
"Kak Raihan" ucap Zahra lirih saat menyadari jika pemuda yang berdiri disampingnya adalah orang yang selama ini ia nanti.
Raihan juga terpaku saat melihat wanita yang sudah mencuri hatinya ada dihadapannya, waktu seakan berhenti berputar saat kedua mata mereka saling mengikat.
"Rey kamu kenal Zahra?" ucap Revan seakan mengerti arti tatapan keduanya.
"Iya pak" sahut Rey gugup.
"Ayo Zahra duduk, kita makan dulu" ucap Nadhifa dan menyerahkan buku menu yang ada.
Nadhifa dan Revan saling pandang saat menyadari ada yang aneh dari mereka berdua, Zahra yang biasanya cerewet mendadak jadi diam.
Begitu pula Rey yang terlihat diam saja padahal biasanya pemuda itu tidak sungkan untuk berbicara dengan Nadhifa walaupun hanya basa-basi.
Pelayan datang dengan nampan ditangannya, ia pamit undur diri usai menata hidangan yang sudah dipesan.
...
Perjalanan pulang kali ini terasa sepi, berbeda sekali dengan perjalanan mereka saat tadi berangkat kesana, hal ini menimbulkan tanya tanya di hati Revan dan Nadhifa.
Nadhifa melirik sahabatnya yang terdiam, gadis di sampingnya hanya menatap jalanan yang dilewatinya.
Apa yang terjadi antara kak Raihan dan Zahra?
ucap Nadhifa dalam hati.
Wanita itu memilih diam, ia akan bertanya di waktu yang tepat, ia membuka bungkus buku yang baru saja di belinya dan akan membacanya, namun suara Revan membuatnya berhenti.
"Jangan baca buku di mobil Dhifa, tidak baik" ucap Revan saat melihat gerak-gerik istrinya.
"Kya mas, maaf Dhifa lupa" sahut Nadhifa yang hanya dibalas anggukan oleh suaminya.
Keheningan kembali menemani perjalanan mereka, Revan yang merasa mengantuk mulai memutar lagu yang tersedia di mobilnya, jalanan padat membuat perjalanan pulang mereka sedikit terhambat.
"Terima kasih pak sudah mengantar saya, maaf merepotkan" ucap Rey saat kendaraan roda empat yang mereka tumpangi berhenti di depan rumahnya.
"Iya, sama-sama" sahut Revan.
Rey tak lupa mengajak mereka untuk mampir, namun mereka menolak dan berkata akan mampir di lain waktu.
Pemuda itu masih memperhatikan mobil yang sudah tak terlihat lagi, di sana ada wanita yang selama ini ia tunggu.
Menghela nafas panjang, ia melanjutkan langkahnya untuk memasuki rumah dan menemui orang tua angkatnya.
...
"Apa yang terjadi antara mereka?" ucap Revan saat keduanya sudah tiba di rumah usai mengantarkan Zahra pulang ke rumahnya.
"Gak tau mas, Zahra juga belum cerita sama aku" sahut Nadhifa.
__ADS_1
Mereka tiba di rumah menjelang Maghrib, untung saja mereka sudah sholat ashar saat mampir di salah satu masjid yang mereka lewati.
Usai membersihkan diri, seperti biasa mereka akan sholat berjamaah di mushola.
"Ada Airin cantik disini?" ucap Nadhifa yang baru saja menyadari jika ada keponakannya di rumah itu.
"Iya Tante cantik, Airin dari tadi sore udah disini" sahut bocah kecil yang sudah duduk di samping ibunya.
Nadhifa mendekati dan memeluknya, menghadiahkan kecupan di kening bocah kecil di hadapannya itu.
...
Usai makan malam, Airin meminta ingin bermain bersama Nadhifa, gadis kecil itu rupanya merindukan tantenya, padahal tiap Minggu malam ia kesana.
Nadhifa dengan senang hati menuruti kemauannya, ia menuntun Airin untuk memasuki kamar.
"Tante, ayo bantu aku gambar" ucap Airin polos.
"Baiklah, Airin yang mewarnai ya" sahut Nadhifa dan mulai mengikuti Airin yang sedang tidur tengkurap di atas ranjang.
Usai menggambar bunga dan ikan yang diinginkan Airin, Nadhifa menyuruh gadis kecil itu untuk mewarnai.
Terdengar derap langkah kaki mendekati mereka yang masih asyik bercerita sesekali tawa terdengar dari bibir mungil gadis kecil itu, Nadhifa menoleh dan mendapati suaminya sudah duduk di sampingnya.
"Airin, ayo tidur sudah malam" ucap Revan mengelus rambut keponakannya dengan sayang.
"Airin tidur disini ya om" pinta Airin dengan wajah memelas.
Gadis kecil itu mengangguk dan mengikuti Nadhifa yang menuntutnya memasuki kamar mandi.
Nadhifa mengambil sikat gigi kecil yang memang tersedia di sana dan memberikannya pada Airin usai mengoleskan pasta gigi diatasnya.
