
"kita tak bisa diam saja dan menonton bukan?"
Ucap Alejandro, dia berbicara pada semua orang yang ada di sana.
Leonardo yang sudah ada di sana mengangguk setuju, ia segera menyiapkan pedangnya untuk bertarung lagi. Sekarang dia sudah tak bisa menggunakan kekuatan malaikatnya karena itu sudah hilang.
Zeus dan Yula pun setuju, tujuan mereka bertiga datang ke sana pun untuk membantu.
Dan tentu saja yang lain memiliki pemikiran yang sama, meskipun yang bisa membunuh Zion hanya Kasumi, Davian dan Yohan tapi mereka bisa membantunya dengan membuat celah untuk mereka.
"Ngomong-ngomong, di mana tuan Kairo?"
Kayle bertanya dengan penasaran, ia ingin bertemu dengan Kairo yang merupakan panutannya namun dari tadi dia tak terlihat sedikitpun.
"Dia mengejar orang yang menusuk Kasumi,"
Black menjawab pertanyaan putranya itu dengan singkat, Kayle mengangguk paham.
Mereka tak perlu mengkhawatirkan Kairo karena ia pasti akan baik-baik saja, karena itu sekarang mereka pun mulai bersiap untuk melawan Zion.
Terutama Cendric, ia ingin memastikan sosok yang sedang bertarung dengan Zion itu, apakah dia Rheea asli atau bukan.
Tanpa aba-aba mereka langsung melesat ke arah Zion dan melayangkan berbagai macam serangan padanya. Zion memang tak terluka, tapi ia merasa kesal dengan serangan itu.
"Kalian semua benar-benar akan ku bunuh di sini!"
Zion sedikit mundur, ia mengeluarkan senjata yang berupa sabit besar.
Sabit itu milik salah satu bawahannya, lebih tepatnya itu milik Pin yang sudah di ambil jiwanya oleh Zion.
Pemandangan sabit hitam dengan latar belakang aura hitam membuatnya terlihat seperti malaikat kematian, beberapa prajurit yang masih ada di sana merinding ketakutan saat melihatnya.
Kasumi menatap itu dengan merinding, ia pun merasa agak takut namun berusaha fokus pada apa yang dia kerjakan.
Dia, Davian dan Yohan sedang mempersiapkan pedang itu untuk membunuh Zion.
"Apa ini akan memakan waktu lama?"
Tanya Davian, ia sedikit khawatir.
"Ku rasa begitu"
Balas Yohan, mereka memegang ujung pedang bersamaan.
Kasumi sudah di beritahu oleh suara yang ada di kepalanya cara untuk menggunakan pedang.
Mereka harus menyalurkan mana milik mereka masing-masing ke dalam pedang itu, kemudian pedang akan berpecah sesuai dengan jumlah pemiliknya.
Zion terlihat kewalahan melawan mereka semua, meskipun ia kuat tapi orang-orang yang melawan dia pun tak lemah.
Lama-kelamaan ia merasa ingin menghancurkan semuanya aja.
"Kalian orang-orang sialan!"
Zion marah saat itu karena mereka menghalanginya untuk membunuh Kasumi, ia melepaskan energi yang kuat sehingga membuat orang-orang yang melawannya terpental.
Rheea yang ikut bertarung berteriak pada semua orang.
"Mundur! Dia akan meledakkan dirinya!"
__ADS_1
Zion menyeringai saat mendengar teriakkan Rheea, dia tak menyangka jika Rheea menyadari itu.
"Jika aku tak bisa membunuh kalian, maka kalian harus mati bersama ku!"
Aura hitam di sekitar Zion semakin banyak dan pekat, itu membentuk sebuah lingkaran besar yang bisa meledak kapan saja.
"Jika aku membuat pelindung pun itu tak akan banyak membantu, skala ledakan dari kegelapan itu akan membuat semua orang di dunia dalam mati"
Ucap Black menjalankan apa yang dia lihat.
"Kita harus membunuhnya sekarang"
Cendric bersiap lagi, itu adalah cara terbaik untuk mencegah Zion meledakan bom yang dia buat.
"Tidak! Apa takdirnya memang tak bisa di rumah!?"
Rheea menatap bom itu dengan putus asa, namun ia segera bangkit lagi dan membuat lingkaran sihir yang sangat banyak.
Waktunya tinggal sedikit dan dia tak bisa menyia-nyiakan itu.
Namun, sesaat mereka semua hendak melakukan perlawanan lagi. Kasumi tiba-tiba saja sudah berada di depan Zion kemudian menusukkan pedang miliknya di jantung Zion.
Uhuk!
Zion yang tak menyadari kehadiran Kasumi langsung menatapnya dengan tatapan marah, dia benar-benar tak merasakan kedatangan Kasumi tadi.
"Kau pikir hanya itu saja?"
