Cinta Untuk Suamiku

Cinta Untuk Suamiku
30. UNGKAPAN RASA.


__ADS_3

Tak ada perbincangan serius antara pengantin baru itu, hanya sebuah lagu yang mengalun indah yang meramaikan keheningan mereka.


Pria yang saat ini menggunakan kaos lengan panjang berwarna biru tua itu nampak fokus untuk menapaki jalan raya yang cukup macet, jelas saja, malam Minggu adalah malam yang dinantikan banyak orang untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih.


Begitu pula wanita yang duduk di sebelahnya, ia lebih memperhatikan jalan raya yang dilewatinya, sesekali ia memandang wajah suaminya yang saat ini sedang fokus mengemudi.


Senyuman kecil yang menghiasi wajah tampan suaminya sukses membuat jantungnya berdegup kencang.


"Ada apa Dhifa? kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?" ucap Revan tiba-tiba yang membuat Nadhifa gelagapan


"Em, aku cuma penasaran mas Re mau ngajak aku kemana?" jawab Nadhifa.


Pria itu tersenyum kecil mendengar ucapan Nadhifa, padahal ia tahu istrinya sejak tadi memperhatikannya.


"Sebentar lagi sampai, sabar ya" ucap Revan mengelus puncak kepala istrinya itu.


Nadhifa mengangguk dan kembali mengedarkan pandangan pada jalan raya yang dilaluinya.


...


Angin berhembus sepoi-sepoi saat Nadhifa sudah keluar dari mobil, begitu pula Revan yang sudah memastikan keamanan mobilnya.


"Ayo masuk" ajak Revan dengan menggenggam lembut tangan istrinya.


Wanita yang saat ini sedang menggunakan gamis berwarna senada dengan suaminya itu hanya pasrah mengikuti langkah kaki suaminya melewati meja makan yang ada di hadapannya mereka.


Keduanya berhenti ketika Revan memilih untuk duduk di tempat makan lesehan yang tersedia di tempat itu.


"Makan disini gak apa-apa kan?" tanya Revan saat keduanya sudah duduk didepan meja makan.


"Gak apa-apa mas" Jawab Nadhifa menampilkan senyum manisnya.


"Baiklah, ayo pilih mau pesan apa?" ucap Revan seraya menyerahkan buku menu ke hadapan istrinya.


"Menurut mas Re menu yang enak apa?" tanya Nadhifa yang masih memperhatikan nama-nama menu yang tertulis di buku itu.


"Kalau aku biasanya makan ikan bakar sayang, soalnya ikan bakar disini enak banget" jelas Revan.


"Vaiklah, aku pesan ikan bakar" ucap Nadhifa kemudian meletakkan buku menu di tempat semula.


"Minumnya?"

__ADS_1


"Pokoknya yang hangat mas".


Revan memanggil pelayan untuk memesan menu yang sudah dipilih dan tak lama ikan bakar yang mereka pesan sudah terhidang di atas meja.


Mereka berdua sudah mencuci tangan dari tempat yang sudah tersedia di atas meja itu.


"Kita makannya pakai tangan, gak apa-apa kan?" ucap Revan saat Nadhifa masih sibuk memindahkan minuman di hadapan mereka.


"Aku malah lebih suka makan pakai tangan mas" sahut Nadhifa.


Revan mengangguk, ia mulai mengambil potongan ikan bakar yang terlihat begitu menggoda dan mengambil sambal yang tersedia.


Nadhifa mengikuti cara Revan makan, suaminya benar jika ikan bakar di hadapannya ini memang benar-benar lezat, bumbu rempah menyerap hingga ke dalam daging ikannya.


wanita itu makan dengan lahap, hingga tak menyadari jika ada sambal yang tersisa di sudut bibirnya.


Revan yang sudah menyudahi makannya mengambil tisu dan mengelap sudut bibir istrinya, membuat Nadhifa yang masih mencuci tangan tersentak.


"Maaf, ada sambal yang tersisa di bibirmu" ucap Revan.


"Aku bersihkan sendiri mas" sahut Nadhifa yang tiba-tiba merasa gugup saat wajah Revan begitu dekat dengan wajahnya.


"Biar aku saja" ucap Revan, mengelap sudut bibir istrinya yang terlihat semakin memerah setelah memakan sambal yang lumayan pedas.


"Habiskan minumnya" ucap Revan usai meletakkan tisu kotor itu di atas tulang ikan yang tersisa di atas meja.


Nadhifa mengangguk, mengambil satu gelas kecil air mineral, ia meneguknya terlebih dahulu, kemudian meminum teh hangat yang sudah dipesannya.


...