"Sikat gigi yang benar ya" ucap Nadhifa dan gadis kecil itu mengangguk antusias.
Nadhifa melakukan hal yang sama, ia tak lupa untuk membersihkan wajahnya seperti biasa.
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sesosok gadis kecil, ia berjalan mendekati omnya yang sudah berbaring di atas ranjang.
"Om gak sikat gigi ya?" ucap gadis kecil itu setelah berbaring di samping omnya.
"Iya, bentar lagi om sikat gigi juga" Revan duduk dan mengambil baju tidur yang sudah disiapkan istrinya.
Gadis kecil yang sudah memakai baju tidur itu sudah berbaring di atas ranjang, terlihat ia menguap beberapa kali.
Revan mendekatinya, dan mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut, Nadhifa sudah berdiri di samping Revan dengan baju tidur lengan panjang, ia mempersilakan Revan untuk pindah.
Dengan telaten ia mengusap kepala keponakan suaminya dengan lembut, tak menunggu waktu lama gadis kecil itu sudah terlelap.
Bantal sudah tertata dengan rapi, hanya bagian kanan yang masih kosong karena orang yang menempatinya masih di kamar mandi.
__ADS_1
Nadhifa menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Airin saat Revan sudah siap menyusul mereka.
Revan mendekati istrinya dan mengecup kening istrinya dengan lembut, tak lupa ia juga mencium bibir istrinya walaupun hanya sekilas seperti yang biasa ia lakukan sebelum tidur.
"Tidurlah" ucap Revan seraya mengelus rambut istrinya.
Nadhifa tersenyum dan membiarkan Revan untuk tidur di bagian yang masih kosong, wanita itu melingkarkan tangannya di atas tubuh gadis kecil yang sudah terlelap disusul Revan dengan melakukan hal yang sama, pria itu meletakkan tangannya di atas tangan istrinya.
Tak butuh waktu lama, kedua orang dewasa itu sudah terlelap.
...
Nadhifa baru saja menyelesaikan sholat Dhuha dan mengaji, kebiasaan di panti masih terbawa hingga ia tinggal di rumah mertuanya.
Rumah sudah sepi, Airin dan kedua orangtuanya sudah pamit pulang usai sarapan pagi bersama.
Si kembar sudah berangkat kuliah, Begitu pula Revan yang juga pamit untuk ke kantor.
seperti biasa di rumah hanya ada Nadhifa, Bu Rahma dan bik Minah.
Nadhifa mengambil ponsel untuk menghubungi sahabatnya, ia ingin menanyakan sesuatu yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.
"Assalamualaikum Zahra" ucap Nadhifa saat panggilan sudah terhubung.
"Waalaikum salam Dhifa, ada apa?" sahut Zahra.
"Ada yang ingin kamu ceritakan padaku Zahra?" Nadhifa duduk di ranjang untuk mendengarkan penjelasan dari sahabatnya.
Zahra menghela nafas, ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, Nadhifa sudah mengenal dirinya sejak lama jadi sahabatnya itu tahu jika ada yang ia sembunyikan.
Zahra menceritakan semuanya pada Nadhifa, ia dulu pernah menolak Raihan karena pada waktu itu masih takut menjalin hubungan dengan seorang pria, ia tak ingin kecewa untuk kedua kalinya.
Namun saat ia mencoba membuka hati, Raihan tak pernah lagi menghubunginya.
Nadhifa mengangguk ia mengerti apa yang sahabatnya rasakan, tapi Nadhifa melihat jika tatapan Raihan masih dipenuhi dengan cinta untuk Zahra.
"Apa sekarang kamu sudah mulai mencintainya?" ucap Nadhifa setelah usai Zahra menjelaskan semuanya.
"Aku gak tau Dhifa, tapi aku sangat sedih setelah kak Raihan tak menghubungiku lagi, seperti ada sesuatu yang hilang" jawab Zahra jujur, ia tak menyangka jika ia akan merindukan pesan singkat yang biasa Raihan kirim untuknya, walaupun bukan pesan cinta.
"Baiklah, aku akan mencari solusi untuk masalah kalian" ucap Nadhifa membuat Zahra terbelalak.
"Maksudmu apa Dhifa? kamu mau bilang langsung sama kak Raihan?" tanya Zahra dengan nada tinggi, ia cukup terkejut saat mendengan penuturan sahabatnya.
"Nggak Zahra, aku akan cari tahu alasan ia menjauh darimu, tenang saja kak Raihan tidak akan tau" sahut Nadhifa seraya terkekeh.
"Baiklah, tapi jangan katakan apapun sama kak Raihan ya" ucap Zahra.
"Kau bisa percaya padaku" sahut Nadhifa.
__ADS_1
ia meletakkan ponsel di atas meja usai panggilan berakhir, mengambil hijab dan merapikannya Nadhifa sudah siap membantu Bu Rahma dan bik Minah di dapur.