
Seorang pria tampan dengan pakaian ksatria terlihat berjalan pelan sambil menggendong seorang remaja wanita di tangannya, dia menggendongnya dengan hati-hati menggunakan gaya seperti menggendong pengantin wanita.
Beberapa orang yang melihat mereka tersipu dan tersenyum cerah, mereka beranggapan jika itu adalah pemandangan yang bagus. Mereka sangat mirip seperti sepasang kekasih yang harmonis.
Wanita di gendongan pria itu tertidur lelap, saking lelapnya ia bahkan tak merasakan tatapan yang dari tadi di tunjukkan padanya. Para wanita di jalan itu merasa iri dengan sang wanita dalam pelukan, mereka pun ingin merasakan itu.
Apalagi ksatria yang menggendongnya cukup tampan, itu adalah harapan semua wanita.
Meskipun dalam kerumunan orang, mereka tetap menarik perhatian.
Berbeda dengan pandangan orang-orang yang menatap mereka seperti kekasih, pria itu sama sekali tidak terusik dan hanya fokus menggendong wanita di tangannya.
Sesekali dia menatap wanita itu, memastikan jika dia masih terlelap dalam mimpinya, setelah itu ia pun kembali fokus ke jalan.
Kakinya berjalan dengan lancar menuju arah yang dia ingat, dia terus berjalan di hari yang dingin itu sampai akhirnya dia bertemu dengan pria lainnya yang mendekat.
Pria itu memakai kacamata dan pakaian tebal khas musim dingin, dia menatap wanita yang di gendong si pria kemudian berbicara pelan.
"Tolong berikan putri Kasumi pada ku"
Ucapnya, meminta hak untuk menggendong Kasumi. Pria itu, Alexis langsung memberikan tubuh Kasumi yang tertidur pada Elios.
Dia menerimanya, kemudian berjalan menuju mansion untuk menidurkan Kasumi di kamarnya.
Alexis ikut berjalan di belakang Elios, tugasnya sekarang adalah mengawal mereka berdua yang berjalan di depan.
Saat berjalan Elios melindungi Kasumi dari butiran salju yang jatuh, salju yang harusnya mendarat di tubuh Kasumi jadi mendarat di punggung Elios.
Dia tidak keberatan dengan hal itu, meskipun menyebalkan tapi dia tetap melakukannya.
Sesampainya di depan gerbang mansion mereka langsung di persilahkan untuk masuk, Elios berjalan menuju kamar yang di siapkan untuk Kasumi.
Melihat mantel yang di gunakan Elios basah membuat Alexis tak enak, dia pun menawarkan bantuannya pada Elios saat itu.
"Tuan Elios, saya akan mengeringkan mantel anda"
Ucapnya pelan, Elios mengangguk lalu membuat Alexis bisa mengambil mantelnya.
Alexis izin untuk pergi sehingga ia meninggalkan Kasumi dan Elios sementara, Elios masuk ke dalam kamar Kasumi lalu menidurkannya di atas kasur sambil sedikit menaikkan selimut di tubuh Kasumi.
Tak lupa dia pun meminta pelayan untuk melepaskan pakaian luar Kasumi yang basah, dia tidak bisa membiarkan Kasumi tidur dalam keadaan baju yang basah karena salju mencair.
Keheningan terjadi di dalam kamar itu, Elios belum keluar dari sana. Dia masih berdiri sambil menatap wajah Kasumi yang tertidur lelap.
Mata merah jambu miliknya, memperhatikan wajah Kasumi. Tanpa sadar ia sedikit mendekatkan dirinya ke arah Kasumi yang tertidur, jarinya mengambil beberapa helai rambut coklat milik Kasumi.
Terlihat tatapan kerinduan dalam bola mata merah jambu miliknya itu, dia melihat sosok lain dari wajah Kasumi yang ada di depannya.
"Rheea"
Ia mengucapkan nama seseorang dengan lembut, dalam ucapannya terdapat perasaan yang mendalam. Dia bahkan agak berat untuk mengatakan nama itu.
__ADS_1
"Kalian sangat mirip, sampai-sampai bisa membuat ku gila. Akan lebih baik jika putri memiliki wajah yang mirip dengan raja, dan bukan kamu"
Mata yang menatap Kasumi semakin sayu, dia mengigit bibir bagian bawahnya. Cairan berwarna merah tua pun sedikit terlihat, itu berdarah.
Jari Elios masih memegang sebagian rambut Kasumi, dia mendekatkan rambut itu di bibirnya kemudian menciumnya singkat.
Darah di bibir Elios sedikit menempel ke rambut Kasumi, namun dia tidak membersihkan itu dan membiarkannya di sana.
Dia sedikit tersenyum, merasa jika dia seperti menjadi gila karena membandingkan Kasumi dengan orang yang sudah tiada.
"Andai saja mata itu berwarna biru cerah dan bukan merah tua, pasti akan sempurna"
Elios selalu memikirkan itu setiap melihat warna mata Kasumi yang merah tua khas klan demon.
Selama ini Elios melihat Kasumi sebagai orang lain, tidak ada 'putri Kasumi' dalam ingatannya.
Dia melihatnya sebagai orang yang memiliki wajah mirip seperti wanita yang dia cintai, hanya itu.
Elios membalikkan tubuhnya kemudian pergi meninggalkan Kasumi yang tertidur.
Hening menutupi kamar itu, suara langkah kaki Elios sudah menjauh dan perlahan-lahan menghilang dari sana.
Kasumi terbangun, dia langsung menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu terdiam.
Tangannya meraih rambut yang Elios cium, di sana ada sedikit darah yang masih segar. Dia bisa mencium bau darah itu, meskipun hanya sedikit.
