Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
55. DALANG LICIK


__ADS_3

Wajah Revan terlihat begitu letih ketika memasuki rumahnya, di sana ada Nadhifa yang sedang membantu Bu Rahma dan bik Minah di dapur.


" Mas Re udah pulang?" Sapa Nadhifa menghampiri suaminya yang sedang membuka jas kerjanya.


" Iya sayang" sahut Revan, pria itu mencium kening istrinya setelah Nadhifa mengecup punggung tangannya.


" Gimana hasilnya?" Tanya Nadhifa.


" Belum rejeki" sahut Revan.


" Tidak apa mas, mas Re sabar ya" ucap Nadhifa yang dibalas anggukan oleh Revan.


" Mas Re mau minum apa?"


" Yang dingin aja"


Nadhifa beranjak, ia membuka kulkas dan mengambil sirup rasa melon yang disukai suaminya.


Setelah semua siap, ia membawa minuman dingin itu dan meletakkannya diatas meja.


" Mas Re, minum dulu" ucap Nadhifa menyodorkan gelas yang ia bawa kehadapan Revan.


" Terimakasih" sahut Revan.


Setelah itu Revan kembali ke kamar sedangkan Nadhifa melanjutkan pekerjaannya.


" Revan udah pulang?" Tanya Bu Rahma.


" Iya ma"


" Gimana hasilnya?"


Nadhifa menggeleng membuat Bu Rahma paham.


" Nanti habis makan siang, kamu ajak Revan keluar saja biar pikirannya gak stress" ucap Bu Rahma.


" Iya ma" sahut Nadhifa.


Keduanya kembali berkutat dengan bahan makanan yang akan mereka olah.


...


Seperti yang Bu Rahma katakan, Nadhifa mengajak Revan pergi keluar, sekarang mereka berdua berada di taman dekat kantor Revan seperti yang Nadhifa pinta.


" Kenapa kamu ngajak aku kesini?" Tanya Revan setelah keduanya duduk disalah satu bangku yang ada.


" Biar mas Re gak bosan, mas Re juga butuh refreshing" sahut Nadhifa.


Revan tersenyum mendengar ucapan istrinya, ia menarik kepala istrinya supaya bersandar di bahunya dan menarik tangan Nadhifa untuk ia cium.


" Sama kamu aja aku udah bahagia" sahut Revan mengedipkan matanya membuat Nadhifa tertawa kecil.


" Dasar suami gombal" sahut Nadhifa.


" Terimakasih ya" ucap Revan saat keduanya terdiam menikmati keindahan alami yang disuguhkan di taman itu.


" Untuk apa mas?"


" Sudah bersedia bersamaku"

__ADS_1


" Tidak masalah, apapun masalah yang harus kita hadapi dalam rumah tangga kita aku akan selalu bersama mas Re, aku tidak akan meninggalkan mas Re sendirian"


Ucapan Nadhifa membuat hati Revan menghangat, pria itu mengelus kepala istrinya dengan lembut.


" Aku beruntung mendapatkan bidadari surga sepertimu" ucap Revan membuat pipi Nadhifa bersemu.


" Udah jangan gombal"


" Siapa yang gombal? ini beneran ungkapan dari dalam hati aku" ucap Revan, ia menarik tangan Nadhifa untuk ia letakkan di dadanya, hingga wanita itu dapat merasakan degup jantung Revan yang berdetak kencang.


" Rasakanlah sayang, jantungku selalu berdetak kencang seperti ini saat dekat denganmu" ucap Revan lembut membuat wajah Nadhifa semakin merona.


" Udah, jangan gombal di sini, malu" ucap Nadhifa malu-malu.


" Baiklah, seperti keinginanmu sayang, nanti aku gombalin kamu di rumah aja" sahut Revan membuat Nadhifa tertawa.


Revan mengajak Nadhifa membeli telur gulung yang dijual pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar taman.


Keduanya berjalan sambil terus bercanda hingga tanpa sadar ada seseorang yang menabrak Nadhifa.


" Gimana sih? Jalan itu pakai mata" ucap wanita yang bertabrakan dengan Nadhifa.


" Maaf saya tidak sengaja" sahut Nadhifa penuh sesal.


Revan hanya menatap tajam wanita yang menabrak istrinya, ia sungguh membenci wanita itu.


" Ayo sayang" ajak Revan menarik lembut tangan istrinya supaya cepat pergi dari tempat itu.


" Tunggu" ucap seorang pria yang baru datang membuat mereka seketika berhenti.


" Apa yang kalian lakukan apa istriku?" Ucap pria itu.


" Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja menabrak istri anda" sahut Nadhifa sopan.


Revan tak memperdulikan ucapan pria itu, ia kembali menarik tangan Nadhifa untuk segera menjauh dari dua orang itu.


" Tunggu tuan Revan" ucap pria itu lagi.


" Maaf, saya harus cepat pergi" sahut Revan enggan.


" Bagaimana hadiah dari saya? Apa anda suka?" Ucap pria itu seketika membuat Revan dan Nadhifa berhenti.


" apa maksudmu?" Tanya Revan yang membuat pria itu tersenyum sinis.


