
Ki sudrawirya panik bukan kepalang, ketika tau kitab pusaka nya di curi seseorang.
"Nyi mas laraswati, kitab pusaka itu, di gondol pencuri"
"Kau kemana saja waktu aku tidak ada di rumah"
"Aku tidak tahu ki, dan aku tidak melihat orang yang mecirigakan di sekitar rumah kita"
"Mungkin yang mencuri kitab itu adalah orang terdekat dari kita"
"Perkiraan aki seperti itu"
"Lebih baik aki pakai ajian gentong panenjoan"
"Benar sekali, aki panik, tidak bisa berpikir secara jernih"
lantas ki sudrawirya memakai ilmu ajian gentong panenjoan miliknya, untuk mengetahui, siap pencuri itu.
dan benaran saja orang yang mencuri nya adalah, muridnya sendiri, si durgala kawelung , murid yang tidak berbakti dan tidak tau diri itu.
Menurut ki sudrawirya dia sangat terobsesi, menjadi sakti mandraguna dan ingin menjadi pendekar tak terkalahkan di bumi pakuan. maka dari itu dia nekad mengambil kitab pusaka miliknya itu.
Aku di berikan mandat dan tugas untuk mengambil kitab itu, dari tangan durgala kawelung itu, menurut ki sudrawirya, tempat persembunyian nya tidak jauh dari sini, sekitar daerah Hutan panapian. di lereng gunung jubleg. dekat kerajaan sakertawangi.
Ini menjadi mandat dan tugas pertama yang sangat penting bagiku.
Aku harus bisa meringkus nya atau pun membinasakan nya. dari muka bumi ini.
"Pergilah raden wira bila kau sudah sembuh'
" Siap ki sudrawirya mohon doa dan restunya"
"Restu ku menyertaimu, lelaskah rebut kitab pusaka itu"
"Kalau tidak dia akan menjadi sakti mandraguna"
Aku mulai, perjalanan ini dengan di bekali doa dan restu ki sudrawirya, semoga bekal ilmu dari ketiga guruku, bisa melumpuhkan, seorang bajingan seperti, durgala kawelung itu.
beberapa dusun telah aku lewati, hingga sampailah di hutan panapian itu.
di lereng gunung jubleg.
Di sana aku memakai ajian halimun, untuk mengetahui keberadaan durgala kawelung.
Dan sudah aku temukan di bersembunyi di sebuah danau di dekat gunung jubleg.
Dia terkejut melihat keberadaanku, karena aku orang asing baginya, dan dia pun orang asing bagiku.
"Sampurasun"
"Rampes"
"Siapa kisanak ini"
"lancang sekali masuki wilayah kekuasaanku" 😡
"Sabar dulu kisanak aku kesini secara baik-baik"
"Tidak ada yang namanya baik-baik, kalau kedatangan mu tidak di inginkan"
"Iya aku mengerti dan lantas aku harus memberikan adab yang baik dengan seorang pencuri seperti mu"
"Berdebah kau, aku bukan seorang pencuri"
"Berikan kitab pusaka itu"
"Apa cecunguk liar sepertimu, menyuruhku" 😁
"kau bercanda, padaku"
"Sudahlah kita jangan berdebat, berikan kitab itu"
__ADS_1
"Itu milik guru ku ki sudrawirya"
Ha..... Ha..... Ha.....
"Kau salah berguru kisanak"
"Dia seorang kakek tua yang tidak berguna"
"Jaga mulut mu durgala welung"
"Kau murid yang durhaka"
"Kalau kau bisa mengalahkan ku silahkan "
"Majulah sini"
"Hiyaaaaaaaaaat........ "
Durgala pati datang menyerang ku secara sekoradis.
Namun aku berhasil menangkis dan menangkal nya.
Hingga dirinya murka dan mengeluarkan ajian parindikan tenaga dalam nya luar biasa.
namun aku tak menyerah begitu saja, aku tak banyak waktu lagi, ajian bentar gelap, 🌑 langsung aku gunakan, dan lenyaplah dia dari muka bumi ini, badan nya gosong, dan penuh dengan darah, asap keluar dari tubunya. dan aku mengangkat nya, dalam keadaan sakaratul maut.
"Lekas di mana kitab pusaka itu"
"Di bawah batu itu kisanak ampun.... ampun.... "
Dia meringgis, kesakitan dan memohon ampunan. aku membiarkan nya dia hidup karena sebentar lagi dia akan pergi negeri tanjung sampurna untuk mempertanggung jawabkan, kebatilan nya itu.
Kini aku pulang dengan, membawa kitab pusaka itu, ini sebuah keberhasilan berkat doa restu dari ki sudrawirya dan tentu saja doa dari ayahandaku dan ibunda ku tercinta.
