
Irene ingrid.
Seorang wanita yang memiliki rambut pirang panjang indah, juga warna matanya yang berbeda membuatnya mudah di kenali dan diingat.
Sosok legendaris yang ada dalam sejarah, mengorbankan dirinya untuk rakyat yang kesulitan. Dia adalah salah satu pahlawan saat perang besar dengan demon realm terjadi. Juga, satu-satunya saintess yang paling kuat dan terakhir.
Jujur saja, Kahill sangat menyukai sosok Irene yang ada dalam buku itu. Dia di gambarkan sebagai sosok wanita kuat dan tangguh, juga memiliki hati yang baik.
Kasumi tidak menyangka, jika dia akan bertemu dengan pahlawan idolanya saat setelah dia mati.
Tatapannya dipenuhi kekaguman pada Irene sekarang, dan itu bertambah lebih banyak saat dia mengetahui jika Irene benar-benar sosok yang itu.
"Hmm, nona Kasumi? Apa ada yang salah?"
Kasumi tersentak saat menyadari jika dia sudah lama menatap Irene, dia benar-benar senang dan tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"S..saya tidak apa-apa nyonya!"
'nyonya?'
Sekarang Irene yang bingung, dia terkejut dengan perubahan sifat Kasumi meskipun dia sudah menduga ini akan terjadi.
Dia menopang dagu dengan tangannya, menatap Kasumi yang kembali memiliki tatapan kagum seperti bertemu dengan sang idola.
"Sebenarnya siapa saya di kehidupan anda sampai anda menatap saya seperti itu?"
Ujar Irene, bertanya dengan wajah yang tersenyum. Kasumi langsung menjawab dengan bangga.
"Anda adalah pahlawan, saintess terakhir dan juga sosok yang saya kagumi. Saya tidak menyangka akan bertemu dengan sosok itu secara langsung, ini mengejutkan sekaligus membuat saya bahagia!"
Jawab Kasumi, ekspresi wajahnya benar-benar tulus dia tidak berbohong saat mengatakan jika sosok Irene adalah idolanya.
Irene tertawa mendengar itu, dia merasa malu sekarang.
"Begitu? Jadi, bisa di bilang jiwa yang ada dalam tubuh putri Kasumi ini berasal dari masa depan. Apakah era modern? Sudah ada smartphone?"
"Itu sudah lebih maju dari zaman sekarang, tapi apa itu smartphone?"
Kasumi sedikit memiringkan kepalanya pada akhir ucapan Irene yang mengatakan smartphone, nama itu terdengar asing di telinganya.
Irene kembali tertawa, sepertinya dia sudah membuat Kasumi bingung dengan ucapannya tadi.
"Hahaha, sepertinya anda bukan berasal dari zaman itu. Jujur saja, Saya sedikit berharap tadi"
Wajah Irene menjadi agak sedih saat dia berbicara, Kasumi merasa tak enak karena zaman tempat dia tinggal dulu bukan zaman yang di maksud oleh Irene.
Dari percakapan itu, Kasumi jadi memikirkan satu fakta yang berasal dari buku yang dia baca tentang Irene.
__ADS_1
"Apa smartphone itu benda yang ada di dunia anda?"
Irene sedikit tersentak, kemudian menatap Kasumi dengan kagum.
"Anda bahkan tahu jika saya bukan dari dunia ini?"
Ucapnya sedikit terkejut, Kasumi mengangguk membenarkan.
"Di buku yang saya baca tertulis, jika anda muncul secara tiba-tiba. Jadi, beberapa pengarang menuliskan, anda turun dari langit sebagai utusan dewa dan berasal dari dunia lain. Awalnya saya pikir itu konyol, tapi ternyata itu nyata?"
"Yah, saya bukan berasal dari dunia ini. Dan smartphone itu adalah benda pipih yang memiliki banyak kegunaan, namun itu juga bisa menjadi candu yang berbahaya." Ucap Irene, menjelaskan tentang nama benda yang dia sebutkan tadi, Kasumi mengangguk paham, dia jadi penasaran dengan benda itu.
Irene menundukkan wajahnya, tatapannya yang ceria berubah menjadi agak sedih.
"Meskipun kehidupan ku di sana buruk, tapi aku sedikit merindukan benda itu"
Ucapnya singkat, Kasumi terdiam, tak tahu harus mengatakan apa.
Hening sesaat, tak ada yang memulai pembicaraan sampai akhirnya Irene kembali berbicara, dia kembali ceria lagi.
"Nah! Karena saya sudah tahu tentang rahasia anda dan anda juga tahu rahasia saya, jadi mulai sekarang kita berteman. Bicaralah dengan santai mulai sekarang, saya pun akan melakukan hal yang sama"
Ucapnya sambil menepuk tangan, Kasumi terlihat masih agak ragu.
