
Kasumi membuka segel surat dengan pisau kecil, dia tak mengenali cap keluarga yang ada pada surat itu namun dalam ingatannya dia merasa familiar.
Kertas surat terakhir itu sangat meriah, di dalamnya terdapat bunga kering yang masih harum, juga sedikit hiasan manik-manik yang tentu saja memiliki penampilan barang mahal.
Kasumi mulai penasaran dengan pengirim surat yang terkesan feminim ini, dia pun mulai membaca kata pertama.
[Untuk sahabat yang saya rindukan, putri Kasumi Hansa Cyrano.]
Kata pertama di awali dengan sapaan yang normal, Kasumi melanjutkan membaca surat itu.
[Saya sangat merasa sakit hati karena anda tak mengabari saya saat anda siuman dari peristiwa buruk yang anda alami,]
"Tunggu dulu, siapa dia?"
Dari suratnya dia seperti menekankan keakraban mereka, tapi Kasumi tak mengingat apapun tentang sosok pengirim surat.
Dia kembali membaca suratnya.
[Karena itu saya memutuskan untuk mengunjungi anda, apakah anda marah pada saya karena waktu itu saya hanya menonton saja dan tidak melerai anda? Jika begitu maafkan saya, tidak menerima balasan surat yang biasa anda berikan membuat perasaan saya hampa. Namun kali ini anda tak perlu membalas suratnya, karena saya akan langsung ke istana putri untuk bertemu dengan anda, kita bisa melakukan banyak hal lagi nanti yang tentu saja menyenangkan.
Penuh hormat dan cinta dari sahabat anda
Rion Max de Morgan]
Kasumi mengedipkan matanya beberapa kali kemudian bergumam pelan.
Ingatan milik Kasumi mulai terlihat sekarang.
"Rion de Morgan, pangeran, teman"
Kasumi menyebut tiga kata yang berhubungan dengan pengirim surat, tak menunggu lama ingatannya pun melihat tentang sosok Rion yang Kasumi tahu.
"Pangeran kedua dari negri vampir, Dracovillia. Dia adalah satu-satunya teman yang di miliki Kasumi sebelum dia koma,"
Kasumi mengemas surat di tangannya, dia menatap ke arah surat dengan tatapan geram kemudian melempar itu ke sembarang arah.
"Teman apanya!? Dia hanya anak tidak jelas yang menyukai keributan, setelah tahu Kasumi selalu membuat onar di istana dia mendekatinya hanya untuk mendapatkan tontonan menarik. Dengan santainya dia menganggap hubungan seperti itu sebuah pertemanan?"
Kasumi berbicara dengan penuh emosi, dia benar-benar tak menyukai Rion yang mengatakan hubungannya dengan Kasumi adalah sebuah pertemanan.
Meskipun Kahill dulu tak memiliki banyak teman, namun dia tahu apa arti dari sebuah pertemanan.
'Dan dia benar-benar bukan seorang teman yang baik'
Rion dalam ingatan Kasumi memang selalu ada untuknya, tapi hanya itu saja yang dia lakukan, selebihnya dia tak melakukan hal yang berarti.
Dia sering memprovokasi Kasumi secara halus sampai Kasumi tersulut emosi, setelah Kasumi melakukan keributan dia hanya akan diam dan menonton saja.
Meskipun begitu Kasumi masih menganggap Rion temannya, karena memang hanya dia yang mau mendekati Kasumi.
"Aku tak tahu dia sering membuat kacau separah ini sampai-sampai tak memiliki teman satupun, pokoknya aku harus memiliki teman lain selain Rion"
__ADS_1
Dan Kasumi sudah mendapatkannya sekarang, dia adalah Irene.
Kasumi berhenti menggerutu saat mendengar suara ketukan pintu dari luar, dia beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke arah pintu.
Rin tersentak saat melihat Kasumi langsung yang membuka pintu, dia sedikit menunduk untuk memberikan salam hormat pada Kasumi kemudian mulai berbicara.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda putri,"
Kasumi mengangguk singkat.
"Tidak masalah, jadi ada apa?"
Rin terdiam sejenak, dia seperti agak enggan untuk mengatakan apa yang terjadi pada Kasumi.
"Bicara saja apa itu?"
"A..anu, itu, di ruang tamu sudah ada pangeran Rion yang mengunjungi anda"
Kasumi mengernyitkan keningnya, baru saja dia memikirkan tentang pangeran Rion itu dan dia malah sudah ada di istananya.
Mata Kasumi memperhatikan ekspresi wajah Rin yang khawatir, sepertinya dia tahu perlakuan Rion pada Kasumi sehingga ia pun merasa tak ingin mempertemukan tuan putrinya itu dengan si tamu.
"Suruh dia pulang, bilang padanya aku tidak enak badan. Jika dia masih bersikeras, laporkan pada ayah saja"
Ucap Kasumi tak acuh, dia langsung menutup kembali pintu kamarnya tanpa menunggu respon dari Rin.
