
Aku mendapat kabar angin dari segelintir orang-orang, bahwa, ada berita heboh, dan menggemparkan, masyarakat luas, tentang konspirasi yang di lakukan Kerajaan Wangsa Tunggal dan Nasta Tunggal, dua kerajaan itu, tidak mau, menyerah, dan melakukan siasat jahat, untuk berencana menghancurkan Kerajaan Nirwana, tentu saja aku sangat khawatir akan keselamatan ayahanda dan ibundanku. oleh karena itu aku, akan pasang badan untuk menghalau serangan-serangan yang akan di lancarkan mereka, untuk membinasakan kedigdayaan wilayah kekuasaan ayahandaku tercinta.
Aku pun meminta ijin kepada ki lingga, untuk membantu akan persoalan yang aku hadapi,
Terus terang saja, hatiku gelisah dan harap-harap cemas.
"Wahai raden wira muridku, ada
Apa gerangan, kau seperti, nya
Sedang bermuram durja"
"Salam bakti hormatku, guru,
sambil, berlutut di hadapanya"
"Bangunlah raden wira"
"Rupanya kau sedang banyak,
memikirkan masalah"
Dan tentu saja aku, bercerita, padanya, akan semua keluh kesah yang sedang aku alami sekarang ini, setelah semua unek-unek ku keluar, ki lingga memberikan sebuah wejangan agar aku tak gegabah dalam bertindak, dia menyarankan,
Aku hanya berjaga-jaga saja di sekitar wilayah kekuasaan Ayahandaku.
Dan tentu saja itu masuk akal, Yang aku lakukan bukan melawan tapi bertahan dan memukul mundur para pasukan prajurit kerajaan Nasta tunggal dan Wangsa tunggal, ini bukan pekerjaan yang mudah bagi diriku.
Mungkin saja bala prajurit, itu akan lebih banyak dari yang ku kira, dan akan membawa pendekar-pendekar sakti yang di sewa, dua kerajaan itu untuk menembus istana Nirwana.
Nyi citrakala, ternyata menguping, pembicaraan kita dengan ki lingga. namun dia tidak tau aku mengetahuinya.
"Sepertinya ada yang,
Menguping, ki lingga"
"Siapakah dia gerangan raden"
"Dan aku tunjukan dengan ajian,
pelebur sukma"
Sontak saja Nyi mas citrakala, terjatuh dan dan meminta maap pada kami berdua
"Maapkan cucu mu ki lingga,
ucap, Nyi mas citrakala"
"Kau ini, apa yang kau lakukan,
Citrakala"
"Yang kau lakukan itu tidak,
Beradab, dan tidak sopan"
"Maapkan ku ki lingga"
Dan Aku langsung bergegas, untuk, mencari informasi, ke kawasan kadipaten waringin jati, di sana aku memyamar menjadi rakya jelata biasa, agar, lebih, leluasa dalam setiap pergerakan ku.
Di sana aku mendengarkan percakapan, seorang laki-laki paruh baya dengan salah satu pendekar, yang tidak tau asal usulnya.
"Maap kisanak apa benar ini,
daerah kadipaten waringin jati"
"Iya benar anak muda"
"Lantas kau mau apa"
"Aku sekedar bertanya saja,
kisanak, aku sedang dalam,
Perjalanan, mengembara"
"Berhati-hatilah anak muda"
"Memang nya ada apa"
"Situasi sudah mulai genting"
"Terima kasih kisanak atas ,
informasi nya"
Lalu pendekar itu, melanjutkan perjalanan nya dan aku lekas bertanya pada lelaki paruh baya itu, untuk menggali berita lebih jauh, atas berita simpar-siur yang aku dapatkan ini.
Dan, betapa kaget nya aku, sebelum sempat bertanya gerombolan bala tentara itu datang menyerbu , dan mengacaukan para penduduk pribumi dan mengubrak-abrik para pedagang di pasar yang aku singgahi.
Di pasar ranggeuyan jati.
Dan aku membantu, seorang wanita paruh baya yang di seret oleh, Raden Aji Saka, putra mahkota, kerajaan Wangsa tunggal.
"Habisi semua rakyat Nirwana"
Dia berteriak dengan lantang, dan aku datang untuk, menghadang nya.
__ADS_1
"Maap raden Aji Saka, apa yang,
kau lakukan"
"Kau siapa, gembel berani,
Menenangkan, ucap dia"
"Maap raden, sebagai seorang,
Putra mahkota, kau bertindak,
Sewenang-wenang"
"Lancang sekali kau kisanak"
"Kau tahu sedang berhadapan,
dengan siapa"
"Maap raden, aku berbicara,
Tidak pandang bulu"
"Kalau orang itu berbuat,
kebatilan aku tidak akan tinggal
diam begitu saja raden" 🙏
"Akan ku beri pelajaran kau,
gembel, ucap dia padaku"
Namun saat dia ingin menyerang ku,Tumenggung Angkara purna, melarang nya.
"Biar aku saja raden Ayu Saka"
"Biarkan aku merenggut, nyawa,
nya, di sini"
"Silahkan Tumenggung, purna"
"Prajurit dan semua mundur"
Dia memberikan intruksi bala prajurit kedua kerajaan itu mundur, dan dia ingin bertarung secara Ksatria dengan ku.
Ha... ha... ha....
"Aku sudah mengetahuinya anak muda, ucap Tumenggung,
"Kau antek-antek kerajaan Nirwana"
"Tidak aku hanya seorang,
rakyat jelata biasa"
"Banyak bicara kau, berdebah"
"Terima ini..... hiyaaaaaaat"
Hantaman dan pukulan terus menerus, menyerah tubuhku, namun, aku berhasil mengelaknya, dengan Ajian melebur sukma,dia terpancing emosi nya, dan mengeluarkan jurus pamungkas nya.
