Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)

Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)
Bab 49-Sebuah Roda(2)


__ADS_3

15 menit setelah Kasumi masuk ke dalam dunia luar, Cendric dan yang lainnya masih diam menunggu di tempat yang sama.


Rion masih ada di sana juga, dia menatap tempat kepergian Kasumi dengan tatapan khawatir. Di luar mungkin terlihat baik-baik saja namun mereka tak tahu apapun yang terjadi di dalam sana.


"Mengapa kau belum kembali ke kerajaan mu?"


Cendric menghampiri Rion yang masih diam di sana, setelah dia selesai menerima kabar tentang kerajaan dari Elios yang berada di Cyrent.


Rion sedikit membungkuk hormat, Cendric adalah raja dan dia pangeran jadi sikap ini adalah yang paling tepat.


Setelah melakukan itu Rion pun menjawab sambil masih menatap tempat Kasumi tadi, dia menjawabnya tanpa ragu.


"Saya ingin mengantarkan putri Kasumi menuju ujian takdirnya,"


"Kau. Sudah tahu itu?"


"Komandan Black yang memberitahukan kepada saya saat di kereta kuda, saya sangat terkejut dan khawatir saat mengetahui tujuan asli putri Kasumi ke dunia luar."


Saat di dalam kereta kuda,Black menceritakan beberapa informasi terkait tujuan asli Kasumi masuk ke dunia luar.


Kasumi adalah satu di antara seribu orang yang memiliki pecahan jiwa terpisah, alasan Kasumi memiliki tubuh lemah bukan karena dia memiliki mana ganda, tapi itu karena jiwa Kasumi terpisah dan berbeda zaman dengannya.


Orang yang memiliki jiwa terpisah biasanya memang lemah saat jiwa asli mereka belum bertemu, namun jika soal mana mereka tak memiliki batasan atas itu layaknya penguasa mana.


Takdir pemilik jiwa yang terpecah biasanya tak akan baik, mereka akan mengalami kutukan reinkarnasi sampai jiwa mereka saling bertemu.


Kasumi sudah bertemu dengan jiwa miliknya yang berbeda zaman itu, dan sekarang saatnya ia menjalani takdir yang sudah di ramalkan ibunya.


Saat mengingat cerita yang Black katakan wajah Rion terlihat sedih, dia benar-benar khawatir pada Kasumi. Melihat ekspresi Rion membuat Cendric mengerutkan keningnya, entah kenapa dia tak menyukai itu setelah mengingat perkataan raja Alejandro yang mengatakan jika putranya memiliki ketertarikan pada Kasumi.


"Kau tak menyukai putriku sebagai wanita bukan?"


Rion sedikit tersentak saat Cendric memberikan pertanyaan itu dengan wajah galak, sesaat kemudian ia pun menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja tidak, saya memang menyukai putri Kasumi namun rasa suka saya kepada beliau hanya sebatas kakak pada adiknya saja"


Cendric mengangguk setuju, anehnya ia agak kesal dengan jawaban Rion yang mengatakan jika dia memiliki perasaan suka pada Kasumi meski itu hanya sebagai kakak pada adik.


Rion sedikit tersenyum pada Cendric, kemudian ia melanjutkan ucapannya.


"Lagipula jika saya mencintai putri Kasumi sebagai wanita, tunangan saya mau di kemana kan? Kaum vampir tak bisa memiliki lebih dari satu istri anda tahu itu bukan yang mulia?"


Rion mengatakan itu sambil menunjukkan tanda di bagian leher kanannya, di sana terdapat simbol bunga mawar berwarna ungu. Seorang vampir yang memiliki tunangan akan memiliki simbol pasangannya di leher mereka sebagai sebuah tanda, bunga mawar adalah simbol keluarga Javier dan ungu adalah warna milik Alice.


Kaum vampir terkenal dengan kesetiaan mereka pada pasangannya, mereka hanya bisa memiliki satu istri saja dalam waktu yang sangat lama. Karena pernikahan bagi kaum vampir sangat sakral, menikah dengan seseorang bukan berarti hanya hidup bersama mereka saja tapi mereka juga akan saling berbagi darah, perasaan dan bahkan jiwa.


Kaum vampir juga bisa merasakan jiwa milik pasangan mereka, meski jika pasangannya bereinkarnasi menjadi orang lain.


"Baguslah jika kau masih mengingat tunangan mu, tadinya jika kau memiliki perasaan yang lebih pada putri ku aku dan berniat meninggalkan tunangan mu itu aku dan Black akan membunuhmu di sini,"Aura demon milik Cendric keluar saat ia mengatakan itu, sesaat kemudian suasana kembali normal dan Cendric pun melanjutkan ucapannya"hah! Hanya bercanda, aku tak mungkin melakukan itu bukan?"


Rion hanya mengangguk dan tersenyum sealami mungkin, tapi jujur saja suasana nya tak se-damai ekspresi senyuman itu.


'ayah mertua dan yang mulia sangat menakutkan, aku harus bersyukur pada dewa kematian karena beliau belum mau bertemu dengan ku sekarang.'


