
"Lama tidak bertemu"
Ucap pria berkacamata itu, dia menatap pria yang bersandar di pohon besar dengan tatapan datar.
Sebelah mata pria itu tertutup rambut abu-abu gelap miliknya, dia menoleh menatap pria yang mengajaknya berbicara.
"Aku tidak menyangka jika itu benar-benar kau"
Ujarnya singkat, agak kurang ajar namun pria berkacamata itu memakluminya, tidak, mungkin dia sudah terbiasa.
"Cara bicara mu masih sama, Yula"
"Wajahmu juga masih menyebalkan, Elios"
Dua pria itu, Elios dan Yula saling memberikan tatapan dingin seolah mereka melakukan perang saraf.
"Kenapa kamu ke sini?"
Tanya Yula, pada akhirnya dia bertanya tujuan Elios.
"Kenapa aku harus mengatakannya?"
Jawab Elios singkat, mendengar jawaban itu membuat Yula kesal, dia mulai mengeluarkan kekuatannya aura naga miliknya untuk menekan Elios.
Melihatnya yang langsung tersulut emosi membuat Elios tertawa, menganggapnya lucu untuk dilihat.
'Naga baperan'
"Tak perlu sampai emosi begitu, tali kesabaranmu ternyata masih setipis jaring laba-laba. Sangat mudah membuatmu marah"
Mendengar ucapan dari Elios itu membuat Yula semakin kesal, rasanya ia ingin segera melakukan baku hantam dengan Elios sekarang.
"Jangan membuatnya sulit, cepat katakan apa tujuanmu."
Elios mengangkat bahu, lalu menjawabnya dengan wajah tak acuh.
"Aku tidak memiliki tujuan khusus, hanya menjadi dokter pribadi putri"
"Putri?"
"Benar"
"Nona muda yg bersama mu itu putri?"
"Tentu saja"
"Ha!"
Yula mendengus tak percaya, mana di sekelilingnya sudah hilang sekarang. Elios mendekat, setelah merasakan amarah Yula berkurang, dia duduk di atas rumput hijau yang tumbuh dekat pohon besar sedangkan Yula masih berdiri di sana.
Dia langsung menyandarkan tubuhnya di pohon besar itu.
"Kau tidak percaya kan?"
Yula mengangguk, dia benar-benar tak percaya dengan apa yang di katakan Elios.
"Tentu saja, harusnya dia mati saat menerima racun itu. Racun yang dia minum memiliki dosis tinggi, juga belum ada yang bisa menemukan penawar racunnya. Tapi itu berbeda jika dia di bantu oleh saintess"
Yula menjeda ucapannya sejenak, matanya menatap Elios yang terdiam.
"Dia, tidak di bantu saintess kan?"
Elios menggeleng.
"Tidak, beliau melakukan kesalahan pada saintess sebelum beliau minum racun itu. Jadi ini murni keajaiban"
"Tidak bisa ku percaya, padahal kesembuhannya hanya 0,1% saja tapi dia bisa bangun lagi"
Tatapan Yula yang awalnya tajam perlahan-lahan berubah menjadi lebih rileks, dia ikut duduk di samping Elios lalu kembali berbicara.
"Ku pikir perang besar benar-benar akan terjadi, ini mengejutkan"
__ADS_1
Elios mengangguk setuju, dia pun berpikir begitu.
Sambil menatap awan yang terhampar di langit biru, Elios membuka mulutnya.
"Putri Kasumi adalah kunci yang mengendalikan raja, jika beliau waktu itu mati maka raja pasti akan mengamuk dan meratakan semuanya. Sebenarnya sekarang pun raja memiliki rencana untuk itu, tapi syukurlah pola pikir putri Kasumi berubah saat terbangun dan beliau pun melarang raja untuk melakukan perang"
Yula menatap Elios dengan tatapan tak percaya, seperti tidak yakin dengan identitas orang di sebelahnya.
"Kau, apa kau benar-benar Elios Jovan?"
Ucapnya dengan nada yang ragu, Elios menatapnya kesal.
"Apa maksud mu?"
Ujar Elios singkat, sekarang bahkan dia memiliki kerutan di dahinya.
"Tidak. Hanya saja sikapmu agak berbeda, apakah tidak apa-apa kamu memberikan informasi ini padaku?"
"Tidak apa-apa, lagipula ini adalah fakta yang di ketahui para petinggi di kerajaan Cyrent. Ini bukanlah seperti informasi rahasia, karena itu aku memberitahukan ini padamu"
Yula menghembuskan nafas lega, matanya menatap langit yang cerah. Percakapan ini belum pernah terjadi lagi sejak beberapa ratus tahun yang lalu.
"Rasanya sudah lama sekali kita tidak berbicara seperti ini,"
Ucap Yula, dia jadi sedikit bernostalgia dan mengingat kejadian-kejadian yang sudah berlalu.
Elios mengangguk setuju, mereka memang sudah lama tidak saling menyapa, bahkan berkirim surat pun tidak.
"Kau benar"
Pertemuan ini seperti mimpi, dua rekan yang terpisah lama secara mengejutkan di pertemukan lagi oleh takdir.
Untuk pertama kalinya di bawah bayangan pohon yang rindang, kedua pria itu tertawa lepas.
