
Ke esokan harinya aku tak menyia-nyiakan waktu, aku dan Nyi mas citrakala langsung mencari tempat persembunyian nya ki rawa daksa sampai ke pantai selatan, ini daerah kekuasaan ghaib Nyi roro kidul.
di dalam perjalanan aku secara tidak sengaja berpapasan dengan, pasukan kerajaan, parahiangan. yang telah menyerbu kerajaan Nasta Tunggal, karena kebiadaban merampok hasil rempah-rempah para petani kerajaan parahiangan, yang berada di sebelah barat pulau Jawa.
Di sana, aku berjumpa dengan sang maha patih nya yang bernama, wirayuda wisesa.
dia menawarkan kerja sama antara kerajaan Nirwana dan parahiangan, namun aku berkata itu harus, langsung bertatap muka dengan paman patih jaya ledra guntur bumi, karena aku tidak punya wewenang dalam hal itu.
"Raden wira bagaimana kalau kita bekerja sama"
"silahkan saja paman wisesa, kau bicara saja dengan paman patih jaya ledra"
"Iya pasti akan ku bicarakan"
"Lantas mengapa kau tidak berpakaian, sebagai putra mahkota raja"
"Iya paman patih wisesa aku sudah lama keluar dari istana kerajaan Nirwana"
"Ada apa gerangang sampai kau bertindak gegabah, seperti itu raden"
"Ini tidak gegabah paman patih"
"Aku sudah memikirkan nya,
dengan matang-matang"
"Lantas kau sekarang berdiam,
diri di mana"
"Aku berguru dengan eyang lingga buana, paman patih"
"Luar biasa dia memang bukan orang sembarangan"
"Dia adalah orang sakti mandraguna"
"Dan dia juga adalah bekas mantri penasehat kerajaan, jaman kakek buyut mu raden"
"Iya betul sekali paman patih"
"Tidak ada yang keliru dari,
perkataan mu tadi paman ,
patih"
"Bila kau berkenan mampir saja
ke kerajaan parahiangan"
"Kau tidak akan merasa asing,
dan di kucilkan raden wira"
"Terima kasih paman patih, aku
sangat tersanjung atas ucapan
mu, dan niat baik mu itu"
"Aku mohon pamit, untuk mencari ki rawa daksa"
"Semoga kau bisa melumpuhkan kakek tua bangka itu raden"
Di sana, kita berpisah untuk melanjutkan perjalanan dan niat kita masing-masing.
Nyi mas citrakala pun tercengang saat, menyaksikan obrolan aku dengan paman patih wirayuda wisesa.
Sebetulnya ibu nya dulu adalah seorang anak dari kerajaan Rompok rowo, yang di pinang oleh, seorang putra mahkota raja, dari tatar pasundan. dan sissilah nya , berkaitan dengan paman patih jaya ledra, yang merupakan keponakan ibunda ratu dari paman patih wirayuda wisesa. jadi pantas saja dua kerajaan itu, ada keterkaitan yang sangat erat, memadukan adat suku ras dan budaya yang sangat kental.
Begitulah penjelasan nya, yang aku uraikan pada Nyi mas citrakala, dan dia semakin takjub padaku.
"Raden kau sungguh berbudi luhur dan menghargai para leluhur"
"Itu sebagai rasa hormat saja, kepada kakek buyut kita terdahulu"
"Ucap ku pada Nyi mas citrakala"
Kita sudah berhasil menyusuri hutan rimba yang berada di lereng gunung, Sunda. perjalanan masih cukup jauh,
Untuk sampai ke tempat persembunyian ki rawa daksa.
Hari sudah mulai petang dan kita perlu beristirahat dulu sebentar, bisa saja aku memakai ajian halimun ku namun aku kasian dengan Nyi mas citrakala.
Kita bermukim di sebuah dusun arja winangun, sebuah dusun kekuasaan kerajaan parahiangan.
Di sana, aku menginap di rumah kepala Dusun, nya yang bernama, pramasta Tunggal, dia sebetulnya, mantan panglima prajurit, kerajaan wulung pariaman, yang di taklukan kerajaan Nasta Tunggal.
Jadi dengan tidak sengaja dia mengetahui seluk beluk dan jati diri ku sebetulnya.
Di sana kita bercengkrama, hangat, untuk sekedar membalikan sejarah nostalgia, di masa lampau.