Dia juga sedikit bergetar ketakutan saat merasakan aura demon milik Cendric, itu benar-benar sangat menekan perasaannya.


Rion tahu jika Cendric tak menyukai candaan, kecuali candaan itu di berikan oleh Kasumi. Jadi ucapannya yang mengatakan akan membunuh Rion adalah benar, Cendric tak akan peduli meski jika kerajaannya akan berperang dengan kerajaan Dracovillia sekalipun, jika itu demi menjauhkan Kasumi dari laki-laki yang memiliki perasaan cinta padanya dia akan melakukan apapun itu.


Sayang sekali Cendric tak tahu bahwa di episode sebelumnya Kasumi sudah di cium sama Yohan wkwk, saya rasa Yohan harus berhati-hati mulai sekarang.


Di suatu tempat, Yohan tiba-tiba saja merasakan hawa merinding yang membuatnya ketakutan, dia tak tahu apa itu tapi perasaannya menjadi tak enak.


Rion kembali menatap ke arah celah pohon, sudah hampir 30 menit Kasumi masuk ke dalam sana. Dia tak tahu apa yang Kasumi alami di dalam, dan apakah dia bisa kembali.


"Yang mulia"

__ADS_1


"?"


"Apa putri Kasumi bisa kembali? Beliau sekarang sedang di uji dengan masa lalu milik jiwa beliau bukan? Saya dengar itu sangat sulit, apalagi jika beliau memiliki masa lalu yang bahagia dan ingin mengalaminya lagi."Rion menghentikan ucapannya sejenak, ia memiliki ekspresi sedih saat mengingat kemungkinan buruk yang akan terjadi pada Kasumi jika dia tak bisa keluar dan 'ingat' "Bagaimana jika putri tak kembali dan terjebak di dalam sana? Apa anda akan menghancurkan dunia luar ini?"


Rion mengatakan itu dengan wajah yang serius, Cendric melirik ke arah Rion. Tak ada keraguan sedikitpun dari wajahnya, meski kata yang dia tanyakan pada Cendric itu berbahaya.


Cendric memalingkan wajahnya dari Rion, dia kembali menata celah pohon tempat Kasumi menghilang tadi lalu menganggukkan kepalanya.


"Jika itu terjadi aku pasti akan melakukannya, namun kau tak perlu mengkhawatirkan itu. Aku yakin putriku akan kembali lagi ke sini, itu pasti"


Mendengar jawaban dari Cendric membuat Rion cukup tenang, ia jadi tak terlalu mengkhawatirkan kejadian terburuk itu dan memilih untuk percaya pada Kasumi.


"Anda benar, yang mulia"


...*****...


Clark!


Pedang putih milik Kasumi berhasil menebas monster yang menyerangnya, di sekeliling Kasumi sudah banyak mayat Monster berserakan, Kasumi membunuh semua itu dengan sangat mudah seolah itu adalah gumpalan kapas.


"Komandan Kahill memang hebat! Beliau membunuh banyak monster dalam waktu singkat!"


Salah satu bawahannya yang ikut dalam ekspedisi itu bergumam kagum, dia melihat Kasumi membunuh banyak monster dengan sangat mudahnya.


Teman yang ada di sebelahnya mengangguk setuju.


"Benar, untung saja kita ada di bawah pimpinan beliau. Kekuatan beliau memang sangat kuat,"


Balas temannya itu pun terkagum dengan aksi Kasumi, monster kembali menyerang saat itu. Musim gugur adalah saat para monster turun, biasanya mereka akan mengambil ternak atau menculik warga untuk makanan mereka selama musim dingin.


Kasumi sudah berhasil membunuh monster terakhir, di perbatasan juga sudah di pasang segel penghalang oleh penyihir yang ikut dengan dia. Sekarang saaat nya istirahat dari pekerjaan yang dia rindukan.


'kembali bertarung lagi dengan memakai tubuh Kahill memang sangat menyenangkan, aku tak perlu mengkhawatirkannya keseimbangan atau mana yang lemah. Jika ini tubuh Kasumi, sudah pasti aku akan kesulitan menghadapi banyak monster seperti ini'


Ucap batin Kasumi, ia merasa senang karena merasakan lagi sensasi membunuh monster dengan tubuh Kahill.


Jika dalam tubuh Kasumi dia tak bisa melakukan ini semua, jikalau mau pun Kasumi harus berubah menjadi wujud dewasanya dan masalah lainnya adalah beradaptasi dengan kondisi tubuh wanita dia paling tak bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri.


Namun sekarang Kasumi tak perlu mengkhawatirkan itu lagi, karena sekarang dia sudah berada dalam tubuhnya semula.


"Kita akan istirahat sebentar, sebelum patroli terakhir. Terimakasih sudah membantu"


Ucap Kasumi di depan bawahannya, mereka yang menyaksikan itu menjawab dengan bersamaan.


"Iya siap pak! Terimakasih!"


