
Aku mendapati diriku berada di dalam ruangan yang gelap, itu dingin dan sunyi seolah tak ada apapun di dalamnya dan hanya aku sendiri di sana.
Dalam benak ku terlintas beberapa pemikiran, namun hanya satu yang menjadi pertanyaan ku sekarang.
"Siapa aku?"
Aku terus memikirkan itu, siapa aku? Di mana ini? Kenapa aku ada di sini? Dan beberapa pertanyaan lainnya muncul secara bersamaan.
'ah'
Aku melihat sebuah cermin yang muncul di depanku, menampilkan sosok pria tinggi dan agak tampan berdiri di sana.
Apa itu aku? Tapi, kenapa aku tak merasakan apapun meski melihat diriku sendiri?
Pria di dalam cermin itu, dia memiliki helai rambut berwarna coklat yang sangat biasa, wajahnya terlihat agak lelah dengan pakaian rapi.
"Kamu sudah berhasil, tuan Kahill"
Suara seseorang wanita muda terdengar, aku berbalik dan melihat sosok wanita yang tersenyum.
Ia memiliki warna rambut yang sama dengan pria di cermin itu, tidak, haruskah ku bilang dia mirip denganku?
"Siapa kamu?"
Wanita itu tersenyum dengan cantik, iris merahnya yang indah membentuk bulan sabit di dalamnya.
Ia membuka mulutnya lalu berbicara dengan nada yang bersahabat.
"Namaku Kasumi, dan aku adalah orang yang memberikan kehidupan ku padamu untuk mencegah kehancuran dunia dalam, terimakasih karena sudah memberikan waktu mu padaku"
Ia sedikit menundukkan kepalanya sebagai sikap hormat, aku menggaruk bagian belakang kepalaku.
'rasanya dia memang tak asing'
Aku memang merasa mengenali wajah itu, namun seperti ada yang salah. Sesuatu, aku merasakan sesuatu yang salah di sini.
'ukh!'
"Apa kamu baik-baik saja!?"
Wanita itu, Kasumi mendekat ke arahku dengan wajah Khawatir saat melihat ku memegang kepala dengan kesakitan.
Aku menggelengkan kepalaku, rasa sakit itu agak hilang sekarang.
"Aku tidak apa-apa, terimakasih karena sudah mengkhawatirkan ku"
Kasumi menghela nafas lega, rasa khawatirnya benar-benar tulus namun secara bersamaan aku merasakan kepalsuan dari setiap ucapannya.
'apa dia musuh ku yang menyamar?'
Pikir ku sejenak.
Beberapa ingatan mulai muncul dalam pikiran ku.
Aku mengetahui siapa sosok pria di cermin tadi, dia adalah Kahill Zaflan Ezar, seorang Duke muda biasa dan tinggal di dunia tengah bagian barat.
Dan juga, ia adalah diriku.
"Tolong jelaskan padaku tentang kamu yang memberikan waktu mu padaku, ingatan ku kacau sekarang"
__ADS_1
Pada akhirnya aku bertanya pada Kasumi, meski aku masih mencurigainya tapi bertanya padanya mungkin bukan hal buruk.
Kasumi membantuku untuk berdiri, keseimbangan ku agak kacau karena rasa sakit di kepala dan ingatan yang tiba-tiba saja aku ingat.
"Ingatan mu pasti kacau karena perpindahan raga, sebenarnya sekarang kamu sudah mati karena kesepakatan kita sudah selesai. Dan aku di sini bertugas untuk mengantarkan mu ke siklus reinkarnasi."
"Kesepakatan sudah selesai? Jadi, aku sudah menyelamatkan dunia dalam? Apa yang aku lakukan?"
"Kamu mengalahkan Zion, dia adalah bencana yang muncul karena kelahiran ku. Kamu berhasil mengalahkan dia, jadi sekarang adalah saatnya kamu bereinkarnasi seperti apa yang kamu inginkan"
Kasumi selesai menjelaskan situasi yang terjadi, aku terdiam sejenak sambil menyaring apa yang dia katakan.
'itu sudah jelas, dan semuanya juga sesuai dengan apa yang aku ingat. Tapi, kenapa terasa ada yang janggal di sini?'
Meskipun dia sudah menjelaskan semuanya sesuai dengan apa yang aku tahu, tapi aku masih merasa ada yang kurang dari penjelasan itu.
Namun aku tak tahu apa.
"Bagaimana dengan raja Cendric?"
Kasumi mengedipkan matanya beberapa kali.
"Apa?"
Aku melipatkan kedua tanganku, kemudian menatapnya lurus.
'aku harus mencari tahu apa itu'
Perasaan janggal ini mengganggu ku, jadi aku harus mencari tahu apakah 'Kasumi' ini mengatakan hal sebenarnya atau tidak.
"Bagaimana dengan raja Cendric? Dalam ingatan terakhir ku, aku melihat raja Cendric, tidak, maksudku ayah menatapku khawatir sambil berusaha membunuh sesuatu, apakah ayah berhasil membunuh sesuatu itu? Dan apa yang terjadi setelahnya?"
"Ayah, dia meninggal bersama tuan Julius. Saat kamu berhasil mengalahkan Zion, orang yang berusaha ayah bunuh adalah orang yang menusuk mu dari belakang, kamu pun mati karena itu."