Revan dan Nadhifa sedang duduk di salah satu kursi panjang yang tak jauh dari tempat mereka makan, hanya beberapa meter mereka berjalan kaki untuk mencapai tempat yang indah, pemandangan dihadapan mereka membuat mereka senang.


Kelap-kelip lampu berwarna yang terhias sepanjang jalan, membentuk beberapa gambar, ada yang berupa bintang, bulan dan banyak lagi, membuat mereka betah berada di sana.


Tak ada banyak pengunjung di tempat itu, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang, melintas di jalan kecil yang ada di hadapan mereka.


"Dhifa" ucap Revan memecahkan keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka.


Nadhifa sibuk melihat pemandangan indah yang baru saja ditemuinya, berbeda dengan Revan yang masih gugup untuk menyusun kata yang akan disampaikan pada wanita yang telah menemani hidupnya beberapa minggu ini.


"Ada apa mas?" sahut Nadhifa dan mulai menghadapkan diri untuk melihat wajah tampan suaminya

__ADS_1


Revan menghela nafas panjang, menghembuskan secara perlahan, meyakinkan diri untuk mengatakan sesuatu kepada istrinya.


Meraih tangan istrinya, Revan menatap lekat wajah cantik yang sudah bersedia menemaninya.


"Aku gak tau, ini terlalu lambat atau cepat setelah semua yang terjadi diantara kita, tapi aku yakin satu hal Dhifa, bahwa aku benar-benar jatuh cinta padamu" ucap Revan tulus membuat Nadhifa tersenyum simpul.


Nadhifa mengeratkan genggaman mereka, memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan yang sudah lama tertanam di hatinya.


"Aku juga mas" sahut Nadhifa dengan mata berkaca-kaca, bukan perasaan sedih, tapi rasa haru yang ia rasakan.


"Aku berpikir, akan butuh waktu lama untuk mencintaimu Dhifa, tapi kamu sukses mencuri hatiku, padahal pernikahan kita belum genap satu bulan" ucap Revan terkekeh membuat Nadhifa tersenyum malu.


Tak tahan untuk tak memeluk istrinya, Revan meraih tubuh wanita dihadapannya dan mendekapnya erat, menghadiahkan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala istrinya, menyalurkan rasa sayang yang benar-benar dirasakan.


Perlakuan Revan yang seperti itu, sontak saja membuat Nadhifa malu, apalagi saat ini mereka sedang berada di luar rumah, tapi ia tak dapat mencegahnya, karna pelukan hangat Revan benar-benar membuatnya nyaman.


Melepaskan pelukannya, Revan mengangkat dagu istrinya untuk melihat wajah istrinya yang pasti saat ini sudah merona, benar saja pipi itu sudah bersemu merah.


Pandangan mereka terkunci, terlihat tatapan cinta yang terpancar dari keduanya membuat waktu seolah berhenti berputar.


"I love you " ucap Revan.


"I love you too mas" ucap Nadhifa malu-malu, membuat Revan tersenyum dan mengecup kening istrinya cukup lama.


Rasa hangat yang ia rasakan saat bersama Revan membuat Nadhifa tak sadar meneteskan air matanya.


"Kenapa nangis?" menjauhkan tubuhnya, Revan menghapus buliran air mata yang membasahi wajah istrinya.


"Aku hanya bahagia mas" sahut Nadhifa dan menyentuh tangan suaminya yang masih mengelus pipinya dengan lembut.


Nadhifa mengecup tangan itu dengan lembut, ia melakukannya berkali-kali membuat Revan tersenyum senang.


Usai Nadhifa melepaskan tangannya, Revan merogoh kantong celananya untuk meraih sebuah wadah berwarna navy yang sudah ia persiapkan sebelumnya, ia membuka wadah itu hingga nampak dua buah gelang dengan permata berwarna navy dan abu-abu yang merupakan warna kesukaan mereka berdua.


Revan meraih tangan istrinya, dan mulai memasangkan salah satu gelang dengan bentuk yang lebih feminim.


ia menyodorkan tangannya, meminta istrinya melakukan hal yang sama, ia terus memperhatikan Nadhifa yang masih mengaitkan ujung gelang itu.


" mungkin harga gelang ini tak seberapa, tapi aku ingin ini menjadi bukti cinta kita, jangan pernah lepaskan gelang itu, apapun yang terjadi" ucap Revan sesaat setelah Nadhifa selesai memasangkan gelang itu di tangannya.


Nadhifa mengangguk mantap, melihat gelang yang sudah terpasang di tangannya.

__ADS_1


"Aku akan selalu menjaganya mas" sahut Nadhifa yang mengundang senyuman lebar di wajah suaminya.


"Baiklah, ayo kita pulang" ajak Revan yang membuat Nadhifa ikut berdiri, ia menuntun tangan istrinya untuk menggandeng lengannya.


__ADS_2