"B..baik putri!"
Jujur, Rin tidak menyukainya. jika saja hubungannya dengan Kasumi sebaik ini dulu, maka dia akan dengan tegas meminta pada Kasumi untuk menjauh dari Rion.
Menurut Rin, Rion terlalu banyak membawa pengaruh buruk pada sifat Kasumi karena itu dia tak menyukainya.
Rin segera pergi untuk menyampaikan perintah dari Kasumi pada Rion, dia mulai berjalan cepat menuju tempat tujuan, tidak sopan membuat tamu dari kerajaan lain menunggu lama.
...****...
Aku membaringkan tubuhku di kasur yang empuk, menatap langit-langit kamar yang indah dengan dekorasinya mewah.
Saat itu jam sembilan malam dan aku tidak bisa kembali ke dalam dunia mimpi, padahal beberapa jam yang lalu ayahku datang untuk membuatku tertidur, dia menemani ku sampai aku menutup mata.
Beberapa jam kemudian aku terbangun lagi, ayah sudah tak ada di kamarku dan sekarang sangat sulit untuk kembali tidur.
"Aku tak bisa tidur"
Gumam ku pelan, meskipun begitu aku berusaha untuk menutup mataku berharap dengan melakukan itu perlahan aku bisa tidur lagi.
Tok tok tok.
Suara pelan dari luar membuat ku tersentak, aku terdiam sejenak sebelum menajamkan indera pendengaran ku. Jelas sekali tadi aku mendengar suara ketukan, meskipun itu pelan tapi aku yakin mendengarnya.
Beberapa menit kemudian suara itu kembali terdengar, aku menurunkan kaki ku dari atas ranjang kemudian berjalan pelan ke arah jendela balkon.
__ADS_1
Namun sebelum itu aku menghentikan langkahku, menatap ke arah jendela dengan tatapan curiga sekaligus agak takut.
'siapa itu? Pembunuh bayaran? Atau penyusup?'
Otak ku mulai meracau, semua hal yang menurutku masuk akal muncul di dalam otak ku, termasuk satu makhluk takhayul yang aku tahu saat aku menjadi Kahill.
'hantu?'
Saat memikirkan itu bulu kudukku langsung berdiri, meskipun aku tak percaya hantu tapi memikirkan sosok itu sukses membuat ku takut.
'Tidak, itu tak mungkin. Hantu itu tidak ada'
Dengan penuh keyakinan aku meyakinkan diriku jika sosok di balik jendela bukanlah hantu atau makhluk menyeramkan yang aku pikirkan, setelah agak tenang aku kembali berjalan mendekati jendela.
Suara itu pun terus terdengar seolah-olah dia mendesak ku untuk segera membukakan jendela, tak lupa aku membawa sebuah belati tajam yang bisa ku gunakan untuk melawan jikalau orang di balik jendela adalah orang jahat.
Karena aku belum bisa menggunakan kekuatan ku, sebuah senjata tajam akan sangat berguna.
Aku menghembuskan nafas panjang sebelum membukakan jendela, juga memikirkan beberapa rencana tambahan jika situasi menjadi buruk.
Tangan ku perlahan membuka gorden, kemudian sosok pria yang sedikit lebih tua dari Kasumi terlihat sedang menatapku dengan senyuman hangatnya.
Dia berbicara tanpa suara.
"Tolong buka jendelanya,"
Ucapnya singkat, aku melakukan apa yang dia katakan kemudian mata kami pun benar-benar bertemu.
Iris mata ungu cerah miliknya terlihat indah saat dia membuka jubah hitam yang ia kenakan, rambut perak kelabu itu mengingatkanku pada salju di musim dingin.
Hidungnya mancung dengan kulit yang pucat, dia terlihat berasal dari utara.
Aku masih terdiam, menyelidiki sosok itu sambil mengingat-ingat tentang nama si pemilik wajah, tapi hasilnya nihil.
Dia mencondongkan tubuhnya mendekatiku, matanya yang cerah menatapku dengan tatapan senang, ujung bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman hangat.
"Selamat malam, tuan putri Kasumi."
Ucapnya singkat, menyapa dengan penuh minat. Aku masih terdiam tak membalas, dia benar-benar mencurigakan.
"Siapa kamu?"
Senyuman senang itu menghilang dari wajahnya yang pucat, berganti menjadi wajah yang murung.
"Jahat sekali anda melupakan saya putri, bahkan tadi anda malah menyuruh saya yang sudah datang jauh-jauh dari Dracovillia pulang. Hati saya sungguh merasa sakit,"
Penuh drama, itulah yang aku pikirkan saat melihat tingkah anak itu.
'tunggu dulu, sepertinya aku ingat dia'
"Kau, Rion?"
__ADS_1