" Jangan pura-pura tidak tahu tuan Revan, anda pasti tahu maksud saya" jawab pria itu.


Revan terdiam, ia memikirkan ucapan pria itu, seketika wajah Revan memerah saat ia sudah memahami ucap pria dihadapannya.


" Jadi anda yang sudah melakukan hal rendahan itu pada saya?" Ucap Revan seraya mengepalkan tangannya.


" Anda benar tuan Revan, apa anda suka?" Sahut pria itu tenang, ia menarik pinggang istrinya.


" Saya tidak menyangka, pengusaha sukses seperti anda melakukan hal selicik itu" sahut Revan yang mulai terpancing emosi.


Nadhifa mengelus punggung tangan Revan dengan lembut, membuat Revan seketika sadar jika ada istrinya di sana.


Nadhifa menggeleng seakan memberikan isyarat supaya Revan tidak terpancing ucapan pria dihadapannya.


" Saya sudah lama ingin melakukan hal itu pada anda, namun saya masih menunggu waktu yang tepat" ucap pria itu menyeringai.

__ADS_1


" Saya ingin anda merasakan menjadi orang kaya walaupun tidak bisa sekaya saya" lanjut pria itu dengan sombongnya.


" Kalau anda sudah selesai bicara kami pamit dulu" ucap Nadhifa, wanita itu menarik tangan suaminya dengan lembut membuat Revan pasrah.


" Ingat ucapan saya tuan Revan, selama saya hidup akan saya pastikan tidak ada perusahaan yang mau bekerjasama denganmu" imbuh pria itu membuat Nadhifa jengah.


" Ingat baik-baik dengan koneksi yang saya miliki saya bisa dengan mudah menghancurkan hidup pria pecundang sepertimu" lanjut pria itu dengan lantang karena Revan dan Nadhifa sudah pergi menjauh.


Nadhifa mengajak Revan untuk duduk di salah satu kedai yang ada di dekat taman, tanpa diminta wanita itu memesankan minuman dingin untuk suaminya.


" Mas Re minum dulu ya" ucap Nadhifa lembut memberikan gelas yang baru diantarkan penjual kedai itu.


Revan hanya menurut perintah istrinya, ia tahu jika istrinya sedang mencoba meredam emosinya.


" Udah lebih tenang?" Tanya Nadhifa yang mendapatkan anggukan dari pria itu.


" Mas Re gak usah dengar ucapan orang sombong seperti dia" ucap Nadhifa.


" Aku yakin mas Re pasti bisa, jangan pesimis ya" imbuhnya dengan senyuman yang ia sematkan di bibirnya.


" Iya sayang terimakasih" sahut Revan mengelus puncak kepala istrinya dengan sayang.


...


Di pagi hari Revan sudah pergi ke kantor, pria itu sedang menyiapkan berkas yang akan digunakan untuk pertemuan dengan salah satu pengusaha yang menghubunginya.


" Apa semua sudah siap Rey?" Tanya Revan pada Raihan yang baru saja memasuki ruangannya.


" Sudah pak, tiga puluh menit lagi kita harus segera sampai di tempat" sahut Rey sopan.


" Baiklah, ayo berangkat" ajak Revan.


Keduanya berjalan keluar kantor namun suara perempuan yang memanggil Revan membuat mereka berhenti.


" Revan" ucap wanita yang sangat Revan kenali.


" Ada apa Bu Nina?" Ucap Revan malas.


" Bagaimana dengan penawaran yang aku berikan? Apa kamu bersedia?" Ucap wanita itu penuh harap.


" Maaf Bu Nina, sepertinya pendengaran anda bermasalah, bukankah sudah saya katakan jika saya tidak mau" sahut Revan.


" Anda jangan khawatir, saya sudah mengganti saham anda" imbuh Revan.


" Rey apa kamu sudah melakukan tugasmu dengan benar?" Tanya Revan pada Raihan yang sejak tadi diam.


" Sudah pak, saya sudah mengirimkan berkas itu ke alamat Bu Nina" jawab Raihan.


" Anda sudah dengar Bu Nina, saya sudah menyerahkan bagian anda jadi anda jangan mengganggu saya lagi, permisi" pungkas Revan, pria itu bergegas mengajak Raihan untuk segera pergi.


Tanpa menunggu jawaban dari Nina, Revan dan Raihan memasuki mobil Revan yang terparkir di depan kantor.


...


Sepertinya ucapan Dirga beberapa hari yang lalu tidak main-main, buktinya saat ini klien yang akan mengajak Revan kerjasama akhirnya meminta maaf karna tidak bisa melanjutkan kesepakatan mereka.


Dengan penuh bersalah orang itu meminta maaf, sebenarnya ia ingin sekali mengajak Revan bekerjasama namun ancaman Dirga membuatnya tak berdaya.


" Maafkan saya sekali lagi tuan Revan" ucap pria itu tulus.

__ADS_1


" Tidak perlu merasa bersalah, anda pasti melakukan ini untuk kebaikan orang banyak" sahut Revan bijak.


Pria itu pamit undur diri, ia bersama sekertaris yang dibawanya meninggalkan Revan yang sedang menghela nafas berat.


__ADS_2