Yaitu jurus terkaman harimau kalimaya.
Tubuhku terkena cakaran itu, dan dia tertawa, terbahak-bahak.
"Sudah ku bilang jangan kau,
ikut campur urusan kami"
"Ilmu kanuragan mu hanya,
secuil kuku ku saja"
Di sana aku menggunakan tenaga dalam ku, dan menggunakan ajian bengkeleng kebal, ajian pamungkas, pemberian, paman patih, Jaya ledra.
Aku mulai membaca kalimat, mantra pembuka nya.
"Salam' alaikum salam'
Dzatulloh naretes dadi aku
Wijaratulloh reksanen aku,
Kijarotulloh ke dade hane kayu,
Bengkeleng guruning wesi,
Sapa sediya ala marang aku
Ajal banyu, tes naretes dadi banyu. ya allohu ya hualloh allohu akbar.
"Apa ajian itu ajian maha patih,
Guntur bumi"
__ADS_1
"Siapa kau yang sebenarnya"
"Paman tumenggung, purna,
bertanya padaku"
Namun, Aku berkonsentrasi untuk menyerang nya.
Mereka semua terlempar oleh aura maha dahsyat, dari efek tenaga dalam ku.
Sang raden Aji Saka pun turun dan lekas bertanya siap jati diriku sebenarnya.
Namun aku tetap menyembunyikan jati diriku,
Yang sebenarnya.
"Sudahkah lekaslah kau,
berterus terang saja kisanak"
"Aku sudah mencurigai"
"Bahwa yang memiliki ajian itu ,
bisa di hitung dengan jari"
"Dan bukan orang, yang
sembarangan"
"Maap raden aku hanya,
seorang rakyat biasa"
"Tidak ada keturunan, silsilah ,
kerajaan"
"keras kepala kau, kisanak, ucap
Raden Aji Saka, padaku"
Dan tanpa ku duga, rakak kandungku Raden Arya sanjaya Kusumah, keluar dari gerbang istana, dan melihat, perdebatan ku,
"Rayi ada apa ini"
"Sembah hormat ku rakak"
"Kau tidak apa-apa rayi"
"Tidak rakak" 🙏
Otomatis, penyamaran ku terbongkar sia-sia karena kedatangan, rakak kandungku Raden Arya, dan tentu saja membuat kaget, seluruh Pasukan Kerajaan Wangsa tunggal, dan kerajaan Nasta tunggal.
"Rupanya kau anak seorang pembunuh, ucap raden Aji Saka"
"Yang membunuh ayah mu, bukan Ayahandaku"
"Lantas siapa"
"Nyawa ayahandamu, Raja purna lingga, di tangan maha patih guntur bumi"
"Berdebah kalian, cecunguk Nirwana, ucap raden Aji Saka"
Pertempuran hebat, dan maha dahsyat abad 1022 masehi itu tidak terhindarkan lagi.
Pasukan kerajaan Nirwana, dan para punggawa serdadu nya, langsung memukul mundur, kerajaan Wangsa tunggal dan Nasta tunggal, namun, Raden Aji Saka berhasil meloloskan diri dari, peperangan ini.
Banyak sekali korban yang gugur dalam, peperangan, yang menyangkut harga diri dan dendam pribadi.
Dan aku sendiri sangat menyayangkan kejadian ini terjadi, terus ada pertumpahan darah.
Dan yang aku khawatirkan, rakyat pribumi yang semakin sengsara, karena rempah-rempah nya yang mereka miliki di renggut secara paksa, sebagai upeti.
Ini sangat membuat ku murka, Namun, aku bisa berselisih tegang lagi dengan Ayahandaku, dan rakak ku raden Arya.
Paman maha patih guntur bumi mengucapkan banyak Terima kasih, karena aku di anggap, putra mahkota yang masih menjaga kedaulatan kerajaan Nirwana.
Dan aku di paksa untuk menginjakan kaki lagi ke istana Nirwana, namun aku menolak nya secara halus, karena aku tidak mau menelan ludah ku sendiri, ini aku lakukan karena niat ku yang awal belum tercapai, dan puncak keberhasilan ku belum mu raih. Ini bukan perkara mudah.
Namun juga bukan sebagai batu sandunga untuk mewujudkan cita-citaku.
"Baiklah raden kalau kau tidak,
mau ikut paman patih ke,
istana"
"Semoga raden bisa menjaga diri dengan baik-baik"
"Tentu saja paman patih jaya ledra, ucap ku padanya"
"Doakan saja aku paman patih"
Di sana aku, kembali berniat untuk pergi pulang ke perguruan silat cakrawala, mungkin, saja ki lingga dengan yang lain nya sangat mengharapkan, aku pulang dalam keadaan selamat.
Lantas aku, berpamitan dengan paman patih dan rakak ku, serta, para punggawa kerajaan Nirwana, hatiku tenang karena kita bisa memukul mundur pasukan, kerajaan Wangsa tunggal dan Nasta tunggal.
__ADS_1
Wilayah kadipaten waringin dan wilayah kadipaten Jaya giri, hancur berantakan, itu sebuah kerugian besar, dan semoga kedua kadipaten itu segera berangsur pulih kembali. agar poros ekonomi kerajaan Nirwana tetap stabil, dan para rakyat pribumi bisa beraktivitas secara normal kembali, tanpa ada rasa takut dan ke khawatiran diri.
Namun aku tetap harus waspada akan serangan-serangan lain nya, itu kan terjadi di saat kita lengah dan tidak waspada.