
Wajah pria itu, Albert, menatap Irene dengan khawatir. Dia duduk di sebelah Irene, kemudian membuka mulutnya.
"Aku khawatir, karena kamu tak kunjung keluar dari ruang tengah."
Ucapnya, menjelaskan alasan dia masuk secara tiba-tiba ke dalam.
"Karena itu kamu sampai menggunakan seluruh kekuatan mu untuk membuka pintunya?"
Balas Irene, dia menunjuk ke arah pintu yang rusak. Albert menatap pintu itu, nasibnya tidak baik karena bertemu dengan Albert sekarang.
Pria berambut perak itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia pun kembali beralasan.
"A..aku tidak menggunakan semua kekuatan ku, itu hanya seperempat saja, tidak, bahkan itu tidak sampai 3% kekuatan ku!"
Ucapnya, terlihat seperti seorang anak yang sedang membela dirinya sendiri. Irene sedikit tertawa, dia tahu jika suaminya itu hanya takut dia terluka saja.
Karena itu, terkadang dia bersikap berlebihan.
"Aku baik-baik saja,"
Ujar Irene singkat, itu memang kebenarannya.
"Apa kamu yakin?"
Albert merasa ragu, itu karena Irene terkadang berbohong untuk menutupi masalahnya. Irene menahan nafasnya sejenak, kemudian mendekatkan wajahnya ke pipi kanan Albert lalu mengecupnya pelan.
Alexis mengalihkan pandangannya, sedangkan Kasumi tidak bisa melihat apa yang terjadi karena matanya di tutup oleh tangan besar Elios dengan cepat.
Wajah Albert menjadi merah padam, dia menatap istrinya yang tersenyum nakal.
"Apa aku harus melakukan ini untuk meyakinkan mu?"
Ucapnya dengan wajah kemenangan, jika sudah seperti ini Albert tidak bisa melakukan apa-apa. Ia menenggelamkan kepalanya di pelukan Irene, kemudian bergumam pelan.
"Kamu curang"
Ujarnya singkat, dia jelas merasa telah di permainkan oleh istrinya sendiri. Irene tertawa lagi, dia menyukai sisi suaminya yang seperti ini, menurutnya itu imut.
"Aku tidak begitu~"
Suasana hangat itu berlangsung beberapa menit, sampai kemudian Kasumi membuka suaranya.
"Humm, apa yang terjadi? Kenapa paman menutup mataku?"
Tanya Kasumi heran, dia masih tidak tahu alasan kenapa Elios menutup matanya tiba-tiba tadi, tapi yang pasti sesuatu terjadi pada Albert dan Irene.
"Pemandangan tadi belum cocok untuk anda lihat"
"Kenapa? Apa yang terjadi tadi?"
"Anda tidak perlu tahu karena anda masih belum dewasa"
Dahi Kasumi mengkerut, dia kesal mendengar ucapan Elios.
'usia ku 26 tahu! Terus, aku juga hampir dewasa di sini'
"Aku akan dewasa dua tahun lagi!"
Seru Kasumi sebal, dia merasa tidak adil sambil melepaskan tangan Elios yang menutupi matanya.
"Maka anda harus menunggu sampai waktu itu tiba"
Kasumi menatap Elios kesal, dia berpikir lebih baik Elios menjadi pendiam saja seperti Alexis.
'Harusnya aku tidak minta pada raja untuk pergi dengan pria ini!'
Dia mulai menyesali keputusannya itu.
"Sekarang sudah malam, bagaimana jika kalian menginap? Ada banyak kamar yang kosong,"
Ujar Irene, dia mencairkan suasana.
__ADS_1
"Apakah urusan anda dan putri sudah selesai?"
Tanya Elios dengan hati-hati, Irene mengangguk sebagai jawaban.
"Iya, bahkan sekarang kami sudah berteman!"
