Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Berpamitan kepada ki janggawareng


__ADS_3

Tak terasa waktu pun cepat berlari, dan kini sudah menjelang pagi hari lagi, waktunya raden wira dan asta baratakala, melanjutkan perjalanan nya, menuju kadipaten waringin jati.


"Ki janggawareng kita pamitan,


dulu yah"


"Iya kalau itu mau nya raden


wira silahkan saja"


"Berhati-hatilah di jalan" 🙏


"Iya Terima kasih atas,


tumpangan, nya semalam"


"Iya sama-sama raden wira"


Tak perlu berlama-lama lagi, raden wira dan batarakala langsung, memecut kuda tunggang nya, dengan penuh kesemangatan. agar lebih cepat lagi tiba di kadipaten waringin jati.


pecutan demi pecutan itu semakin menambah kecepatan lari kuda tunggang nya.


Dan kini mereka sudah hampir sampai di kadipaten waringin jati, mereka menyusuri lembah perbukitan hutan dan sungai agar bisa sampai ke sana.


Matahari sudah mulai terik sekali seperti, nampak di atas kepala ubun-ubun nya raden wira dan asta batarakala.


"Rakak kita istirahat dulu saja"


"Kasian kuda nya"


"Iya betul rayi, kita istirahat dulu,


saja" 🙏


Dan istirahatlah mereka di pinggiran sungai panyandaan yang terletak di dusun tirta wening,suasana dusun ini sangat, tentram sekali, dan penuh dengan kearifan lokal dan adat budaya yang masih sangat kental, dan menjunjung tinggi para leluhur nya.


Itu semua hal yang sangat positif menurutku. agar semakin memperkokoh, kesatuan dan persatuan.


Aku lihat, di pinggiran sungai ini banyak sekali aktivitas warga pribumi, selain mencuci, mandi dan mengambil air minum.


juga sungai ini di jadikan saluran irigasi untuk mengairi sawah dan ladang di sekitar dusun tirta wening.


Jadi pantas saja dusun ini para petani nya sangat subur dan makmur, oleh olahan hasil alam nya.


Di sana aku mencuci muka ku. untuk sekedar menyegarkan muka ku saja.


Air nya sangat dingin karena air nya berasal dari mata air di sekitar gunung aseupan.


"Rakak aku mau berendam"


"Kaya nya segar, rakak"


"Ucap, asta batarakala, padaku"


"Iya silahkan saja rayi"


Dan ketika aku sedang asyik bersandar pada batu yang besar di pinggiran, sungai itu


Aku melihat, nyi mas citrakala dan nyi mas laraswati, di ujung sungai itu, sedang mencuci pakaian.


Aku menggesek gesekan kedua belah mataku agar lebih meyakinkan lagi, bahwa aku sedang tidak bermimpi.


"Rakak?


"Iya rayi, ucap ku pada asta


batarakala"


"Lihat itu rakak, ada nyi mas citrakala"


"Iya rayi benar, dia nyi mas citra


kala"


"Ayo hampiri dia rakak, jangan


berdiam diri saja"


"Jadilah pria sejati rakak"


Aku lantas merasa tergugah, atas ucapan rayi batara kala itu.


Memang benar adanya aku seperti pemuda yang tidak mempunyai nyali.


Namun aku sendiri tidak bermaksud begitu adanya.


Namun mau tidak mau aku harus memberanikan diri untuk menghampirinya.


Dan aku pun coba, memberanikan diri, untuk


menghampirinya.


"Sampurasun"


"Rampes"


Dan menengoklah nyi mas citrakala ke hadapan ku. dia


nampak, terkejut atas kehadiran ku di hadapan nya.


"Kang mas wira?


"Apakah benar itu kamu?


"Iya siapa lagi nyi mas ini aku


wira sanjaya"


Dan tanpa berpikir lama lagi, nyi mas citrakala langsung memeluk, raden wira dengan erat dan tidak mau di lepaskan,

__ADS_1


nya.


"Sudah nyai aku tidak bisa bernafas, ucap raden wira"


"Aku sungguh merindukan mu,


kang mas"


"Iya sama, tapi lepasakan dulu"


"Iya kang mas wira" ☺


"Maafkan aku yah" ☺


"Ucap nyi mas citrakala"


Sesudah itu, raden wira mengajak, nyi mas citrakala untuk menepi, sebentar ke pinggir sungai panyandaan itu.


