
"diamlah, apa karena titisan mu sekarang adalah seorang putra mahkota jadi kau banyak bicara?"
Cendric mengatakan itu dengan nada yang kesal, sedangkan putra mahkota hanya mengangkat bahunya dengan wajah yang santai.
"Entahlah apa itu mempengaruhi gaya bicara ku? Aku tak terlalu memperhatikan nya hahaha"
Putra mahkota menjeda ucapannya sejenak, tangannya mengelus kepala Kasumi yang terbaring di sana. Cendric mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan itu pada leher putra mahkota.
"Jangan sentuh."
Putra mahkota langsung menjauhkan tangannya dari kepala Kasumi begitu dia mendengar suara Cendric yang mengancam, ia mengangkat tangannya ke udara seolah sudah menyerah karena ucapan Cendric itu.
"Oke oke, aku paham. Sikap mu ini sangat beda saat pertama kali putri lahir, padahal dulu kamu berniat untuk membunuhnya,"
Cendric semakin menatap putra mahkota dengan tatapan tajam, ia belum menyingkirkan pedang di tangannya yang kapan saja siap untuk menebas kepala putra mahkota.
"Jika kau tak mau negara mu hancur besok, maka berhentilah menceritakan masa lalu itu."
Melihat keseriusan dalam ucapannya membuat putra mahkota tertawa pelan, ia juga memiliki keringat dingin di wajahnya sekarang.
"Kerajaan ku tak sebesar itu, kamu Tak akan puas menghancurkan nya."
Putra mahkota mengatakan itu dengan sangat santai, ia masih mempertahankan posenya yang tadi.
'aku lupa jika tubuh ku sekarang adalah putra mahkota di suatu negara, menceritakan masa suram itu sama saja dengan mengajak mati lebih cepat!'
Ucap batin putra mahkota, ia menyadari benar kondisinya sekarang. Meski Cendric mungkin tak akan benar-benar melakukan itu, karena teman Kasumi juga tinggal di negaranya.
Cendric menghilangkan pedangnya, tangannya menyentuh rambut coklat Kasumi yang kini mulai memanjang. Matanya menatap Kasumi yang sedang tidur dengan penuh kasih sayang, Cendric terlihat sangat menyayangi Kasumi.
"Bukannya aku tak tahu tentang ramalan Rheea, semua itu memang perlahan terjadi. Kasumi putri ku masih kecil, dia tak akan bisa menanggung beban sebesar itu sendirian."
Terdengar nada yang sedih dalam ucapan Cendric, putra mahkota yang melihat itu hanya diam saja. Apa yang di katakan Cendric memang benar, Kasumi masih kecil untuk menjadi 'kunci' seperti dalam ramalan.
Namun mereka pun tak bisa membantu banyak dalam takdir seseorang, apalagi dia sudah di pilih langsung bahkan sebelum Kasumi lahir.
Putra mahkota menarik nafas panjang, lalu beranjak dari samping tempat tidur Kasumi. Ia berjalan mendekati Cendric dan menepuk bahunya dengan upaya untuk menenangkan perasaannya meski itu hanya sedikit. Dia juga tak tahu apakah ini membantu.
"Yakinlah dengan anak mu, ada alasannya kenapa dia di pilih oleh Dewi takdir. Karena itu kamu harus mengizinkan putri untuk mengunjungi kakeknya sekarang, ia paling butuh itu."
Cendric menatap putra mahkota dengan tatapan kesal, namun ia tak bisa menyangkal itu. Mungkin memang saatnya ia mempertemukan Kasumi dengan kakeknya.
"Apa kau sudah membereskan masalah di bawah? Bagaimana keadaan teman Kasumi"
__ADS_1
Putra mahkota tau jika Cendric sedang mengalihkan pembicaraan sekarang, namun ia masih menjawabnya dan memutuskan untuk tak membahas tentang kakek Kasumi lagi. Dia tahu jika Cendric lah orang yang paling memahami situasi putrinya sekarang.
