
Rambut panjang berwarna coklat milik Kasumi, terlihat berkilau saat ia berjalan di alun-alun kota yang ada di dunia tengah. Tak lupa dengan matanya yang imut dengan warna senada seperti rambutnya, dia mengubah warna matanya lagi dengan sihir.
Tangan kecilnya sedang menggandeng tangan Kairo yang berada di sebelahnya.
Kairo menutup kepalanya dengan jubah, ia bilang akan merepotkan jika wajahnya terlihat. Dari jauh mereka terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis dan bahagia.
Namun, sebenarnya Kasumi merasa kesal karena ia melakukan itu.
"Kenapa saya harus menjadi anak anda!?"
Kasumi bergumam pelan sehingga hanya Kairo yang dapat mendengarnya.
"Kita sudah setuju untuk melakukan ini, karena kamu anak-anak, jadi peran ayah dan anak sangat cocok untuk penyamaran. Senyum lah, jika kau terus cemberut saat bersama ku nanti orang-orang bisa salah paham"
Bukannya menuruti apa yang Kairo katakan, Kasumi malah tersenyum jahat karena ia memikirkan satu ide di kepalanya.
"Ide bagus, saya akan terus cemberut dan menampilkan ekspresi takut sehingga anda akan di anggap sebagai penculik anak,"
Kasumi mengatakannya dengan nada penuh kemenangan, ia akan merasa sangat puas jika Kairo menerima kesalahpahaman dari warga yang ada di sana.
"Coba lakukan itu dan aku akan menghilanhkan jam istirahat mu saat latihan,"
Kasumi tersentak, ia menatap Kairo dengan tatapan tak percaya.
"Itu tak adil tuan!"
Kairo melirik Kasumi sejenak, ia kemudian menghembuskan nafas pendek.
"Itu adil, sudah ku bilang bukan jika kamu mengumpat padaku lagi maka aku akan menghilangkan waktu istirahat mu,"
Kairo menjeda ucapannya sejenak, ia melihat wajah Kasumi yang sekarang terdiam dan panik.
"Aku tahu kau mengumpat ku meski itu di dalam hati, iya kan?"
__ADS_1
"A..anda tahu?"
"Tentu saja tidak, wajah mu mengatakannya sendiri. Aku bisa tahu tanpa mencari tahu, bodoh."
Kasumi semakin merasa kesal pada Kairo, apalagi ia memanggilnya bodoh. Setelah itu Kasumi pun memalingkan wajahnya dari Kairo. Menurut Kasumi rasanya semakin hari Kairo semakin menyebalkan, ia ingin segera mengakhiri sesi latihannya sehingga ia tak bertemu dengan Kairo lagi.
Mereka terus berjalan dan memerankan peran sebagai ayah dan anak yang sedang jalan-jalan santai menuju kuil, sesekali ada wanita yang menatap Kairo dengan kagum.
Sepertinya mata mereka masih bisa melihat ketampanan wajah Kairo meski ia menutupinya dengan tudung jubah sekalipun, Kasumi tak mempedulikan itu sama seperti Kairo dan mereka pun melanjutkan perjalanan sampai tibalah mereka di depan pintu kuil.
Ada beberapa orang yang menjaga kuil itu, namun hanya satu orang saja yang menjaga pintu depan sekarang. Kairo menghampirinya dan memasang wajah yang ramah. Melihat itu membuat Kasumi heran, kemana wajah datar yang selalu ia lihat? Begitulah pikiran Kasumi sekarang.
"Maaf apa saintess ada di dalam? Kami memiliki janji dengannya."
Kairo bertanya dengan nada yang sopan, namun penjaga yang di depannya malah memiliki wajah tak suka ketika melihatnya.
mata penjaga itu menatap penampilan Kairo dan Kasumi dari atas sampai bawah, sebelum ia menjawab pertanyaannya.
Ucap penjaga itu dengan tatapan yang merendahkan, melihat ia di rendahkan oleh orang lain apalagi manusia membuat darah Kairo naik sampai ke tingkat maksimum. Yang artinya ia merasa sangat kesal.
Benang kesabaran miliknya tak begitu panjang dan kuat, sehingga sedikit saja ada tindakan yang tak dia sukai, Kairo pasti merasa ingin membunuh atau menghilangkan apa yang menyebabkan dia tak suka.
Dan sekarang dia ingin membunuh penjaga yang kurang ajar padanya, hanya karena dia memakai pakaian biasa saja yang tanpa aksesoris apapun.
Kasumi menyadari niat Kairo di balik senyumannya yang ramah, ia menarik bajunya untuk menarik perhatian Kairo.
"Anda tak boleh membunuh di sini!,"
Kasumi berbicara sangat pelan, iya sih Kasumi sudah mengatakannya. Tapi, sepertinya Kairo tak dapat menuruti permintaan nya itu. Terlihat jelas dari pedang aura yang Kairo keluarkan diam-diam di belakangnya.
'apa akan ada korban di depan mata ku sekarang!? Siapapun tolonglah hentikan tuan Duke!'
"Putri? Ternyata anda sudah sampai"
__ADS_1
Kasumi menoleh ke arah orang yang mendekati mereka, wajahnya familiar di mata Kasumi. Ia berusaha mengenali sosok itu.
"Putra mahkota?"
"Maaf, saya terlambat menyambut Anda dan tuan Duke juga"
Kairo hanya diam saat ia mendengar putra mahkota Adrian berbicara, dia tak bisa menyembunyikan tatapan tak suka dan kesal yang dia miliki sekarang sedangkan si penjaga kuil yang tadi langsung tersentak saat mendengar status orang-orang yang tadi dia tolak.
Seolah tahu semua alasan keterlambatan Kasumi dan Kairo masuk kuil, Adrian menatap penjaga kuil itu dengan tatapan yang dingin.
"Mereka tamu penting ku, mengapa kau tak mengizinkannya?"
Si penjaga kuil itu langsung berlutut di depan Adrian, ia merasa takut sekarang karena sudah melakukan kesalahan yang besar.
Ia tak berpikir jika Kairo dan Kasumi adalah tamu putra mahkota, karena pakaian yang mereka gunakan sangat sederhana untuk tamu seorang bangsawan kelas atas jadi dia pun dengan enteng menolak permintaan mereka bertemu dengan saintess.
"M..maafkan saya!"
Ia meminta maaf sambil menundukkan kepalanya, tak berani menatap Adrian yang berdiri tepat di depannya.
Adrian hendak berbicara lagi, namun telinganya menangkap suara seseorang mengeluarkan pedang dari sarungnya dan itu adalah Kairo.
"Biar ku bunuh saja dia, jika kau kehilangan satu penjaga kuil tak apa-apa kan?"
Sontak wajah Kasumi dan penjaga kuil itu langsung terkejut, Kairo tak terlihat bercanda. Dia jelas sekali serius dengan ucapannya itu.
'penjaga kuil, ku harap kamu bereinkarnasi lagi menjadi orang yang tak memandang seseorang dari penampilan luarnya saja, aku berdoa dengan tulus untuk mu'
Kasumi sudah berdoa untuk penjaga kuil. dia yakin, sekarang ini akan ada adegan pembunuhan di depan matanya.
Maaf banget baru bisa up satu eps sekarang:( tugas ku makin numpuk dari hari ke hariT-T
Terimakasih sudah baca, like dan komen>//<
__ADS_1