
Nadhifa sudah Revan baringkan diatas ranjang kamarnya, kedua anaknya juga ikut menemani Nadhifa.
" Mama kenapa pa?" Tanya Nana.
" Mama hanya butuh istirahat sayang, kalian keluar dulu ya, istirahat di kamar" sahut Revan.
" Tapi aku mau disini pa" ucap Vandi.
" Nana juga mau disini pa" sahut Nana.
Revan sudah pasrah, ia mengangguk membiarkan kedua buah hatinya duduk di kedua sisi istrinya.
" Papa telpon dokter dulu ya" ucap Revan yang langsung keluar dari ruangannya, meninggalkan kedua anaknya untuk menemani Nadhifa.
Tak lama Bu Rahma dan yang lain datang, mendapati Vandi dan Nana yang menangis.
" Cucu Oma kenapa nangis?"
" Mama kenapa Oma? Mama sakit apa?" Tanya Nana dengan suara bergetar menahan tangis.
" Mama hanya kelelahan, kalian jangan nangis, mama pasti baik-baik saja" sahut Bu Rahma yang memeluk kedua cucunya.
" Kalian jangan nangis, nanti mama Dhifa sedih" ucap Winda yang juga ikut menenangkan mereka.
Vandi dan Nana mengangguk dan menghapus air mata yang tersisa di pipi.
" Anak papa kenapa nangis?" Tanya Revan yang baru saja datang.
" Mama baik-baik saja kan pa?" Tanya Vandi.
" Iya, kalian doain mama ya" sahut Revan tersenyum tipis, namun berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan.
Dokter yang Revan hubungi sudah datang, tak butuh waktu lama bagi dokter itu untuk memeriksa keadaan Nadhifa setelah semua orang keluar.
" Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Revan tak sabar, padahal dokter itu baru saja keluar, namun senyuman di wajah dokter itu membuat Revan bingung.
" Tidak perlu khawatir Van, Nadhifa hanya kelelahan, menurutku dia sedang hamil" sahut dokter perempuan itu.
" Apa?" Tanya Revan kaget.
" Iya Van, tadi aku sempat bertanya pada Nadhifa tentang hari terakhir dia menstruasi, tapi sepertinya Nadhifa lupa, untuk lebih pastinya coba beli testpack" jelas dokter perempuan itu.
" Baiklah, terima kasih Meri, maaf mengganggumu" ucap Revan tersenyum pada dokter yang ternyata adalah sepupunya.
" Tidak masalah Van, kalau begitu aku pulang dulu"
" Tante, Meri pamit pulang dulu" ucap Meri mencium punggung tangan Bu Rahma.
" Terimakasih Meri, maaf mengganggu" sahut Bu Rahma.
" Sama-sama Tante, oh ya dapat salam dari mama" ucap Meri membuat Bu Rahma tersenyum.
" Waalaikum salam"
Tanpa menunggu Meri pulang, Revan bergegas memasuki kamarnya dan mendapati Nadhifa yang sedang tersenyum menatapnya.
" Sayang, apa ada yang sakit?" Tanya Revan usai mendudukkan dirinya di samping Nadhifa.
" Tidak mas, hanya sedikit pusing" sahut Nadhifa tersenyum kecil.
Vandi dan Nana tiba-tiba masuk menghampiri mereka berdua dengan sedikit berlari.
" Mama"
" Mama sakit apa?" Tanya Vandi.
" Mama hanya kelelahan, kalian tidak perlu cemas" sahut Nadhifa tersenyum dan memeluk kedua anaknya.
" Sebaiknya kalian balik ke kamar, biar mama bisa istirahat" ucap Revan.
Vandi dan Nana mengangguk, sebelum keluar keduanya mencium pipi Nadhifa.
" Mama cepat sembuh ya" ucap Nana.
" Iya sayang, kalian istirahat ya" sahut Nadhifa.
__ADS_1
Setelah kedua anaknya keluar, Nadhifa menyandarkan kepalanya di pundak Revan.
" Kata Meri kamu hamil sayang"
" Tapi belum pasti mas, besok pagi aku cek pakai testpack ya" sahut Nadhifa.
" Iya, tapi kamu harus istirahat" ucap Revan dan langsung membantu Nadhifa berbaring, tak lupa mengelus puncak kepala istrinya supaya cepat terlelap.
keesokan paginya Nadhifa sudah ada di kamar mandi dengan testpack di tangannya, ia masih ragu untuk menggunakan benda itu.
" sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Revan khawatir, beberapa kali ia mengetuk pintu kamar mandi.
" iya mas, tunggu sebentar" sahut Nadhifa, dengan cepat ia menggunakan testpack sesuai arahan yang tercantum dalam kemasannya.
mata Nadhifa berkaca-kaca saat dua garis terlihat sangat jelas dari testpack itu.
" aku hamil lagi? Alhamdulillah"
" sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Revan sekali lagi, membuat Nadhifa tersentak kaget ia segera membuka pintu kamar mandi dengan wajah berbinar.
Dengan segera ia memeluk tubuh Revan dengan erat, melupakan wajah Revan yang terlihat khawatir.
" sudah jangan menangis, kalaupun kamu tidak hamil aku tidak apa-apa"
Nadhifa menggelengkan kepalanya hal itu membuat Revan semakin khawatir apalagi saat merasakan kaosnya sudah basah dengan air mata istrinya.
" sungguh sayang, aku tidak apa-apa, jangan menangis lagi"
Nadhifa melepaskan pelukannya, ia mengarahkan tangan Revan di atas perutnya dengan wajah berkaca-kaca.
" disini ada buah hati kita mas, aku hamil lagi"
Revan masih terdiam, ia masih tak menyangka saat Nadhifa mengatakan hal yang sangat ia nantikan.
" ini beneran? kamu gak bercanda kan?" tanya Revan membuat Nadhifa menggeleng.
Nadhifa meletakkan testpack yang menunjukkan dua garis di tangan Revan dengan senyum yang berkembang, setetes air mata kebahagiaan membasahi pipinya.
" aku serius mas, kita akan mempunyai bayi lagi" tegas Nadhifa.
" terimakasih sayang"
...
Kabar kehamilan Nadhifa membuat orang-orang terdekat mereka ikut bahagia, mereka, bahkan Vandi dan Nana sangat antusias menyambut kelahiran adik baru mereka.
Kini usia kehamilan Nadhifa sudah memasuki usia sembilan bulan, hanya beberapa hari lagi Nadhifa diperkirakan akan melahirkan bayinya dengan normal menurut perkiraan dokter.
saat usia kehamilannya masih dalam trimester pertama, Nadhifa cukup kesulitan makan, hanya masakan Revan yang ia sukai, padahal Revan tidak terlalu pandai memasak tapi pria itu berusaha memasak makanan yang cukup layak untuk Nadhifa.
Revan akhirnya bisa bernafas lega saat Nadhifa sudah kembali makan dengan lahap, bahkan Nadhifa tidak sungkan untuk meminta makanan yang ia inginkan, beruntungnya makanan itu masih dalam tahap normal, bukan sesuatu yang aneh-aneh.
Saat ini Nadhifa sudah berada di depan rumahnya, mengantarkan suami dan kedua anaknya berangkat sekolah, seperti biasa Vandi dan Nana mencium kedua pipi Nadhifa dengan digendong Revan.
" mama, kita berangkat dulu ya" ucap Vandi usai mencium punggung tangan Nadhifa, tak lupa ia mencium perut Nadhifa yang terlihat semakin membuncit.
" adik bayi, jangan nakal ya, kakak mau sekolah dulu" ucap Vandi.
" iya kak Vandi, adik bayi pasti baik-baik saja, kakak sekolah yang rajin ya" sahut Nadhifa menirukan suara anak kecil.
sekarang giliran si cantik Nana yang berpamitan pada Nadhifa.
" Nana berangkat dulu ma"
" iya sayang, belajar yang rajin ya" sahut Nadhifa tersenyum.
" adik bayi, kak Nana berangkat sekolah ya, nanti kita main lagi" ucap Nana, tak lupa ia juga mencium perut buncit Nadhifa.
" maaf Winda Windi, kakak jadi bikin kalian repot" ucap Nadhifa pada adik ipar kembarnya yang berdiri disampingnya.
" tidak apa-apa kak" sahut Winda dan Windi bersamaan.
Semenjak Nadhifa hamil, Winda dan Windi bertugas menjaga keponakan mereka di sekolah secara bergantian, bahkan mereka membantu kedua keponakannya menyiapkan seragam dan keperluan sekolahnya, karna kamar Vandi dan Nana ada di lantai dua, sedangkan Nadhifa sudah pindah ke kamar bawah.
