Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)

Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)
Bab 16-Saintess Irene.


__ADS_3

Berbeda dengan pemikiran ku yang berpikir kami akan di usir, penjaga gerbang itu hanya mengangguk singkat setelah Elios mengatakan ingin bertemu dengan saint, lalu membukakan gerbang untuk kami masuk.


Saat aku melangkahkan kakiku ke dalam, suasana asri langsung terasa. Meskipun bersalju dan dingin, tapi di wilayah mansion terasa hangat, apakah ini karena sihir? Aku tidak tahu, tapi sebisa mungkin aku menikmati kehangatan itu selama berjalan ke arah pintu.


Saat pintu sudah berjalak lima langkah, tiba-tiba saja itu terbuka. Kami mendongak secara bersamaan, melihat sosok wanita berambut pirang panjang dengan warna mata yang belang.


Itu biru di sisi kanan dan hijau di sisi kiri, dan juga matanya terlihat seperti sebongkah kristal terbaik. Aku belum pernah melihat mata seindah itu, bahkan selama aku hidup sebagai Kahill.


Tapi, aku yakin jika mata itu ada dalam legenda.


'itu agak mirip dengan mata milik keluarga kerajaan samudra'


Dia menatap kami dengan tatapan lembut, lalu berbicara dengan elegan.


"Selamat datang, nama saya Irene Ingrid Von ignate. Senang melihat anda sekalian sampai dengan selamat"


Ucapnya menyambut kami dengan ramah, sepertinya dia itu saintess yang Kasumi sebut ******. Dari wajahnya dia terlihat baik, aku bersyukur.


Dan ku kira dia pria, dalam ingatan Kasumi wajahnya tak terlihat jelas seperti tertutup kain.


Setelah itu kami pun melakukan hal yang sama seperti saintess Irene tadi, melakukan hormat untuk menyapanya sesuai etika.


"Maafkan karena kami lancang berkunjung tanpa janji, saya memiliki beberapa hal yang ingin di bicarakan dengan anda"


Ucapku sopan dengan wajah yang tulus, aku harus segera menyelesaikan ini secepatnya. Solah tahu apa yang aku maksud, Saintess Irene membiarkan kami masuk ke dalam mansion lalu menuntun kami ke ruang tengah untuk berbicara.


"Masuklah, suami saya sedang tidak ada di rumah jadi dia tidak bisa menyambut kalian. Tapi, saya akan memperkenalkan sayap saya yang ada di sini, beberapa dari mereka juga ada yang ikut bersama suami saya dan hanya dua yang tinggal"


Ujar saintess Irene dengan tak melupakan keramahannya, dia menunjuk ke arah pria tinggi berambut hitam sebahu yang duduk di sofa dengan tegap, di sampingnya ada seorang anak yang seusia dengan Kasumi dia juga memiliki posisi duduk tegap yang sempurna.


Anak itu memiliki bekas luka bakar di sebelah wajahnya, juga tatapannya yang tenang membuatku tertarik.


'Btw, aku baru pertama kali melihat sayap milik saintess langsung'


Itu karena saat menjadi Kahill dulu, saint ataupun saintess sudah tidak ada yang muncul, karena itu sayap yang merupakan pelindung saintess pun tidak ada.


Mataku langsung terbelalak saat melihat pria berambut hitam yang ada di sebelah anak pemilik tatapan tenang itu, dia pun menatapku kemudian berdiri dengan wajah yang marah.


"Kau! Apa yang kau lakukan di sini!?"


Ucapnya murka padaku, tangannya menunjuk ke arahku. Aku tahu siapa dia.


'Dia adalah perwakilan lainnya yang bersama saintess waktu itu, dia juga orang yang mendengar ucapan Kasumi yang menyebut saintess ******'

__ADS_1


Wajar saja dia marah. Kata-kata tak sopan dilontarkan kepada tuan yang dia layani, tentu saja dia marah pada Kasumi mungkin keinginan untuk membunuhnya pun ada.


Elios dan Alexis maju ke depan, mereka bersiap untuk melindungi ku karena melihat orang itu hendak melakukan penyerangan.


Sebelum kekacauan terjadi, saintess Irene membuka mulutnya dengan ekspresi yang datar.


"Kahu berhenti."


"Tapi nona Irene-"


Orang itu, yang ternyata namanya Kahu langsung terdiam saat melihat tatapan nona Irene yang dingin, dia tidak ingin membantah ucapan tuannya lalu kembali diam dengan tenang.


Aku terkagum melihat itu, nona ini benar-benar luar biasa. Dia memfokuskan tekanan kekuatannya hanya pada si Kahu sehingga hanya dia saja yang merasakannya.


