
Kita tinggalkan dulu sejenak hiruk pikuk keadaan kerajaan nirwana cakrabuana menuju wilayah kerajaan Tembong agung.
Di wilayah sana lah raden wira bermukim, tanpa seorang pun yang tau. kini dia sudah berguru pada eyang lingga,mak lasmanah, eyang sudwirya, dan sekarang eyang sagara cipta. dan menurut eyang lingga raden wira harus berguru kepada tujuh orang yang di anggap nya pantas untuk di jadikan guru.
Itu lantas menjadi sebuah teka-teki, untuk nya yang harus di pecahkan.
Akankah raden wira bisa memecahkan nya?
Dia kini sudah bisa berlatih lagi dan kali ini dia berlatih dengan keras, yaitu mengambil air di kali, melewati sebuah lereng perbukitan yang terjal. itu untuk memperkuat stamina dan fisik nya.
"Ayo raden eyang sagara mengawasi nya dari kejauhan"
Hah... hah.... hah... hah....
Nafas raden wira terdengar. seluruh badan nya di penuhi keringat yang bercucuran.
"Ampun eyang aku lelah" π©
"Ayo kau pasti bisa"
"Ucap eyang sagara cipta"
Hari pun sudah menjelang sore dan raden wira pun langsung, di peringati oleh, eyang sagara agar menyudahi latihan fisik nya itu. dia nampak bergembira dan bisa beristirahat dengan tenang.
Di terlentang di sebuah pekarangan rumah eyang sagara cipta.
Namun kesigapan nya di tes oleh eyang sagara cipta, yaitu
dengan melemparkan buah apelπke arah badan nya.
dia mampu mengelak dan menangkap nya. secara gesit.
Prok.... prok.... prok..... π
Eyang sagara bertepuk tangan dan mengacungi, jempol kepadanya, dia berhasil lulus dari ujian nya.
Walaupun dalam keadaan terdesak dan lemah dia masih bisa berkonsentrasi.
Itulah kelebihan seorang Raden Wira Wijaya Kusumah.
"Wah hebat kamu kanga mas, ucap Nyi mas dewi kemuning"
"Kau bisa menghindar dari serangan eyang sagara cipta"
"Ah Nyi mas, jangan terlalu me
mujiku, nanti aku besar kepala"
Dan eyang sagara, terbang dari arah berlawanan, menyerangku dengan jurus kepakan burung rajawali.
Namun raden wira berhasil menghidarinya, dengan jurus terkaman cakar harimau kumbang.
Jurus itu, membuat eyang sagara, kewalahan dan mundur beberapa meter saja dari arah raden wira.
"Luar biasa raden wira, ucap
eyang sagara cipta"
"Maapkan aku eyang guru, ucap
raden wira" ( menundukan kepala nya dengan ras hormat)
Eyang sagara, memuji reflek nya raden wira, dan tak henti-henti nya memuji, murid nya tersebut.
"kata eyang sudah tapi kenapa
terus menyerangku"
"Aku hanya mengetes saja,
sejauh mana konsentrasimu"
"Dan ku kira kau sangat cermat"
"Terima kasih eyang pujian nya"
Sekarang, eyang sagara cipta semakin kagum, pada raden wira.
Dan sudah cukup, untuk latihan kali ini, yang di maksud dari eyang sagara adalah, dia tidak terpaku, pada jurus-jurus nya saja, namun feeling dan pengendalian diri juga lebih penting dari semua nya.
Karena dengan bersikap tenang dalam segala kondisi apapun menurutnya. itu akan memberikan efek yang positif.
tentu juga mengikis, kepanikan dan kecerobohan yang bisa di manfaatkan musik untuk mengelabui kita, dalam sebuah pertarungan.
Namun sebelum eyang sagara menjelaskan nya. raden wira sudah lebih dulu memahami apa maksud dari eyang sagara
cipta.
Hari sudah mulai menjelang malam, raden wira sudah mandi dan bersih-bersih. dan lekas berkumpul dengan eyang sagara cipta, dan Nyi mas dewi kemuning untuk acara makan malam, mereka menyantap hidangan makan malam.
yang membangkitkan selera makan nya, Masing-masing.
