Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)

Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)
Bab 10-Firasat.


__ADS_3

Tangan wanita itu menarik kenop pintu, karena pintu yang sudah usang suara decitan pun langsung terdengar begitu ia membukanya.


Cahaya lentera yang agak redup menyambutnya saat dia masuk, matanya menatap ke arah kursi dekat perapian.


Padahal musim dingin belum datang, tapi pria itu sudah diam dengan anteng di depan perapian seolah-olah udara di sekitarnya sangat dingin.


Pria berambut abu-abu gelap itu sedang duduk santai, sebelah matanya tertutup rambut, dia menoleh menatap si wanita itu.


"Sudah datang, Miya?"


Ucapnya singkat, dia menatap si wanita, Miya, yang baru masuk.


Miya mengangguk, kemudian berjalan duduk di depan kursi si pria tadi.


"Apakah mereka sudah tidur?"


Ucapnya, langsung bertanya.


"Iya, aku sudah mengantarkan mereka ke kamar yang tersisa. Sekarang mereka pasti sudah tidur"


Pria itu mengangguk paham, suasana di sana pun kembali hening.


Miya meletakan teh hangat yang dia bawa, melihat teh yang sudah tersaji bersama sedikit kudapan membuat si pria senang. Dia langsung mengambil teh, lalu menyesapnya. Meskipun itu masih panas, tapi dia bisa meminumnya dengan santai.


"Apa ini tidak apa-apa Yula?"


Ucap Miya, dia menunduk menatap teh yang mengepul. Pria itu, Yula,  melirik ke arah Miya yang lesu.


Dia menghembuskan napas panjang, sedikit jengkel.


"Sudah ku bilang ini tidak apa-apa, kamu pun bukannya bertindak jahat"


"Tapi aku menipu mereka"


"Kamu tidak menipu mereka, apa yang kamu lakukan sekarang adalah melindungi kerajaan tempat kamu tinggal"


Miya masih saja merasa bersalah, meskipun Yula sudah meyakinkan dia berkali-kali.


Melihat wajah Miya yang tak kunjung ceria membuat Yula harus menjelaskan lagi tentang rencananya.


"Coba kamu pikirkan, dua orang kuat menemani atasannya yang masuk ke kerajaan lain, kita tidak tahu apa yang ingin mereka lakukan. Apakah mereka akan menyampaikan pesan rahasia? Atau mungkin menyatakan perang? Itu bisa saja terjadi.


Apa yang kamu lakukan sekarang adalah antisipasi, kamu membiarkan mereka masuk ke rumahmu untuk ku selidiki. Jika mereka baik, kita biarkan mereka melanjutkan perjalanan dan minta balasan atas kebaikan yang kamu lakukan.


Sebaliknya, jika mereka memiliki niat buruk tinggal kamu laporkan ke kerajaan untuk mereka tindak lanjuti, jika begitu kamu akan di anggap berjasa dan setidaknya mereka akan memberimu hadiah.


Kamu sama sekali tidak melakukan hal buruk Miya, aku berjanji"


Yula menghentikan penjelasannya, meskipun dia jengkel karena berkali-kali harus mengatakan hal yang sama pada Miya namun anehnya dia tidak merasa keberatan.


'Dia harus bersyukur karena aku selalu bersikap baik padanya'


Yula adalah entitas yang sulit untuk melakukan hal baik pada orang lain, bukan karena dia lemah, tapi karena dia terlalu kuat jadi dia merasa bahwa dirinya lah yang paling berkuasa di sana.


Itu sudah menjadi sifat alami seekor Naga, entitas kuat yang bisa setara dengan demon.


Yula adalah Naga, namun dia bersedia membantu manusia di depannya dan bahkan repot-repot turun tangan langsung.

__ADS_1


'Melihat wajahnya yang lesu itu menyebalkan, aku tidak suka melihatnya terus begitu'


"Aku sudah mengatakannya bukan? Kamu tidak salah Miya"


Ucap Yula lagi, dia masih berusaha meyakinkan Miya.


Miya mendongak, menatap Yula yang menyesap teh miliknya.


"Jadi, hasilnya apa?"


Tanya Miya, dia ingin tahu apa hal yang harus dilakukannya dengan tiga orang asing itu.


Yula terdiam, dia meletakan kembali cangkir teh lalu mengambil satu kudapan berupa cookies coklat.


Sambil mengunyah cookies itu dia berbicara.


"Mereka tidak berbahaya, meskipun mereka kuat tapi aku tidak merasakan niat buruk dari mereka."


Jelas Yula, mengatakan hasil dari pengamatannya.


"'mereka' itu termasuk si nona muda?"


Tanya Miya, dia membahas tentang Kasumi. Cookies di tangan Yula sudah habis sekarang, dia menepuk-nepuk tangannya untuk menghilangkan remah lalu menjawab pertanyaan Miya.


"Benar, dia pun kuat. Bahkan dialah pemimpin yang aku katakan itu. Dan sepertinya dia yang paling kuat"


Yula menjeda ucapannya sejenak.


