Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)

Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)
Bab 22-Kembali ke kerajaan.


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat seperti air mengalir, sekarang ini aku sudah sampai di kerajaan Cyrent.


Raja, tidak, maksudku ayah, dia sangat menantikan kepulangan ku sampai saat aku kembali dia langsung menyambut ku dengan meriah.


Semua macam makanan tersaji di meja, ini bahkan lebih banyak dari biasanya. Ayah juga menunda beberapa pertemuan dengan bangsawan lain hanya untuk hadir dan makan bersama ku, setelah satu bulan kami tidak bertemu.


"Bagaimana perjalanan mu? Apakah lancar?"


Ucap ayah bertanya, dia menatapku yang sedang makan steak. Makanan pertama yang aku makan adalah itu, maklum saja makanan lainnya tak ku kenali jadi mencicipinya agak gimana gitu.


Aku mengangguk singkat.


"Iya ayah, itu lancar dan seru. Aku berterima kasih pada Paman Elios dan sir Alexis"


Alis ayah terlihat sedikit berkedut, dia masih menatapku namun tatapannya kini menjadi tatapan heran.


"Paman?"


Ucapnya singkat, dengan wajahnya yang tiba-tiba datar. Kenapa ayah begitu? Aku kembali menjawab, kali ini aku menatap wajah ayah juga.


"Iya, perdana menteri Elios bilang jika aku boleh memanggil dia apapun, karena itu aku memanggilnya paman"


Aku menjelaskan tentang alasan ku memanggil Elios paman, ayah terdiam kemudian mengangguk singkat. Apakah masalahnya sudah selesai?


'Oh, benar. Aku lupa jika Elios menyukai ibu Kasumi, itu artinya dia menyukai istri raja. Apakah hubungan mereka tidak baik dan bukan pertemanan? Mungkin, musuh dalam selimut atau rival?'


Bisa-bisanya aku mengatakan dengan jelas jika aku memanggil Elios paman, jika hubungan ayah dan Elios tidak baik wajar saja dia tidak menyukai aku memanggilnya begitu, sama saja seperti aku mengatakan jika hubungan kami itu baik.


'tapi kami memang baik-baik saja'


Jika mengesampingkan sikapnya yang menyebalkan, maka kami baik-baik saja.


"Apa itu saja yang terjadi?"


Ayah kembali bertanya, aku mengangguk sebagai jawaban.


Dia menghela nafas pendek, sangat jarang ayah memperlihatkan wajah seperti itu.


'Tunggu dulu, apakah benar sudah tidak ada lagi?'


Aku kembali mengingat semua kejadian yang aku alami saat di perjalanan, rata-rata semuanya sudah ku katakan dalam surat yang aku kirim dua Minggu yang lalu.


Tapi, ada satu kejadian yang tak aku tuliskan di sana. Dan, ku rasa hal ini yang membuat ayah terus bertanya padaku dari tadi.


Ayah meletakan garpu di atas piring sehingga menyebabkan suara dari benturan piring dan garpu itu terdengar, suasana di ruang makan sepi karena hanya kami yang ada di sana.


Apa ayah marah?


"Kamu tidak menceritakan semuanya, ayah tahu itu"


Ucapannya terdengar sangat serius seolah-olah dia sedang membicarakan masalah negara, aku menatap ayahku lurus sebelum mengatakan hal yang tak aku katakan.


"Aku pingsan waktu itu"


"Karena?"


"Kelelahan?"

__ADS_1


Ayah kembali menatapku dengan wajah datar, tatapan yang mengatakan jika dia tidak percaya.


'ukh'


Aku tahu jika ayah mengetahuinya, jika terus di tatap dengan tatapan seperti itu aku pun tak bisa mengelak.


"Aku pingsan karena bentrokan mana"


Ujar ku pelan, agak berbisik berharap ayah tidak mendengar itu. Tapi dia adalah raja di kerajaan demon, jadi pendengarannya pun sangat bagus sehingga dia bisa mendengar ucapan ku yang sangat kecil itu.


Dia kembali menghela nafas, kali ini ekspresinya lebih lembut daripada tadi. Dia menatapku dengan senyuman, senyuman yang mencurigakan.


'aku memiliki firasat buruk'


Dan itu benar.


"Mulai sekarang ayah tidak mengizinkan mu untuk keluar wilayah, kamu akan tinggal di istana raja bersama ayah"


Pada ucapan ayahku itu, aku terperangah tak percaya.


...*****...


"Tapi ayah! Aku tidak mau begitu"


Kasumi kembali berdebat dengan ayahnya, dia tidak puas dengan keputusan sepihak dari Cendric.


Cendric hanya diam tak bergeming, dia memang tidak memiliki niat untuk berdebat dengan Kasumi dan hanya terus melanjutkan acara makannya.


Kasumi cemberut, dia tahu ayahnya pasti fokus padanya dan bukan pada makanan seperti apa yang di lihat Kasumi, dia kembali berbicara dengan nada yang semakin ditekan.


"Ayah, aku tidak mau tinggal selamanya di istana! Tubuhku sudah sehat sekarang, aku pun tak akan mengalami hal buruk seperti itu lagi"


Akhirnya Cendric membalas, dia menatap mata putrinya yang menggebu-gebu. Kasumi mengangguk dengan yakin.


"Iya, aku bisa"


Cendric menghembuskan nafas panjang, pada akhirnya dia luluh juga.


