Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
14. GUGUP


__ADS_3

Nadhifa yang sudah selesai mengganti bajunya kembali bergabung dengan yang lain, begitu pula Revan yang ikut bergabung bersama mereka.


Kebaya Nadhifa dan baju Revan sudah di masukkan dalam paper bag, mereka akan membawanya pulang untuk digunakan pada akad nikah yang akan dilaksanakan dua Minggu lagi.


"Kalau sudah selesai, aku mau mau balik ke kantor dulu ma" tutur Revan.


"Apa masih ada pekerjaan yang penting?" Tanya Bu Rahma.


"Tidak ada, ma" jawab Revan.


"Kalau begitu kamu antar Nadhifa pulang ya, soalnya mama sama adik kembarmu masih ada keperluan lain" ucap Bu Rahma tersenyum.


Winda dan Windi memandang mamanya bingung karna sebenarnya mereka tidak punya keperluan apapun, Winda hendak bicara tapi Bu Rahma mengedipkan matanya, memberikan kode untuk anak kembarnya untuk mengiyakan ucapannya, jadi Winda hanya diam saja.


Nadhifa menolehkan kepala menghadap calon mertuanya, sedikit kaget karna Bu Rahma tidak mengatakan apapun sebelumnya.


Revan melihat Nadhifa yang sedikit terkejut mendengar ucapan mamanya, dia mengukir senyum kecil di bibirnya.


"Baiklah, terserah mama saja" ucap Revan.


"Apa kamu keberatan kalau diantar Revan?"tanya Bu Rahma pada Nadhifa.


Nadhifa menggelengkan kepala, sebenarnya dia masih Canggung jika harus pergi berdua dengan Revan.


Tapi dia tidak bisa memaksa untuk ikut dengan Bu Rahma karna takut mengganggu kegiatan Bu Rahma.


"Iya Bu, tidak apa. Nadhifa pulang dengan mas Revan saja" ucap Nadhifa tersenyum kecil.


Revan tersenyum mendengar panggilan Nadhifa untuk dirinya.


"Baiklah, kalian hati-hati di jalan ya"ucap Bu Rahma.


Setelah mengucapkan salam Bu Rahma berlalu dari sana di ikuti si kembar dibelakangnya.


Revan mengikuti mereka sampai ke dalam mobil, di ikuti Nadhifa yang berdiri dibelakangnya.


"Ayo kita pulang"ajak Revan yang hanya dibalas anggukan oleh Nadhifa.


Nadhifa akan membuka pintu mobil belakang, tapi Revan menghentikannya.


"Jangan duduk dibelakang, nanti aku dikira supir" tutur Revan lembut.


"Apa tidak masalah jika aku duduk didepan?" Tanya Nadhifa polos.


"Tidak masalah" jawab Revan.


Revan kemudian duduk di balik kemudi di ikuti Nadhifa yang duduk disampingnya.


Nadhifa merasa sangat gugup, dia hanya menundukkan kepala.


Revan melajukan mobil keluar dari area parkir butik Tante Wina, Revan menyetir dengan kecepatan sedang.


Revan tau jika mamanya ingin ia mengenal lebih jauh sosok yang akan menjadi istrinya dua minggu lagi.


Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing, Revan ingin membuat suasana diantara mereka lebih akrab.


"Kamu apa kabar?" Tanya Revan lembut.


Nadhifa yang mendengar ucapan Revan langsung menolehkan kepala menghadap calon suaminya.


"Alhamdulillah baik, Mas. Kalau mas Revan apa kabar?" Jawab Nadhifa dengan senyum kecil di bibirnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah aku juga baik" jawab Revan menampilkan senyum yang tak kalah menawan.


Tak ada obrolan yang panjang diantara mereka, Nadhifa yang tidak pernah berduaan dengan laki-laki ajnabi merasa sangat gugup,dia menundukkan kepalanya lagi.


Begitu pula Revan yang sangat jarang bicara pada seorang gadis, Revan Bingung apa yang akan di bahas dengan calon istrinya itu.


Akhirnya mereka terdiam cukup lama, sampai akhirnya Revan menghentikan mobil di depan kedai yang tak terlalu besar yang menjual martabak manis favoritnya.


"Kenapa berhenti, mas?" Tanya Nadhifa.


"Aku mau beli sesuatu dulu" jawab Revan.


"Apa kamu mau ikut ?" Tanya Revan.


"Boleh?" Tanya Nadhifa polos.


"Tentu saja" Jawa Revan tersenyum tipis mendengar pertanyaan polos dari calon istrinya itu.


"Ayo kita keluar" ajak Revan yang di balas anggukan oleh Nadhifa.


Mobil Revan sudah terparkir rapi di tempat seharusnya.


"Assalamualaikum pak Tarjo"sapa Revan pada memilik kedai yang sedang sibuk melayani pelanggannya.


"Waalaikum salam, oh nak Revan, ayo duduk dulu" ajak pak Tarjo.


Nadhifa yang berada di belakang Revan hanya mengikuti langkah kaki Revan yang menuju salah satu kursi yang berada di kedai itu.


"Ini siapa nak Revan?"tanya pak Tarjo yang penasaran pada Nadhifa yang dari tadi hanya diam saja dan hanya mengikuti langkah kaki Revan.


"Dia Nadhifa pak, calon istri saya" jawab Revan tenang.