Kasumi sedikit tersenyum kemudian ia pun melangkah pergi, sekarang sudah hari ke 4 ekspresi dan Kasumi masih belum juga kembali ke dunianya. Namun keadaannya berbeda sekarang, Kasumi sudah mulai terlena ia merasa jika hidup sebagai Kahill lagi akan sangat menyenangkan daripada hidup sebagai Kasumi.


Perlahan ingatannya tentang semua orang di dunia itu menghilang, Kasumi, tidak, Kahill juga lupa tentang siapa dirinya di dunia itu dan memutuskan untuk menjalani kehidupan di sini.


Hanya beberapa bulan yang dia alami di sana, membuatnya sangat mudah melupakan semua itu.


Satu bulan berlalu, sekarang saatnya Kahill menikmati masa pensiun yang akhirnya ia dapatkan.


Status komandan miliknya sudah hilang dan di ganti oleh orang lain, sekarang ia hanya seorang Duke saja.


Rencananya Kahill ingin berlibur ke tempat yang sudah lama ingin dia datangi, namun tak pernah sempat karena Kahill sangat sibuk dengan pekerjaannya.


"Daisy, bagaimana jika kita berlibur ke villa keluarga Ezar yang ada di timur?"


Kahill bertanya pada Daisy, dia adalah pelayan pribadinya. Daisy mengangguk pelan, dia merasa aneh karena akhir-akhir ini tuannya sering bertanya padanya bahkan di luar keperluan.


"Sesuai keinginan anda tuan, sekarang anda bisa berlibur kemanapun anda ingin"


Kahill mengucapkan 'hmm' dengan agak panjang, kemudian terdiam.

__ADS_1


Ia menopang wajahnya dengan sebelah tangan sambil menatap cangkir teh yang Daisy berikan. Entah kenapa sekarang Kahill ingin meminum teh hijau, padahal cuacanya agak panas.


"Terimakasih, aku akan memikirkan lagi tempat berlibur nanti"


Daisy mengangguk, kemudian Kahill pun mulai meminum teh itu. Saat cangkir teh sudah mendekati bibir Kahill ia menghentikannya, tiba-tiba saja pergelangan tangan kanannya terasa sangat panas, Kahill sedikit mengerang kesakitan.


"Aw"


"Ada apa tuan?"


Daisy yang masih di sana memandang Kahill dengan khawatir, melihat wajah khawatir itu Kahill pun menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak, hanya saja pergelangan tangan ku terasa sakit."


"Apa anda ingin saya panggilkan dokter?"


"Tidak apa-apa, tolong ambilkan kompres dingin saja untuk ku,"


Setelah mendengar perintah itu Daisy pun mengangguk paham, ia langsung berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil kompres.


"Tunggu dulu, Daisy"


Daisy menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Kahill yang tiba-tiba memanggilnya.


"Iya tuan?"


"Teh mana yang kamu pakai untuk ini?"


Daisy terdiam sejenak, ia berusaha mengingat kotak teh yang dia ambil untuk membuat teh hijau itu.


"Ah! Saya memakai kotak teh warna hijau"


"Dengan penutup hitam?"


Daisy tersentak saat mendengar ucapan Kahill.


"Bagaimana anda tahu?"


Kahill terkekeh saat ia melihat wajah bingung Daisy, kemudian menyingkirkan teh itu dari mulutnya.


"Aku tahu karena aku yang menaruh itu di sana, kotak itu adalah racun. Kamu hampir saja menerima masalah jika aku tak mengatakan ini,"


Daisy langsung bersimpuh di lantai, tangannya langsung bergetar hebat saat itu, dia juga hampir menangis.


"M..maafkan saya tuan! Ini salah saya, maaf"


Kahill sedikit tersenyum, kemudian ia beranjak dari duduknya dan mendekati Daisy. Dia membantu Daisy berdiri, melihatnya bersimpuh seperti itu membuatnya merasa tak enak.


"Ini salah ku karena lupa menaruh benda berbahaya, sekarang tidak apa-apa. Kamu bereskan saja racun itu, kemudian tolong bawahan kompres yang aku katakan tadi oke?"


Daisy mengangguk, setelah itu ia pun keluar untuk melaksanakan perintah Kahill.


Kahill menatap pintu yang sudah tertutup, ia pun berjalan menuju kaca besar yang ada di sana. Terpantul bayangan wajahnya, ia menyentuh permukaan kaca sambil memperhatikan perubahan pada dirinya.


"Aneh, kenapa mata ku berwarna coklat? Seingat ku itu merah, dan kenapa rambut ku pendek ya?"


Gumam Kahill sambil masih memperhatikan dengan bingung penampilan nya sendiri, ia merasa banyak yang berubah dari penampilan yang dia miliki dan yang dia ingat.


Pergelangan tangannya semakin panas saat itu, tiba-tiba Kahill seperti melihat seseorang yang terpantul di cermin.


Dan itu bukan wajahnya.


"Tunggu dulu, siapa. Siapa aku?"


Gak paham dengan episode ini?wkwk tenang aja, seiring berjalannya novel semuanya bakal di jelaskan kok.

__ADS_1


Terimakasih sudah baca, like dan komen. Maaf jika ada typo


__ADS_2