Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Berkunjung ke petilasan Eyang lingga buana.


__ADS_3

Setelah aku beberapa hari bermukim di padepokan silat cakrawala, aku harus membayar janji ku yaitu niat ingin berkunjung ke petilasan eyang lingga buana, tileum dan menghilang selama-lamanya.


Raden wira, di temani asta batara kala, untuk menuju gunung ngampar gelap.


Sebetulnya, raden wira tidak merasa asing lagi untuk berkunjung ke sana karena di sana, raden wira pernah tirakat muka semedi dengan raden rakak angkat nya raden askara. hingga raden wira mendapatkan


ilmu bentar gelap.


Itu ilmu kanuragan level tinggi yang di miliki eyang lingga buana.


Yang di turunkan pada nya.


"Ayo rakak raden wira, ucap asta batara kala"


"Iya Ayo rayi, kita pergi"


Namun belum juga sampai setengah perjalanan.


Kendala, sudah nampak di depan mata.


Rupanya penjarahan kepada rakyat kecil masih ada di sekeliling nya.


Raden wira pun murka akan pemandangan yang kurang lazim di pertontonkan padanya.


"Hai kisanak lepaskan, wanita itu, pada perampok luar itu"


"Hai kau siapa?


"Lancang sekali, mau cari mati?


"Urusan hidup dan mati ku bukan bergantung pada mu"


"Luar biasa keberanian mu anak muda" 😁


Prok..... prok.... prok..... 👏👏👏


Para perampok, itu memberikan apresiasi tepuk tangan yang meriah kepada raden wira sanjaya.


Dan tentu saja asta batara kala tidak tinggal diam begitu saja. dia langsung melakukan serangan tanpa basa-basi.


Hingga para perampok itu mundur kucar-kacir ketakutan akan ilmu silat nya asta batara kala.


"Sudah aku bereskan rakak, para cecunguk luar itu" 😁


"ilmu kanuragan mu, meningkat pesat rayi" 👍👍👍


"Itu karena, sebuah motivasi ku, melihat rakak dan rakak askara dulu" 🙏


"Ayo rakak kita lanjutkan lagi"


"Iya rayi, jangan sampai kemalaman, di dalam perjalanan"


Perjalanan menuju, gunung gelap ngampar, pun di lanjutkan kembali, oleh raden wira sanjaya dan asta batara kala.


Di dalam perjalanan, batara kala, berbincang perihal, masalah teror dari indrakala dan chandrakala yang semakin memperlihatkan taring nya sebagai seorang, pendekar yang sakti mandraguna.


Raden wira, pun langsung ingat pada mendiang rakak kandung nya raden Arya sanjaya Wijaya kusumah, yang gugur kalah bertarung, melawan Indrakala dan chandrakala.


Ini semua karena ulah ki rawa daksa yang sebetulnya sudah di lenyapkan dari muka bumi ini, oleh raden wira.


Ki rawa daksa adalah adik seperguruan nya eyang lingga buana, dia menjadi jahat karena faktor keadaan. yaitu istri nya di perkosa dan di bunuh oleh, orang jahat yang tidak di kenal asal usul nya, itu pun raden wira di beritahukan mendiang eyang lingga buana.


Sungguh cerita masa lalu yang memilukan sekali.


"Gimana rakak, raden wira"


"Gimana apanya?


" Maksudku rencana selanjutnya"


"Aku juga belum bisa, memastikan nya, batara kala"


"Untuk sementara,temani aku dulu aja di padepokan" 🙏


"Iya boleh juga, aku tidak keberatan rayi batara kala"


"Terima kasih banyak, sebelum nya rakak, raden wira sanjaya"


"Itu sudah kewajiban ku"


"Sebagai kakak perguruan mu"


"Dan aku bangga"


"Bangga bagaimana?


"Ucap batara kala,pada raden wira sanjaya Wijaya kusumah"


"Kau di percaya langsung eyang


lingga buana"


"Itu karena tidak ada pilihan lain, rakak, ucap batara kala"


"Kalau rakak tidak pergi mengembara, mungkin jabatan ini akan rakak pikul" 🙏


"Benar sekali ucapan mu"


"Namun, ini sudah kehendak, sang Hyang dewata agung"


"Kau tidak boleh menolaknya"


Sekarang, raden wira dan batara kala sudah berada di wilayah kadipaten pamancar jaya.


Dan akan berlabuh di dusun merak manunggal.


Mereka bermukim di rumah kepala Dusun yang bernama ki Atmaja.


"Sampurasun"


"Rampes"


"Ki boleh kah kami ikut bermalam di rumah aki"

__ADS_1


"Siapa kalian anak muda"


"Tanya ki atmaja"


"Saya wira ki, dari kadipaten,


waringin jati, dan dia batara


kala, adik seperguruan ku"


"Sebentar dulu, apa raden ini raden wira putra mahkota kerajaan nirwana?


