Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)

Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)
Bab 15-Salju di kerajaan lain.


__ADS_3

Saat aku membuka mataku terlihat butiran salju turun dari langit, salju itu menimpuk di setiap pohon dan tanah, seolah-olah mereka tertelan oleh salju putih yang suci.


Tanganku menyentuh salju yang jatuh, itu dingin namun tak terlalu dingin seperti saat sebelum aku pingsan karena bentrokan mana.


'Apa aku jadi tidak selemah dulu, karena itu rasa dingin ini bukan apa-apa?'


Sepertinya daya tahan tubuhku meningkat sekarang, itu bagus.


Sruk!


Ku rasakan sesuatu yang hangat membungkus ku dari belakang, saat aku menoleh sosok sir Alexis terlihat di sana. Dia adalah pelaku yang memberikan jaket hangat padaku.


"Di sini dingin putri, anda akan sakit nanti"


Ucap Alexis khawatir, dia memang anak yang baik.


Aku mengangguk sambil menerima jaket itu, aku harus memakainya meskipun rasa dingin ini tidak terlalu menusuk kulit ku.


Elios juga memakai pakaian yang agak tebal, kacamatanya yang sedikit berembun terlihat lucu.


Elios menatap ku yang sudah memakai pakaian hangat, apa?


"Syukurlah anda sudah memakai pakaian yang hangat, anak kecil sangat mudah terkena flu bahkan untuk keturunan demon sekalipun"


Ucapnya pelan, aku tak tahu apakah dia mengejek atau hanya berbicara ngasal tapi aku cukup kesal dengan ucapannya itu.


'Aku ini 26 tahun tahu!'


Ucapan protes itu hanya sampai di tengah tenggorokan ku, karena jika aku mengatakannya maka sama saja dengan bunuh diri.


Setelah itu kami mulai berjalan keluar dari hutan, melewati tumpukan salju putih.


Untung saja tidak ada serigala salju, atau hewan berbahaya lainnya. Jadi perjalanan kami sangat lancar.


Setelah agak lama berjalan, akhirnya kami sampai di depan gerbang kota, itu besar. Terlihat cahaya lampu yang masih menyala.


Meskipun sekarang sudah malam, tapi suasana di sana masih hangat. Banyak orang yang berlalu-lalang dengan wajah ceria, pemandangan yang sangat indah.


'Apa yang menyebabkan kerajaan damai seperti ini hancur di masa depan? Sangat di sayangkan'


Aku memikirkan itu lagi, alasan kerajaan Shuri hilang dari peta dan rata dengan tanah mungkin karena perang panjang dengan demon realm saat Kasumi asli mati.


Meskipun di kerajaan ini memiliki saint yang kuat, tapi itu tidak cukup dengan banyaknya veteran yang ada di demon realm.

__ADS_1


Aku bisa mengerti alasan itu, tapi karena Kasumi tidak mati kali ini bukan kah kerajaan Shuri akan hidup lama sekarang? Jika benar maka aku sangat bersyukur.


Itu karena aku sangat menyukai wajah orang-orang yang bahagia, kedamaian yang mereka rasakan membuat hatiku hangat meski di tengah cuaca dingin sekalipun.


Aku menatap sekumpulan orang-orang yang tertawa bahagia, mereka sedang mengobrolkan sesuatu yang entah apa itu.


Tanpa sadar senyuman pun terukir di wajahku, sangat senang melihat tidak ada yang menderita di sini.


Tanpa sadar Elios sudah berhenti berjalan di depan ku, dia memberikan tatapan datarnya padaku yang tersenyum sambil melihat sekelompok orang itu.


"Apa yang anda lihat putri?"


Ucapnya singkat, aku terkejut kemudian segera menghilangkan senyuman ku.


"Bukan apa-apa, ngomong-ngomong, apa kita sudah sampai?"


Sengaja ku alihkan pembicaraan, jika tidak maka aku akan kerepotan menjelaskannya.


Elios langsung terdiam, kemudian menjawab pertanyaan ku. Sepertinya dia pun tidak terlalu peduli dengan apa yang aku lihat.


"Ya, kita sampai di depan kuil tempat saintess."


Ucap Elios sambil menunjuk kuil dengan nuansa putih itu, jaraknya tidak terlalu jauh jadi kami bisa ke sana dengan cepat.


'Akhirnya aku bisa pulang ke kerajaan dan beristirahat dalam waktu yang lama'


Hatiku tak sabar menikmati liburan panjang, dengan menjadi putri yang pemalas dan tentu saja kaya.


