
"udah ketemu konci motornya." tanya Bastian
Bastian mengira Albizar pergi lagi kedalam untuk mencari kunci motornya.
Albizar mengangguk.
"sssttttt..." Albizar meringis kesakitan.
"Kenapa Loe? perut Loe sakit lagi?" tanya Iqbal.
"Dikit. Nanti juga sembuh lagi." kata Albizar.
"Loe yakin nggak mau diperiksa dulu?. Gue takutnya Loe punya penyakit yang parah." kata Bastian.
"Enggak. Tenang aman kok." kata Albizar.
"Yaudah. Tapi hari ini Loe harus nurut apa kata kita. Loe izin buat nggak latihan dulu. tar Gue yang bilang langsung sama Bang Rendi. Biar nanti Bang Rendi yang izinin Loe ke pelatih." kata Bastian.
"Setuju banget Gue sama saran Bastian." kata Iqbal.
"Yaudah kita balik. oh ya. Kita anterin Loe sampe rumah ya." kata Iqbal.
"Ngapain?. Jangan bilang Loe pada mau pdkt sama Zahra. nggak ada
!!. Zahra harus fokus sama sekolah ya." kata Albizar.
"Yaelah. Posesif amat Bang." kata Iqbal.
Diam-diam Albizar mencari mobil jemputan Kayla sepertinya baik jemputan Kayla, maupun Syahnaz dan Kintan belum ada satupun yang datang. Rasanya Albizar tidak tenang jika belum memastikan Kayla benar-benar pulang bersama supir jemputan yang diperintahkan Pak Hans.
"Al.. Loe dari tadi celingak celinguk. Nyari apa sih Loe?" tanya Bastian.
"Mobil jemputan Kayla" kata Albizar.
"Apa? Loe serius? Tapi kenapa?" tanya Iqbal.
"Jangan bilang Loe jatuh cinta ya sama Kayla. makanya Loe khawatir sama Dia kalau jemputan nya belom Dateng. secara seorang Albizar Yusuf manusia dingin yang nggak pernah perduli apalagi soal cewek. Tiba-tiba khawatir sama seorang Kayla. kalau bukan cinta apa namanya?." Kata Bastian to the point
"Yang perlu kalian ingat seorang Albizar Yusuf juga manusia biasa. Dia punya rasa empati di balik sikap dinginnya. Gue bakal bantu orang yang kiranya bisa Gue bantu. dan satu hal lagi kalau pun gue bantu orang bukan berarti Gue suka atau cinta sama orang itu. Gue sering bantu nenek-nenek, anak jalanan, dan yang lainnya. Bukan berarti Gue cinta kan sama mereka." kata Albizar.
__ADS_1
"Iya sih. tapi heran aja Gue. tapi saran Gue jangan terlalu yakin kalau Loe nggak cinta sama Kayla. siapa tau tanpa Loe sadar sebenarnya cinta itu udah tumbuh dan berkembang" Kata Iqbal berusaha menasihati
"Itu mungkin terjadi. Tapi bukan Gue."
Iqbal dan Bastian hanya geleng kepala.
Terlihat Kayla Syahnaz dan juga Kintan berjalan tempat parkir sekolah. Mereka mencari mobil yang menjemput mereka tapi belum datang. Sementara Albizar belum terlihat siap untuk pulang. Albizar diam-diam masih memperhatikan Kayla dan kedua temannya.
"Al Kok Bengong. Loe mau disini aja atau mau pulang?" kata Bastian.
Albizar masih diam. Bastian dan Iqbal celingak celinguk mencari sesuatu yang sedang ditunggu Albizar. Saat melihat Kayla dan kedua temannya sedang nunggu jemputan mereka. Kini Iqbal dan Bastian mengerti apa yang sedang Albizar tunggu. Iqbal dan Bastian saling memberi kode. Merekapun menyalakan motor mereka dan menjalankan motor mereka mendekati Kayla dan kedua temannya.
Motor Bastian dan Iqbal berhenti didepan Kayla dan kedua temannya.
"Jemputan kalian belom dateng?" tanya Iqbal.
Kayla menggelengkan kepalanya.
"Udah dicoba ditelpon, mereka udah sampe mana?" tanya Bastian.
Mereka menggelengkan kepala. Lalu Kintan pun menelpon supirnya. Setelah telponan selesai Kintan terlihat lesu.
"Gimana?" tanya Iqbal
"Yah.. terus gimana dong. apa naek Ojek aja?" kata Syahnaz.
Mendengar saran Syahnaz sepertinya Kayla tidak yakin. Dia tidak berani untuk naik motor apa lagi sama orang asing. Dia punya trauma tentang ini.
"Biar kita anterin kalian. Gimana? kalian mau?" tanya Iqbal.
Syahnaz dan Kintan terlihat bingung. kalau mereka setuju diantara mereka bertiga harus ada satu yang mengalah. Melihat Syahnaz dan Kintan yang terlihat bingung Iqbal mengerti. Iqbal pun menengok ke arah Albizar yang masih tetap diam ditempatnya. sambil memberikan kode.