Dan tentu saja aku sangat menyukai nya, karena itu bisa menjadi ilmu yang berharga bagi anak muda seperti ku yang sedang mencari pengalaman hidup.
Ki pramasta bercerita bahwa ki rawa daksa, mempunyai kitab pusaka, yang dia curi dari empu wilajudra, sesepuh, kerajaan wulung pariaman.
Dalam kitab itu terdapat ajian-ajian langka dan bisa menyebabkan sakti mandraguna, dan itu menjadi rebutan para pendekara di tanah Jawa khususnya wilayah pakuan.
Aku cukup penasaran dengan hal itu.
Nyi mas citrakala pun sangat seksama menyaksikan dan menyimak perbincangan antara aku dan ki pramasta Tunggal.
"Cobalah kau rebut kitab pusaka itu raden wira"
"Niat ku bukan tentang kitab pusaka itu, ki pramasta"
"Melainkan membekuk nya hidup-hidup"
"Iya ini sekedar saran saja raden"
"Bila itu di biarkan dia akan
menguasai ilmu persilatan"
"Dan akan berumur panjang
dengan ilmu kejayaan nya"
Di sana aku mulai meresapi, apa yang di katakan ki pramasta tunggal, bahwasan nya, aku harus merebut kitab pusaka, yang akan menggemparkan itu, aku harus bisa, merebut nya. agar tanah Jawa bisa, aman dari seorang ki rawa daksa yang bersifat Rakus dan keji kepada kaum yang lemah.
Setelah kita asyik berbincang ki pramasta, beranjak dariku untuk sekedar beristirahat.
Aku pun sama karena esokan harinya aku harus melanjutkan perjalanan ini, dan membutuhkan ekstra tenaga. dan ku lihat Nyi mas citrakala, sudah tertidur pulas, di sebuah tikar, di bale bale rumah, lantas aku pindahkan ke sebuah kamar agar dia tidak kedinginan.
Saat aku mencoba memindahkan dia, Nyi mas citrakala terbangun dan memeluk ku, secara spontan, aku langsung melepaskan nya.
"Raden wira, sambil tersenyum
__ADS_1
manja"
"Nyi mas lepaskan ini tidak di
benarkan"
"Ah raden wira kau tidak asyik"
Aku lantas, pergi menghindari godaan, cinta nya itu.
Ini sungguh membuat jantung ku berdebar-debar tak karuan.
Aku pun tak bisa tidur dengan nyenyak, dan memutuskan untuk, meditasi mengolah tenaga dalam ku.
Di sana aku di kejutkan oleh ke berapaan orang asing, yang mencoba menyusup ke pekarangan, rumah ki pramasta,
"Hai siapa kisanak, ucap ku berteriak ke orang asing itu"
"Sudah keluar saja, bila kau seorang pendekar sejati"
"Jangan bersembunyi"
Lantas orang asing itu menampakan diri nya. dan menyerang ku secara membabi buta, aku tangkia segala jurus ilmu silat nya, dan cukup mudah bagiku untuk, membekuk nya.
Topeng nya ku buka dan ku tanyakan apa maksud tujuan nya,menyusup ke kediaman ki pramasta Tunggal.
Dia, mengatakan bahwa dia di utus, pemberontak bernama, giri saketi, tokoh pembangkang di wilayah ini, dia sering berbuat onar dan meresahkan masyarakat.
Ki pramasta Tunggal menyuruhku untuk mengikat nya agar dia tidak kabur.
dan berniat akan di bawah ke penjara istana kerajaan parahiangan.
Aku ikat dengan ajian kancing konci agar dia tidak bisa berkutik dan bergerak sedikit pun.
"Aku sangat terkejut raden wira"
"Dan saya ucapkan banyak
Terima kasih"
"Sama-sama ki pramasta"
"besok pagi kita bawa dia ke
baginda maha raja Purna salinggih kencana"
Dan menurutnya ini suatu keberhasilan, dan akan mengurangi, kerusuhan di tatar pasundan, aku di paksa untuk menghadap, baginda raja Purna salinggih kencana.
Dan paman patih wirayuda wisesa.
Semoga saja, aku di beri bala bantuan untuk mencari tau informasi ki rawa daksa,
Aku tak bisa tidur sampai ke esokan harinya, karena ulah Nyi mas citrakala, yang berbuat tidak senonoh padaku.
