
"benar, saya Rion. Rion Max de Morgan"
Ujar anak itu singkat. Senyuman kembali terlihat di wajahnya yang tampan, dia menatap Kasumi yang masih terdiam membisu.
Kasumi mengepalkan tinjunya, iris mata merah miliknya menatap ke arah Rion dengan tatapan tak suka.
'Anak laki-laki yang tak pernah membantu Kasumi sekalipun mengaku sebagai temannya?ha! Sangat konyol'
"Pergilah"
Ucap Kasumi singkat dengan matanya yang dingin. Melihat tatapan itu membuat Rion tersentak. Benarkah itu adalah anak yang selama ini dia anggap 'hiburan' ? Sebelumnya Kasumi bahkan tak pernah menatapnya dengan tatapan dingin, hanya ada tatapan lugu dan menurut yang ia perlihatkan pada Rion.
Karena itu Rion berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi, dia tidak pergi seperti perintah Kasumi tadi.
"Anda pasti masih marah pada saya, sekali lagi saya minta maaf karena tak menahan anda waktu itu sehingga kejadian berbahaya menimpa anda"
Rion masih diam di sana, dia turun dari pagar balkon yang ia injak. Kakinya melangkah ke arah Kasumi yang masih diam di dalam kamar, jendelanya belum ia tutup karena itu Rion bisa masuk ke sana.
Jari Rion mengambil sedikit rambut coklat Kasumi yang terbang ke arahnya karena angin, dia mencium ujung rambut Kasumi pelan kemudian melihatnya dalam dengan mata ungunya yang cantik.
Wajah Kasumi datar, dia segera menjauhkan dirinya dari Rion sambil menyibakkan rambutnya.
"Aku sudah memaafkan mu, jadi pergilah"
Balasan dari Kasumi masih dingin, itu membuat Rion semakin heran. Kasumi yang dia tahu akan luluh hanya dengan sedikit perhatian saja, tapi dia tidak bereaksi apapun meskipun Rion sudah mencium ujung rambutnya.
"Tuan putri apakah anda-"
"Apa kau tuli? Cepat pergi atau aku akan berteriak pada pengawal bahwa seorang penyusup sudah masuk ke kamar putri"
Rion tak bisa berkata-kata. Ancaman dari Kasumi benar-benar akan membuatnya dalam masalah jika itu terjadi, karena itu ia menuruti apa yang di ucapkan Kasumi tadi dan berjalan mundur.
Ia menutup kembali wajah dengan jubah, kemudian menatap Kasumi singkat.
"Maaf. Saya akan datang lagi lain kali"
'JANGAN DATANG LAGI!'
Setelah mengatakan itu sosok Rion langsung menghilang dalam kegelapan malam, itu adalah salah satu keahlian vampir yang baru kali ini Kasumi lihat secara langsung.
Kasumi menghela nafas lega, akhirnya Rion pergi. Menutup jendelanya, berjalan ke kasur kemudian kembali tidur.
'Lain kali aku tak akan membukakan jendela untuk sembarang orang lagi'
Dia berpikir itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Rion, tapi takdir masa depan tak ada yang tahu. Keesokan harinya Rion datang ke istana putri, dia memberikan hadiah istimewa untuk Kasumi.
Tentu saja Kasumi menolaknya. Tapi Rion tak menyerah, dia memberikan hadiah lagi.
"Putri, ini ada hadiah dari pangeran Rion"
"Tolak itu"
__ADS_1
"Putri hadiah dari-"
"Tolak!"
"Putri-"
"Tolak!"
"Yang mulia-"
"Jika itu hadiah dari Rion, maka tolak saja! Atau buang! Berikan pada orang lain!"
Kasumi yang frustasi pada akhirnya malah menjawab dengan berteriak, Rin tersentak pada reaksi tuan putrinya itu. Baru kali ini dia melihat Kasumi sangat kesal sampai tak bisa mengendalikan ekspresinya.
Tapi bukan hadiah dari Rion yang kali ini Rin bawa, itu adalah sebuah surat.
"Ini surat dari nona Saintess"
Mendengar kata saintess sukses membuat wajah Kasumi berubah, dia tak terlihat kesal lagi sekarang. Bahkan wajahnya menjadi cerah, secerah matahari pagi.
"Berikan padaku"
Rin langsung memberikan surat itu, dengan hadiah yang datang bersama suratnya. Setelah selesai ia pamit pergi, dia tak ingin menggangu waktu Kasumi membaca.
Kasumi segera duduk di kursi. Sendirian di dalam kamarnya yang luas, meskipun begitu ia tak merasa kesepian karena menerima surat itu.
Dia membuka surat menggunakan pisau kecil, kemudian mengambil kertas putih yang ada di dalamnya lalu membacanya.
Apa kabar putri? Aku harap kamu selalu baik di sana. Surat dari mu sudah ku terima. Menjalani kehidupan sebagai putri seorang raja memang berat, karena itu pasti kamu akan sibuk mulai sekarang. Tapi ingatlah, jika kamu mengalami masalah katakan padaku. Aku akan membantumu oke? Ah, aku lupa sesuatu.
