
Kasumi menatap Rion dengan bingung, mengapa dia melakukan itu dan bukan menghentikan mereka? Menyadari tatapan bingung yang di arahkan padanya Rion pun tersenyum lembut dengan ekspresi yang agak kelelahan.
"Dia harus menerima luka yang sama seperti anda, tangannya akan sakit dalam waktu yang lama. Bahkan jika dia menyembuhkannya dengan potion."
Ternyata pemikiran Rion agak sadis juga, jika bersangkutan dengan musuh yang melukai Kasumi.
Berbicara soal luka di tangan, ternyata luka itu tak cepat sembuh seperti luka saat Kasumi menyentuh pintu tadi, itu pasti karna dalam pisau yang menancap di tangannya terdapat kekuatan suci yang kuat sehingga itu memperlambat penyembuhan Kasumi.
"Maaf, saya akan menyembuhkan luka anda"
Elios menghampiri Kasumi, ia langsung menyembuhkan luka Kasumi dengan kekuatan penyembuhan miliknya.
Kasumi hanya diam saja melihat itu, sambil menatap Elios yang sedang menyembuhkan nya.
'jika di pikirkan, ini kali kedua aku menerima penyembuhan dari paman Elios bukan? Mungkin nanti aku harus membalasnya.'
Pikir Kasumi merasa tak enak karna menerima bantuan Elios terus menerus, meski Elios tak mengetahui itu karna saat pertama kali dia menyembuhkan Kasumi, itu adalah saat Kasumi memakai mode dewasanya.
"Apa di sini sudah selesai?"
Suara Cendric membuyarkan kesunyian sejenak yang tejadi di kamar itu, kondisi di sana kacau namun musuh sudah meninggalkan mereka. Meski sangat di sayangkan, tapi mereka sudah tahu siapa identitas musuh yang sebenarnya.
Elios sudah selesai mengobati Kasumi tepat saat Cendric datang ke sana, ia langsung menjauhkan tangannya dari Kasumi. Takut Cendric murka melihat itu, dia tak suka jika Kasumi di sentuh oleh laki-laki meski itu dengan alasan pengobatan.
Kasumi berbisik pada Elios, saat Cendric tak memperhatikan mereka sejenak.
"Terimakasih paman,"
Kasumi mendekatkan dirinya ke arah telinga Elios, padahal dia tak perlu melakukan itu karna Elios keturunan vampir dan demon jadi pendengaran nya cukup tajam untuk mendengar bisikan Kasumi bahkan dalam jarak yang jauh.
Tapi Kasumi tak tahu itu, atau mungkin dia lupa. Sejenak wajah Elios membeku saat ia merasakan nafas Kasumi menghembus di telinganya, wajahnya juga menjadi merah. Namun, Elios berusaha tak mempedulikan reaksi itu dan mengangguk singkat untuk menjawab ucapan Kasumi.
...___***××***___...
Ayah datang saat terakhir, ia membawa Yula juga bersamanya. Aku menghampiri ayah setelah dia menidurkan Yula di salah satu sofa, dan memberikannya kepada Miya.
Ayah langsung memelukku begitu aku mendekat padanya, untung saja luka luar yang aku terima sudah di sembuhkan oleh paman Elios, jika tidak mungkin ayah akan murka lagi karna melihat ku banyak terluka, meski itu hanya luka kecil.
"Kamu tidak apa-apa? Maaf, ayah datang terlambat"
Ucap ayah dengan nada yang sedih, ia terlihat menyesal karena datang terlambat ke sini, aku menggeleng dengan cepat. Menurut ku, kedatangan ayah itu tepat waktu.
"Tidak apa-apa ayah, lagipula ayah dan yang lainnya datang di saat yang tepat. Terimakasih karena sudah membantu kami"
Ayah melepaskan pelukannya, ia tersenyum kemudian mencium kening ku lembut, entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan sikap manja yang selalu ayah lakukan padaku.
__ADS_1
Aku turun dari pelukan ayah yang nyaman itu, mungkin karena efek kelelahan yang aku rasakan jadi pelukan adalah hal yang aku butuhkan sekarang, ku tatap ke arah belakang ayah ku. Mencari sosok dua orang yang sempat aku lupakan, hmm aku agak merasa bersalah juga pada mereka sekarang.
"Di mana Sir Arfen dan Sir Gerry?"
Ayah menatap ku sejenak, lalu terdiam seakan mengingat sesuatu. Apa dia juga lupa jika mereka ada bersama kita? Ku pikir ingatan ayah agak buruk jika soal ini.
"Ayah menyuruh mereka untuk membantu ksatria milik bocah sial itu membangunkan para pelayan di sini,"
Aku mengerutkan dahi saat mendengar ayah mengucapkan kata 'bocah sial' siapa lagi itu.
Saat aku memikirkan identitasnya, seorang pria dengan jubah hitam muncul di belakang ayah. Dia terlihat familiar di mata ku.
"Haha, anda tidak pernah berubah ya raja Cendric."
Pria di belakang ayah berbicara dengan nada akrab seperti paman Black dan Elios, aku mataku membulat secara sempurna saat melihat sosok pria itu dengan jelas, ia membuka tudung jubahnya dan memperlihatkan wajahnya yang teduh dan lembut.
"Senang bertemu dengan anda putri Kasumi"
'tunggu dulu, bukannya dia si putra mahkota itu?'
