
Aku menatap pantulan wajah ku di cermin, namun pantulan wajah ku tiba-tiba saja berubah menjadi seorang wanita dengan mata merah dan rambut coklat, sama seperti wanita asing dalam ingatan ku.
Dia menatapku seolah hidup dalam cermin itu, karena terkejut aku pun melangkah mundur dari sana.
Kaki ku tersandung meja yang ada di belakang, setelah itu aku terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Aku menatap ke arah tangan kananku, tadinya di sana terasa sangat panas karena itu aku menyuruh Daisy untuk mengambilkan kompres dingin.
Namun di sana tiba-tiba saja muncul sebuah gelang, gelang putih. Baju jas kasual yang aku kenakan pun berubah menjadi jubah putih dengan motif bunga sakura di pergelangan tangannya.
"-Ayah akan menunggu mu di sini, kembalilah dan ingat kami"
Aku mendengar suara yang asing namun terasa familiar di telinga ku, semua itu terjadi secara bersamaan. Aku langsung menutup telinga saat aku mendengar semua suara masuk secara tiba-tiba.
"Ini sakit! Sakit sekali!"
Aku mengerang kesakitan, semua ingatan, suara juga wajah orang-orang yang sempat aku lupakan kembali lagi.
Terlihat di ambang pintu, Daisy datang sambil membawa kompres yang aku perintahkan tadi. Ia melihat aku tersungkur di lantai sambil menutup telinga seolah terganggu oleh sesuatu, setelah itu ia pun berlari ke arah ku dengan histeris.
"Tuan Kahill!"
Teriaknya dengan khawatir, tunggu dulu. Siapa Kahill? Apa aku Kahill? Aku merasa jika itu bukan nama ku, jadi aku siapa?
Saat aku memikirkan siapa identitas ku sebenarnya, suara asing dan lembut terdengar.
"Kasumi"
Dia memanggil nama itu.
"Kasumi!"
Dia memanggilnya lagi, terdengar semakin jelas. Namun Aku tak tahu nama siapa yang dia panggil.
"Kasumi!"
Setelah ketiga kalinya ia memanggil nama itu, ingatan wajah seseorang terlintas di pikiran ku. Rambut coklat dengan mata merah, gadis itu menoleh ke arah ku lalu mengulurkan tangannya.
"-panggil namamu, kamu Kasumi. Sekarang hidup mu sudah sepenuhnya menjadi Kasumi, kembalilah"
Mulutku bergumam, nama itu. sekarang aku mengetahui siapa pemiliknya.
"Kasumi Hansa Cyrano."
Iya, itu adalah aku. Sekarang aku Kasumi, bukan Kahill. Dan aku harus bertemu dengan kakek sesuai dengan apa yang ayah katakan.
Setelah aku mengatakan itu, pemandangan di depan ku pun langsung pecah bagaikan kaca yang hancur. Seseorang menarik tangan kanan tempat gelang itu melingkar, ia membawa ku keluar dari pecahan kaca itu, wajahnya menangis saat ia melihatku.
"Sebutkan namamu!"
Ucapnya dengan nada yang gemetar, perlahan aku pun membuka mulut ku dan mengucapkan kembali nama yang tadi aku sebutkan.
__ADS_1
"Aku, aku Kasumi. Kasumi Hansa Cyrano"
Pandangan ku langsung di tutupi oleh cahaya, ruangan kantor yang aku miliki dulu dan wajah Daisy yang khawatir menghilang begitu saja.
Ingatan terakhir yang aku ingat adalah saat pria yang menarik ku keluar dari sana, memelukku dengan erat sambil menangis. Aku tak tahu dia siapa, namun pelukannya sangat hangat dan nyaman.
...*****...
Manik merah milik Kasumi terbuka secara perlahan, matanya menoleh kesana-kemari memastikan di mana ia tertidur.
"Di mana aku?"
Ucap Kasumi pelan, ia menyadari jika sekarang dia sudah tak ada di kantor kerja Kahill lagi dan berada di tempat yang tidak dia kenali.
Seseorang masuk ke dalam, dia wanita dengan kulit coklat dan rambut hitam. Melihat Kasumi yang terbangun, sontak ia pun berteriak memanggil seseorang.
"Ya ampun! Tuan Julius, nona sudah bangun!"
Ucapnya sambil berlari keluar dengan terburu-buru, beberapa menit kemudian ia kembali dengan seorang pria berambut putih, matanya yang biru terlihat suci. Wajahnya pun sejuk, ia memiliki tatapan khawatir yang terlihat jelas di wajahnya itu.
"Kasumi!"
Teriaknya, dia langsung memeluk Kasumi erat seolah merindukan nya. Kasumi terdiam dengan perasaan bingung, ia merasa tak mengenali pria yang memeluknya dengan kasih sayang itu.