Tentang Upacara pembaharuan perjanjian itu, terima kasih. Akhirnya kita bisa bertemu lagi saat ucapara itu berlangsung, aku tak sabar untuk berbicara dengan mu. Sampai jumpa dua bulan lagi.
Dari sahabat mu Irene Ingrid Von ignate."-
Senyuman bahagia terlihat di wajah Kasumi yang cantik, dia mencium surat dari Irene yang memiliki wangi bunga.
"Ini bunga mawar biru,"
Bunga mawar biru tidak tumbuh di demon realm, Kasumi sedikit merindukan wangi bunga itu.
Saat Kasumi sedang terhanyut dalam kebahagiaan setelah membaca surat dari sahabatnya, suara asing terdengar dari belakang.
"Apakah itu surat dari teman baru anda? Jahatnya. Anda mencampakkan saya setelah memiliki teman baru"
Kasumi yang terkejut langsung berbalik, sosok Rion terlihat di sana dengan wajah yang tersenyum tipis.
Selama ini Rion hanya mengirimkan hadiah saja, dia bahkan tidak menyelinap pada malam hari seperti awal pertemuan mereka. Kasumi pikir jika siang Rion tak akan menyelinap begini.
"Selamat Siang Yang mulia putri"
Rion mengucapkan salam singkat. Kasumi berdiri dari kursinya, ia menatap Rion dengan tatapan sinis. Sejak kapan dia ada di sana? Begitulah pikiran Kasumi sekarang.
__ADS_1
"Apakah pangeran di kerajaan Dracovillia tidak memiliki sopan santun seperti ini? Mengapa anda masuk ke kamar saya? Bahkan tanpa membuat janji"
Rion hanya menampilkan wajah polos seolah ia tak bersalah. Jujur saja, Kasumi kesal setiap melihat wajah Rion yang seperti ini.
"Anda tak kunjung membalas surat saya, hadiah yang saya berikan juga anda tolak semua. Apakah anda tahu, jika di kerajaan Dracovillia menolak hadiah tiga kali itu sama seperti menyatakan perang?"
Kasumi langsung membeku di tempatnya. Apakah benar begitu? Dia menatap Rion dengan tatapan ingin tahu, Rion terkekeh kecil melihat reaksi Kasumi yang menurutnya berlebihan dan imut.
"Bercanda. Itu tak benar kok,"
"Kau!-"
"Makannya jangan tolak hadiah saya. Anda tega sekali melupakan teman lama karena sudah punya teman baru, hati saya sakit nih"
Lagi-lagi Rion membuat situasi seolah-olah Kasumi yang jahat di sini, padahal Kasumi tahu jika sebelumnya Rion lah yang jahatnya.
'Kalau bisa aku benar-benar tak ingin bertemu dengannya lagi,'
"Itu tak mungkin putri Kasumi"
Kasumi mengernyitkan keningnya pada ucapan Rion.
"Apa maksudmu?"
Rion mendekat. Melihat itu membuat Kasumi mundur. Tangan Rion mengambil surat yang ada di belakang Kasumi dengan cepat, bahkan Kasumi tak sadar jika surat itu sudah hilang di tempatnya.
"Hei!"
Rion tersenyum menyeringai, dia memperlihatkan isi surat itu di depan Kasumi kemudian berbicara.
"Anda akan sering bertemu dengan saya, jadi harapan anda untuk tidak bertemu dengan saya itu tak akan terjadi. Kenapa begitu?"
Pada pertanyaan itu Kasumi tak menjawabnya, dia menatap Rion dengan tatapan kesal.
"Aku tak mau tahu, cepat membalikan surat itu"
Kasumi berusaha mengambil surat dari tangan Rion, namun perbedaan umur mereka membuat tinggi badannya pun berbeda. Intinya Kasumi masih pendek dan tidak mampu mengambil surat itu dari tangan Rion, dia juga belum bisa menggunakan kekuatannya dengan benar.
"Anda harus tahu. Karena saya juga menjadi perwakilan dari demon realm untuk hadir di ucapara itu, jadi kita jelas kita akan bersama selama dua bulan nanti"
Kasumi langsung terdiam.
"A..apa?"
Rion yang melihat ekspresi terkejut Kasumi langsung tersenyum manis, dia membuat surat itu melayang dengan sihir kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
"Tadi saya membaca pikiran anda sebentar. Anda berharap tak bertemu dengan saya lagi, tapi sayang sekali takdir mengatakan bahwa kita harus bertemu. Kalau begitu sampai jumpa dua bulan lagi putri"
Setelah mengatakan itu Rion kembali menghilang. Kasumi masih terdiam di tempatnya, tak percaya dengan ucapan Rion tadi.
"Bertemu lagi dengan anak menyebalkan itu akan mengganggu pertemuan ku dengan Irene nanti, ini menyebalkan"
__ADS_1
Sejak saat itu Kasumi selalu berharap jika Rion sakit sehingga dia tak bisa ikut berpartisipasi dalam upacara pembaharuan perjanjian.