perlahan menghilang dari pandangannya.


Revan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia ingin segera sampai di kantor karna seorang resepsionis mengabarkan jika saat ini ada Nina yang ingin menemuinya.


melihat kantor yang masih sepi, Revan memilih untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.


kedatangannya membuat pelayan kantin keheranan pasalnya Revan belum pernah sarapan di sana.


" pak Revan, mau pesan apa pak?" ucap pelayan laki-laki itu ramah.


" nasi uduk, minumnya air putih saja" sahut Revan setelah membaca menu makanan yang terpampang di dinding kantin.


pelayan tadi sudah datang membawa pesanan Revan, tak butuh waktu lama untuk pria itu menghabiskan makanannya.


melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, Revan kembali memasuki kantor saat jam menunjukkan jam pukul tujuh.


" ada apa Nina pagi-pagi kesini?" ucap Revan dalam hati.

__ADS_1


usai mendapatkan informasi dari resepsionis Revan memasuki lift yang akan membawanya tiba di ruangan kerjanya.


seorang wanita terlihat duduk di kursi kerja Raihan melihat-lihat berkas yang bertumpuk di meja kerja Raihan, namun wajah itu terlihat menyimpan sebuah amarah.


" silahkan masuk Bu Nina" ucap Revan sopan, pria itu membuka lebar ruangan kerjanya Karena tak ingin ada yang menggosipkan hal yang buruk tentangnya, apalagi dihadapannya adalah wanita yang tak henti menggodanya.


" katakan apa maksudnya ini Revan?" ucap wanita itu melemparkan beberapa foto Revan dan Nadhifa, bahkan wajah wanita itu sudah memerah menahan emosinya.


" saya lupa tidak memperkenalkan istri saya" sahut Revan santai.


" dia Nadhifa istri saya" imbuhnya membuat wanita itu terbelalak.


" jadi kamu sudah menikah?" tanya wanita itu marah.


" iya Bu Nina, saya sudah menikah satu tahun yang lalu" jelas Revan membuat Nina semakin murka.


" apa yang menyebabkan kamu memilih wanita itu Revan?padahal selama ini aku selalu mendekatimu tapi kamu selalu acuh padaku"ucap Nina berapi-api.


" dia begitu berbeda dengan kebanyakan wanita lainnya, ia menjaga dirinya dengan sangat baik" sahut Revan.


" pasti wanita itu sudah menyerahkan tubuhnya padamu hingga membuat kamu bertekuk lutut padanya" ucap Nina membuat Revan marah, namun pria itu mencoba meredam amarahnya karena dihadapannya adalah seorang wanita.


" jaga ucapan anda Bu Nina, ini adalah hal pribadi saya, anda tidak berhak mengatur kehidupan saya" ucap Revan tegas.


" baik, jika itu keputusanmu, jangan menyesal jika sesuatu terjadi pada perusahaan ini" ancam wanita itu.


" lakukan apa saja yang anda inginkan Bu Nina, saya tidak peduli" sahut Revan santai bahkan Revan menanggapi ocehan wanita di depannya dengan tenang.


Nina berdiri dan menutup pintu Revan dengan keras membuat Revan berdecak.


" dasar wanita gila" ucap Revan.


pria itu memilih untuk membuka berkas-berkas yang sudah bertumpu di meja kerjanya.


merasa lelah ia membuka ponselnya untuk menghubungi istrinya.


" assalamualaikum mas" sapa Nadhifa


" waalaikum salam sayang, sedang apa?" sahut Revan.


" ini masih bantuin bunda Lastri masak" sahut Nadhifa yang mengarahkan kameranya pada beberapa sayuran yang sudah terpotong-potong.


" mas Re mau dibawakan makan siang?" tanya Nadhifa.


" tidak usah, kamu di sana saja habiskan waktumu di panti saja dengan bahagia" sahut Revan.


" terimakasih mas" ucap Nadhifa tersenyum bahkan Revan dapat melihat wajah ceria istrinya.


" baiklah, aku lanjut kerja dulu ya"


" jangan lupa makan mas" pesan Amira sebelum panggilan berakhir.

__ADS_1


....


jangan lupa like dan komentarnya ya, supaya author semangat nulisnya.🤗


__ADS_2