" sayang, aku berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa telpon saja" ucap Revan usai mengecup kening Nadhifa.
__ADS_1
" iya mas, hati-hati di jalan" sahut Nadhifa.
...
Revan melangkahkan kakinya dengan langkah lebar memasuki rumah sakit, baru saja ia mendapatkan kabar jika Nadhifa akan melahirkan.
Di luar ruangan bersalin itu ia mendapati Bu Rahma yang sedang duduk, dengan segera Revan menghampiri Bu Rahma dan menanyakan keadaan Nadhifa.
" kata dokter masih belum waktunya" ucap Bu Rahma membuat Revan mengangguk mengerti.
Revan mendekati Ruang bersalin itu untuk mencari tahu keadaan istrinya, tak lama seorang perawat perempuan mencarinya.
" silahkan tuan Revan, anda sudah ditunggu" ucap perawat itu.
" baiklah, terimakasih" sahut Revan, ia tak membuang waktu untuk mendekati Nadhifa yang terbaring lemah di atas brangkar.
" mas, sakit" keluh Nadhifa usai Revan ada di sampingnya.
" iya sayang, kamu pasti bisa" sahut Revan mengecup kening Nadhifa dengan lembut.
tiba-tiba Nadhifa mencengkram lengan Revan dengan erat saat merasakan sakit pada perut bawahnya, hal itu sontak membuat Revan khawatir.
" dokter, sepertinya istri saya akan melahirkan" ucap Revan.
dokter perempuan itu memeriksa jalan lahir dan mendapati pembukaan sudah lengkap.
" iya tuan, ayo nona Nadhifa ikuti instruksi saya ya" ucap dokter itu.
Nadhifa menuruti perintah dokter itu, sesekali Revan mengusap kening Nadhifa yang sudah basah dengan keringat, tak lupa do'a ia panjatkan supaya istri dan anaknya selamat.
terdengar tangisan bayi membuat Revan dan Nadhifa terharu, tetes air mata yang membasahi wajah keduanya seakan menjadi saksi betapa mereka sangat bahagia.
" terimakasih sayang, sekali lagi kamu mempertaruhkan nyawamu demi anak kita" ucap Revan mengecup kening Nadhifa.
" iya mas, sama-sama, ini sudah kewajiban ku" sahut Nadhifa tersenyum.
...
Rumah bu Rahma sudah terlihat sangat ramai, semua orang berkumpul menyambut kedatangan bayi yang baru lahir.
Revan membantu Nadhifa berjalan, sedangkan bayi kecil mereka ada dalam gendongan Ranti yang bertugas menjemput mereka.
" selamat ya sayang" ucap bunda Lastri pada Nadhifa.
" iya bunda, terimakasih" sahut Nadhifa tersenyum.
bunda Naya dan bunda Sari tak lupa mengucapkan selamat pada Nadhifa, begitu pula para sahabat Revan dan istri mereka yang ikut senang menyambut kelahiran bayi ketiga Revan.
Revan membantu Nadhifa berbaring di kamarnya karna istrinya itu sudah merasa kelelahan, sedangkan bayi mereka masih menjadi rebutan orang-orang yang ingin menggendongnya.
" butuh sesuatu?" tanya Revan.
" tidak mas" sahut Nadhifa lembut.
" terimakasih ya, sudah melahirkan bayi kita dengan selamat" ucap Revan tulus.
" iya mas, tidak perlu berterimakasih, ini sudah kewajiban ku" sahut Nadhifa.
" aku senang sekali karna Vandi dan Nana menyayangi adik mereka" ucap Revan.
" siapa dulu papanya?" goda Nadhifa membuat Revan tersenyum.
" I love you sayang" ucap Revan menatap wajah Nadhifa dengan senyuman yang tak pudar di wajahnya.
" I love you too mas" sahut Nadhifa, mengelus rahang kokoh Revan yang sedang berbaring di sampingnya, bahkan wanita itu mengecup bibir Revan sekilas.
" lagi" ucap Revan membuat Nadhifa tertawa.
" apa?" tanya Nadhifa pura-pura tidak tahu.
Revan mengetuk bibir dengan jari telunjuknya.
" kurang lama sayang" ucap Revan manja membuat Nadhifa terkekeh.
" dasar, anak sudah tiga masih mesum" ucap Nadhifa membuat Revan ikut tertawa, akhirnya siang itu mereka habiskan untuk bercengkrama dan tertawa bersama.
__ADS_1