Mereka berbincang-bincang, dengan penuh rasa kebahagiaan.


Sedangkan nyi mas laraswati juga berbincang dengan asta batarakala, rupanya nyi mas laraswati, menyimpan perasaan lebih dan rasa ketertarikan nya pada asta batarakala, pemimpin


padepokan perguruan silat,


cakrawala.


"Kang mas kemana saja dirimu,


ucap nyi mas citrakala, pada


raden wira"


"Aku sibuk berkelana nyi mas"


"Ucap raden wira, pada nyi mas


citrakala"


"Apakah kau tidak rindu padaku?


"Tentu saja nyi mas, ucap raden


wira, berucap pada nyi mas citrakala"


Rupanya nyi mas citrakala menyimpan rasa rindu yang menggebu-gebu pada raden wira sanjaya kusumah.


Dan nyi mas, berkeluh kesah akan kehidupan nya sekarang yang nampak sudah tidak ada tujuan, ketika di tinggal pergi oleh.mendiang eyang lingga buana, sang kakek nya tercinta.


Raden wira sanjaya pun, menyemangati, nyi mas citrakala, agar tetap semangat menjalani kehidupan nya.


"Sudahlah nyai, kau tak usah


larut dalam kesedihan, seperti


itu, aku tak enak hati,


melihatnya" 🙏


"Sekarang kan kau tinggal bersama mak lasmanah dan nyi mas laraswati"


"Iya Kang mas aku sangat bersyukur, sekali, ucap nyi mas


citrakala"


"Aku pun meras kehilangan nyi mas, dan tentu saja sangat,


terpukul, akan hal ini"


"Beliau adalah seorang guru sekaligus figur panutanku"


"Iya eyang lingga selalu menanyakan, kabar Kang mas


sebelum beliau meninggalkan kita semua"


"Iya aku pun tahu dari rayi asta batarakala"


"lantas rencanamu apa ke depan nya kang mas wira?


"Iya mungkin untuk sementara,


aku mau membantu, rayi asta batarakala dulu di padepokan"


"Iya aku harap juga begitu kang mas wira"


Raden wira sebetulnya, ingin sekali membalaskan dendam untuk mendiang kakak nya raden wira sanjaya kusumah.


Dia sedang mengintai, keberadaan indrakala dan candrakala, namun tugas nya itu semakin berat ketika, paman senopati darma kusumah, meminta nya untuk menangkap


durhaka pati, dia juga sama jahat nya dengan indrakala dan candrakala. karena cikal bakal nya adalah murid dari ki rawa daksa, yanga sudah tewas di bunuh raden wira.


Mungkin juga mereka, melakukan teror, itu adalah sebuah tindakan balas dendam nya kepada raden wira dan Kerajaan nirwana cakrabuana.


"Kang mas, kamu harus berhati-hati yah, nyai takut Kang mas kenapa-napa"


"Tentu saja tidak nyai, doakan


saja Kang mas wira, agar selalu baik-baik saja"


"Iya Kang mas wira, ucap nyi mas citrakala"


Dan raden wira pun berpamitan dengan kekasih nya nyi mas citrakala dan kepada cucu nya mak lasmanah, yaitu nyi mas laraswati.


"Sampaikan salam hormat saya pada mak lasmanah, nyai" 🙏


"Iya pasti Kang mas wira, ucap nyi mas laraswati"


"Aku dan asta batarakala pamit yah" 🙏


"Kalian jaga diri baik-baik"

__ADS_1


"Iya Kang mas, ucap nyi mas


citralaka"


"Sampurasun" 🙏


"Rampes, kakang"


Lalu raden wira dan rayi seperguruan nya pun, beranjak dari tempat itu, menuju kuda tunggang nya, dan bergegas untuk melanjutkan perjalanan nya menuju ke kadipaten waringin jati, untuk mengincar keberadaan indrakala dan candrakala.


Raden wira sudah sangat bersiap, untuk pertempuran itu, dia sudah sangat percaya diri akan ilmu kanuragan nya yang ia dapatkan dari eyang sagar cipta, hasil berguru nya di wilayah kerajaan tembong agung, di sumedang selatan.