"Cocok sekali dengan nak Revan" ucap pak Tarjo.


Nadhifa hanya diam saja seraya memandangi kedai kecil yang sedang disinggahinya.


Tempat yang tidak teratur besar, tapi Revan terlihat sangat dekat pemilik kedai.


"Apa kamu mau minum sesuatu?"tanya Revan karna takut Nadhifa kehausan.


"Kalau ada, aku mau minum es cappucino saja mas" jawab Nadhifa.


" Baiklah" lalu Revan memanggil salah satu pelayan untuk memesan dua es cappucino.


Nadhifa melihat pengunjung yang cukup banyak, terlihat juga beberapa pengunjung yang menghabiskan waktu dengan mengobrol santai dengan temannya.


"Apa kamu suka cappucino?" Tanya Revan.


"Iya, Mas" jawab Nadhifa.


Tak lama pelayan datang membawa dua minuman yang sudah dipesan Revan.


Mereka meminum es cappucino yang terlihat sangat menggoda di waktu yang cukup panas.


"Apa mas Revan sering kesini?" Tanya Nadhifa tiba-tiba.


Gadis itu sangat penasaran sebab Revan Terlihat sangat akrab dengan pak Tarjo.


"Iya, dari dulu mama sering mengajakku membeli martabak manis pak Tarjo, dulu pak Tarjo berjualan di pinggir jalan dekat rumah, tempatnya tidak seluas ini, hanya ada gerobak dan tempat duduk saja" jelas Revan.


Nadhifa hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Revan.

__ADS_1


Pantas saja Revan terlihat begitu akrab dengan pak Tarjo.


Tak lama pak Tarjo datang membawa beberapa bungkus martabak manis yang cukup banyak dan menghampiri pelanggan setianya.


"Ini nak Revan, pesanan nak Revan sudah selesai" ucap pak Tarjo.


"Terima kasih pak, ini uangnya kalau begitu saya pulang dulu ya" ucap Revan sambil memberikan tiga lembar uang seratus ribuan.


"Tunggu nak Revan, bapak mau ambil kembaliannya dulu" ucap pak Tarjo karna uang yang diberikan Revan terlalu banyak untuk membayar pesanannya.


" Tidak usah pak, berikan saya pada Nia " tutur Revan lembut.


"Terima kasih nak, semoga keluarga kalian menjadi keluarga yang harmonis" ucap pak Tarjo terdengar begitu tulus.


"Iya pak sama-sama, kalau begitu kami pamit pulang dulu pak" ucap Revan.


"Hati-hati, Nak" pesan pak Tarjo.


Revan mengangguk dan mengajak Nadhifa untuk beranjak dari duduknya.


Setelah mengucapkan salam Revan memasuki mobilnya untuk melanjutkan perjalananan menuju panti.


Nadhifa bertanya-tanya dalam hati, siapa Nia itu? Kenapa Revan baik padanya?


Nadhifa begitu penasaran tapi dia tidak ingin bertanya apapun kepada calon suaminya.


Mobil Revan sudah memasuki kawasan panti, tak lama mobil Revan sudah terparkir rapi di tempat biasa.


Mereka berdua turun dari mobil, Revan mengantarkan Nadhifa sampai didepan rumah panti dengan membawa beberapa bungkus martabak manis.


"Ambillah ini" ucap Revan sambil menyerahkan bungkusan yang dibawanya.


"Kenapa banyak sekali mas?" Tanya Nadhifa yang keheranan karna bungkusan yang dibawa Revan cukup banyak.


"Tidak apa Dhifa , bagikan saja pada anak panti yang lain" ucap Revan sambil tersenyum simpul.


"Terima kasih, Mas" tutur Nadhifa tulus.


"Apa mas Revan mau mampir dulu?" Tanya Nadhifa.


"Tidak perlu Dhifa, disini tidak ada siapapun, saya takut ada ucapan yang tak baik" jawab Revan.


Nadhifa tersenyum mendengar ucapan calon Suaminya itu, yang sangat mengerti cara menghormati seorang wanita.


"Kalau begitu saya pergi dulu, masuk dan beristirahatlah, jangan terlalu lelah" pesan Revan.


Nadhifa yang mendengar perhatian Revan merasa sangat bahagia, jantungnya berdegup dengan kencang.


Nadhifa hanya mengangguk dan membiarkan Revan berbalik meninggalkannya.


Baru Lima langkah, Nadhifa memanggil Revan membuat pria itu langsung menolehkan kepalanya melihat Nadhifa yang sedang menatapnya.


"Hati-hati di jalan, Mas. Terimakasih martabak manisnya" ucap Nadhifa lembut.


"Iyaa sama-sama, Assalamualaikum" ucap Revan.


"Waalaikum salam"jawab Nadhifa.


Nadhifa memandangi tubuh Revan yang berjalan meninggalkannya serta memastikan calon suaminya masuk kedalam mobilnya.


Revan tak henti tersenyum mendengar perhatian yang diucapkan Nadhifa, menjadikan dirinya semangat untuk kembali ke kantor.

__ADS_1


Revan masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan klakson saat berpamitan pada Nadhifa.


Setelah memastikan Revan sudah pergi, Nadhifa masuk ke dalam rumah panti membawa bungkusan yang dibawa Revan dan meletakkannya di dapur.


__ADS_2