
Aku membuka mataku secara perlahan, saat itu hanya keadaan gelap yang aku lihat. Melihat itu membuat ku berpikir hal yang sudah lama tak ku pikirkan.
"Apa aku mati lagi?"
Mati untuk ketiga kalinya? Ha! Aku tak bisa percaya itu. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum aku ada di tempat gelap ini.
Aku ingat, sebelum pingsan? Aku, Yohan dan Davian sedang melakukan pembagian kekuatan yang aku miliki, sebagai pasangan ku mereka pasti bisa menerima kekuatan itu. Namun, tak ku sangka aku malah tumbang karena kekuatan ku yang keluar.
Dan akhirnya, aku ada di tempat ini.
Sial, aku belum mau mati lagi! Kenapa aku sudah mati lagi sekarang!? Ini sangat menjengkelkan.
"Aku harus bangun dan membantu yang lain, ayah, ayah pasti akan menjadi iblis jahat jika tahu aku mati."
Aku masih memikirkan tentang perkataan Kasumi yang mengatakan bahwa ayah akan menjadi iblis jahat jika aku mati, jadi aku harus tetap hidup untuk keselamatan dunia dalam.
"Apa aku mati?"
"Tidak, kamu masih hidup"
Aku berbalik dan melihat sebuah cahaya, cahaya terang seperti sebuah petunjuk kebaikan. Melihat cahaya itu, aku pun langsung berlari dan mendekat ke arahnya.
Tapi, seseorang menarik tangan ku menjauh dari cahaya itu. Ia pun membawa ku masuk ke dalam cahaya yang lain, dengan kesal aku menoleh pada orang yang menarik ku itu, dia sungguh tak tahu cara memperlakukan wanita!
"Itu sakit tau!"
Ucap ku, dengan wajah jengkel. Terlihat di sana, wajah Duke Kairo yang menatapku dengan tatapan yang sama jengkelnya. Tunggu dulu, kenapa dia ada di sini?
"T..tuan Duke? Kenapa anda ada di sini,"
Aku bertanya dengan sopan, Duke Kairo sudah melepaskan tangan ku. Ia berdecak pelan sambil menatapku jengkel, dih, aku jadi kesal melihat wajahnya itu.
"Shiro menyuruh ku membantu mu, hampir saja kau langsung masuk ke akhirat apa kau tahu?"
Aku mengedipkan mataku beberapa kali, aku pun menatap ke arah cahaya yang hampir aku masuki tadi lalu menunjuknya.
"Maksud anda itu?"
Tanya ku singkat, Duke Kairo langsung mengangguk membenarkan.
"Benar, itu adalah pintu menuju akhirat. Suara yang kau dengar tadi adalah suara malaikat kematian, sebenarnya kamu memang harus mati tapi Shiro membuat kesepakatan dengan dewa kehidupan sehingga waktu mu menjadi lebih panjang."
Kaki ku tak kuat menahan beban yang aku miliki, aku langsung terduduk sambil bersyukur karena aku gak mati beneran. Syukurlah, jika tuan Duke terlambat sedikit saja maka aku akan mati.
"Tapi, siapa Shiro?"
Aku bertanya tentang nama yang asing di telinga ku, duke Kairo menatap ku sejenak lalu menjawab singkat.
"Dia Kasumi asli, aku sudah bilang kan kalau aku punya pasangan ku sendiri. Itu adalah Shiro, Kasumi asli sudah ber-reinkarnasi menjadi Shiro yang akan aku nikahi nanti"
Aku mengerutkan dahi, bingung kemudian kembali bertanya.
"Tunggu dulu, kenapa Kasumi asli bereinkarnasi?"
"Aku tak bisa menjelaskan itu padamu, yang pasti alasan aku selalu melindungi dan membantu mu karena dia yang meminta ku untuk melakukannya."
Duke Kairo menjelaskan itu seolah ia malas untuk menjelaskan, aku memasang wajah yang cemberut. Dia masih saja pelit soal informasi, yah nanti juga aku akan tahu sendiri sih.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
__ADS_1
"Kita keluar dari sini,"
"Caranya?"
Jari Duke Kairo menunjuk ke arah depan, aku menoleh untuk melihat arah yang Duke Kairo tunjukkan itu.