Nona Irene menghela nafas pendek, kemudian ia berbalik dan menatapku dengan senyuman di wajahnya, menghilangkan ekspresi dingin tadi.


"Maafkan Kahu, dia tertelan emosi miliknya tadi. Bagaimana jika kita berbicara empat mata?"


"Nona Irene! Itu berbahaya, bagaimana jika dia melukai anda saat kami tidak ada!?"


Kahu kembali membuka suaranya, tentu saja dengan nada marah yang tak terima. Anak di sebelahnya menggelengkan kepalanya, dia pun ikut berbicara.


"Tidak, kak. Kita harus menuruti apa yang di inginkan nona Irene"


Tampaknya dia langsung setuju dengan apa yang nona Irene katakan, tanpa penolakan seperti Kahu.


Kahu mengangguk dengan terpaksa, kemudian ia dan anak perempuan itu keluar.


"Kalian juga keluar dulu, aku tidak akan membuat masalah apapun"


Ucapku pada Elios dan Alexis. Alexis mengangguk paham kemudian pergi keluar, sedangkan Elios berbicara dulu sebelum dia keluar dari sana.


"Saya harap anda benar-benar tidak membuat keributan lagi, atau nanti komandan Black akan mengalami kesulitan"


"Kamu mengkhawatirkan paman itu?"


"Tidak sama sekali"


'aku tahu dia berbohong, bagaimanapun mereka adalah teman'


"Aku benar-benar tidak akan melakukan hal yang buruk, jadi keluarlah"


Setelah yakin dengan ucapan ku, akhirnya Elios menuruti apa yang aku katakan, dia keluar dan meninggalkan kami berdua. Aku dan nona Saintess Irene.

__ADS_1


'Jadi, tinggal kita berdua saja sekarang.'


Ini jelas sekali situasi yang bagus, aku akan mengatakan maaf ku dengan tulus padanya sekarang.


"Nona Irene, maafkan say-"


"Bagaimana jika anda duduk? Apakah anda ingin minum, kopi misalnya?"


Dia memotong ucapan ku sebelum aku selesai mengatakannya, kepalaku secara refleks mengangguk pada tawaran nona Irene.


"Boleh. Kopi yang pahit"


Nona Irene mengangguk tanpa keraguan, dia pun segera berjalan ke arah rak dan membuat kopi yang ada di sana. Aneh, kenapa di ruang tengah ada tak penyimpanan kopi? Tapi ada yang lebih gawat daripada itu.


'Sial! Aku mengatakan selera minuman yang aku miliki sebagai kahill'


Kopi biasanya di minum kaum pria, dan wanita biasanya menyukai teh atau susu panas dan sesuatu yang manis.


Akan aneh jika putri di kerajaan lain memiliki selera yang sama dengan pria, dengan tergesa-gesa aku langsung mengganti pesanan ku.


"Setelah aku pikirkan aku menyukai teh, bukan kopi!"


Tapi itu terlambat, nona Irene sudah selesai menyeduh kopi itu di tangannya.


"Saya sudah buat ini, dan saya tahu anda suka kopi"


'Apa dia memikirkan jika aku aneh?'


Aku mulai khawatir tentang sudut pandangnya padaku, akan canggung sekarang bagiku untuk menatapnya.


Nona Irene menyajikan kopi hitam itu di depanku, warna kopi yang pekat terlihat menggoda untuk aku yang memang menyukai kopi dengan cita rasa pahit.


Aromanya pun harum, kumpulan kafein itu membuatku tak sabar untuk meneguknya.


"Minumlah, itu masih panas hati-hati"


Ucap nona Irene, masih tersenyum ramah. Dengan ragu aku pun mengambil gelas itu, lalu meminum kopi yang ada di dalamnya.


Rasa pahit yang pekat langsung terasa, sensasi ini sudah lama tak aku rasakan. Mungkin aku akan sulit tidur sekarang karena meminum kopi sepahit ini, tapi itu tidak apa-apa. Aku menikmatinya.


Tanpa sadar aku sangat menikmati kopi yang ku tolak tadi, nona Irene mantap dengan tatapan puas saat melihatku menikmati kopi buatannya.


Dengan canggung aku pun mengakhiri minum ku, lalu meletakkan gelas kopi di atas meja.

__ADS_1


"Maafkan saya, itulah yang ingin saya katakan saat bertemu dengan anda. Maaf, saya sudah mengatakan kata-kata tak sopan pada anda, jika anda ingin menghukum saya maka akan saya terima itu"


Ucapku yang akhirnya mengatakan tujuan ku, apa tanggapannya? Apa aku di maafkan atau tidak.


__ADS_2