Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
28. MENGUNJUNGI KANTOR.


__ADS_3

Suara kendaraan yang berlalu lalang tidak menghalangi semangat para pegawai yang larut dalam pekerjaan, di gedung yang cukup besar ini mereka berusaha melakukan yang terbaik.


Terlihat mereka masih sibuk dengan pekerjaan yang sudah menjadi makanan mereka sehari-hari, para pegawai sesekali merenggangkan otot tangan yang terasa kaku karna terlalu lama mengetik berkas-berkas yang dibutuhkan.


Tak hanya itu, para office boy dan office girl juga tampak berlalu lalang, mengantarkan minuman untuk menghilangkan dahaga selama bekerja, ada beberapa yang pergi untuk membeli makanan yang mereka inginkan.


Begitu pula dengan pimpinan di perusahaan itu, sang CEO tampan masih sibuk mempelajari berkas yang baru saja di antar oleh sekretarisnya.


Di meja kerja itu sudah ada kopi yang sudah ia minum untuk menghilangkan kantuk yang datang menyerangnya.


Dahinya berkerut saat membaca berkas di tangannya, mencoba memahami apa yang tertulis di sana, saat menemukan jawabannya, kerutan di dahinya menghilang berganti dengan anggukan kepala.


Suara dering ponsel memecahkan konsentrasi Revan, mengambil ponsel yang terletak di atas meja dan membuka pesan masuk.


Revan mengembangkan senyum saat membaca pesan di aplikasi miliknya.


*M**y wife*


semangat mas 🤗


Me


selalu 😘


Hanya pesan singkat tapi bisa membuat Revan semakin semangat, setiap hari istri cantiknya itu selalu mengirimkan pesan singkat yang menjadi penyemangat sekaligus penyebab Revan selalu ingin cepat pulang.


Masih ada satu berkas yang belum di periksa, Revan meletakkan ponselnya dan mulai berkutat dengan lembaran kertas yang di penuhi dengan tulisan-tulisan padat.


"Akhirnya selesai juga" ucap Revan dan merapikan berkas yang sudah ia tanda tangani.


Memejamkan mata yang sudah lelah, Revan menyandarkan tubuh di atas sofa panjang yang terletak di sudut ruangan.


Revan membuka mata saat mendengar dering ponsel, beranjak mengambil ponsel yang masih terletak di atas meja dan kembali duduk di tempat semula.


"Tumben Nadhifa video call" ucap Revan yang keheranan, pasalnya istrinya belum pernah melakukan video call padanya.


"Assalamualaikum, mas" sapa Nadhifa saat panggilan sudah tersambung.


"Waalaikum salam, sayang" jawab Revan lembut.


"Mas Revan masih sibuk?" tanya Nadhifa karna khawatir mengganggu kegiatan Revan.


"Tidak, aku baru saja selesai" jawab Revan seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Kamu dari mana ?" tanya Revan yang melihat istrinya membuka hijab di kepala, terlihat keringat yang membasahi wajah cantik Nadhifa.


"Aku tadi belajar masak opor ayam kesukaan mas Revan sama mama" jawab Nadhifa yang sukses mengundang senyum manis di wajah Revan.


"Mas Revan mau? tadi mama nyuruh aku nganterin makan siang kesana, tapi aku takut mas Revan ada acara di luar" jelas Nadhifa.


"Hari ini gak ada meeting, aku hanya menyelesaikan pekerjaan di kantor" sahut Revan


"Baiklah, kalau begitu aku mau kesana, tapi aku mau mandi dulu ya mas" ucap Nadhifa.

__ADS_1


Revan mengangguk, dia sangat tahu jika istrinya selalu ingin memberikan penampilan terbaik untuknya.


"Iya, kalau udah selesai, kamu minta antar pak Ratno ya" pesan Revan.


"Iya, mas" usai mengakhiri telponnya, Nadhifa bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, berkutat di dapur tentunya mengeluarkan banyak keringat.


...


Perjalanan menuju kantor tidak membutuhkan waktu lama, kurang dari satu jam kendaraan roda empat yang ditumpangi Nadhifa sudah terhenti di tempat parkir.


"Non Dhifa, kita sudah sampai" ucap pak Ratno menyadarkan Nadhifa yang masih mengagumi gedung besar di hadapannya.


"Iya pak Ratno, terima kasih" sahut Nadhifa dan mulai membuka pintu mobilnya, tak lupa rantang yang berisi makanan kesukaan suaminya sudah Nadhifa siapkan.


"Kantor mas Revan, ternyata besar juga" ucap Nadhifa pelan yang tak di dengar pak Ratno karna jarak mereka yang cukup jauh.


"Non Dhifa mau bapak antar?" tawar pak Ratno.


"Tak usah pak, pak Ratno tunggu disini dulu, saya hanya sebentar" ucap Nadhifa.


Usai berpamitan dan merapikan penampilannya, Nadhifa berjalan pelan menuju gedung itu.


Wanita yang saat ini memakai gamis berwarna peach dan hijab senada itu menghampiri resepsionis yang sedang berbincang dengan rekan kerjanya.


" Maaf bak, saya mau bertemu dengan pak Revan" ucap Nadhifa.