"Siapa Rheea?"
Ucap Kasumi pelan, melihat ekspresi Elios tadi membuatnya penasaran dengan sosok Rheea.
Untuk orang yang seperti itu memiliki ekspresi rindu dan kasih sayang seperti tadi, cukup membuat Kasumi penasaran.
Kasumi kembali menyebutkan nama yang Elios katakan, kemudian sosok lukisan wanita yang ada dalam ingatan Kasumi pun muncul.
"Ibu Kasumi. Elios suka ibu Kasumi?"
Kesimpulan itu dia dapatkan, Kasumi terdiam saat memikirkannya.
'Ini kisah cinta yang cukup rumit'
Dia berpikir untuk melupakannya saja.
...*****...
"Kamu bilang aku harus jadi perwakilan dari kerajaan Cyrent untuk memperbaharui perjanjian?"
Ucap Kasumi sambil menatap Irene yang mengangguk, sekarang ini mereka sedang duduk di atas ranjang dalam kamar Irene.
Sesuai yang Irene katakan kemarin, dia ingin tidur bareng dengan Kasumi selama tiga hari.
Meskipun Kasumi menyetujui itu, namun dia agak kasihan saat melihat Albert yang lesu karena keputusan Irene.
__ADS_1
"Benar, tadi raja mengatakan untuk melakukan itu. Upacara pembaharuan perjanjian akan di adakan dua bulan lagi, selama itu kamu bisa pulang dulu ke demon realm kemudian kembali ke sini dengan perwakilan lainnya"
Irene menjelaskan tentang isi pertemuannya dengan raja kerajaan Shuri tadi bersama Albert, mereka membahas tentang pembaharuan perjanjian antara demon realm dan dunia manusia.
Perjanjian itu berupa teks yang mengandung sihir, jika ada yang mengingkari isi perjanjian maka dia akan menanggung resiko dari pelanggaran.
Resiko itu berupa kutukan yang tidak bisa di hilangkan.
"Akan ada tiga perwakilan dari demon realm dan tiga dari masing-masing kerajaan besar di empat benua, aku harap salah satu dari demon realm adalah kamu"
"Apa yang harus aku lakukan nanti?"
Kasumi kembali bertanya, dia benar-benar tak tahu tentang jalan acara itu. Dalam ingatan Kasumi pun tak ada tentang perjanjian, wajar saja itu karena dulu Kasumi tidak pernah keluar dari istananya karena itu dia tak tahu tentang berita di luar demon realm.
"Kamu akan tahu nanti, aku tidak bisa memberitahukan itu sekarang karena tahun ini akan ada konsep yang berbeda, pokoknya aku akan selalu membantu mu. Ingat itu"
Kasumi mengangguk paham, ia memutuskan untuk bersabar dan menunggu saat acara itu tiba.
Memiliki pengalaman baru juga berharga, meskipun dia ingin diam saja di kerajaan untuk menikmati masa damai miliknya tapi melakukan satu hal lagi tak masalah.
"Aku akan mengatakan ini pada raja nanti"
Irene mengerjap, melihat hal itu membuat Kasumi bertanya.
"Ada apa?"
"Kenapa kamu memanggil ayah mu raja?"
Kasumi tersentak, dia agak terkejut karena Irene bertanya itu. Tangannya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal, kemudian menjawab pertanyaan Irene.
"Aku tidak nyaman memanggil beliau ayah, lagipula beliau bukan ayah ku yang sebenarnya dan hanya ayah Kasumi saja"
Jelas Kasumi dengan agak canggung, Irene tersenyum kemudian mengelus kepala Kasumi pelan.
Kasumi hanya diam saat Irene melakukan itu, jujur saja dia suka saat Irene yang melakukannya. Seperti memiliki kakak perempuan yang sangat dia inginkan, karena menjadi anak tunggal tidak sebagus itu.
"Panggil saja beliau ayah, sekarang kamu sudah jadi Kasumi dan beliau adalah ayah mu. Mungkin dulu kamu tak memiliki hubungan yang bagus dengan seorang ayah, namun tidak ada salahnya bukan jika sekarang kamu memilikinya? Aku pun begitu, tidak apa-apa anggap semua orang yang ada di sekitar mu sebagai keluarga sesungguhnya."
Mendengar ucapan Irene membuat Kasumi tersadar, sekarang ini dia bukanlah Kahill tapi Kasumi.
'Sekarang aku adalah Kasumi'
Dia sedikit menunduk, merenungkan apa yang di ucapkan Irene. Selama hampir satu bulan dia berada dalam tubuh Kasumi, Kahill tidak pernah menganggap dirinya sebagai Kasumi.
Dia belum bisa membuang semua hal tentang masa lalunya, karena menjadi wanita saat dirinya seorang pria adalah hal yang tak pernah di pikirkan oleh Kahill.
"Kahill Zaflan Ezar, buanglah semua kenangan buruk di masa lalu mu. Terima kehidupan mu yang sekarang, itu mungkin sulit karena aku yakin kamu pun memiliki kenangan baik dan seseorang yang berharga di kehidupan mu yang dulu.
Tapi, sekarang itu hanya jadi masa lalu. Nikmatilah kehidupan mu yang sekarang, jangan terpaku dengan masa lalu"
Irene mengatakan itu dengan tulus, Kasumi bisa merasakannya. Dia memalingkan wajahnya dari Irene, bingung menjawab apa.
__ADS_1
"Aku akan melakukan itu perlahan, ini agak sulit bagiku"
Siapapun akan kesulitan saat harus hidup dengan gender yang berbeda, Irene paham itu dan mengangguk singkat. Ia memeluk Kasumi erat, menenangkan adik perempuan barunya.