"Benar ki, ucap batara kala"


"Aduh, ayo masuk, silahkan masuk, kami mendapat tamu yang Agung" 🙏


Ki atmaja, lalu menjamu raden wira dan batara kala denga hidangan yang sangat enak dan lezat, dan menggugah selera makan.


"Tidak usah repot-repot ki"


"Ucap raden wira, pada ki atmaja"


"Ini adalah suatu kehormatan , bagi kami, raden"


"Ucap, ki atmaja itu, sambi tersenyum"


"Kami tidak pantas, di perlakukan begini"


"Ucap raden wira sanjaya"


"Justru kami malu rade wira, dengan hidangan yang kami punya"


"Sudah cukup, ki atmaja" 🙏


Lantas, sambil menikmati makanan, itu, ki atmaja, menanyakan, tujuan nya untuk datang berkunjung ke kadipaten pamancar jaya, lebih tepat nya di dusun merak manunggal,


Dan tentu saja raden wira dan asta batara kala pun, menjelaskan nya dengan senang hati, dan penuh dengan keterbukaan.


Bahwa sebetulnya tujuan raden wira adalah pergi ke gunung ngampar gelap. yang masih lama lagi untuk melakukan perjalanan menuju ke arah sana.


Ki atmaja, pun, menceritakan akan perihal, bentrokan antara punggawa kerajaan nirwana dan wangsa tunggal yang, tidak ada beres-beres nya.


Di tambah lagi ki atmaja bercerita bahwa Indrakala dan candrakala sudah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi rakyat pribumi, dusun merak manunggal ini.


Ki atmaja bercerita pada raden wira dan asta batara kala bahwa, sudah banyak korban yang berjatuhan akibata kekejeman nya itu. di tambah adanya, durgala pati, yang saling berebut wilayah kekuasaan, untuk menjadi kawasan jarahan nya tersebut.


Cerita dan keterbukaan, ki atmaja, di resapi dan di dengarkan secara seksama.


dan raden wira, rupanya ingin seger membereskan tiga orang pembuat onar itu.


Agar segera di lenyapkan dari muka bumi ini. seperti akan hal nya ki rawa daksa.


"Aki mohon raden segera membereskan Indrakala dan candrakala itu"


"Tenag ki, setelah kita pulang dari gunung gelap, masalah itu akan kami bereskan"


"Ucap asta batara kala, pada ki atmaja"


"Maaf rakak, bagiku, harus sombong ke orang jahat, seperti Indrakala itu" 🙏


Dan malam pun semakin larut dalam kegelapan nya.


Kami pun berbincang-bincang hingga lupa akan waktu,


Ki atmaja, telah bergegas untuk berpamitan , istirahat. dan kami pun tentu saja sama, akan lekas tidur, untuk mengistirahatkan badan kami yang sudah nampak kelelahan akibat perjalanan panjang yang kami lewati dari kadipaten waringin jati, sampai dengan dusun merak manunggal.


"Ayo rakak, kita tidur saja"


"Rakak, mau di atas?


"Biar, rayi tidur di tikar bawah saja, rakak raden wira"🙏


"Tidak rayi kau di atas saja, biar aku yang ngalah saja"


"Aku tidak enak hati, masa rakak, kedinginan"


"Dan tidur di bawah"


"Saya tidak sopan namanya rakak" 🙏


"Ya sudah kita bertukar tempat kalau itu mau mu rayi"


"Nah begitu kan, baru aku enak hati, rakak" 🙂


Ternyata, asta batara kala, mempunyai adab yang baik juga buat orang yang lebih tua darinya, itu pasti berkat didikan mendiang eyang lingga buana.


Raden wira dan asta batara kala pun, sangat, nyenyak,tidurnya hingga ke esokan hari nya dia bangun.


Dan bergegas untuk bersiap-sial melanjutkan lagi, perjalanan menuju, gunung gelap ngampar, tempat petilasan eyang lingga buana.


"Gimana rakak, kita berangkat sekarang?


"Ucap asta batara kala"


"Iya ayo, rayi, kita lanjutkan saja"


"Mungpung , masih pagi"


"Apa kita pamitan dulu sama ki atmaja"


"Iya jelas rakak"


Dan raden wira wijaya pun bersama asta batara kala langsung, ijin berpamitan kepada ki atmaja untuk melanjutkan perjalanan nya menuju, gunung ngampar gelap.


"Maap ki kami ijin pamit dulu" 🙏


"Kami, sangat berhutang budi pada kebaikan ki atmaja" 🙏


"Iya tidak apa-apa, kalau raden perlu apa-apa? jangan sungkan-sungkan, bilang saja"


"Iya ki atmaja" 🙏


"Sampurasun"

__ADS_1


"Rampes raden"


Dan naiklah raden wira dan asta batara kala pada kuda tunggang nya masing-masing.


