Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
74. REVANDI DAN REVANNA.


__ADS_3

" Alhamdulillah, akhirnya selesai juga" ucap Revan sambil merenggangkan otot tangannya yang terasa kaku, ia melirik arloji yang melingkar pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam membuat ia mendesah berat.


" Ternyata sudah malam sekali" ucapnya seraya bangkit dan menemukan Raihan yang juga baru selesai.


" Sudah Semua Rey?" Sapanya.


" Ada beberapa yang masih harus diperbaiki pak" sahut Raihan.


" Baiklah, sebaiknya kita pulang, sudah malam" ajak Revan.


Raihan mengangguk dan berjalan di samping Revan hingga keduanya berpisah di tempat parkir.


Jalanan tidak terlalu padat membuat Revan lebih cepat sampai di rumah, pria itu sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya dan baby twins.


Seperti biasa Revan membuka pintu rumah dengan kunci cadangan, suasana sudah sepi semua penghuninya pasti sudah tidur, pria itu berjalan menuju dapur dan membuat minuman hangat untuk dirinya sendiri.


Revan melepas jas dan dasi yang melingkar di lehernya setelah sampai di kamarnya. Tubuhnya sangat lelah namun senyuman terukir indah di bibirnya saat melihat istrinya sedang terlelap di atas ranjang, lalu ia mendekati box bayi dan mendapati baby twins yang juga tertidur pulas.


Tanpa basa-basi Revan segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat gerah, dan memakai baju tidur seperti biasa.


Revan menghampiri baby twins dan mengelus pipi keduanya dengan sayang, setelah itu ia berbaring disamping Nadhifa, namun ia mendengar salah satu bayinya menangis, dengan segera ia bangkit dan membawa bayi itu dalam pelukannya.


" Putri cantik papa kenapa nangis?" Revan mengangkat bayi itu dan membaringkannya di atas ranjang dan memeriksa popok yang ternyata sudah kotor.


" Anak papa jangan nangis ya, kasihan mama" ucap Revan setelah mengganti popoknya, namun ternyata bayi itu tetap menangis membuat Nadhifa terbangun dari tidurnya.


" Papa sudah pulang?" Ucap Nadhifa dengan suara seraknya.


" Iya sayang, maaf ya kamu jadi bangun" sahut Revan dan memberikan putri kecilnya pada Nadhifa yang sudah duduk bersandar.


" Dia nangis terus, padahal popoknya sudah aku ganti"


" Mungkin baby girl kita lapar papa" ucap Nadhifa dan mulai memberikan ASI pada putrinya itu, benar saja bayi itu seketika berhenti menangis.


Nadhifa menyandarkan kepalanya di pundak suaminya, matanya sesekali terpejam membuat Revan yakin jika istrinya masih mengantuk.


" Putri cantik kita sudah tidur papa" ucap Nadhifa, Revan dengan sigap membawa bayi kecil itu untuk berbaring dalam box bayi.


Setelah itu Revan membantu Nadhifa kembali berbaring.


" Ayo kita tidur, kamu pasti capek"


Namun wanita dihadapannya itu hanya diam membuat Revan mengernyit heran.


" Ada apa? Kamu butuh sesuatu?"


Nadhifa menggeleng dan memeluk tubuh Revan dengan erat.


" Maafin Dhifa ya mas, semenjak Dhifa hamil sampai sekarang Dhifa gak bisa melayani mas Re seperti biasa, seharusnya pulang kerja mas Re bisa istirahat dengan nyaman, tapi sekarang..."


Revan tersenyum mendengar penuturan istrinya, ia menjauhkan tubuhnya untuk melihat wajah cantik istrinya yang terlihat kelelahan namun tak mengurangi kecantikannya.


" Jangan bilang seperti itu lagi, kamu sudah melakukan semuanya dengan baik, lihatlah lingkaran hitam dibawah matamu ini menunjukkan pengorbananmu sayang" Ucap Revan mengelus bagian bawah mata Nadhifa.


" Seharusnya aku yang minta maaf karna tak bisa selalu mendampingimu merawat anak-anak kita" lanjutnya membuat Nadhifa tersenyum haru.