"Ayo raden tambah lagi lauk pauk nya, ucap eyang sagara
cipta"
"Sudah cukup eyang guru, aku
sudah kenyang" π
"Ah kau ini malu-malu, tidak,
usah malu-malu kucing"
"Ah eyang bisa saja, ucap raden
wira, pada eyang sagara cipta"
"Tidak usah malu, sama cucu ku
ucap eyang sagara cipta"
"Tentu saja tidak eyang" π
"Eyang paham, perasaan anak
muda, eyang juga pernah muda
kan" π
Setelah selesai menyantap hidangan, makan malam.
Raden wira, pergi ke sebuah tepas, dan bersandar duduk di anyaman bambu itu.
sambil merenung, memikirkan sesuatu, mungkin dia sedang merindukan kekasihnya Nyi mas citrakala, atau tidak sedang merindukan ibundanya tercinta, ibunda ratu nareswari
Dari dalam Nyi mas dewi kemuning, mengintip dan mengamati gerak-gerik nya raden wira, dia rupanya penasaran, apa yang membuat, asal muasal raden wira nampak bermuram durja, gundah gulana dan bersedu sedan.
__ADS_1
Oleh karena itu Nyi mas dewi kemuning berniat untuk menghampirinya dan ingin menegurnya.
Siapa tahu dia bisa mengungkapkan nya, dan bicara berterus terang, pada Nyi mas dewi kemuning.
"Hai kang mas raden wira, ucap
Nyi mas dewi kemuning"
"Bolehkah aku duduk kang mas"
"Iya silahkan Nyi mas, dengan
Senang hati, ucap raden wira"
Lalu duduklah, Nyi mas dewi kemuning, dan sekedar berasa basi saja, mencoba membuka nya dengan sedikit gurauan dan candaan saja.
"Oh iya kang mas, kalau dulu
kecil, kalau lagi sedih kang
mas, lakukan apa?
"Lah kenapa emang?
"Nyi mas hanya bertanya saja?
"Kalau tidak berkenan ya sudah
gak usah jawab"
"Ucap, dewi kemuning"
Lantas raden wira pun menjawab akan hali itu yang di tanyakan, Nyi mas dewi kemuning.
"Dulu aku sering keluar kamar
dan sering melihat bulan dan
bintang di malam hari"
"Rupanya kau seperti wanita
kang mas" π
"Enak saja kau ini"
"Aku lelaki tulen yah" π
Suasana mulai mencair, dari sebuah kemurungan menjadi sebuah, keceriaan yang di ciptakan tiba-tiba oleh Nyi mas
Dewi kemuning.
"Lalu apa yang kamu perbuat
kang mas, setelah melihat
bukan dan bintang"
"Iya hati ku jadi tenang, dan
tidak kacau balau lagi"
"Masa sih kang mas?
"Aku sedikit tidak percaya"
mu untuk percaya padaku"
"Lah kang mas wira gitu aja,
marah" π
"Tidak nyai, ngapain aku harus
marah padamu"
"Itu tidak ada faedah nya sama
sekali Nyi mas dewi" π
Setelah, itu giliran raden wira
yang bertanya balik dengan
Nyi mas dewi kemuning.
"Nah, gantian yah, ucap raden
wira sanjaya"
"Apaan tidak usah, ucap Nyi
mas dewi kemuning" π
"Ah egois sekali wanita ini, ucap raden wira"
"Ya udah, deh, silahkan"
"Ucap Nyi mas dewi kemuning"
Rupanya, pandai sekali Nyi mas dewi kemuning, untuk membuat raden wira, terhanyut dengan, cara nya, agar dia tidak fokus dalam kegelisahan nya.
"Lekas kang mas mau bertanya
apa, ucap Nyi mas dewi
kemuning"
"Asal jangan bertanya, aku sudah mempunyai kekasih atau belum yah" ππ
"Lah kau ini Nyi mas"
"Aku tidak mungkin, bertanya akan hal itu"
"Kenapa memang nya?
"Itu terlalu privasi bagiku"
"Omong kosong kang mas"
"Bilang saja kau tidak tertarik
padaku, iya kan jawab saja"
"Tidak Nyi mas dewi kemuning"
"Lantas apa, kalau tidak begitu?