Untuk melanjutkan niat dan tujuan nya menuju gunung ngampar gelap itu.


Setelah melewati banyak rintangan dan medan yang sangat berat, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan itu.


"Rakak kita telah sampai" 🙏


"Iya rayi, batara kala, ucap raden


wira, pada batara kala"


Mereka turun secara bersamaan dari kuda tunggang nya, dan bergegas masuk ke dalam gua ngampar itu.


Berapa kaget nya mereka melihat, sebuah batu besar itu ada bekas, duduk nya, mendiang eyang lingga buana.


"Lihat, rakak raden wira, ucap


batarakala, pada raden wira"


"Iya rayi,aku pun melihatnya"


Mereka lekas menghampiri, dan meraba-raba batu, itu.


Angin berhembus dengan sangat besar, dari arah luar guha.


Dan di tambah lagi tercium wewangian minyak kasturi.


"Rayi, batarakala?


"Iya rakak, apa kau,


mencium aroma sesuatu?


"Iya rakak, tentu saja"


Mereka saling bertatap-tatapan.


Dan, bersikap biasa saja.


Mereka di sana memanjatkan doa, untuk eyang guru nya, yaitu mendiang eyang lingga buana, semoga, arwah beliau bisa tenang di alam sana, yaitu di alam negeri tanjung sampurna.


Semoga, segala perbuatan baik nya bisa menjadi penolong dan penyelamat bagi diri nya, dan semoga segala kehilafan dan dosa-dosanya, di ampuni oleh sang Maha pencipta alam semesta ini.


"Ayo rayi, sudah cukup"


"Aku sudah tak kuasa"


"Yang tegar rakak, ini sebuah


perjalanan kehidupan"


"kehidupan dunia ini tidaklah kekal, rakak, ucap batarakala" 🙏


"Iya rayi, benar apa yang di katakan mu itu barusan"


(sambil menepuk-nepuk pundak nya asta batarakala)


Lalu mereka, bergegas keluar dari guha, tersebut.


Dan raden wira, sudah semakin yakin, bahwa memang diri nya sudah di tinggalkan eyang guru nya, untuk pergi selama-lamanya.


Dalam hatinya, kian berkecambuk, rasa penyesalan.


Karena belum bisa berbalas budi pada mendiang eyang guru nya itu.


Namun ini memang sudah suratan takdir, dan sebuah jalan kehidupan, seperti, apa yang di katakan, asta batarakala pada raden wira sanjaya.


Mereka kini, menaiki kuda tunggang nya, dalam perjalanan pulang menuju kadipaten waringin jati.


Dan mungkin,raden wira untuk sementara waktu, akan bermukim dulu, di padepokan silat cakrawala, sambil merencanakan, sesuatu untuk ke depan nya.


Namun, saran dari asta batarakala, adalah menyuruhnya, untuk menemui nyi mas citrakala, yang sudah di titipkan mendiang eyang lingga buana, ke mak lasmanah.


Saran dari asta batarakalan pun masih di pertimbangkan dengan baik, oleh raden wira sendiri.


karena dia takut akak tuntutan nyi mas citrakala, yang memaksa untuk segera di nikahi nya.


Hari sudah mulai sore dan mereka baru juga sampai kadipaten pasir honje, mereka akhirnya memutuskan untuk bermukim saja, di sebuah dusun bernama, dusun pasir kadempet. yang sudah mereka singgahi sekarang ini.


"Rakak, lebih baik kita mencari


penginapan saja"


"Iya rayi, aku juga berpikir akan


hal, yang sama dengan mu"


"Iya mari rakak kita tanya-tanya


ke orang pribumi sini"


"Iya lekaslah rayu, sebelum hari


makin gelap, ucap raden wira"


Setelah, mereka mencari-cari sebuah bantuan penginapan, akhirnya, di dapatkan juga oleh mereka, di pendopo ki janggawareng, seorang sesepuh kabuyutan di dusun pasir kadempet.


Dia berbaik hati memberikan tumpangan nya. dan mempersilahkan mereka untuk menginap di rumah nya.


"Silahkan raden ini kamar nya,


ucap ki janggawareng, pada raden wira sanjaya"


"Terima kasih banyak ki jangga wareng" 🙏


"Sungguh kami berhutang budi pada ki janggawareng" 🙏


"Sudah jangan terlalu di pikirkan, kalian istirahat saja dulu, ucap ki janggawareng"


Mereka pun, sekarang bisa tidur dengan, aman dan nyenyak. agar besok, bisa lebih fresh lagi dalam, beraktivitas dan melanjutkan perjalanan menuju arah ke kadipaten waringin jati.

__ADS_1


__ADS_2