"Anu, tuan siapa?"
Ucap Kasumi dengan wajah bingung, pria itu melepaskan pelukannya. Ia menatap Kasumi lurus, kemudian tersenyum lembut.
"Julius Hansa, aku kakek mu."
Mata Kasumi langsung terbelalak kaget, dia tak percaya dengan ucapan pria di depannya itu.
"T..tapi anda!"
"Aku terlihat muda bukan?"
Kasumi mengangguk membenarkan, melihat reaksi itu membuat Julius tertawa ia menyukai wajah bingung Kasumi di depannya.
"Hahaha, penampilan dan umur ku memang berbeda. Tapi aku bahkan lebih tua dari ayahmu Kasumi,"
"Anda kenal ayah?"
"Tentu saja, siapa yang tak kenal si sialan yang sudah membawa putri ku kabur dan menikah dengannya? Aku tak akan pernah lupa dengannya"
Kasumi langsung membungkam mulutnya, dia diam setelah mendengar Julius memanggil Cendric dengan sebutan 'si sialan' itu berarti hubungan mereka agak tak baik.
Tangan Julius mengelus kepala Kasumi lembut, ia tersenyum sambil menatap Kasumi di depannya.
Rasa rindu terlihat dari tatapannya yang lembut.
__ADS_1
"Kerja bagus Kasumi, kamu bisa melewati ujian itu. Kakek bangga padamu,"
"Ujian? Jadi itu semacam ilusi?"
"Benar, kehidupan yang kamu jalani lagi sebagai Kahill tadi. Itu semua adalah ujian ilusi yang di berikan oleh spirit waktu, itu ujian terakhir yang harus kamu lalui jika ingin menjadi 'sempurna' dan menjalankan takdir milikmu"
Julius mengangkat tangannya, seekor burung warna putih kecil hinggap di sana.
"Dia Rio, spirit waktu tertentu terakhir yang masih ada."
Burung itu menatap Kasumi dan membuka paruh kecilnya yang imut.
"-terlambat sedikit saja anda pasti sudah terjebak di dalam sana dan menjadi spirit liar, untung saja tuan Julius bisa menemukan titik temu untuk anda kembali. Fyuh! Tadi itu hampir saja!"
Ucap burung itu dengan bersemangat sambil terbang di sekitar Kasumi, Julius menghembuskan nafas panjang, ia juga sangat khawatir saat itu cucunya itu tak dapat mengingat kembali siapa dirinya.
Kasumi menatap Julius, sejak tadi ada satu pertanyaan yang membuatnya sangat penasaran, ia pun memutuskan untuk bertanya padanya.
Meski dia merasa takut dengan reaksi yang akan di tunjukkan oleh Julius nanti.
"Anu, darimana anda tahu jika saya itu Kahill?"
Julius terdiam sejenak, ia kembali memiliki senyuman lembut di wajahnya. Tangannya mengelus kepala Kasumi lembut, entah kenapa dia menyukainya.
"Mana mungkin aku tak tahu jiwa lain milik cucu ku sendiri? Aku tahu semua hal tentang mu, meski kita baru bertemu."
Kasumi menatap Julius dengan tatapan bingung, ia tak mengerti maksud dari ucapan Julius itu apalagi saat dia mengatakan 'jiwa lain'
'apa maksudnya?'
Melihat wajah bingung Kasumi, lagi-lagi Julius tertawa karenanya.
"Hahaha, kau bingung?"
Kasumi mengangguk. Dia benar-benar bingung, dan juga penasaran.
"Kahill, kamu dan Kasumi adalah satu. Pertemuan kalian, kejadian ini dan kematian mu adalah takdir yang sudah di ramalkan sejak dulu, kamu bukan hanya komandan ksatria kerajaan ataupun seorang putri raja iblis.
Tapi, takdir milikmu sebenarnya adalah cahaya baru, kemalangan yang di ikuti keberuntungan itulah takdir mu sebenarnya"Julius menjeda ucapannya, ia sudah melihat ekspresi Kasumi yang sangat terkejut.
"Kejadian ini di sebut jiwa yang terpecah"
Kasumi membulatkan matanya tak percaya setelah dia mendengar penjelasan dari Julius, istilah jiwa yang terpecah pun sangat asing di telinga Kasumi.
"A..apa penyebab aku memiliki jiwa terpecah? Pasti ada alasannya bukan!?"
"Benar, apa kamu ingin mendengarkan kisah masa lalu? Tapi, ku harap kamu akan menerima takdir mu ini setelah aku menceritakan nya."
Kasumi mengangguk meski ia agak ragu untuk mendengar cerita itu, namun dirinya harus tahu penyebab semua ini.
__ADS_1
Terimakasih sudah baca, like dan komen