"Gimana raden kita siap untuk membawa cecunguk itu"
"Siap ki pramasta aku ikut saja
Dengan rencana mu saja"
"Baiklah kita sered dia"
Dan kita pun ke sana menggunakan pedati milik ki pramasta.
Dan sontak saja menjadi bahan, penglihatan rakyat bangsa pribumi.
"Raden kita sudah sampai di istana"
"Iya ki pramasta"
"lekaslah turun dari pedati ku"
"kita kan menghadap penguasa tatar pasundan"
Nyi mas citrakala, melompat sebagai seorang pendekar.
Hiyaaaaaaat.......
Dan tentu saja itu memancing kegaduhan di sekitar istana parahiangan, semua prajurit istana langsung menyerang kami, kami di tuduh sebagai penyusup kerajaan.
Untung saja ki pramasta, bertindak cepat, kalau tidak kita bisa, membuat kegaduhan yang lebih lagi.
"Maap atas kelancangan tamu
ku, ucap ki pramasta kepada
mereka"
"kau mau apa kisanak"
"berani-berani nya kau berbuat tidak sopan di pelataran istana"
Di sana ada seorang panglima prajurit bernama mangku salaka.
Dan mulai menyerangku secara frontal, aku hanya membela diri saja, dia terus saja, menekan ku.
Dan aku terpaksa menggunakan ajian nembrag jagat. yang menggoncangkan. bumi. dan mereka, mundur secara ketakutan.
"Ampun kisanak"
"Dia meminta ampun padaku"
"Aku ingin bertemu dengan rajamu"
"Lekas bukakan pintu gerbangnya"
"Siap kisanak"
Dan kami di sambut hangat oleh paman patih wirayuda wisesa, dia memeluk ku, sontak aparat kerajaan pun terkesima akan kejadian, yang di lihat kedua matanya tersebut.
"Dengarkan ini ananda raden wira, dia adalah putra mahkota kerajaan Nirwana cakrabuana"
"Berdiri lah beri hormat padanya"
"Kalau ada yang membantah aku patahkan tulang belulang mu, ucap paman patih wisesa"
"Paman sudah ini berlebihan, ucap ku pada paman patih wisesa"
"Sudah raden wira, kau tenang saja"
Aku sedikit kurang berkenan dengan tindakan paman patih atasa kedatangan ku ke istana ini, seakan-akan aku menjadi orang yang di agung-agungkan, dan para aparat kerajaan parahiangan hilang kewibawaan nya. di hadapanku.
Tibalah saya di sebuah singgasana kerajaan parahiangan.
"Sembah hormat ku baginda raja"
"Bangunlah Ananda raden wira"
__ADS_1
"Itu tidak pantas"
"Kau seorang putra mahkota raja Nirwana"
Di sana aku di jamu dengan makanan megah khas istana yang sudah lama tak bisa aku rasakan, semenjak ku berdiam diri di padepokan cakrawala.
Di sana aku di kenalkan dengan raden Barata Yuda dan Nyi mas anggun purbasari, kedua anak kerajaan parahiangan.
"Raden aku sangat senang berjumpa dengan mu ucap Raden Barata yuda"
"Dan aku pun menjawab sebaliknya, suatu kehormatan bagiku menginjakan kaki di istana raja ini"
Dia mengajak ku berbincang hangat di sebuah taman pekarangan istana, sedangkan Nyi mas citrakala berbincang dengan ki pramasta dan paman patih wirayuda wisesa.
Aku di beri penghormatan penting oleh raden Barata Yuda dan dia memberikan ku sebuah kujang pusaka khas tanah pasundan, lantas pemberian itu aku Terima dengan suka cita.
"Raden wira kau memang hebat, ucap raden Barata Yuda"
"Ah tidak raden aku tidak hebat"
Aku merendah saja, tak perlu menyombongkan diri dengan ilmu kanuragan yang aku miliki sekarang ini.
Aku lantas ijin berpamitan karena tugas ku masih bel terselesaikan.
Aku dan Nyi mas citrakala, melanjutkan perjalanan lagi.
Dan kita sudah berada di sisi pantai Laut Selatan.
Kita di cegat oleh prajurit-prajurit pengawal ki rawa daksa.
