Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
64. BAHAGIA DENGANMU.


__ADS_3

Semilir angin berhembus sepoi-sepoi saat Nadhifa dan Revan berjalan di pinggir pantai, keduanya jalan bergandengan menikmati keindahan pantai yang terpampang indah di hadapan mereka.


wajah Nadhifa terlihat begitu senang, sudah lama ia ingin berlibur ke pantai namun ia menahannya karna pekerjaan Revan begitu padat.


Revan ikut tersenyum kala melihat wajah istrinya yang terhenti tersenyum bahagia, pria itu semakin mengeratkan genggaman tangannya.


" kamu suka sayang?"


" iya mas, pantainya indah banget, Dhifa suka" sahut Nadhifa.


" ada yang lebih indah dari pantai ini sayang" ucap Revan.


" oh ya, apa?"


" kamu sayang, kamu lebih indah dari segalanya" sahut Revan membuat Nadhifa tersipu malu.


" bisa aja gombalnya" ucap Nadhifa.


Revan tersenyum melihat wajah istrinya yang merona, ia menarik tangan Nadhifa dengan lembut menuju sebuah tempat penjualan es kelapa.


" es kelapanya dua buk" pesan Revan.


Pria itu mengajak Nadhifa untuk duduk di salah satu meja yang ada di sana, dan tak butuh waktu lama ibu-ibu itu datang membawa kelapa muda untuk mereka.


" selamat menikmati" ucap ibu-ibu itu kemudian meninggalkan Revan dan Nadhifa berdua.


" setelah ini mau kemana sayang?"


" menurut mas Re, kemana?"


" mau berenang di pantai?" tawar Revan.


" nggak mas, Dhifa mau jalan-jalan saja" sahut Nadhifa.


" baiklah, seperti keinginanmu ratuku, kita kan berkeliling di pantai ini" ucap Revan membuat Nadhifa tertawa.


Revan sangat senang melihat istrinya tertawa lepas seperti itu.


" Dengarkan aku sayang" ucap Revan serius.


" jangan pikirkan sesuatu yang membuatmu sedih, aku tidak menuntut apapun darimu, masalah keturunan kamu tidak perlu khawatir, bukankah dokter mengatakan kita baik-baik saja?" imbuhnya.


Nadhifa mengangguk mantap, setelah mendengar penjelasan dokter bahwa mereka baik-baik saja Nadhifa sangat bahagia, mereka hanya butuh waktu saja.


" iya mas, terimakasih sudah sabar menghadapi ku selama ini" sahut Nadhifa.


" iya sama-sama, sekarang aku ingin kamu benar-benar menikmati liburan kita kali ini, jangan memikirkan apapun, oke"


" iya mas" sahut Nadhifa.


kemudian keduanya kembali berjalan menyusuri bibir pantai, menghirup udara segar yang berada di sekitar mereka.


Revan melihat arloji yang menempel di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat, ia mengajak Nadhifa untuk sholat ashar terlebih dahulu.


usai sholat keduanya berencana melanjutkan perjalanan, melihat-lihat pemandangan yang ada di tempat mereka saat ini.


" kamu capek?" tanya Revan saat melihat Nadhifa duduk di sofa, pria itu baru saja keluar dari kamar mandi.


" nggak mas, kakiku cuma pegal sedikit" sahut Nadhifa.


Revan duduk di bawah dan menyentuh kaki Nadhifa membuat Nadhifa terkejut, dengan segera Nadhifa menarik kakinya.


" kenapa? biar aku bantu pijat ya?" ucap Revan.

__ADS_1


" tidak perlu mas Re, aku baik-baik saja" tolak Nadhifa halus.


" sayang, aku tidak mau kamu kelelahan" ucap Revan.


" mas Re jangan khawatir, Dhifa baik-baik saja, selama mas ada di dekat Dhifa, Dhifa akan selalu baik" ucap Nadhifa membuat Revan tersenyum senang.


" Sekarang istriku sudah pintar gombal ya?" ucap Revan menggoda Nadhifa.


" itu bukan gombal mas, Dhifa memang selalu tenang saat mas Re ada di dekat Dhifa" sahut Nadhifa jujur.


Revan berdiri dan duduk di samping Nadhifa menarik tubuh istrinya itu dalam pelukannya.


" aku juga selalu tenang saat bersamamu sayang" ucap Revan mengecup kening Nadhifa dengan lembut.


" aku tidak menyangka akan menikah dan mempunyai istri secantik bidadari, bukan hanya wajahnya yang cantik namun hatinya juga cantik" ucap Revan memuji istrinya.


hati Nadhifa berbunga-bunga mendengar ucapan tulus suaminya, ia membalas pelukan Revan tak kalah erat.


" terimakasih sudah menerima semua kekuranganku" sahut Nadhifa.


" iya sayang, sama-sama"


mereka berpelukan cukup lama, menikmati kehangatan yang mereka rasakan.


" kita mau lanjut jalan-jalan atau..." ucap Revan menggantung.


" kita lanjut jalan saja" sahut Nadhifa cepat, ia tahu maksud suaminya itu, segera ia berdiri dan mengambil tas yang ia letakkan di atas meja.


Revan terkekeh mendengar ucapan istrinya, ia mendekati Nadhifa dan menggandeng tangan wanita itu dengan mesra.