"Rakak apakah kita akan sampai ke kadipaten waringin jati, dengan sisa waktu yang ada"


"Kita coba saja dulu rayi batarakala, ucap raden wira padanya"


Rupanya, asta batarakala sedikit khawatir, akan perjalanan nya itu, tidak akan sampai dengan sisa waktu yang ada, namun raden wira meyakinkan dia agar tidak patah semangat dengan sebuah keadaan.


Lantas asta batarakala pun, mengikuti anjuran rakak nya raden wira, untuk mencoba terlebih dahulu.


Dan benar saja ucapan raden wira, itu tepat sekali, mereka, sudah sampai di kadipaten waringin jati, sebelum terbenam nya matahari.


"Rakak kita sudah berada di gapura perbatasan kadipaten, ucap asta batarakala, pada raden wira sanjaya"


"Iya rayi, apa kataku, kau jangan putus asa dulu"


"Iya rakak, maafkan rahim ini" 🙏


Kini merak pun, sudah tiba di pekarangan padepokan perguruan silat cakrawala, dengan selamat, namun rupanya ada sedikit masalah ketika melihat suasana padepokan itu hancur berantakan dan para pendekar murid-murid, padepokan silat itu, pada terkapar dan banyak yang terluka parah.


Asta batarakala pun nampak panik bukan kepalang, menyaksikan kejadian itu do depan kedua belah mata nya sendiri.


"Rakak, Aku yakin ini sebuah,


pemberontakan, rakak"


"Ucap,astabatarakala, pada raden wira sanjaya"


"Iya rayi, tenang saja, kau jangan kesulitan emosi dulu"


"Tidak rakak, ini sebuah penghinaan besar bagiku"


"Dan aku tidak akan tinggal diam begitu saja"


"Iya tenanglah rayi, aku akan membantu mu"


Setelah di tanyakan, kepada salah satu murid nya, asta batarakala, ternyata ini perbuatan durhaka pati.


dan dia menitipkan surat pada asta batarakala.


Lalu surat itu di baca nya dengan lantang, agar terdengar oleh raden wira sanjaya.


"Ada surat rakak, ucap asta batarakala"


"Lekas, bacalah rayi, aku ingin mendengarnya"


"Baiklah rakak wira"


"Sampurasun"


Dengan rasa hormat ku pada eyang lingga yang sudah tiada, aku ingin menguasi kadipaten waringin jati dan serahkan lah padepokan cakrawala, bila kau ingin selamat batarakala.


dan kalau kau berani melawan ku, akan aku pastikan kau akan tewas di tangan ku sendiri


Salam hormat, durgala pati


"Jahanam durgala pati"


"Dia menganggap remeh diriku,


rakak wira"


"Sabar kau jangan gegabah, kita harus pakai kepala dingin"


"Aku sudah banyak belajar dari pengalaman, terdahulu"


"Bahwa kita harus melawan nya dengan otak dan pikiran bukan saja secara ilmu kanuragan"


"Aku tidak bisa bertele-tele rakak"


"Kau mau membantah silahkan"


"Aku tak akan melarang mu"


"Rakak, marah padaku"


"Tidak aku hanya ingin kau bersikap tenang"


"Rakak, akan pasang badan, tenang saja rayi asta batarakala"


"Baiklah rakak wira, aku patuh saja padamu"


Dan mereka pun sekarang menyusun rencana, untuk menghadapi durgala pati yang terkenal, licik dan buas itu.


Raden wira, pun sekarang membantu, para pendekar cakrawala yang terluka parah, dia membuat sebuah ramuan obat tradisional, untuk di berikan pada semua anggota padepokan, perguruan silat cakrawala.


Raden wira sudah piawai dan sangat pintar dan ahli akan meracik berbagai ramuan penangkal racun akibat luka tenaga dalam.


Raden wira berguru pada, mak lasmanah, dan eyang sagar cipta yang mahir akan , mengolah berbagai macam obat ramuan tradisional.


"Rakak kau pandai sekali rupanya, membuat ramuan itu"


"Baru juga belajar rayi"


"Ah rakak, selalu merendahkan diri, ucap asta batarakala"


Setelah semua nya di obati, raden wira, meminta ijin untuk beristirahat sejenak.


Dan asta batarakala pun sama pula dia juga perlu mengistirahatkan badan dan tubuhnya.

__ADS_1


Dengan harapan besok pagi dia bisa berkumpul lagi dalam keadaan jernih dan hati yang tenang.


__ADS_2