Aku mengingat jelas wajahnya meski saat pertemuan pertama tadi itu berjalan sangat cepat, dia adalah putra mahkota yang Miya katakan.
Wajah ku langsung memerah saat aku mengingat kejadian itu, aku berteriak dengan keras padanya tadi.
"Senang juga bertemu dengan anda"
"Ayah?"
Ayah menatap ku sebentar, lalu ia mulai menjauh dari putra mahkota dan meninggalkannya.
"Jangan melihat wajahnya, nanti mata mu bisa sakit"
Hah?
Aku berusaha tersenyum dan mengangguk saja mendengar alasan kekanak-kanakan dari ayah itu, bilang saja kamu tak suka anak mu di tatap oleh pria.
Sifat ayah yang seperti ini akan menyebabkan ku sulit untuk menikah nanti.
'berbicara tentang menikah, aku rasa sekarang aku sudah menerima wujud ku sebagai anak perempuan ini, seiring berjalannya waktu aku juga mulai menyayangi keluarga baru ku, tanpa ku sadari mereka sudah menjadi keluarga yang sangat berharga bagiku.'
Karena itu, aku tak akan membiarkan si iblis jahat itu mengganggu keluarga ku, kejadian Miya dan saudaranya juga pasti bukan kebetulan. Karena bawahan iblis jahat itulah yang menyerang kami.
Ngomong-ngomong, aku jadi penasaran dengan wajah si iblis jahat itu. Sejauh ini dia masih bersembunyi di suatu tempat, tapi suatu hari nanti aku pun harus berhadapan dengannya.
Saat aku memikirkan rencana selanjutnya dari misi yang di berikan Kasumi padaku, tiba-tiba saja tubuh ku langsung lemas dan berat. Pandangan ku mulai kabur dan perlahan semuanya menjadi gelap.
__ADS_1
Aku pingsan karena kelelahan, bertarung lama dengan tubuh Kasumi yang lemah memang merepotkan. Hal ini memang sudah ku duga akan tejadi, tapi tak ku sangka aku akan pingsan saat ayah menggendong ku.
"Tidak apa-apa Kasumi, sekarang kamu istirahat lah. Ayah dan yang lainnya akan membereskan semua yang ada di sini,"
Mendengar ucapan lembut itu membuat ku agak tenang, syukurlah dia tak beraksi berlebihan lagi. Maaf semuanya, aku akan istirahat lebih dulu.
...*****...
Cendric menatap wajah Kasumi yang tertidur di atas kasur, dia berada si sebelahnya dari tadi untuk memastikan jika keadaan Kasumi baik-baik saja.
"Putri baik-baik saja, beliau hanya mengalami kelelahan karena menggunakan mana yang lebih banyak dari biasanya,"
Dokter itu menjeda ucapannya sejenak, ia menatap Kasumi yang terbaring di sana. Doker itu adalah dokter istana di kerajaan Cyrent. Saat menerima panggilan mendadak dari Elios, dia langsung buru-buru pergi ke tempat yang di katakan dalam surat.
Ia sangat khawatir jika keadaan Kasumi memburuk lagi seperti tahun lalu, tapi sekarang dia sangat bersyukur karena keadaan Kasumi tak seburuk itu.
"Tuan putri kami memiliki kekuatan yang besar juga aliran mana yang berbeda, itu sangat jarang bahkan di kalangan demon sekalipun. Meski beliau memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi tubuhnya sangat lemah. Jika seperti Itu kekuatannya hanya akan sangat membebani beliau"
Cendric mengangguk membenarkan ucapan dokter itu, setelahnya ia pun menyuruh dokter itu pergi meninggalkan mereka berdua di sana. Doker sedikit menunduk lalu pergi keluar dari kamar Kasumi.
"Sepertinya kamu mulai menyayangi putri mu dengan tulus sekarang"
Cendric mengabaikan ucapan putra mahkota yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya, ia menatapnya dengan tatapan sinis seolah sangat tak menyukai kehadirannya di sana.
"Kenapa kah tiba-tiba muncul di sini? Apa kau hantu?"
Mendengar ucapan Cendric itu membuat putra mahkota tertawa pelan, jika orang lain yang melakukan itu di depan Cendric mungkin sekarang ia sudah mati.
"Apa demon percaya hantu?"
"Tidak, kami tak memiliki kepercayaan seperti itu. Hanya manusia yang memilikinya"
Putra mahkota tersenyum simpul, ia mendekati sisi lain kasur Kasumi dan duduk di sebelahnya.
Cendric hanya diam sambil mengawasi putra mahkota, ia masih tak mempercayai dia meski mereka sudah berada di kapal yang sama.
"Pada akhirnya ramalan yang di katakan istrimu benar terjadi bukan? Untuk mencegah ramalan itu terjadi, kamu selalu melarang putri mu keluar dari istana. Namun, ternyata takdirnya membimbing dia sendiri untuk menuju ramalan itu."
putra mahkota berbicara secara informal pada Cendric, layaknya mereka adalah teman lama yang bertemu kembali.
ia terindah terdiam sejenak, mata biru miliknya menatap Cendric di sebrang yang kini memiliki wajah yang dingin dan datar.
"Aku benar bukan?"
Terimakasih sudah baca, like dan komen>//<
__ADS_1
maaf jika ada kata yg typo.