Mataku langsung membulat secara sempurna saat aku melihat sosok yang Duke Kairo tunjuk, mulutku bahkan sampai menganga karena terkejut.
"Benda apa itu!?"
Teriak ku sambil menunjuk benda hitam besar yang ada di depan ku, entah kapan itu ada di sana.
"Itu 'sosok' kekuatan mu yang belum sepenuhnya kau ambil. Nah, tugas mu adalah 'memperoses' dan 'menjinakkan' kekuatan mu itu lalu kembali ke dunia nyata."
Aku menatap benda itu dengan tatapan takut, tubuh ku bahkan sampai bergetar karena merasakan kekuatan yang besar.
'apa aku sekuat itu?'
Pikir ku, di sela suasana yang tegang itu. Duke Kairo perlahan melangkah mundur, kemudian pelindung pun mengelilingi aku dan benda hitam itu.
Aku berbalik ke arah Duke Kairo yang sudah ada jauh di belakang ku, tunggu dulu! Apa dia tak akan membantu sama sekali!?
Seolah membaca pikiran ku, Duke Kairo berteriak.
"Aku tak akan membantumu! Jinakkan dia sendiri, semangat!"
Aku mengepalkan tangan dengan erat, entah kenapa saat ini aku sangat ingin memukul Duke Kairo. Apa dia bercanda!? Aku mana bisa melawan monster seperti itu! Tingkat kekuatannya berbeda dengan musuh yang selalu aku lawan.
Aku berbalik dan kembali menatap benda hitam itu, benda itu perlahan mengubah wujudnya.
Dia menjelma menjadi raksasa yang memiliki tanduk hitam pekat, wajahnya menyeramkan dan kekuatannya pun sangat besar.
Berkali-kali ku katakan jika itu mustahil, namun jika aku tak mengalahkannya maka orang-orang di luar sana akan kesulitan dan aku tak dapat membantu.
Aku menghembuskan nafas panjang berusaha menenangkan rasa takutku sendiri, kemudian menatap raksasa itu lurus.
"Jika kamu adalah kekuatan ku, maka harusnya kamu akan mudah tunduk padaku. Jadi, kesini dan lawan aku!"
Aku memutuskan untuk memakai busur dan anak panah emas yang sudah lama tak ku pakai, cincin pengubah wujud pun masih ada di jari ku jadi aku bisa menggunakan kekuatan roh untuk mengalahkannya.
'baiklah, mari kita mulai'
Aku harus cepat dan segera keluar dari sini.
...******...
Pertarungan masih terjadi, Julius membawa Zion menjauh dari permukiman warga yang ada di wilayah kekuasaan Cendric. Beruntung, beberapa desa di sana sudah di ungsikan sehingga tak banyak warga yang ada di sana.
"Mau sampai kapan kau mengulur waktu? Aku bosan karena kamu terus saja bertahan,"
Ucap Zion dengan wajah arogannya, Julius hanya diam saja sambil terus bertahan dari serangan yang Zion berikan padanya.
Sedari tadi mereka hanya menyerang dan bertahan, Julius terus saja bertahan dan tidak menyerang balik Zion sedangkan Zion terus menyerang Julius tanpa mempedulikan sekitarnya.
Beberapa pohon sudah menjadi korban karena ledakan mana yang di lakukan oleh Julius, juga tanaman di sana pun sudah berubah menjadi tanaman predator milik Zion.
Ia sengaja membuat lingkungan di sana menjadi seperti itu, untuk mempersempit ruang gerak Julius dan memaksanya untuk menghancurkan semuanya.
Zion semakin bosan dengan pertarungan itu, Julius sama sekali tak menyerangnya meskipun ia sudah di provokasi dan berusaha membuatnya marah, namun kakek itu tak bergeming sedikitpun dan hanya mempertahankan pertahanannya.
__ADS_1
"Ck, serang aku pak tua! Kau sungguh tak seru!"
Zion melesat ke arah Julius dengan sangat cepat, ia mengepalkan tangannya lalu meninju Julius dengan sangat keras, namun Julius berhasil menciptakan perisai putih meskipun waktu Zion saat menyerang sangat cepat.