"Apa sudah ada janji sebelumnya?" ucap wanita dengan pakaian kerja yang tertutup itu, tak lupa dengan senyuman yang ia tampilkan.


"Tunggu saya telpon dulu" membuka tas mencari ponsel yang ternyata tak ada.


"Oh iya, tadi ponselnya aku taruh di atas meja" gumam Nadhifa.


"Tolong sampaikan pada pak Revan, kalau saya ingin bertemu" pinta Nadhifa.


Resepsionis itu segera menghubungi sekertaris Revan untuk menginformasikan jika ada seorang wanita yang ingin bertemu Revan.


Setelah mendapatkan persetujuan, resepsionis itu mengantarkan Nadhifa sampai di depan ruangan Revan, dilihatnya meja sekretaris sedang kosong.


tok..tok..tok..


"Maaf pak, ada tamu" ucap resepsionis itu.


"Iya, tunggu sebentar" sahut Revan masih dalam ruangannya.


Resepsionis itu berbalik saat Revan keluar, meninggalkan Nadhifa dan Revan berdua.


"Kamu sudah datang?" sapa Revan.


"Iya mas"


Revan mengajak Nadhifa masuk ke dalam ruangannya.


"Kenapa tidak telpon dulu? aku kan bisa jemput kamu ke bawah " ucap Revan setelah mendaratkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


"Maaf mas, ponsel aku ketinggalan di kamar" sahut Nadhifa yang masih sibuk menyiapkan makanan untuk Revan.


"Apa ada minuman mas?" mengedarkan pandangan mencari lemari es yang mungkin ada di ruangan itu.


"Ada di sana, aku selalu sedia air mineral" jawab Revan yang berjalan untuk mengambil dua botol air mineral yang terletak di samping kulkas.


"Kamu udah makan?" tanya Revan setelah duduk di samping Nadhifa.


"Belum mas, aku mau menemani mas Revan makan disini" jawab Nadhifa menampilkan senyum manisnya.


Revan mengangguk dan mulai menyantap hidangan yang tersaji di hadapannya, tak lupa Nadhifa juga membawakan brownies kukus pandan kesukaan Revan.


Pujian yang Revan lontarkan setelah melahap opor ayam kesukaannya membuat Nadhifa tersenyum senang.


Usai makan Nadhifa merapikan kembali rantang yang ia bawa, sementara Revan masih membasuh tangannya di wastafel yang tersedia di ruangan itu.


"Kamu kenapa?" tanya Revan saat melihat Nadhifa seperti menahan sakit.


"Gak apa mas, cuma nyeri datang bulan" jawab Nadhifa seraya menahan nyeri yang ia rasakan di perutnya.


"Kamu istirahat disini saja, kita pulang bersama" titah Revan yang terlihat cemas dan dibalas anggukan oleh Nadhifa.


Setelah mengabari pak Ratno dan Bu Rahma tentang keadaan Nadhifa, Revan mengajak Nadhifa untuk beristirahat di tempat tidur yang biasa digunakan Revan istirahat.


"Hati-hati " ucap Revan ketika Nadhifa berbaring di atas kasur empuk itu.


"Aku gak apa-apa mas, cuma nyeri aja" jelas Nadhifa yang melihat Revan khawatir.


"Beneran?" memastikan yang di katakan istrinya, Revan duduk di samping Nadhifa yang sedang berbaring.


"Iya mas, hal ini sudah biasa kalau hari pertama haid" ucap Nadhifa seraya menyentuh tangan Revan.


"Aku hanya butuh istirahat mas" tambah Nadhifa.


"Baiklah, kalau begitu kamu istirahat, aku mau sholat dulu" mengelus kepala Nadhifa dengan sayang, Revan mengecup kening Nadhifa sebelum berlalu ke kamar mandi.


Usai sholat Revan mendekati Nadhifa yang sudah terlelap, masih dengan hijab yang membalut kepalanya.


"Dia sudah tidur" ucap Revan pelan.


Menutup pintu dengan hati-hati takut membangunkan istrinya, Revan menghampiri Rey di Ruangannya.


"Apa setelah ini saya ada jadwal meeting?" tanya Revan.


"Hari ini jadwal anda kosong pak" jelas Rey setelah melihat jadwal kerja Revan di buku agenda.


"Baiklah, saya ingin istirahat, pastikan tidak ada yang mengganggu" titah Revan.


"Baik pak" jawab Rey.


Meninggalkan Rey, usai menutup ruangannya Revan mendekati Nadhifa yang masih pulas, pria berusia tiga puluh tahun itu membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


Memandangi wajah istrinya yang masih terlihat cantik meskipun sedang tertidur, Nadhifa berbalik menghadap Revan membuat Revan tersenyum saat melihat bibir Nadhifa yang lagi-lagi dilapisi lipstik yang membuat bibir istrinya semakin menggoda.

__ADS_1


Revan mendekat dan meraih tubuh Nadhifa untuk masuk ke dalam pelukannya, menghirup aroma tubuh istrinya membuat Revan begitu tenang hingga tak lama Revan ikut terlelap.


__ADS_2