Mimik wajahnya terlihat benar-benar sedih dan menyesal, dia melanjutkan ucapannya lagi.
"Jadi, aku akan memberikan Reinkarnasi yang baik karena perjuangan mu. Apa kamu menginginkannya? Hidup dengan baik dan memiliki keluarga"
Aku terdiam sejenak saat ia bertanya padaku, tingkahnya memang tak mencurigakan dan itu semua sangat alami. Jika tak ada kesalahan itu, mungkin saja aku akan percaya padanya dan mengikuti setiap ucapannya.
Tapi, dia melakukan kesalahan yang fatal tadi sehingga aku pun bisa menyadarinya.
'Dia palsu.'
Aku belum tahu palsu dalam hal apa, tapi keyakinan yang aku miliki mengatakan bahwa dia bukanlah 'kasumi' dan aku tak boleh mempercayai apapun yang dia katakan.
"Bagaimana tuan Kahill? Waktu kamu tak banyak, aku akan segera mengantarkan mu"
"Baiklah, aku akan ikut"
Dia tersenyum senang, kemudian mengangguk.
"Bagus, aku akan mengantarkan mu sekarang"
Kasumi mengulurkan tangannya, aku menatap tangan itu sejenak kemudian menerimanya.
"Tapi kau harus mati di sini"
Ucap ku kemudian, sambil menatap Kasumi dengan tatapan dingin.
__ADS_1
Kasumi tersentak kemudian sebuah cahaya yang menyilaukan mata pun muncul di tengah kami, seorang wanita keluar dari tubuh ku. Dia menampar wajah Kasumi dan mendorongnya hingga ia tersungkur.
"Kasumi!? Apa kamu tidak apa-apa!?"
Aku mengedipkan mataku saat melihat wajah asing yang sedang menatap ku khawatir sambil menggenggam tangan ku erat, ia bahkan bergetar saat itu.
"A..aku baik-baik saja"
Saat itu suara ku yang berat berubah menjadi lembut dan nyaring khas suara anak wanita remaja, sepertinya tubuh ku sudah kembali begitu juga dengan ingatan ku.
Dia tersenyum, senyuman syukur disertai air mata.
'aku tak kenal dia, tapi kenapa dia terlihat mirip dengan ku?'
Apalagi rambutnya yang panjang itu berwarna coklat, dan tatapannya yang sejuk itu membuat ku berpikir pada sosok seorang ibu.
'tunggu, tidak mungkin kan?'
Aku berusaha menepiskan pikiran yang mustahil itu, namun semua bukti sangat cocok dengan sosok ibu yang ada dalam ingatan.
Untuk memastikan itu, aku pun berbicara pada wanita di depan ku.
"Ibu?"
Ujar ku singkat, wanita itu mengangguk sambil memegang kedua pipiku lembut. Ia masih menangis dan menatapku penuh syukur, tatapan rindu itu terlihat jelas di bola matanya yang biru persis seperti kakek.
"Iya, aku ibumu. Oh Kasumi, syukurlah ibu turun untuk membantu mu, aku tak akan menerima jika harus bertemu dengan mu secepat ini. Kamu harus hidup lebih lama dan menemani ayah mu dengan baik!"
Aku hanya tertawa kecil, nasihat ibu yang mengkhawatirkan aku mati cepat itu sungguh menyentuh.
Aku mengangguk, lagipula aku memang tak memiliki keinginan untuk mati cepat.
"Dan kau"
Ibu berbalik menatap wanita yang mengaku sebagai Kasumi, dia menatap ibu geram sambil masih tersungkur.
Sepertinya ibu menahannya dalam posisi itu, terlihat ada lingkaran sihir di bawah kaki wanita itu dan yang melakukannya adalah ibu.
"Kaulah penyebab takdir Kasumi tidak berubah, Zion memiliki sekutu di luar dugaan. Apa kau tak malu pada tuan mu karena melakukan ini pada Kasumi? Apa yang akan tuan mu lakukan jika dia mengetahui ini?"
Aku terdiam sambil mendengarkan percakapan itu, jujur saja aku tak paham dengan apa yang ibu maksud.
Tapi, aku dapat menyimpulkan sesuatu. Wanita yang menyamar sebagai Kasumi asli yang aku temui pertama kali itu, dia berkhianat pada tuannya dan melukai ku juga bekerja sama dengan Zion.
Aku tak tahu siapa tuannya, tapi dari ucapan ibu sepertinya dia orang yang baik.
Wanita itu tersenyum hampir menyeringai, ia pun mulai berbicara setelah diam cukup lama.
"Aku tak akan pernah mengkhianati tuan ku, dan yang aku lakukan sekarang adalah demi kebaikannya juga. Meskipun dia sudah tak memiliki jiwa wanita itu, tapi aku tetap harus membunuhnya"
Wajah ibu terlihat sangat kesal pada ucapan wanita itu.
Wanita itu berusaha berdiri, kemudian lingkaran sihir di bawah kakinya pun retak dan hancur.
Kini wajahnya tak lagi menjelma menjadi Kasumi, dia memakai topeng yang menutup bagian atas wajahnya dan memakai jubah merah.
Aku tahu jubah merah dan wajah itu.
"Kau, kau yang berusaha membunuh ku"
__ADS_1