
Deburan ombak, bergemuruh menyapu pantai. Seorang laki-laki berjaket kulit hitam kini tengah tenggelam dalam lamunannya sambil terus menikmati gemuruh ombak. Sambil menatap hamparan lautan biru. Terus teringat Semua yang sudah terjadi. Sesak rasanya. Namun apa boleh buat, kita tidak bisa memaksakan perasaan kita terhadap orang lain. terlebih sikiap kita yang membuatnya menutup diri dari kita.
Laki-laki itu memejamkan matanya. sambil terus menyesali semua sikapnya. Hingga terasa butiran bening mengalir di pipinya. sesesak ini kah rasanya saat kehadiran kita tidak diharapkan. bahkan menatap wajahnya saja ia tidak sudi.
setelah dirasa sudah mampu mengontrol diri laki-laki itupun pergi.
...****************...
"Loe oke Al?." tanya bang Ronal.
Al mengangguk kepalanya
Bang Ronal merasa tidak yakin dengan jawaban Albizar. mengingat saat latihan tadi terlihat Albizar tidak fokus diatas motornya. bang Ronal khawatir jika nanti Albizar tidak bisa mengendalikan motornya. dia tidak ingin jika nantinya Albizar kenapa-kenapa saat latihan.
Bang Ronal sendiri melihat wajah Albizar yang terlihat lesu seperi sedang banyak pikiran. entah ada maslaha apa dengan Albizar. karena tidak seperti biasanya Albizar terlihat tidak fokus. biasanya jika masalahnya tidak terlalu rumit Albizar tidak akan hilang konsentrasi saat sedang latihan. karena Albizar tau gimana bahayanya jika sampai dia tidak fokus.
"Gue tau Loe lagi nggak fokus. entah ada masalah apa. tapi Gue cuma bilang. apapun masalah Loe. saat dalam sirkuit Loe harus bisa meninggalkan dulu masalah loe. biar Loe bisa fokus. jangan sampe karena itu, Loe pecah konsentrasi dan bikin Loe dalam bahaya. Loe paham kan sama yang Gue maksud?" kata Bang Ronal.
Al mengangguk lagi
"Gue tinggal dulu ya. Loe istirahat dulu setengah jam lagi kita lanjut lagi latihan." kata bang Ronal.
Albizar pun mencerna kata-kata Bang Ronal. apa yang dikatakan bang Ronal benar adanya. Albizar sendiri ingin melupakan masalahnya namun tetap saja pikiranna tidak bisa melupakannya.
Setelah selesai istirahat Albizar pun bersiap diatas motornya untuk kembali latihan. Bang Ronal memberikan aba-aba dan juga nasihat pada Albizar agar bisa fokus. dan Albizar pun mulai melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Sementara bang Ronal terus memperhatikan Albizar dari sisi sambil terus memberikan intrupsi pada Albizar.
Namun entah apa yang mengganggu konsentrasi Albizah hingga dia lepas kendali. dan motornya tergelincir saat ditikungan dan motornya melewati pembatas. melihat ini tim pun segera berlari menghampiri Albizar.
Bang Ronal dan tim pun segera berlari ke tempat Albizar. Albizar yang terlihat kesulitan untuk bangun karena tangan kirinya tertindi motornya. segera saja Bang Ronal dan tim segera membantu Albizar.
"ssssttttttt..." Albizar meringis kesakitan.
sepertinya lengan dan bahunya mengalami cidera sehingga terasa sangat sakit. beruntung dia memakai helm sehingga kepalanya aman dari benturan saat kecelakaan tadi. Bang Ronal dan tim pun memapah Albizar.
"Aaauuu.." kata Albizar meringis kesakitan saat bahunya iprgang oleh salah satu tim medis.
__ADS_1
Melihat Albizar yang begitu meringis kesakitan mereka pun menggotong Albizar dengan tandu. karena tidak mungkin mereka memapah Albizar. dan tidak mungkin juga membiarkan Albizar berjalan sendiri mengingat kaki Albizar juga sakit.
Tim pun melarikan Albizar kerumah sakit. Bang Ronal terlihat begitu panik. mengingat Albizar yang terus meringis kesakitan dibagian bahu dan juga kaki nya. Bang Ronal pun segera menghubungi Bang Rendi Iqbal dan juga Bastian.
...----------------...
Bang Rendi , Iqbal dan Bastia pun tiba diruang rawat Albizar. Iqbal dan Bastian segera ke rumah sakit setelah pulang sekolah.
"Gimana kondisi Loe sekarang?" tanya bang Rendi.