Kita menghabisi semuanya secara rata, dan munculah ki rawa daksa, dengan tongkat naga nya.
"Kau mau mengantarkan nyawa raden wira"
"Urusan nyawa bukan urusan mu, ki rawa daksa"
"Sudah raden jangan banyak bicara, kita habis saja tua bangka berdebah ini ucap, Nyi mas citrakala"
"Sabar Nyi mas kau jangan terpancing hawa nafsu mu"
Ha.... Ha..... Ha..... Ha.....
"Cah ayu, citrakala, aku sangat menyukai wanita pemberani, seperti mu"
"Bajingan kau tua bangka"
"Terima ini serangan ajian seribu bayangan ku"
Lantas, ki rawa daksa menghilang dengan sekejap mata dan melakukan serang tapak ajian harimau kalimaya.
tersungkur lah Nyi mas citrakala. dia sangat ceroboh karena tenaga dalam nya tidak di kuasai penuh.
"Sekarang giliran kau raden wira"
Aku menyelamatkan Nyi mas citrakala dulu, untuk di bawa ke tepian laut agar dia, bisa meditasi tenaga dalam nya"
"Ah..... raden aku terkena luka dalam"
"Sudah ku bilang kau jangan ceroboh"
"Sudah kau istirahat saja di sini"
"Iya hati-hati raden wira"
Kini aku berhadapan satu lawan satu dengan ki rawa daksa, gempuran demi gempuran di layangkan untuk menghabisi nyawaku, namun aku berhasil mengelaknya.
"Lumayan juga ilmu silatmu rade wira, ucap ki rawa daksa"
Kini aku mengeluarkan tenaga dalam ku, untuk mengimbangi tenaga dalam nya ki rawa daksa, yang kuat dengan aura negatif nya itu.
"Kini kau tidak akan lama lagi hidup raden, ucap ki rawa daksa"
Aku tidak terpancing emosi dengan ulahnya tersebut.
itu semua taktik nya, agar aku tidak berkonsentrasi penuh.
Ajian Qulhu geni ku di imbangi ajian rawa rontek nya,
Dan ajian rawa rontek nya aku lawan dengan ajian panca sona
Kini dia sudah mulai tertekan karena aku sulit di tumbangkan.
"Kurang ajar kau raden"
"Ayo ki rawa daksa keluarkan ilmu kanuragan mu"
"berdebah kau, anak kemaren sore sudah berani melawan ku"
Dia sendiri yang terpancing emosi dan tidak fokus dengan jurus-jurus pamungkas andalan nya itu.
Dia mengeluarkan jurus tongkat naga terbang nya, dan aku galau dengan, kujang pusaka panyingkiran. luar biasa energi kujang pusaka ini.
bisa menghancurkan tongkat naga milik ki rawa daksa.
Dan ki rawa daksa mundur beberapa langkah karena panik atas kujang pusaka yang ku miliki ini.
"Dari mana kau mendapatkan kujang pusaka itu raden"
"Kau tak perlu tahu ki rawa daksa, mana saudara seperguruan ku, Indrakala dan candrakala"
Dan mereka semua ada di hadapanku dan lantas menyerangku, secara membabi buta.
"Sekarang kita sudah bukan saudara lagi rakak, ucap mereka berdua"
"Kau sudah terhasut ki rawa daksa rayi, sadarlah kau"
"Tidak, rakak salah besar"
Dia langsung, menyerang ku dengan ajian cakar kumbang, luar biasa, ilmu kanuragan nya berkembang pesat.
Dengan sangat terpaksa aku lontarkan ajian bentar gelap ku. yang menumbangkan mereka secara bersama-sama.
namun mereka di selamatkan oleh pendekar bertopeng yang misterius, dan menghilang tanpa jejak.
Aku kecolongan dan kecewa akan kejadian ini.
lantas aku, sekarang menemui Nyi mas citrakala yang terluka parah, aku mengobati nya,
Dengan mentrasfer energi tenaga dalam ku, untuk membuang racun, yang bersemayam di dalam tubuhnya.
"Terima kasih raden kau telah,
mengobatiku"
"Iya sama-sama Nyi mas"
"Ayo kita cari keberadaan mereka lagi"
__ADS_1
Aku dan Nyi mas citrakala pun beranjak dari pesisir Laut pantai selatan ini.