" Mas Re memang suami dan papa yang terbaik" ucap Nadhifa yang kembali memeluk tubuh Revan.


" Kamu juga istri dan mama yang terbaik, aku dan anak-anak beruntung memilikimu, sekarang kamu tidur ya, kamu juga harus banyak istirahat, aku tidak ingin kamu sakit" ucap Revan yang dibalas anggukan oleh Nadhifa, Revan mengelus rambut istrinya dengan lembut sehingga Nadhifa kembali tertidur pulas.


...

__ADS_1


Hari ini baby twins genap berusia empat puluh hari, untuk itu Revan dan Nadhifa mengadakan syukuran atas kelahiran kedua bayi mereka, tak banyak yang di undang hanya orang-orang terdekat mereka, ada beberapa kerabat dan para sahabat beserta keluarga kecilnya.


Revan juga tak lupa juga mengundang anak-anak panti dengan menyewakan bis kecil untuk membawa mereka.


Sekarang rumah Revan terlihat sangat ramai, ada banyak makanan yang terhidang di meja prasmanan mulai dari cemilan dan menu utama.


Revan dan Nadhifa berjalan beriringan dengan membawa kedua bayi mereka untuk bergabung bersama tamu-tamu yang sudah datang.


Pak ustadz yang mereka undang juga sudah tiba dan duduk bersama yang lain.


Setelah semuanya siap acara terlaksana dengan khidmat dan tenang, semua seakan larut dalam lantunan doa yang dipanjatkan oleh sang ustadz.


" Alhamdulillah, acara hari ini berjalan dengan lancar, semoga kedua bayi yang hari ini sudah genap berusia empat puluh hari bisa menjadi anak yang Sholeh-Sholehah dan bisa membahagiakan orang-orang disekitarnya, Amiiiin" ucap pak ustadz.


" Amiiin" ucap mereka serempak.


" Om, nama adik bayinya siapa?" Tanya Airin polos.


Revan tersenyum, ia dan Nadhifa memang sengaja akan memberitahu nama anak mereka hari ini.


Sebelum menjawab pertanyaan mereka, Revan melihat Nadhifa yang sedang menganggukkan kepalanya.


" Revandi Aditya putra dan Revanna Aditya putri"


" Wah, namanya bagus om" sahut Airin.


" Iya, nama baby twins memang sengaja gabungan dari nama kami supaya kami selalu bersama apapun yang terjadi" ucap Revan dan tersenyum melihat Nadhifa.


" Amiiiin" ucap Nadhifa.


" Airin panggil adik kembar apa?" tanya Airin membuat Nadhifa tersenyum.


Airin mengangguk mengerti, ia ingin mendekati baby twins namun salah satu dari mereka ada yang menangis.


" Airin makan sama mama dulu ya, adik bayinya masih haus" ucap Nadhifa lembut.


" iya Tante" sahut gadis kecil itu.


Mereka kemudian dipersilahkan menyantap hidangan yang sudah disediakan, Revan dan Nadhifa memasuki kamar mereka.


" sepertinya baby Vandi sudah lapar ya pa?" ucap Nadhifa, ia segera memberikan ASI pada bayi laki-lakinya setelah memastikan jika popok bayi laki-lakinya terlihat bersih, sedangkan Revan membuka popok bayi perempuannya.


" kalau putri cantik kita nangis karna pup mama" ucap Revan, dengan sabar ia membersihkan kotoran pada tubuh bayinya dan menggantinya dengan popok yang baru.


" putri cantik papa jangan nangis dulu ya, kita main-main dulu" ucap Revan yang mencium pipi halus baby Anna berkali-kali membuat bayi kecil itu menggeliat.


Setelah beberapa waktu baby Vandi sudah tertidur pulas, Nadhifa meletakkan putranya di box bayi.


" ayo, putri cantik mama minum ASI dulu" ucap Nadhifa usai duduk disamping Revan yang sedang menggendong anaknya.