"Yah mereka baik-baik saja, namun kedua saudara Miya mati karena efek samping dari perjanjian. Melihat mereka yang terbuta kan rasa iri dengan saudaranya dan berakhir membuat perjanjian dengan mempertaruhkan nyawa membuat ku merasa sedikit bersimpati,"
Ia menjeda ucapannya sejenak"dan untuk pangeran Alfaro, sepertinya dia menjadi gila. Aku tak tahu apa yang dia tawarkan untuk membayar jasa iblis itu, yang pasti hidupnya akan berbeda sekarang. Aku pun harus mengajukan surat kompensasi pada kerajaan Ryura, karena ulah pangeran itu Miya jadi kerepotan."
Cendric sedikit mengernyitkan dahinya, setelah mendengar ucapan putra mahkota yang terdengar hangat saat membahas Miya.
"Melihat mu menyebut nama anak itu dengan santai, ku rasa kau memiliki perasaan padanya."
Cendric berhasil menebak perasaan putra mahkota dengan tepat, mendengar tebakan yang tepat itu membuat putra mahkota agak malu untuk mengakuinya.
Ia menjawab itu sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, juga tertawa pelan.
"Hahaha, kamu memang paling peka. Sebenarnya titisan ku yang sekarang menyukai Miya, ia ingin menjadikanya sebagai putri mahkota. Namun ku rasa Miya tak memiliki perasaan apa-apa, dia melakukan apapun untuk menolong Miya termasuk menyelidiki masalah saudaranya."
Ucap putra mahkota dengan nada yang ceria, Cendric sedikit hanya diam setelah mendengar ucapan putra mahkota, lalu berbicara lagi.
"Bukannya akan menjadi masalah jika kau menikah dengan teman Kasumi? Bagaimana pun gelarnya itu count, ku dengar di kerajaan manusia seorang putra mahkota harus menikah dengan bangsawan tingkat Duke atau Marquis."
Putra mahkota tersenyum menampilkan giginya yang putih dan rapi, seolah dia sudah menunggu pertanyaan ini dari Cendric. Saat seperti ini ia terlihat lebih tampan.
"Aku memikirkan itu saat ingatan ku kembali, dan aku memutuskan untuk mengendalikan raja sehingga dia tak bisa menganggu perjalanan cinta titisan ku sekarang haha"
"Heh! Kau tak pernah berubah meski sekarang kau menjadi manusia, dasar iblis kecil"
"Aku tak bisa menyangkal itu, dan terimakasih untuk pujiannya."
...****...
Hari sudah berganti, sekarang esok pun menyapa ku di pagi hari itu.
Aku pingsan selama satu hari penuh, saat terbangun perasaan ku menjadi lebih baik dari kemarin. Tak ada sesuatu hal yang aku alami saat aku pingsan, itu hanya seperti pingsan biasa saja.
Saat aku bangun, Miya yang ada di sebelah ku dengan yang lainnya langsung memelukku erat. Anehnya meski aku di peluk oleh beberapa orang di sana tapi ayah ku yang biasanya overprotektif pada ku hanya diam seperti menahan rasa kesalnya.
"Diam saja saat putri di peluk temannya, itu adalah bentuk kasih sayang mereka pada putri. Jika kamu melarang mereka bukannya itu keterlaluan?"
Ayah hanya diam, sambil berusaha menahan rasa ingin menyingkap setiap teman yang memelukku itu.
Ucapan paman Black yang diam di sebelah ayah terdengar olehku, ternyata itu sebabnya ayah hanya diam saja tak seperti biasanya. Ku rasa aku harus berterimakasih pada paman Black nanti.
Miya dan Yohan menangis saat aku bangun dari pingsan, entah kenapa wajah Yohan yang menangis itu tak cocok dengan tubuhnya yang bongsor.
__ADS_1
Rion hanya diam sambil tersenyum kepadaku, Miya langsung melompat ke arah ku saat aku membuka mata. Ia tak lagi memakai mode anak-anaknya sekarang.