"Sampurasun"
"Rampes"
"Iya ki, aku berhasil merebut kitab pusaka itu"
"Ini ki, kitab pusaka nya masih utuh"
"Terima kasih raden wira, kau memang, bisa aku andalkan"
"Dan kitab ini adalah kitab yang maha dahsyat"
"Sebagai hadiah nya akan aku turunkan ilmu yang aku punya untuk mu"
Aku sangat gembira sekali, ki sudrawirya akhirnya, akan menurunkan ilmu kanuragan nya padaku, tanpa tersisa .
ini sebuah keajaiban bagiku. karena tidak semua guru, menurunkan ilmu kanuragan nya pada muridnya.
"Sekarang kau lekaslah beristirahat raden wira"
"Nyi mas buatkan makanan dan minuman, buat raden wira, ucap ki sudrawirya"
"Iya ki sudrawirya, ucap nyi mas laras wati"
Aku tebaring lemah duduk anyaman kursi bambu.
sambil sesekali menahan nafasku.
Aku mengatur tenaga dalam ku yang terkuras habis saat melawan durgala welung.
"Ini kang mas sajian makanan nya"
"Terima kasih nyi mas kau baik sekali padaku"
"Ah tidak kang mas, ini sudah kewajiban ku"
"Kau kan tamu agung dari kadipaten waringin jati"
__ADS_1
"Berlebihan kau, nyi mas laras wati, ucapku padanya"
Kegelapan, malam pun sudah tiba, tak terasa waktu itu cepat bergulir, aku larut dalam keheningan malam nya.
Menahan gejolak rindu yang tiada berujung pada nyi mas citrakala.
Semoga saja dia dalam keadaan baik-baik saja dalam hati, aku bicara.
Aku tertidur pulas, sampai ke esok anda hari nya.
Dan aku harus bersiap-siap dengan materi latihan kali ini dari ki sudrawirya, kata ki sudrawirya kali ini dia akan mewariskan sekitar lima jurus pamungkas nya saja.
untuk aku kuasai.
Dan bila berhasil aku kuasai, dia akan menambahkan materi selanjutnya.
Kini baru sekitar tiga jurus yang bisa aku pelajari. ki sudrawirya terus memantau, latihan ku di pekarangan rumah nya itu.
Dia berteriak mengatur pergerakan ku yang tidak sesuai dengan nya.
"Raden fokuslah dengan kuda-kudamu"
"siap ki, ucapku padanya"
Melelahkan aku di tempa habis-habisan oleh ki sudrawirya, rasanya mau pingsan saja.
Namun aku tidak boleh kalah dan putus asa.
Berkat kegigihan ku dan ketekunan ku, akhirnya, ke lima jurus itu, berhasil aku kuasai dengan mudah.
Apresiasi yang sangat besar dari ki sudrawirya padaku.
Dia menyebutkan bahwa aku, sangat cekatan dan cerdas, untuk menguasai ilmu dan jurus-jurus pamungkas nya.
Akhirnya latihan ini di tutup juga oleh ki sudrawirya.
karena hari sudah menjelang sore hari.
Nyi mas laras wati pun langsung memberikan ju sebuah minuman. aku tak habis pikir, dan merasa dia semakin gencar mendekati ku, walaupun di sudah tau aku telah memiliki sekarang tambatan hati dan kekasih hati.
Aku pun ada perasaan takut akan tergoda olehnya.
batu karang saja bila di terpa ombak terus-menerus dia akan terkikis juga, apalagi, seorang manusia biasa, sepertiku ini.
"Raden bila kau sudah beristirahat, tolong berikan rumput pada kambing-kambing ku"
"Iya ki sudrawirya, akan aku berikan rumput agar kambing nya cepat gemuk dan besar"
Di sini aku menjadi seorang pengembala kambing, dan kerbau.
bagaikan langit dan bumi jika aku membandingkan, kehidupanku di dalam istana kerajaan Nirwana cakrabuana.
Tapi aku lakukan dengan sepenuh hati, dan tidak ada sedikit pun keraguan ataupun, sebuah penyesalan hidup.
Ini adalah sebuah pilihan, yang aku pilih, dan tentu saja harus bisa mempertanggung jawabkan semuanya.
Jangan sampai, aku menjadi orang yang gagal di luar istana kerajaan Nirwana cakrabuana.
Semoga tekad ambisi ku bisa terwujud secepatnya.
"Kang mas raden wira"
"Teriak nyi mas laras wati memanggilku"
"Iya nyi mas laras wati"
"Cepat kau mandi aku sudah siapakan air nya"
"Oh iya makasih nyi mas laraswati"
Aku heran nyi mas laras wati, memperlakukan ku seperti, suami nya saja.
__ADS_1