Ujar Irene dengan wajah yang gembira. Elios menghela nafas lega, dia bersyukur karena Kasumi bisa menyelesaikan masalah yang dia perbuat. Ini pertama kalinya dia melakukan itu.
"Berteman dengan putri di demon realm ya? Kamu menemukan koneksi yang bagus, ini akan menguntungkan kedua belah pihak"
Ucap Albert, dia sudah duduk kembali di sebelah Irene.
"Terima kasih nona Irene dan tuan Albert, saya harap kita bisa menjalin kerja sama yang baik di masa depan"
Percakapan itu berakhir, Kasumi di arahkan ke kamar untuknya tidur. Tapi sebelum itu dia merasakan Irene menarik tangannya, sambil tersenyum cerah.
"Aku akan tidur dengan putri Kasumi sekarang, Albert kamu tidur sendiri dulu oke?"
Ucapan Irene membuat Albert tersentak kaget, seperti melihat petir di siang bolong.
"I..Irene? Apa kamu marah padaku?"
Irene menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak marah, ah! Aku akan tidur dengan putri Kasumi selama tiga hari! Jadi, selama itu kamu tidur sendiri saja"
Albert tak bisa berkata-kata lagi, dia yakin jika Irene marah padanya sekarang, perlakuan dingin Irene tidak bisa dia terima.
Elios dan Alexis hanya menonton percakapan antara pasutri itu, kemudian mereka pun mulai berjalan keluar untuk ke arah kamar yang akan mereka tempati, meninggalkan Albert yang masih syok di dalam ruang tengah karena ucapan Irene barusan.
Irene menarik Kasumi ke luar, dia bersenandung kecil karena senang memiliki teman baru.
Matanya menatap Kahu dan sang adik yang masih diam di luar, rupanya mereka belum tidur.
"Kahu, tolong bantu Albert. Dia terlalu terkejut sekarang"
Ucap Irene, meminta tolong pada Kahu, dia tidak tahu apa yang terjadi. Kahu mengangguk, kemudian masuk ke ruang tengah dan membantu tuannya sesuai dengan apa yang di katakan Irene.
Kahu bertanya pelan, lalu membantu Albert berdiri. Kondisinya terlihat mengkhawatirkan, seperti di tinggal mati oleh seseorang padahal dia tidak di tinggal mati oleh siapapun.
"Harusnya aku tidak mendobrak pintu"
"Harusnya aku tidak mendobrak pintu"
"Harusnya aku tidak mendobrak pintu"
"Harusnya aku tidak mendobrak pintu"
"Harusnya aku tidak mendobrak pintu"
Kahu menghela nafas panjang, tuannya sedang menyesali apa yang dia lakukan tadi. Dia menepuk pundak Albert sebagai bentuk perhatian, kekuatan suci pun tidak bisa di gunakan jika seperti ini.
"Hmm, tenang saja tuan. Nona Irene tidak akan marah terlalu lama"
Ucap Kahu, dia menatap adiknya yang masuk lalu menghela nafas panjang. Masalah ini akan selesai dengan berjalannya waktu.
Di dalam kamar, Irene dan Kasumi sedang sibuk mengganti pakaiannya. Kasumi memakai baju tidur yang dia bawa dari kerajaan, begitu pula dengan Irene.
Setelah selesai Irene langsung berbaring di kasurnya, dia sudah lelah dan ingin segera tidur.
Sedangkan Kasumi terdiam, berdiri di sebelah kasur yang luas dan hanya menatap lantai.
"Ada apa? Kasur ini cukup untuk kita berdua kok"
Ujar Irene, dia mendekat ke arah Kasumi.
"K..kau tahu kan aku dulu itu pria!?"
Seru Kasumi, dia menaikkan nada bicaranya. Irene sedikit memiringkan kepalanya, ia tidak paham maksud ucapan Kasumi.
"Terus?"