"Nggak apa-apa bang cuman luka kecil bentar lagi juga sembuh." kata Albizar
"beneran?" tanya bang Rendi pada Ronal untuk memastikan.
"Bahu sama kakinya cidera. dan kita masih nunggu hasil CT scan. semoga nggak ada luka serius." kata Bang Ronal.
"Ya ampun Al kok bisa celaka kayak gini sih? Loe nggak fokus atau gimana?" tanya Bastian.
"santai aja. 2-3 hari Gue udah bisa latihan lagi kok" kata Albizar
"Nggak. Loe harus sembuh dulu. Lagian kita juga belum liat hasil CT scan LOE. Inget jangan sampe Loe maksain latihan. yang ada itu bakal memperburuk kondisi Loe." kata bang Ronal.
"Gue setuju. Loe nggak boleh latihan sampe kondisi lor bener-bener sembuh." kata bang Rendi.
"Tapi bang. Gue udah terikat kontrak sama perusahaan. apa lagi Gue harus latihan buat turnamen di Jepang nanti." kata Albizar
"Justru karena itu. Loe harus benar-benar pulih. kalau kesehatan loe aja nggak bagus gimana bisa Loe ikut turnamen itu. lagian perusahaan pasti nggak bakal setuju kalau Loe ikut lomba dengan kondisi Loe yang nggak sehat." kat bang Ronal.
"Iya kalau loe khawatir sama tanggung jawab Loe. Loe harus cepet pulih dan sembuh. biar nantinya Loe bisa tampil maksimal di lomba nanti." kata bang Rendi.
"iya Bang " kata Albizar
"Gitu dong. nurut." kata Bang Ronal,Bang Rendi, Iqbal dan Bastian serempak.
Albizar tersenyum.
__ADS_1
"Gue kabarin Zahra dulu ya. Adek Loe harus tau kondisi Loe." kata
"jangan Bang. kasian nanti Zahra khawatir." kata Albizar.
"Biar gimanapun mereka adek Loe. seenggaknya kalau mereka tau kondisi Loe. mereka bisa bantu rawat Loe. udah lah kali ini Loe harus nurut sama kita." kata bang Rendi.
menjelang sore. Zahra dan Mak Ranti datang ke ruang rawat Albizar. terlihat jelah raut wajah mereka yang begitu Khawatir.
"Ya Allah kak. kenapa kakak bisa begini?" kata Zahra yang sangat khawatir.
"jangan khawatir dek. kakak udah nggak apa-apa kok." kata Albizar.
"nggak apa-apa gimana? liat kondisi kamu. diperban gitu. lagi kamu itu kalau naik motor itu ya jangan ngelamun toh. gini kan jadinya. bahaya." kata emak Ranti.
"kata dokter Apa Kak?" tanya Zahra pada bang Rendi.
"Dokter bilang Al harus dirawat sekitar seminggu. kakinya ada yang retak. dan ada pergeseran di bahunya. makanya dia harus dirawat disini secara intensif. dan harus menjalani terapi juga." kata bang Ronal.
"Ya Allah Kak." kata Zahra yang tiba-tiba mennagis mendengar kondisi sang kakak.
"udah kakak nggak apa-apa kok dek. insyaallah Kakak bakal cepet sembuh." kata Albizar. berusaha menenangkan sang adik.
melihat Albizar dan sang adik sedang saling mencurahkan rasa khawatir nya . Bang Rendi, Bang Ronal Iqbal dan Bastian pun berpamitan keluar dari sana. Mereka beralasan ingin mencari makan.
setelah mereka keluar. Zahra masih terus menangis. dan emak Ranti terus berusaha menenangkan Zahra dengan mengelus kepalanya Zahra.
"Kak Kayla udah tau soal ini kak?" tanya Zahra tiba-tiba teringat dengan kakak iparnya itu
"Belum. tapi tolong jangan kasih tau dia ya. kakak nggak mau liat dia khawatir. lagian Kayla lagi sakit. ksiha nanti dia semakin sakit karena kepikiran" kata Albizar beralasan.
Zahra merasa ragu dengan alasan sang kakak. tapi sepertinya untuk saat ini dia akan menuruti perintah kakaknya. sambil dia mencari tau sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
hai.. hai..
readers tersayang. author mohon maaf ya jika akhir-akhir ini author telat update. karena satu dan lain hal. semoga setelah ini author bisa rajin-rajin update. makasih kalian masih setia menunggu kelanjutan cerita ini. sayang.. sayang .. kalian (◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤
__ADS_1