Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)

Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)
Bab 26-Mari pergi(2).


__ADS_3

"Senang bertemu dengan anda Grand Duke Kairo. Saya Rion Max de Morgan, ini adalah pertemuan pertama kita bukan? Saya harap perjalanan kali ini akan lancar"


Rion memberi salam terlebih dahulu dengan sopan. Karena terkejut aku jadi lupa untuk memberi salam padanya, bagaimanapun itu adalah etiket yang penting.


Tujuanku sekarang adalah meredakan kebencian dia untuk mencegah pemberontakan yang bisa saja terjadi di masa depan, jika rasa bencinya pada kerajaan Cyrent hilang dia tidak akan memberontak dan memulai perang kan? Itu belum pasti tapi aku layak mencobanya.


Tangan ku dengan anggun mengangkat sedikit gaun merah muda yang aku pakai, gaun hari ini agak mewah dan berat. Merepotkan.


"Senang bertemu dengan anda Grand Duke Kairo. Saya Kasumi Hansa Cyrano, putri mahkota kerajaan Cyrent."


Ucapku dengan nada yang paling lembut. Aku sangat berusaha melakukannya, meskipun dalam hati aku merasa malu tapi ini harus di tahan.


"Hmm. Seperti rumornya, kalian selalu bersama ya"


'apa?'


Dia bilang apa tadi? Rumor kami yang selalu bersama? Ha! Sejak kapan ada rumor seperti itu!? Mataku langsung menatap ke arah Rion sinis, rasa curiga yang aku miliki tertuju padanya.


Rion tak menghiraukan tatapanku, dia malah tersenyum sambil melihat Grand Duke Kairo.


"Aha, apakah ada rumor seperti itu? Saya baru mendengarnya"


"Tentu saja ada. Bahkan rumor lain mengatakan jika kalian berdua melakukan kencan diam-diam,"


Pada ucapan terakhir Grand Duke membuatku terpaku. Siapa sih yang buat rumor kayak gitu!? Aku membenci Rion, kenapa rumor mengatakan kami merajut kasih? Tidak masuk akal!


Aku sedikit berdehem. Harus turun tangan langsung, jika tidak maka mungkin saja Rion akan mengatakan sesuatu yang lain bahkan lebih buruk dari rumor.


"Itu hanya rumor tuan, saya tak memiliki hubungan apapun dengan pangeran Rion"


"Putri dan saya adalah teman. Dan juga kebetulan saya sudah memiliki tunangan, mungkin jika tunangan saya mendengar tentang rumor ini dia akan sakit hati"


Aku mengangguk setuju seolah sudah tahu tentang fakta itu. Yah, sebenarnya dalam ingatan milik Kasumi memang ada yang mengatakan Rion memiliki tunangan, tapi aku tidak tahu siapa tunangannya.


Dia masih saja bersikeras mengaku bahwa kami berteman, menyebalkan.


"Benarkah? Maafkan saya, banyak rumor yang berhembus seperti angin, saya jadi agak penasaran tentang itu"


Ucap Grand Duke singkat, dia menjeda ucapannya sejenak. Matanya melirik ke arahku dengan tatapan yang sulit di artikan, kenapa dia begitu? Tatapannya membuatku merasa tak nyaman. Menyadari ketidaknyamanan ku Grand Duke tersenyum tipis.


"Kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanannya, jika cepat maka kita bisa sampai tepat waktu"


Kami mengangguk kompak, setelah itu kami mulai masuk ke kereta kuda masing-masing. Mulai dari sini Rion akan naik ke dalam kereta kuda keluarga kerajaan Dracovillia, dia tidak akan numpang lagi dengan kereta kuda ku, syukurlah.


"Saya menantikan saat menyebrangi lautan nanti, ini pengalaman pertama anda naik kapal laut bukan?"


Aku hanya bersenandung kecil, tak terlalu menghiraukan apa yang di ucapkan Rion. Dia terkekeh, kemudian menepuk kepalaku singkat dan cepat, sampai aku tak menyadarinya.


'!?'


Tanganku refleks langsung menyentuh area kepala yang Rion sentuh seraya menatapnya sinis.

__ADS_1


"Jangan sentuh kepalaku"


Aku berbicara dengan penuh tekanan, sedangkan Rion malah tertawa seolah itu lucu.


"Hahaha, maafkan saya. Kalau begitu sampai jumpa nanti tuan putri"


Setelah mengatakan itu dia benar-benar pergi. Alexis menjemput ku yang tak kunjung masuk ke kereta kuda dan malah diam di sana.


"Putri, kita akan segera berangkat"


Aku mengangguk singkat lantas berbalik dan naik ke kereta kuda. Setelahnya kami mulai berangkat, masuk ke dalam hutan monster yang menjadi perbatasan antara demon realm dan dunia manusia.


Meskipun di sebut hutan monster tapi tak ada satupun monster yang ku lihat sejak tadi, sepertinya mereka bersembunyi di suatu tempat. Karena tidak mungkin hutan ini di namai begitu jika tidak ada monster.


Aku terus memfokuskan mataku ke luar, berharap ada satu monster yang muncul di sana.


'Tapi aku ingin melihat monster, sejak menjadi Kasumi aku belum pernah melihat monster asli lagi, yang ku lihat hanyalah gambar monster dalam buku.'