"Baiklah ayah tak akan melakukan itu, tapi jika sekali saja kamu berada dalam bahaya saat jauh dari ayah maka hukumannya adalah tinggal di istana raja untuk selamanya, juga tidak boleh keluar dari istana lebih dari dua jam paham?"


Kasumi mengangguk, hukuman baru itu lebih menakutkan daripada hukuman yang sebelumnya. Tapi dia tak khawatir, Kasumi yakin kejadian buruk semacam bentrokan mana tak akan terjadi lagi padanya.


Dan JANGAN SAMPAI TERJADI.


"Baik, terima kasih ayah"


Makan bersama itu berakhir, Kasumi langsung masuk ke kamarnya begitu selesai di sana. Begitu pula dengan Cendric yang langsung pergi untuk mengerjakan tugasnya, Black sudah menjemput dia khawatir jika Cendric malah akan libur seharian dan mengajak Kasumi bermain, tapi untungnya itu tak terjadi.


Brugh!


Kasumi merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, sudah sangat lama dia tak merasakan tekstur empuk kasur miliknya.


'memang rumah yang terbaik'


Saat Kasumi sedang menikmati kedamaian yang akhirnya dia dapatkan, seseorang mengetuk pintu dari luar.


Tok tok tok.

__ADS_1


Kasumi terbangun, matanya menatap ke arah pintu sejenak.


"Masuklah"


Ucapnya singkat, seorang pelayan wanita, Rin masuk sambil membawa kotak yang berisi banyak surat.


Melihat tumpukan surat itu saja sudah membuat Kasumi lemas, rasanya dia ingin mengabaikan semua itu.


'dan kenapa hari ini sangat banyak?'


Itu yang membuatnya penasaran.


"Ini surat untuk anda putri, beberapa dari keluarga pengikut dan ada juga yang dari luar istana"


Ujar Rin menjelaskan dengan singkat, Kasumi menghela nafas panjang.


"Taruh saja di sana, setelah itu kamu boleh pergi"


Ucapnya sambil menunjuk ke arah meja yang ada di sebelah kasur Kasumi, Rin mengangguk paham kemudian dia pun meletakan kotak itu di meja lalu pergi meninggalkan Kasumi sesuai dengan apa yang Kasumi katakan.


Mata merah milik Kasumi menatap surat dengan tatapan tak minat, dia benar-benar malas membaca semua surat itu.


Isinya pasti sama saja, bualan klasik dan basa-basi busuk. Kasumi tahu itu.


"Tidak mungkin di antara tumpukan surat ini ada seseorang yang membahas tentang politik atau masalah kerajaan,"


Meskipun begitu ini adalah tugasnya sebagai Kasumi, dia harus membalas surat satu persatu untuk membangun relasi dengan para pengikut kerajaan Cyrent yang akan mendukungnya di masa depan nanti.


Kasumi mengambil sembarang surat yang ada di sana, namun matanya terhenti di satu surat yang memiliki cap keluarga tak asing. Dia mengenali cap keluarga itu, kemudian memutuskan untuk membacanya terlebih dahulu sebelum surat yang lain.


"Ini dari Irene"


Gumamnya pelan, di susul dengan senyuman manis dari wajahnya yang cantik. Kasumi membaca surat dari Irene dengan senang hati sambil duduk di atas kasurnya, surat pertama dari sahabatnya di dunia ini.


[ Untuk putri Kasumi tersayang.


Kita bisa berkirim surat sekarang, aku tahu pertemuan kita terjadi belum lama ini tapi rasanya aku sudah rindu padamu, jadi untuk mengobati rasa rindu ini aku harap kamu mau berkirim surat padaku mulai sekarang sesuai janji kita.


Ceritakan lah apapun, tentang cuaca di demon realm, tentang masalah yang kamu alami atau bahkan warna burung yang hinggap di pagi hari, pokoknya aku menunggu setiap cerita kecil darimu. Aku pun akan melakukan hal yang sama karena begitulah sahabat seharusnya, aku harap surat ini sampai padamu dan kamu membacanya dengan senang hati.


Lain kali jika kamu berkunjung lagi, aku akan mengajak mu berkeliling di hutan suci timur. Ayah pasti akan mengizinkannya jika aku bilang kamu sahabat ku, jadi cepatlah main ke sini lagi.


Penuh cinta dari sahabat mu


Irene Von ignate]


Senyuman bahagia tak kunjung padam dari wajah Kasumi, dia suka membaca surat dari Irene yang bilang rindu padanya.


Dengan buru-buru, Kasumi membawa surat itu ke meja, dia mengambil pena dan kertas kemudian mulai menulis surat balasan untuk Irene, dia harus cepat menulisnya dan mengirimkan itu agar cepat pula mendapat surat balasan.


Setelah selesai menulis, Kasumi membawa surat yang lain ke meja untuk dia baca. Seperti yang dia duga, rata-rata isi surat itu sama.


Ada yang menanyakan kabarnya, ada yang berisi surat undangan pesta ada juga yang mengatakan kata-kata kebencian.


'Apa mereka tak takut di hukum? Kasumi ini putri raja lho'


Dia mengernyitkan dahinya untuk surat yang berisi caci maki, namun mengabaikan itu.

__ADS_1


Surat demi surat sudah dia baca dan hanya satu surat yang tersisa sekarang.


"Kira-kira ini dari siapa"


__ADS_2