Jleb!
Yohan yang muncul dari belakang menusuk Zion dengan cepat, ia memastikan jika Zion merasakan sakit.
Davian melakukan hal yang sama seperti Yohan, sekarang tiba buah pedang putih sudah menusuk ke tubuh Zion secara bersamaan.
Zion merasakan kekuatannya yang mulai hilang, itu terjadi begitu cepat dan orang-orang yang melihat itu terkejut karena mereka pun tak menyadari kehadiran Kasumi yang tiba-tiba saja ada di sana.
"Kau kalah Zion"
Ucap Kasumi singkat, saat mereka menusuk Zion tadi bola hitam pun menghilang.
Zion menatap benci ke arah Kasumi, ia tak menyangka jika kekalahannya akan mudah seperti ini.
Tapi, sesaat kemudian ia tersenyum hampir menyeringai.
Kasumi yang melihat seringai itu di buat heran, begitu juga Yohan dan Davian yang masih menusukkan pedang mereka di tubuh Zion yang perlahan menghilang.
"Apa kah pikir kekalahan ku terlalu mudah? Musuh sebenarnya bukanlah aku, tapi 'dia' ha! Sangat mengecewakan tapi sebenarnya aku hanyalah alat yang di gunakan olehnya untuk membunuh mu"
Kasumi mengerutkan keningnya, kemudian bertanya pada Zion.
"Siapa dia?"
Zion hendak menjawabnya, namun sesuatu seakan menyumpal mulutnya yang hendak berbicara, ia sulit memberikan jawaban yang di inginkan Kasumi.
'Dya sialan! Dia berpura-pura menjadi bawahan baik padahal hanya memperlakukan ku sebagai alat saja, sekarang bahkan dia melarang ku untuk mengatakan siapa identitasnya'
"Aku tak bisa mengatakan itu, semoga kau bisa menemukan jawaban yang kau mau"
Setelah mengatakan itu Zion menghilang seluruhnya, Kasumi ingin mendengar jawaban dari Zion namun tak bisa.
__ADS_1
"Tunggu-!"
Untuk terakhir kalinya Zion berbicara.
"Selamat tinggal keponakan ku,"
Zion pun menghilang dari sana dan berubah menjadi debu, setelah itu semua tulang monster yang ada di sana pun berubah menjadi pohon-pohon kecil yang mulai tumbuh.
"Tulangnya menjadi pohon?"
"Mereka menghilang,"
Itu adalah pemandangan yang cukup indah, dan hutan pun kembali di tumbuhi oleh pohon-pohon yang rimbun.
Semua prajurit yang ada di sana saling memandang satu sama lain, mereka melihat kejadian tadi dengan jelas dan tahu siapa orang yang sudah membunuh Zion.
"Hidup putri Kasumi!"
"Hidup Putri Kasumi!"
"Kita menang!"
Sorakan bahagia terdengar, mereka senang karena pertarungan itu berakhir dengan kemenangan di tangan mereka.
Cendric segera berlari ke arah Kasumi yang agak jauh darinya, namun ia harus berhenti saat merasakan seseorang menariknya.
Ia tersentak saat melihat sosok yang menariknya itu, wajah yang ia kenal ada di sana.
"Kamu tidak berubah,"
Ucapnya pelan, Cendric mengusap kedua pipi kemerahan milik wanita itu kemudian mengangguk singkat.
"Begitu pula dengan mu, kamu masih cantik sama seperti dulu. Rheea"
Wanita itu, Rheea tersenyum saat mendengar pujian dari suaminya setelah sekian lama.
Sebelum waktunya benar-benar habis, ia ingin menyempatkan diri untuk bertemu dengan Cendric dan akhirnya ia pun melakukan itu.
"Bagaimana kamu bisa di sini? Apa kamu bereinkarnasi?"
Rheea menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tidak, aku hanya memiliki tubuh ini sementara. Kesempatan yang di berikan oleh dewa kehidupan padaku adalah membantu Kasumi mengubah takdirnya dari kematian, dan aku berhasil melakukan itu"
"Jadi, apa kamu akan menghilang sekarang?"
"Tidak sekarang, tapi mungkin sebentar lagi"
"Ah, Rheea. Aku, aku benar-benar merindukan mu"
Cendric menyingkirkan sebagian rambut Rheea yang menutupi matanya, ia menatap mata biru cerah bak langit di siang hari dengan tatapan yang teduh.
Kemudian Cendric mencium bibir Rheea.
"Apakah kita harus memanggil ayah sekarang?"
Tanya Kasumi, dia melihat pemandangan itu dengan wajah yang sulit di artikan.
Davian memalingkan wajahnya, anehnya ia malah merasa malu.
__ADS_1
Sedangkan Yohan hanya mematung saat melihat itu, ia jadi teringat pada ciumannya dengan Kasumi dulu.