Aku mulai bosan. Hanya ada pohon besar saja sepanjang jalan, tidak ada hewan atau monster.


"Apa yang anda perhatikan putri?"


Alexis yang sejak tadi hanya diam bertanya padaku. Aku mengalihkan fokus pada Alexis, kemudian menjelaskan apa yang aku perhatikan.


"Aku mencari monster"


Mendengar jawaban singkat dariku itu membuat Alexis sedikit tersentak, ku rasa dia tidak menyangka jika itu yang aku cari.


"Tidak ada monster yang akan anda lihat hari ini putri,"


"Kenapa?"


'apa mereka mati?'


Tidak mungkin kan di hutan seluas ini populasi monster sudah punah? Jika iya kenapa hutan ini masih belum ganti nama?


Alexis menjelaskan. Masih menatap ke luar seperti tadi.


"Itu karena ada penghalang di kereta kuda kita. Karena penghalang itu para monster tak berani mendekat,"


Penghalang. Sudah ku duga. Penghalang di demon realm terkenal dengan kekuatannya, tidak ada yang bisa menerobos penghalang itu apalagi penghalang yang ada di perbatasan. Mustahil penghalangnya akan hancur.


'Bahkan saat perang antara demon realm dan dunia manusia terjadi, penghalang itu tetap tidak hancur'


Akan sangat berbahaya jika penghalang di perbatasan hancur.


"Kita tidak bisa melihat mereka?"


Aku bertanya lagi pada Alexis, dia mengangguk singkat.


"Iya. Kecuali muncul monster bodoh yang nekad menyerang kita, tapi itu jarang terjadi"

__ADS_1


"Monster bodoh itu maksudnya mutan?"


"Betul. Biasanya para monster mutan tidak bisa mengenali bahaya, jadi mereka akan tetap menyerang meskipun tau akan mat-!"


Alexis menghentikan ucapannya bersamaan dengan terdengar suara ledakan dari luar, sepertinya ada yang menyerang kita.


Suara lolongan panjang yang mengancam terdengar, itu adalah salah satu suara monster yang menghuni hutan ini.


Aku hendak keluar namun Alexis menghalangi.


"Tolong tetap di dalam, saya akan keluar sebentar"


Setelah mengatakan itu dia keluar. Aku tidak mengikuti, bagaimanapun jika aku ikut maka aku hanya akan jadi beban saja. Kekuatan yang aku miliki masih belum kuat, kalau aku ikut bertarung mungkin kejadian seperti ledakan mana itu akan terjadi lagi.


Dan aku tidak mau itu terjadi.


'Membayangkan aku hanya hidup di istana saja sudah membuatku merinding, itu menakutkan'


Hidup seperti burung dalam sangkar itu tidak nyaman.


Tapi tetap saja aku penasaran. Karena itu aku membuka gorden kaca dan mengamati dari dalam, hanya ini yang bisa aku lakukan.


Di depan terlihat sebuah kereta kuda berwarna hitam yang hancur, ku rasa pelakunya adalah monster serigala besar yang ada di sana.


Ukuran monster serigala itu seperti sebuah rumah, dia memiliki Surai yang mirip dengan singa juga taringnya sangat panjang dan tajam.


Mata monster berwarna merah cerah, berbeda dengan mataku.


Sebuah penghalang transparan muncul, melindungi kereta kuda milikku dan kereta kuda yang lain. Orang yang membuat pelindung itu adalah Grand Duke.


Monster terlihat hendak menyerang lagi, tapi seseorang datang melompat ke depannya kemudian menebas taring monster itu yang membuatnya mundur.


Mataku langsung terfokus ke arah senjata milik pria yang melawan monster. Itu sebuah sabit, sabit putih yang cantik ada di tangan pria berambut hitam.


Grand Duke Kairo. Dia melawan monster besar itu dengan wajahnya yang dingin.


Monster itu membawa beberapa bawahannya, ukuran monster yang lain lebih kecil jadi mudah mengurus mereka.


Alexis, pangeran Rion dan beberapa ksatria yang ikut melawan monster lain, sedangkan Grand Duke Kairo melawan monster serigala besar sendirian.


Mataku terus terfokus menatap pertarungan Grand Duke Kairo melawan monster itu. Sangat keren, itu adalah kata yang bisa ku ungkapkan untuk pertarungannya.


Monster serigala masih belum menyerah meskipun dia sudah kehilangan taring, dia menatap Grand Duke dengan tatapan benci seperti ingin membunuhnya.


Jarak antara kereta ku dan Grand Duke agak jauh, karena itu aku tidak bisa mendengar apa yang dia bicarakan.


Tapi yang pasti aku melihatnya menyeringai, benang berwarna emas bercahaya langsung mengelilinginya. Aku terkagum melihat penampilannya saat itu, sangat keren.


setelahnya dia melompat lalu menebas kepala monster serigala seperti menebas tahu, padahal monster itu sangat sulit di bunuh tapi Grand Duke melakukannya dengan mudah.


Mana berwarna emas itu, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat, tapi entah kenapa sangat untuk sulit mengingatnya.

__ADS_1


Setelah ketua monster mati, monster yang masih hidup langsung kabur. Pertarungannya berakhir sekarang.


__ADS_2