__ADS_1
Ucapnya, kembali bertanya. Wajah Kasumi semakin merah sekarang, dia pun menjawab dengan gugup.
"Kenapa kamu mengajak ku tidur bareng!? Bagaimana jika aku melakukan hal aneh padamu, bagaimanapun jiwa ku masih pria tahu!"
Irene mengucapkan 'ah' kemudian paham dengan situasinya sekarang, dia tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya.
"Jangan khawatir, lagipula jiwa mu hampir menjadi perempuan seutuhnya. Kamu hanya perlu sedikit bantuan seseorang dan waktu untuk itu, lalu tidur bersama dengan ku tidak akan membuat mu terangsang kok"
Jelas Irene singkat, dia menarik Kasumi naik ke atas kasur kemudian menyelimutinya dengan selimut tebal.
"Bantuan seseorang, itu siapa?"
"Kamu akan tahu nanti, nah ayo tidur!"
Kasumi cemberut, terlalu banyak rahasia yang tidak Irene beritahu padanya.
Sambil tidur bersebelahan, Irene menepuk-nepuk kepala Kasumi untuk membuatnya tidur.
Kasumi hanya diam dan menerima perlakuan seperti anak kecil itu, anehnya dia merasa nyaman.
'Padahal umur Kasumi bukan 10 tahun!'
Sambil menatap langit-langit kamar, Irene bersenandung.
"Puk puk puk, tidurlah putri kecil. Pangeran dengan kuda putih akan datang padamu, menyelamatkan mu dari naga yang jahat"
Irene menyanyikan lagu yang tak Kasumi tahu, meskipun liriknya terdengar lucu tapi Irene menyanyikannya dengan baik dan menjadikan itu sebagai Nina Bobo.
"Naga jahat akan terbunuh dengan kejam, menampilkan banyak darah merah yang segar juga bau amis. Sungai darah tercipta lalu-"
"Berhenti!"
Irene menghentikannya nyanyiannya, dia menatap Kasumi yang terbangun dengan tatapan heran.
"Ada apa?"
Ucapnya polos, Kasumi menepuk wajahnya tak percaya.
"Apakah itu benar-benar lagu pengantar tidur?"
"Tentu saja"
"Itu menyeramkan! Dan brutal, kau tahu itu?"
Irene terdiam, merenung sejenak sambil mengingat setiap bait lirik lagu yang dia nyanyikan tadi.
Wajahnya yang polos mengerjap, sepertinya dia baru menyadarinya.
"Kau benar, itu menakutkan"
Kasumi menghela nafasnya, bersyukur. Dia pikir Irene sudah tak waras, karena menyanyikan lagu seperti itu untuk pengantar tidur.
"Bagaimana jika aku menyanyikan lagu pengantar tidur yang berasal dari salah satu negara di dunia ku?"
"Apakah itu seram?"
Irene menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tidak sama sekali, meskipun lagu itu kadang di kaitkan dengan hal mistis seperti pemanggilan hantu, tapi liriknya tidak seram kok!"
Kasumi membeku di tempat, dia tidak percaya hantu dan saat ini dia adalah demon, jadi buat apa takut hantu? Kasumi hanya ragu dengan lagu yang akan Irene nyanyikan.
"Akan ku mulai, jadi kamu tidurlah kembali"
Irene menidurkan Kasumi kembali ke tempatnya, dia ikut tidur di sebelah Kasumi kemudian mulai menyanyikan lagu pengantar tidur yang lain.
Dia menyanyikan lagu Nina Bobo.
Dengan di iringi oleh suara Irene yang merdu, Kasumi perlahan menutup matanya. Lagu yang ini terdengar lebih bagus, meskipun katanya bisa memanggil hantu dan Kasumi tidak paham bahasa apa yang Irene gunakan.
Malam itu Kasumi tidur nyenyak dengan Irene di kamarnya, sampai ia lupa untuk bangun pagi dan malah tidur seharian.
__ADS_1