"Kau masih saja bertahan,"
Julius memasang senyuman, tidak, itu adalah seringai yang jarang ia tunjukkan. Melihat seringai itu membuat Zion mengangkat alisnya bingung, Julius seperti merencanakan sesuatu dan sekarang adalah saatnya ia menjalankan rencananya itu.
"Apa yang kamu rencanakan?"
Zion bertanya sambil terus meninju perisai Julius yang sulit pecah, meskipun itu terbuat dari es tapi permukaannya sama sekali tak rapuh, malahan itu sangat kuat.
Julius membuka mulutnya, sambil menatap Zion.
"Kena kau"
Zion tersentak, kemudian lingkaran sihir pun tercipta di bawah kaki Zion. Zion menatap Julius dengan tatapan terkejut, kemudian ia tertawa.
"Bwhahahah! Kakek sialan! Kau dari tadi menyiapkan sihir untuk menyegel separuh kekuatan yang sudah payah aku bangkitkan!?"
Itu di luar dugaan, Zion merasakan kekuatannya menghilang setengah. Padahal ia hampir saja menuju sempurna, tapi Julius berhasil mengambil setengah kekuatannya itu.
Ia pun bukannya tak berusaha untuk menghindar, tali rantai es yang menusuk ke tubuhnya tiba-tiba saja muncul dan itu jelas ulah Julius.
Dia diam dari tadi untuk memancing Zion mendekat ke arahnya, juga mempersiapkan sihir yang memakan banyak mana ini. Julius pasti memanfaatkan mana alam yang bisa ia gunakan, karena itu dia hanya bertahan untuk menghemat mana miliknya.
"Aku mungkin tak bisa menyegel seluruh kekuatan mu, tapi tak apa. Kau yang memiliki setengah kekuatan akan menjadi lebih mudah untuk di kalahkan."
Ucap Julius, ia masih mempertahankan sirinya untuk menyegel kekuatan Zion.
Bukannya merasa kesal dan marah, Zion malah kembali tertawa sehingga membuat Julius bingung.
Ia bertanya dengan wajah tak senang.
"Kenapa kau tertawa?"
Zion menundukkan wajahnya saat ia tertawa, kemudian ia berdiri lalu menatap lurus ke arah Julius.
Tatapannya terlihat sangat merendahkan, ia seolah merasa kasihan pada Julius yang jelas-jelas sudah membuatnya terpojok.
"Kau pikir berapa banyak nyawa yang aku ambil untuk memulihkan kekuatan ku? Aku memakai banyak nyawa, nyawa wanita remaja yang memiliki mana murni. Dan-"
Ia menjeda ucapannya sejenak, saat ia menjeda ucapannya Julius merasakan hawa panas yang masuk ke dalam tubuhnya, padahal tadi dia baik-baik saja namun tiba-tiba saja ia merasakan perasaan terbakar yang sangat menyakitkan.
Julius langsung tumbang, ia terduduk lemah sambil meremas bagian dadanya yang terasa sangat terbakar.
Sedangkan Zion masih menatapnya, ia menutup sebelah matanya kemudian melanjutkan ucapannya yang tadi sempat tertunda.
"Kau tak berpikir aku memakai mana kegelapan kan? Sebenarnya, hampir seluruh kekuatan ku bisa pulih karena mana kegelapan dan sihir gelap yang ku dapatkan dari mayat-mayat makhluk yang aku kumpulkan selama 4 bulan ini. Kau bodoh karena menyerapnya begitu saja, dari dulu, seorang yang memiliki atribut putih tak akan cocok dengan atribut hitam. Bagaimana? Kau merasa terbakar kan?"
Zion mengakhiri ucapannya dengan senyuman lembut, namun di mata Julius itu terlihat seperti senyuman jahat yang licik.
Ia keliru, Zion sudah menjadi pengkhianat jadi mendapatkan mana kegelapan adalah hal yang mudah baginya, meskipun seluruh kekuatan yang dia miliki dalam tubuhnya pulih karena mana kegelapan, dia tak akan menjadi gila.
Zion, ia sudah menjadi kegelapan itu sendiri. Bahkan level kekuatan gelap miliknya itu terasa tak normal.
terimakasih sudah baca, like dan komen
(´∩。• ᵕ •。∩`)
__ADS_1