"Itu dibuktikan dengan kemampuan penglihatannya, meskipun masih muda dia sudah bisa melihat aliran mana. Dia tahu aku itu kuat,"


Jawaban singkat itu membuat Miya terkejut.


"Betul. Karena itu kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luar saja, meskipun dia terlihat sangat lemah sampai membutuhkan perlindungan dari dua orang itu, tapi sebenarnya di dalam dirinya tersegel kekuatan yang sangat kuat."


Yula bersandar di sofa, kembali menikmati kehangatan dari perapian.


"Luar biasa! Kamu mengetahui segalanya Yula!"


Seru Miya dengan antusias, wajahnya yang lesu seakan hilang sekarang.


Yula membusungkan dadanya, dia tersanjung atas pujian dari Miya.


"Aku adalah naga yang hebat, sudah pasti aku tahu tentang itu bukan?"


Ucapnya menyombongkan diri, Miya mengangguk-angguk setuju.


"Tapi, apakah kita harus menyerahkan mereka ke istana?"


Lagi-lagi Miya menanyakan hal yang sama, Yula benar-benar jengkel sekarang.


"Kenapa kamu seperti tak ingin melakukannya?"


Tanya Yula, dia penasaran kenapa dari tadi Miya selalu memikirkan itu. Biasanya dia akan menurut setiap rencana yang Yula miliki, namun sekarang dia terlalu banyak membantah.


"Aku, aku merasakan hal yang aneh saat melihat nona muda itu"


Ucap Miya, sedikit ragu.

__ADS_1


"Apa maksud mu?"


Yula terdiam, menunggu lanjutannya.


"Yah, apakah kamu pernah merasakan rindu pada seseorang begitu dalam sampai rasanya kamu bisa mati karena rindu itu? Aku, aku merasakannya saat melihat nona muda tadi.


Kami memang belum pernah bertemu meskipun di dalam mimpi, tapi entah kenapa saat melihatnya dia seperti keluargaku yang sudah lama tak aku temui"


Jelas Miya, dia begitu yakin dengan pemikirannya nya itu. Yula mendengus sebal, dia tidak menyangka jika alasannya begitu konyol.


"Itu tidak mungkin, jelas sekali dunia kalian saja berbeda. Bagaimana kalian bisa jadi keluarga?"


Ucap Yula, dia langsung membantahnya.


"Iya kan! Tapi tetap saja, aku merasa harus melindunginya"


"Huh, jangan konyol. Kekuatan mu belum sempurna, kamu belum bisa melindungi siapapun karena itu aku mengajarimu-"


Yula menghentikan ucapannya, dia merasa sudah berbicara terlalu kasar pada Miya.


Wajah Miya tertunduk lesu, tersenyum pahit.


"Benar, aku masih jauh dari kata sempurna"


Ucapnya singkat, tidak ada lagi rasa semangat seperti tadi. Melihat itu membuat Yula kesal, tidak, mungkin dia menyesal karena berbicara terlalu keras padanya.


"Haaa. Jika itu mau mu, kita biarkan saja mereka melanjutkan perjalanannya"


Ujar Yula, akhirnya dia menyerah dan membiarkan semuanya berjalan seperti yang di inginkan Miya.


Hanya itu yang bisa membuat mood Miya menjadi baik.


"Benarkah!? Sungguh?"


Mata Miya berbinar senang, dia menatap Yula, menuntut jawaban.


Yula tersenyum, kemudian menjawab pertanyaan Miya.


"Iya, tapi jika mereka melakukan hal mencurigakan kita harus langsung mengirim mereka ke kerajaan, apa kamu setuju jika begitu?"


Miya langsung mengangguk, menurutnya itu lebih baik daripada langsung mengirimkan mereka ke kerajaan padahal mereka belum tentu melakukan hal jahat.


"Oke! Aku yakin mereka itu orang yang baik!"


Seru Miya, wajahnya kembali bersemangat. Yula mendengus, dia merasa jika saat bersama Miya kelembutannya selalu terlihat.


Melihat senyuman Miya membuatnya ikut bahagia.


'Di dunia ini mungkin hanya Miya yang menjadi kelemahan ku'


Yula jadi mengingat saat pertama kali mereka bertemu. Rasanya baru kemarin dia menemukan Miya yang terluka, tapi sekarang Miya bahkan seperti bisa mengontrolnya.


"Aku menyayangimu Yula! Kamu yang terbaik!"


Miya melompat dan memeluk Yula, tubuh Yula langsung kaku karena tindakan Miya yang tiba-tiba, saat menyadarinya wajah Yula langsung memanas. Dia mirip kepiting rebus sekarang.


"Hei! Cepat turun dari pangkuanku!"

__ADS_1


Yula berusaha melepaskan Miya, namun itu percuma. Miya memeluknya sangat erat, wajah Yula semakin memanas sekarang.


'Dia bisa membuatku gila!'


__ADS_2