Raja tidak mungkin membiarkan putrinya bekerja, jadi aku akan benar-benar tidak mengkhawatirkan masalah bekerja terlalu keras.


Namun, sepertinya aku tidak akan pulang hari ini atau esok. Itu karena jawaban dari penjaga kuil yang Elios ajak bicara.


"Maafkan kami, saintess sedang tidak hadir di tempat. Beliau pulang ke kediaman Duke Ignate"


Ucapnya dengan sopan, Elios mengangguk paham kemudian berbalik untuk menatap ku yang memiliki ekspresi tidak baik-baik saja.


"Apa yang terjadi dengan anda putri?"


Tanya Elios dengan wajahnya yang datar, ku rasa aku akan membenci wajah itu sekarang.


"Kita tidak bisa pulang sekarang, aku, aku ingin pulang"


Ucap ku, sedikit merengek. Sekarang sikap ku sesuai dengan umur Kasumi, ini mungkin mempengaruhi mental ku juga. Karena ku rasakan perlahan-lahan aku pun mulai labil seolah aku adalah remaja wanita, dan bukan pria dewasa berusia 26 tahun dan berpengalaman.

__ADS_1


Elios yang melihat wajah lesu milikku menghela nafas, sepertinya dia sudah tahu jika aku akan mengatakan itu.


"Jika begitu sejak awal anda tidak usah memiliki niat untuk meminta maaf pada saintess, jadi kejadian ini tidak akan anda alami"


Aku langsung berdiri tegak, tangan ku menampar kedua pipiku dengan keras sehingga rasa sakitnya sangat terasa.


"Tidak! Aku akan meminta maaf pada saint itu!"


'Dan perang tidak akan terjadi, juga aku dapat menjadi putri kaya dan pemalas'


Mimpiku sudah bulat!


Pada akhirnya kami menginap di penginapan yang ada di sana, Alexis pergi mencari informasi tentang di mana rumah saint itu, karena penjaga kuil tidak bisa mengatakan alamatnya pada kami, dia bilang wajah kami sangat asing dan alamat saint sangat rahasia.


Aku tidur dengan lelap, melupakan perasaan kesal yang ku dapatkan tadi. Sepertinya lelah mengalahkan kesal yang aku miliki, sehingga saat pagi datang aku tidak lagi memikirkan tentang masalah pulang lebih awal.


Hari berikutnya kami pergi ke kediaman Duke Ignate, sesuai dengan arah yang di ketahui Alexis.


Kereta kuda kami berhenti di depan mansion mewah yang terletak agak jauh dari kota, mansion ini di kelilingi hutan pohon pinus sehingga saat kami melewatinya, terlihat banyak tupai yang melompat di dahan pohon Pinus.


'Apakah tupai di sini tidak hibernasi?'


Padahal sekarang musim dingin, tapi beberapa tupai malah sedang asyik melompat di dahan pohon.


Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, aku berharap melihat tupai jatuh tapi itu tidak terjadi bahkan saat kami sudah sampai di depan gerbang mansion.


Elios turun lebih dulu, dia menuntunku turun dari kereta kuda. Gerbang masih tertutup, tentu saja karena kami datang tanpa rencana dan tidak membuat janji jadi tidak ada yang tahu jika kamu datang.


'Dan aku pun tidak boleh mengharapkan sambutan'


Mana ada yang  mau menyambut orang yang pernah menyebut dirinya ******? Jika ada, maka dia pasti sakit jiwa atau hatinya sudah sangat suci seperti bayi yang baru lahir.


'Ku harap dia benar-benar orang suci, sehingga aku tidak di maki balik saat meminta maaf'


Meskipun makian sudah kebal di telinga ku, tapi itu tetap saja menyakitkan. Apalagi dengan mental remaja yang aku miliki sekarang, itu pasti akan sangat perih di hati.


"Apakah anda sudah siap putri?"


Tanya Elios, dia menanyakan hal itu padaku sebagai bentuk perhatian. Aku mengangguk mantap, perjalanan ini akan berakhir saat aku meminta maaf padanya, setelah itu aku akan bersantai di istana putri juga aku bisa pulang dengan perasaan damai karena mencegah perang besar terjadi!


Ini seperti sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.


"Ada perlu apa kalian kesini?"

__ADS_1


"Kami ingin bertemu dengan Saintess Irene"


__ADS_2