"Hahaha, ini lucu karena nyata"
Seru Yula, ini adalah tawanya yang paling lepas sejak dia keluar dari demon realm.
"Tentu saja"
Hening sesat, mereka tak tahu lagi akan berbicara apa. Atau mungkin saking banyaknya pertanyaan dalam benak mereka, sampai tidak bisa memilih mana yang harus mereka katakan terlebih dahulu.
Yula terbatuk kecil, kemudian memulai pembicaraan.
"Jadi, putri itu adalah putri Kasumi, Kasumi Hansa Cyrano?"
Ucapnya singkat, Elios mengangguk pada pertanyaannya itu.
"Apa kamu tahu dia memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi kekuatan itu disegel?"
"Tentu saja, aku yang menyegel kekuatannya"
"Serius? Kapan?"
"Waktu beliau lahir, dia meminta bantuan padaku untuk menyegel kekuatan putrinya yang terlalu besar, akibatnya sekarang putri jadi terlalu lemah karena kekuatannya yang di tekan"
Yula terdiam sejenak, dia kembali menatap Elios yang duduk di sebelahnya.
"'dia' yang kamu maksud itu Rheea?"
Ucap Yula, sedikit berhati-hati. Membicarakan wanita itu adalah hal yang agak tabu bagi mereka.
Elios tersenyum pahit, kemudian mengangguk.
"Benar, dia Rheea"
"Kau, jangan bilang kau masih menyukainya?"
Tatapan Yula langsung berubah, dia menatap Elios dengan tatapan yang mengasihani.
"Sulit untuk melupakannya, sangat sulit"
__ADS_1
Yula memperbaiki posisi duduknya, dia menghembuskan nafas panjang melihat temannya masih dengan tatapan mengasihi.
menaruh perasaan pada sosok yang sudah berganti dunia dengannya, Yula berpikir jika itu konyol.
"Kau jadi terlihat menyedihkan,"
ucapnya, spontan dan enteng.
"Seekor kadal raksasa yang hidup lama tak pantas mengatakan itu, aku bahkan ragu kau pernah merasakan cinta pada seseorang"
"Tapi aku sekarang memiliki sesuatu seperti itu"
Elios tersentak, dia berdiri dan menatap Yula yang masih duduk.
"Kau serius?"
"Apa?"
"Maksudku kau memiliki seseorang yang kau cintai?"
"Tentu saja aku punya"
"Jangan bilang itu aku?"
Elios menatap Yula dengan tatapan jijik sambil melindungi tubuhnya sendiri dengan dua tangannya, sedangkan Yula mulai mengepalkan tinjunya, hendak melakukan baku hantam yang tadi sempat tertunda.
"Idiot! Tentu saja bukan, aku masih normal"
"Jadi siapa itu?"
Tanya Elios, kembali duduk meskipun dengan jarak yang agak jauh dari Yula. Dia mulai khawatir.
Yula mulai jengkel melihat tingkah Elios, dia jadi menganggap Elios semakin menyebalkan selama mereka tidak bertemu.
"Miya Ezar"
Elios mengerjap, mengingat pemilik nama yang di sebutkan sahabatnya.
"Nona pemilik mansion?"
Tanya Elios, memastikan sosok si pemilik nama itu.
Yula mengangguk, wajahnya memerah sekarang.
"Tapi dia manusia"
"Aku tahu itu, saat kami menikah nanti aku akan melakukan sumpah darah"
Mendengar jawaban dari Yula membuat Elios terkejut, sumpah darah adalah hal sakral dan bersifat mengikat jiwa pasangan yang melakukannya.
Jika Yula melakukan sumpah darah dengan Miya, maka saat Miya mati Yula juga akan mati.
"Aku sudah hidup lama, mati bersama orang yang ku cintai tidak buruk bukan?"
Yula berbicara dengan wajah yang tenang seolah dia sedang membicarakan orang lain, mengikat jiwa dengan seseorang adalah hal yang paling di benci naga.
Namun Yula dengan suka rela ingin melakukannya, karena dia tidak ingin di tinggalkan oleh orang yang dia cintai.
"Usia manusia itu pendek, aku harus menanggung resiko karena mencintai mereka yang seperti itu. Tapi aku tidak menyesal memiliki perasaan ini,"
Elios terdiam sejenak, dia menatap wajah sahabatnya yang terlihat damai.
"Tapi apakah kau yakin dia akan membalas perasan mu? Kau kan kadal raksasa tua bangka dan mungkin sedikit bau tanah?"
Suasana haru itu menghilang seketika karena ucapan Elios, tangan Yula kembali mengepal dengan mana yang keluar dari seluruh tubuhnya. Dia benar-benar ingin menghajarnya meski hanya sekali.
"Sialan kau Elios! Berhenti menyebut ku kadal raksasa tua! kau sendiri jomblo abadi, idiot!"
"Hahaha!"
Elios tertawa terbahak-bahak sambil menghindari setiap serangan Yula, permainan 'kejar-kejaran' adalah hal yang mereka sukai dulu.
__ADS_1
Tentu saja 'kejar-kejaran' ini berbeda dengan yang kalian tahu, karena ini juga mempertaruhkan nyawa.