"Aku tidak akan mengatakan rahasia ini pada siapapun, dan fakta jika aku berasal dari dunia lain belum di ketahui oleh orang lain, hanya ayah, kakak, Albert dan temanku saja yang tahu"
"Teman? Jadi, maksudnya ada orang lain yang tahu itu?"
Irene mengangguk singkat.
"Benar, dia juga berasal dari dunia lain seperti saya. Meskipun negara dan zaman kami berbeda, tapi dia mengerti tentang dunia ku"
"Siapa itu?"
ucap Kasumi dengan wajah penasaran, Irene meletakan jari telunjuknya di depan bibir, kemudian tersenyum nakal.
"Rahasia,"
Ucapnya singkat yang membuat Kasumi sedikit kecewa, dia sangat penasaran tentang siapa sosok yang di maksud Irene.
"Itu mengecewakan"
"Hahaha, kamu juga akan bertemu dengan dia nanti. Itu karena kalian terhubung, meskipun sekarang sudah tidak"
Kasumi mengernyitkan dahinya, dia tak paham dengan ucapan itu, Namun kelihatannya Irene tidak ingin menghilangkan rasa penasaran milik Kasumi sekarang, sebaliknya dia malah kembali tersenyum padanya.
Wajah Irene seakan tidak pernah lepas dari senyuman, dia sangat suka tersenyum.
__ADS_1
"Jadi sekarang kita sudah berteman, siapa namamu dulu?"
Ucap Irene dengan ramah, dia menjulurkan tangannya kearah Kasumi yang ada di sebelahnya.
Kasumi mendengus pelan, kemudian menyambut tangan Irene dengan baik.
"Kahill, Kahill Zaflan Ezar. Putra semata wayang Duke Ezar, umur ku 26 tahun sebelum meninggal karena racun dan bertransmigrasi ke tubuh putri Kasumi setelah kami melakukan perjanjian"
Ujar Kasumi jujur, dia mengatakan semuanya tentang dirinya di masa lalu dan alasan dia bisa masuk ke dalam tubuh Kasumi.
Irene pun mulai mengatakan tentang dirinya.
"Namaku Irene, Irene Dwi Mega Dira. Aku tidak tahu apa aku punya saudara atau tidak, usia ku 20 tahun saat meninggal di sungai dekat universitas. Dan aku di berikan tanggung jawab oleh dewa ku untuk hidup di sini sebagai saintess"
"Di sungai? Apakah kamu bunuh diri?"
"Aku di dorong oleh orang yang merundung ku,"
Irene menjawabnya dengan santai seolah-olah dia membicarakan tentang orang lain, Kasumi menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
'Kehidupannya dulu pasti berat'
Hanya itu yang bisa dia simpulkan dari perkenalan Irene, untuk menghiburnya Kasumi pun memeluk Irene pelan.
"Kamu sudah bekerja keras, disini tidak ada yang akan merundung mu lagi. Jikalau ada pun, biar aku aja yang membereskan mereka"
Ucap Kasumi singkat, mendengar itu membuat Irene bersyukur, dia mendapatkan teman baru yang berharga lagi.
"Terima kasih, itu sangat membantuku"
Setelah itu mereka membicarakan hal lain, sampai berjam-jam kemudian pembicaraan itu tak berhenti-henti hingga akhirnya Irene menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 12 malam.
"Oh! Ini sudah larut malam bagaimana kalau kita-"
Brak!
Sebelum Irene sempat melanjutkan ucapannya, pintu di dobrak oleh seseorang. Di sana terlihat seorang pria dengan pakaian formal menatap Irene dengan tatapan khawatir, matanya beralih ke arah Kasumi yang duduk di sebelah Irene namun tatapannya saat menatap Kasumi sangat dingin.
Pria dengan rambut perak dan mata ungu itu berjalan pelan ke arah Irene yang masih terkejut, dia duduk di depan Irene kemudian menyambar tangannya dan mulai berbicara.
"Kamu tidak apa-apa?"
Ucapnya pelan, matanya kembali menatap sinis ke arah Kasumi. Hal itu membuat Kasumi terkejut, Elios dan Alexis pun ikut masuk ke dalam ruangan itu untuk melindungi Kasumi dari pria berambut perak.
Irene menghela nafas panjang, dia tidak menyangka jika pria ini akan merusak pintu. Lagi.
Irene menepuk wajahnya, kemudian bertanya kepada pria itu.
__ADS_1
"Suamiku, kenapa kamu mendobrak pintu? lagi?"