Dari tempatnya Albizar melihat Iqbal yang menengok kearahnya. Dia sendiri tidak tau apa yang dikatakan mereka. Tapi melihat wajah Kintan yang berubah lesu setelah menelpon seseorang sepertinya ada yang tidak beres. Albizar pun mulai naik ke motornya. dan menjalankan motornya kearah Iqbal dan Bastian.
Albizar berhenti. Melihat Kayla yang masih diam. Albizar turun dari motornya sambil melepaskan jaketnya. Sambil berjalan menghampiri Kayla. saat sudah ada didepan Kayla Albizar memberikan jaketnya pada Kayla. Semua orang terperangah. lagi-lagi tingkah Albizar tidak bisa ditebak. Kayla pun diam sambil menatap Albizar seakan bertanya.
"Pake. Gue anter Loe pulang." kata Albizar.
Kayla masih diam.
__ADS_1
"Apa lagi?. supir kalian kejebak macet. Ada kecelakaan diperapatan arah ke sekolah kan?. Kalian mau nunggu di sini sampe malem?" kata Albizar.
Mereka menganga. kok Albizar bisa tau hal ini?.
"Tadi Gue dengar dari salah satu murid tentang kecelakaan itu." kata Albizar seakan menjawab pertanyaan mereka.
Mereka mengangguk mengerti.
Albizar mendekat pada Kayla.dan mulai memakaikan jeketnya ke Kayla. Kayla mati kutu. perasaannya deg-degan saat berada diposisi seperti sekarang. walau dengan tampang dinginnya Albizar memakaikan jaket ke Kayla dengan baik. Lagi-lagi mereka dibuat terperangah akan sikapnya Albizar.
"Kalian mau bengong disini sampe malem?. atau mau pulang?" kata Albizar menyadarkan mereka.
Mereka sadar. Walau masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kintan naik ke motor Bastian dan Syahnaz naik kemotor Iqbal.
"Ayo." kata Albizar . lalu jalan ke motornya.
Kayla mengikuti Albizar dibelakangnya. setelah Albizar naik keatas motornya, baru giliran Kayla yang naik. Perasaan Kayla deg-degan ini kali pertama dia Dia dibonceng oleh Albizar.
"Mau dianter kemana Naz?" tanya Iqbal pada Syahnaz.
"Gue mau kerumah Kayla dulu. Mau nemenin dia." kata Syahnaz.
"Kalau Loe Tan?" tanya Bastian.
"Gue jua sama." kata Kintan.
"Ya udah kita kerumah Kayla. Pegangan Tan." kata Bastian.
"Pegangan Naz." kata Iqbal pada Syahnaz.
Sementara Kayla sedikit ragu untuk pegangan pada Albizar. Albizar menyalakan mesin motornya. terlihat Kayla yang gemetar. Dia berpegangan pada tasnya Albizar. Namun sebelum berangkat Albizar memindahkan tasnya menjadi kedepan. Kayla pun bingung harus pegangan dimana. Kayla pun berpegangan pada jok motor.
Melihat hal ini membuat Bastian, Iqbal, Syahnaz dan Juga Kintan tersenyum melihat tingkah Kayla.
"Pegangan nya ke Al, Kay. Kalau pegangan di jok tar Loe jatoh." kata Iqbal
Kayla diam. Dia ragu. Dia takut nanti buat Albizar marah atau tidak suka. Namun siapa sangka Albizar mengambil tangan Kayla dan meletakannya keperutnya. Hal ini membuat Kayla seakan memeluk Albizar dari belakang. Sontak saja jantung Kayla berdebar sangat kencang. Kayla sendiri yakin jika Albizar bisa merasakannya.
Yaa Albizar memang bisa merasakan detak jantung Kayla yang berdebar sangat kencang karena berada sedekat ini. Albizar tersenyum samar bahkan hampir tidak terlihat saat mengetahui Kayla deg-degan berada didekatnya. Albizar pun mulai menarik tuas kopling motornya, lalu memasukan gigi dan perlahan melepas koplingnya dan kemudian menarik gasnya secara perlahan. motor pun berjalan. kemudian disusul oleh Iqbal dan juga Bastian.
__ADS_1
Disepanjang perjalanan tidak ada obrolan apapun diantara Kayla dan Bastian. Kayla yang berusaha mengendalikan degup jantungnya yang berdetak sangat kencang. terlebih Dia tidak ingin memecah konsentrasi Albizar yang sedang mengendarai Motor, memilih diam. Sementara Albizar juga diam karena sedang fokus mengendarai motor, menyalip mobil dan mencari gang alternatif untuk kerumah Kayla mengingat jalanan menuju rumah Kayla adalah kawasan yang sering macet.
Sesekali Albizar melirik ke spion untuk melihat Kayla yang duduk dibelakangnya dengan menyenderkan kepalanya sambil memejamkan matanya ketakutan pada bahu Albizar. Albizar sendiri heran kenapa Dia merasa nyaman ada diposisi seperti ini. Dia bingung kenapa Dia justru menawarkan diri untuk mengantar Kayla. Namun satu hal yang pasti dia melakukan ini atas kemauannya sendiri. Nyatanya Albizar perduli pada Kayla.