Revan menyerahkan baby Anna dalam dekapan Nadhifa dengan tersenyum, ia hanya bisa mengelus kepala Nadhifa yang sedang bersandar di pundaknya, setelah itu Nadhifa berdiri untuk meletakkan baby Anna yang juga sudah tidur.


tok...tok...tok...


Revan bangkit untuk membuka pintu kamarnya dan menemukan bunda Lastri dan bunda Naya yang sudah berdiri dihadapannya.


" silahkan masuk bunda" ajak Revan.


" kalau baby twins sudah tidur lebih baik kalian makan dulu, biar kami yang akan menjaga mereka" ucap bunda Lastri.


" iya Dhifa, sebaiknya kalian makan saja, biar kami yang disini" timpal bunda Naya.

__ADS_1


Revan dan Nadhifa mengangguk patuh usai memastikan baby twins tertidur dengan pulas.


" bunda kami titip baby twins ya"


" iya" sahut bunda Lastri dan bunda Naya serentak.


Satu persatu kerabat pamit, para sahabat dan keluarga mereka juga sudah pulang, di rumah Bu Rahma hanya ada penghuni panti dan keluarga kecil Bu Rahma.


Revan dan Nadhifa hanya makan berdua karna yang lain sudah makan, mereka memilih untuk duduk di teras rumah menikmati angin malam yang terasa sejuk.


usai makan mereka kembali ke dalam dan menemukan baby twins yang digendong bunda Lastri dan bunda Naya.


" baby twins nangis lagi bunda?" tanya Nadhifa usai sampai dihadapan mereka.


" tidak, mereka hanya terbangun" sahut bunda Lastri.


" kalau bunda capek, biar Dhifa saja yang gendong" tawar Nadhifa.


" tidak sayang, kapan lagi kami bisa jagain baby twins sampai tidur?" sahut bunda Naya.


Nadhifa melihat adik-adik panti sudah tidak ada di sana, begitu pula si kembar Winda Windi dan Ranti berserta keluarga kecilnya sudah pamit istirahat.


" yang lain mana Bun?" tanya Nadhifa.


" sudah istirahat, adik-adik kamu juga sudah tidur" ayah Rahman.


" lebih baik kamu duduk saja" ucap bunda Lastri.


Nadhifa mengangguk dan duduk di sofa bersama Revan, pria itu menawarkan berbagai cemilan yang ada.


" mama baru selesai makan pa, nanti mama jadi badut kalau makan terus" ucap Nadhifa membuat Revan terkekeh.


" papa gak masalah ma, yang penting mama dan baby twins papa sehat" ucap Revan membuat Nadhifa tersenyum.


" dasar papa gombal" sahut Nadhifa.


Nadhifa menyandarkan kepalanya di pundak Revan, tubuhnya terasa sangat lelah namun semuanya sudah terbayar, jujur saja ia sangat bahagia bisa merawat kedua bayinya dengan baik, sebelumnya ia pernah takut tidak bisa merasakan jadi seorang ibu.


" terimakasih mas Re, aku sangat beruntung menjadi istrimu mas"


" sama-sama sayang, terimakasih juga sudah bersabar dan bertahan" sahut Revan mengecup punggung tangan Nadhifa.


Nadhifa mengangguk dan memeluk tubuh Revan.


" aku mencintaimu mas"


" aku lebih mencintaimu sayang" sahut Revan yang membalas pelukan Nadhifa.


mereka tersenyum melihat Bu Rahma dan ayah Rahman yang juga berebut ingin menggendong baby twins, namun bunda Lastri dan bunda Naya tidak mau memberikan bayi kembar itu.


" lihatlah mereka berebutan menggendong baby twins, bagaimana kalau kita buat lagi?" bisik Revan membuat Nadhifa melotot.


Revan tertawa melihat wajah Nadhifa yang terlihat lucu, ia kembali memeluk Nadhifa.


" aku hanya bercanda sayang, kita akan membesarkan anak-anak kita dengan baik" ucap Revan.


" semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik mas" sahut Nadhifa.


" Amin"


******* T H E E N D*******

__ADS_1


__ADS_2