__ADS_1
Dengan susah payah nya raden Wira Wijaya, menjelaskan, semuanya, agar tidak terjadi kesalah pahaman, yang membuat hati Nyi mas dewi
kemuning, merasa terhina dan
tersinggung, oleh alibi dan ucapan nya, yang sedikit berdusta, agar tidak menyakiti perasaan nya Nyi mas dewi kemuning.
karena memang juga raden wira menjaga sikap terhadap lawan jenisnya, agar tidak sampai melukai dan berkhianat dengan kekasihnya itu, tiada lain dan tiada bukan adalah Nyi mas citrakala.
Dan tentu saja dia juga tidak mau memberi ruang pada wanita lain, agar tidak menyakiti nya. karena bila sudah memberikan ruang, akan timbul nya rasa ketertarikan satu sama lain, dan bisa-bisa, tergoda dan timbulah mala petaka cinta yang membawa prahara.
Atas penjelasan raden wira, Nyi mas dewi kemuning, semakin yaki bahwa dia, Laki-laki yang sangat baik dan setia pada pasangan nya.
Namun juga dia tidak bisa memungkiri juga ada rasa ketertarikan dalam hati, yang sangat menggebu-gebu.
Itulah yang di coba redam agar tidak menjadi bencana, yang tidak di inginkan sama sekali.
"Kang mas kalau aku kagum,
padamu, wajar tidak?
"Itu hak orang, dan mungkin ,
sangat manusiawi"
"Aku juga kagum"
"Ah yang bener kang mas"
"Iya tapi dalam artian kagum,
definisi yang berbeda"
"Apa maksudnya kang mas?
"Ucap nyi mas dewi kemuning"
"Iya kagum,itu memiliki makna
yang berbeda Nyi mas" π
"Kau jangan salah"
"Coba jelaskan kang mas"
"Biar aku memahami nya"
"Baiklah Nyi mas dewi
kemuning" π
Dan di uraikan lah makna dari sebuah kekaguman itu, pada Nyi mas dewi kemuning, agar dia paham dan memahami nya dalam artian konotasi yang berbeda, agar dia tidak salah
Dalam menyikapi nya.
Barulah paham setelah raden wira, menjelaskan nya secara telaten dan penuh kebijaksanaan.
"Sungguh beruntung yah Nyi
mas citrakala"
"Beruntung, apa nya Nyi mas
dewi kemuning"
"Iya dia sangat beruntung
mempunyai kekasih seperti
kang mas wira"
"Ah ada-ada saja kau ini"
"Loh ko ada-ada saja, sih, ucap
Nyi mas dewi kemuning"
"Iya aku ini sama saja manusia
biasa,yang banyak kekurangan
nya saja" π
"Lah kang mas wira selalu,
rendah diri"
"Aku semakin terkesima deh"
"Terima kasih Nyi mas dewi
kemuning, ucap raden wira"
Obrolan, panjang itu semakin larut dalam keheningan malam di bulan purnama ini, sehingga mereka lupa waktu, bahwa sekarang sudah larut malam, dan secara kebetulan eyang sagara pun, langsung menegur raden wira dan Nyi mas dewi
kemuning, untuk segera istirahat di kamar tidur nya masing-masing.
"Hai kalian lupa waktu yah?
"Ucap eyang sagara cipta"
"Oh iya eyang sudah larut malam yah" ππ
"Ucap, raden wira"
"Maapkan aku eyang"
"Iya sudah sana masuk kamar mu masing-masing"
"Ah eyang, lagi seru nih, ucap
Nyi mas dewi kemuning" π
"Sudah, kau ini anak gadis, gak
baik, kalau kaya gitu"
"Kita kan gak macem-macem
eyang"
"Ah membantah saja anak
muda jaman sekarang ini"
"Iya eyang maapkan aku" βΊπ
Adu argumen antara, eyang sagara cipta dan Nyi mas dewi kemuning pun. tidak bisa di elakan sama sekali, namun, itu bukan masalah besar dan bisa di tangggulangi secara rasional dan kepala dingin. hingga menemui kemufakatan. dalam bermusyawarah, adu argumen dan adu pendapat nya.
__ADS_1
Eyang sagara cipta pun, lantas ke kamar nya lagi, ketika sudah memastikan, murid nya dan cucu nya tertidur pulas di kamar nya masing-masing.