
Angin berhembus cukup kencang membuat hijab seorang gadis berkibar mengikuti semilir angin.
Gadis itu sedang duduk di teras sedangkan anak-anak panti yang lain sedang bermain di halaman rumah.
Dia menyendiri memikirkan jawaban apa yang akan dikatakan pada Bu Rahma tentang pinangannya, besok pagi jadwal Bu Rahma berkunjung ke panti.
Bu Rahma adalah salah satu donatur tetap di panti itu kurang lebih 5 tahun, banyak bantuan yang diberikan oleh Bu Rahma untuk mengembangkan panti itu.
Nadhifa memejamkan mata mengingat anak Bu Rahma yang pernah ditemuinya, bukan secara sengaja, tapi waktu itu putra sulung Bu Rahma ikut mengantarkan Bu Rahma ke panti.
sangat terlihat jika putra bu Rahma adalah anak yang baik dan sopan. Dia juga terlihat senang jika berbaur dengan anak-anak panti, tak terlihat ada rasa canggung berkumpul dengan mereka meskipun dia tidak kenal.
Bunda Lastri duduk disamping Nadhifa, menyentuh tangan Nadhifa dengan lembut membuat Nadhifa membuka matanya.
"Ada apa bunda?" Nadhifa membuka percakapan.
"Gak ada apa apa, sayang" bunda tersenyum melihat Nadhifa.
"Gimana pinangan Bu Rahma..? apa kamu sudah mendapatkan jawabannya ?" bunda Lastri melihat wajah gadis cantik di sampingnya itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah bunda, Nadhifa sudah mendapatkan jawabannya,tapi..." Nadhifa tidak melanjutkan ucapannya membuat bunda Lastri menarik tangan Nadhifa dan meletakkan di atas tangannya.
"Bunda tau sayang, apa yang membuatmu ragu, kamu tidak perlu mengkhawatirkan bunda, bunda akan baik-baik saja disini" ucap bunda Lastri dengan tulus membuat Nadhifa menatap wajah bunda Lastri yang tak lagi muda.
Benar yang dikatakan bunda Lastri itu, Nadhifa terlalu sering menolak orang yang datang meminangnya karna terlalu mengkhawatirkan keadaan bunda Lastri.
Lalu mereka berdua terdiam dalam pikiran masing-masing.
Nadhifa juga terasa berat untuk meninggalkan bunda Lastri karna sudah sangat lama mereka mengurus panti bersama apalagi bunda Lastri sangat menyayangi Nadhifa dan sudah menganggap Nadhifa seperti anak kandung sendiri.
"Kenapa kalian berdua duduk disini?" ucap bunda Naya yang tiba-tiba muncul dan langsung duduk disamping kanan Nadhifa.
"Tidak ada apa-apa bunda" ucap Nadhifa tersenyum.
"Apa kamu sudah membuat keputusan atas pinangan Bu Rahma?" ucap bunda Naya.
"Alhamdulillah sudah bunda" Nadhifa menjawab dengan ragu.
"Tapi..." Nadhifa menggantung ucapannya membuat bunda Naya melihat bunda Lastri.
__ADS_1
"Apa kamu masih mengkhawatirkan bunda Lastri sayang...?" ucap bunda Naya mengelus kepala Nadhifa yang terbalut hijab panjang.
Nadhifa hanya menunduk, tak berani mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Bunda Naya menarik nafas kemudian berkata
"Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan bunda Lastri, disini ada banyak anak-anak yang akan menjaganya, ada bunda Naya juga sayang"
Nadhifa mengarahkan pandangannya pada bunda Lastri, yang disambut senyum hangat bunda Lastri.
"Iya sayang. Bunda Naya benar, kamu harus melanjutkan hidupmu nak, bunda juga ingin kemudian hari bisa menggendong cucu-cucu dari kamu, bunda akan sangat senang jika Nanti kamu akan punya anak" ucap bunda Lastri.
Nadhifa melihat wajah bunda Lastri dan bunda Naya bergantian dengan mata berkaca-kaca, dia sangat bersyukur bisa hidup dengan orang-orang yang menyayanginya.
"Terima kasih bunda "ucap Nadhifa terdengar sangat tulus, tak terasa air mata terjatuh dari mata indahnya itu.
"Iya sayang, sama-sama" ucap bunda Lastri dan bunda Naya.
Kemudian mereka kembali ke dapur untuk membuat makanan ringan yang akan disuguhkan kepada Bu Rahma besok.
__ADS_1