'sudah lama rasanya, ada seseorang yang menunggu ku saat aku kehilangan kesadaran.'
Melihat suasana itu membuat ku sedikit mengingat kejadian di masa lalu, dan melupakan beberapa kejadian buruk yang akhir-akhir ini terjadi.
Saat suasananya sudah agak membaik aku pun mulai menanyakan kejadian kemarin, setelah ayah datang dan menolong kami waktu itu aku langsung pingsan karena kelelahan, itu sebabnya aku tak tahu lagi apa yang terjadi.
Aku bertanya pada Miya apa yang terjadi, dan ia menjelaskan semuanya.
Rika dan Filo sudah mati, mereka mati karena efek dari membuat perjanjian dengan bayaran jiwa dengan iblis yang melayani pangeran Alfaro.
Harga untuk mengambil kesadaran naga itu besar sehingga mereka pun mempertaruhkan jiwanya sebagai harga itu, dan karena mereka gagal jadi jiwa mereka pun di ambil. Tubuh tanpa jiwa akan mati, semuanya juga tahu itu.
Berbeda dengan mereka, nasib pangeran Alfaro tak sampai merenggut nyawanya. Ia menjadi gila dan terjebak dalam ketakutan yang panjang tanpa akhir, entah apa maksudnya namun ayah bilang jika dia pasti tak akan bisa hidup normal lagi sekarang.
Keadaan di mansion keluarga Rula pun sudah baik, kerusakan yang terjadi akibat pertarungan kemarin sudah kembali seperti semula. Miya bilang jika kemarin ayah memanggil penyihir di kerajaan untuk memperbaiki semuanya dengan cepat.
Tak ada yang tahu tentang pertarungan kemarin, kecuali orang-orang yang terlibat. Ini bagus, karena orang-orang biasa tak perlu merasa cemas akan adanya serangan seperti itu lagi, lagipula sepertinya mereka tak akan bisa menyerang kerajaan ini.
Entah apa yang terjadi antara ayah dan putra mahkota, sikap mereka terlihat seperti teman yang sudah mengenal sangat lama. Miya juga mengatakan jika mulai saat ini ayah sudah membuat semacam perlindungan khusus untuk di kediaman keluarga Rula, itu dengan alasan karena Miya adalah teman ku.
Setelah itu, aku pun mengunjungi tempat saudara Miya yang di kuburkan, tempatnya tak terlalu jauh dan itu juga dekat dengan tempat penyimpanan tetes mata yang di katakan Yula.
Meski jasad mereka hilang dan hanya menyisakan tulang saja, namun Miya tetap ingin menguburkan mereka dengan layak.
Aku menatap Miya yang sedang berdiri di sebelah ku, wajahnya tampak sedih saat itu.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, apa yang mereka dapatkan adalah hasil dari yang mereka buat, mereka terbuta kan rasa iri padamu sampai rela mempertaruhkan nyawanya. Bahagia lah dan jangan menaruh simpati pada mereka"
Aku mengucapkan itu tanpa memandang Miya, memang kata ku tadi itu terdengar kejam. Tapi itu memang keadaannya, apa yang mereka terima itu adalah karma dari apa yang mereka lakukan. Miya tak pantas untuk bersedih apalagi menyalahkan dirinya sendiri.
"Terimakasih putri, saya akan mengingat itu"
Miya mengatakannya dengan senyuman tipis, aku hanya mengangguk saja lalu beranjak pergi dari sana. Miya menatap kedua kuburan yang di sandingkan dengan kuburan milik orang tuanya, kini penerus keluarga Rula hanya dia seorang.
"Saya akan menjadi kepala keluarga yang baik, maaf jika selama ini saya selalu menyusahkan kalian semua"
Miya sedikit membungkuk, lalu ia pun berlari mengikuti ku di belakang.
Setelah ini apa lagi yang akan terjadi,
terimakasih sudah baca, like dan komen >//<
__ADS_1
maaf jika ada kata yang typo.