" ayo kita jalan lagi, kalau berduaan sama kamu disini aku gak yakin bisa menahan diri"


" dasar, mas Re emang mesum" ucap Nadhifa menunduk malu.


...


usai sholat isya Revan dan Nadhifa sudah berada di salah satu rumah makan yang ada disekitar penginapan mereka, mereka memilih duduk lesehan menikmati semilir angin yang berhembus lembut.


" mas Re sudah kasih kabar sama mama?"


" udah, selesai sholat dhuhur tadi aku langsung hubungi mama"


" Dhifa terlalu senang ada di sini, sampai lupa kasih kabar" ucap Nadhifa.


" tidak apa-apa, aku tahu kamu juga butuh refreshing" sahut Revan memaklumi istrinya.


pelayan datang dan menghidangkan makanan untuk mereka, aroma ikan Bahar bercampur dengan bumbu-bumbu rempah menggoda indera penciuman mereka.


" sepertinya ini enak sekali mas"


" iya sayang, makanlah yang banyak, kita butuh tenaga banyak untuk nanti malam" bisik Revan tepat di telinga Nadhifa.


Nadhifa mencubit gemas perut suaminya, Revan hanya tertawa melihat tingkah istrinya.


Revan memilah daging ikan bakar itu, menyingkirkan tulang-tulang kecil dan meletakkannya di tempat kecil yang tersedia, setelah itu ia meletakkan daging itu di piring Nadhifa.


" mas Re makan aja, Dhifa bisa sendiri mas" ucap Nadhifa yang merasa tidak enak hati.


" tidak apa-apa sayang, kamu makan aja" sahut Revan.


Nadhifa mengambil nasi dan mendekatkan pada wajah Revan, bermaksud untuk menyuapi suaminya.


" mas Re juga harus makan"

__ADS_1


Revan tersenyum senang, dengan senang hati ia melahap nasi yang Nadhifa berikan, tak lupa Nadhifa mengambil daging itu dan ia celupkan pada sambal yang tersedia.


" enak mas?" tanya Nadhifa.


" iya enak" sahut Revan.


...


Usai jalan-jalan di sekitar pantai keduanya memutuskan untuk istirahat saja, saat ini mereka sudah berbaring di atas tempat tidur.


" mau kemana?" tanya Revan saat Nadhifa berdiri, wanita itu membuka lemari dan mencari baju tidurnya, alangkah terkejutnya dia saat ia mendapati banyak lingerie yang tersusun rapi.


" kenapa baju tidurku jadi ini semua mas?" tanya Nadhifa cemberut.


" oh ya, memangnya kamu bawa baju tidur apa?" tanya Revan penasaran.


" aku bawa piyama tidur kayak biasa, kenapa jadi baju kekurangan bahan seperti ini sih?" sungut Nadhifa kesal, pasalnya jika ia menggunakan baju itu Revan tidak akan membiarkannya tidur dengan nyenyak.


Revan tersenyum kecil dan mendekati Nadhifa.


" tidak apa, aku lebih suka kamu pakai baju itu sayang"


" tapi mas, Dhifa malu" ucap Nadhifa malu.


" tidak perlu malu sayang, aku malah suka kamu pakai baju itu" bisik Revan.


" mas" ucap Nadhifa manja.


" baiklah, apa mau aku pakaikan?" tanya Revan usil.


Nadhifa menggeleng cepat kemudian membawa salah satu lingerie itu ke kamar mandi membuat Revan terkekeh geli.


" kita menikah sudah lebih dua tahun, tapi kamu masih saja malu" ucap Revan pelan.


tak lama Nadhifa mendekati Revan yang sedang berbaring, dengan segera ia membenamkan tubuhnya kedalam selimut dan membelakangi Revan.


Revan tersenyum kecil melihat tingkah istrinya, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nadhifa.


" kenapa menghadap kesana sayang?"


" mas Re, Dhifa malu" sahut Nadhifa pelan.


" berbalilkah sayang"


Dengan pelan Revan membalik tubuh istrinya hingga ia dapat melihat wajah Nadhifa yang memerah.


" kenapa kamu selalu malu?" tanya Revan mengusap pipi Nadhifa lembut.


" aku tidak tahu" sahut Nadhifa polos.


" tidak perlu malu, aku suamimu sayang" bisik Revan.


Dengan malu-malu Nadhifa menatap wajah Revan dari dekat, wajah tampan itu yang selalu menghiasi pikirannya, kini sedang menatapnya dengan tatapan penuh cinta.


" boleh?" tanya Revan penuh arti.


Nadhifa mengangguk saat memahami maksud suaminya, ia menyerahkan jiwa dan raganya untuk pria yang saat ini ada di sampingnya.


Revan mengelus rambut Nadhifa dengan lembut, kini wanita itu sedang tidur pulas di sampingnya, terlihat sekali jika wanita itu kelelahan usai percintaan mereka.


Revan menyingkap selimut yang menutupi tubuh istrinya, ia mendekati perut Nadhifa dan mengecupnya dengan lembut.


" ya Allah, berkahilah kami dengan keturunan yang Sholeh dan Sholehah, Amin" ucap Revan, hal ini sudah biasa Revan lakukan setelah bercinta dengan istrinya.

__ADS_1


Revan menarik selimut itu untuk menutupi tubuhnya dan Nadhifa, ia menarik tubuh Nadhifa supaya terbenam dalam pelukannya.


__ADS_2