
Aku masih di rundung kepiluan atas kegagalan ku meringkus dan melenyapkan ke angkara murkaan ki rawa daksa dan para pengikutnya.
Dan aku pun masih, bertanya-tanya atas sosok pendekar bertopeng itu. ini bukan tugas mudah dan pergerakan ku terhalang oleh Nyi mas citrakala, aku berencana pulang dulu untuk mengantarkan Nyi mas citrakala ke padepokan cakrawala.
"Nyi mas sebaiknya kita mundur dulu saja"
"Apa maksudmu raden wira"
"Ini bukan perkara mudah"
"Dan kau sudah terluka parah"
"Aku sungguh khawatir akan keadaanmu"
"Kau menyepelekan ilmu kanuragan ku raden"
"Oh bukan begitu Nyi mas"
"Kau selalu saja terpancing emosi"
Aku pun membawa Nyi mas citrakala untuk pulang ke padepokan cakrawala.
Dan berencana mengajak rakak askara, untuk menemani ku, dalam penyusuran, melenyapkan kebatilan ki rawa daksa.
Namun karena hari sudah mulai agak gelap kita, memutuskan untuk beristirahat dulu, dan terpaksa kita tidur di hutan belantara ini, karena jauh dari pemukiman warga.
"Raden kita tidur dimana"
"Kita tidur di hutan saja"
"kita berada jauh dari sebuah dusun dan pedesaan"
"Ya sudah ucap Nyi mas citrakala"
Aku pun berjaga-jaga, di sekitar hutan itu agar Nyi mas citrakala tidak di ganggu hewan buas yang berada di sekitar hutan ini.
Sosok mahluk astral itu menampakan diri padaku, aku tak menghiraukan nya sama sekali, tapi kalau dia berani mengganggu akan ku leyapkan dengan ajian Qulhu geni ku.
Sampailah, pagi hari itu menjelang, aku langsung membangunkan Nyi mas citrakala.
"Hai bangun, aku menepuk-nepuk pipinya yang merah merona"
"Iya raden badan ku terasa remuk sekali, ucapnya"
"Pantas saja kau terkena ajian jurus ki rawa daksa itu"
"Aku tidak kuat berdiri raden"
"Ya sudah naik ke punggungku"
"benarkah raden, ucap Nyi mas citrakala"
"Iya lekas naik saja, banyak bicara kau ini"
Di situlah aku menggendongnya dan dia tak henti-henti nya tersenyum, dan merasa bahagia.
"Raden aku kira kau tak perduli
padaku, ucap Nyi mas
citrakala"
"Sudah diam saja"
"Tak usah banyak cakap"
"Aku capek badan mu berat,
juga Nyi mas citrakala"
Aku memakai ajian saefi angin agar mempercepat laju jalanku, dan dengan ijin sang maha Kuasa aku sampai di kadipaten waringin jati, kita telah sampai di wilayah kekuasaan kerajaan Nirwana cakrabuana.
"Raden kita telah sampai"
"Iya lekas turun nyai"
Brug...... "Aduh"
"Kenapa raden, ucap nyai citrakala"
__ADS_1
"kau masih bertanya kenapa"
"Kau ini melucu yah"
"Aku ini kecapean, menggendongmu, nyai"
"Iya maapkan aku raden"
"Gitu saja marah, tidak asyik ah"
Itulah manja nya Nyi mas citrakala, namun aku tidak bisa di pungkiri lagi, rasa sayangku ini timbul untuk nya.
Apa aku salah mencintai nya, entahlah semakin aku menolak dan memungkiri rasa dalam hati ini, semakin bergejolak pula, hasrat asmara ini.
Mungkin sang Hyang Widi, sang Pencipta alam semesta mengirimkan dia untuk menjadi jodohku.
Sampai juga aku di pekarangan perguruan cakrawala.
"Sampurasun"
"Rampes"
Dan yang menjawab salam ku adalah rakak askara, dia terkejut dan menanyakan kabarku,
"Rayi kau selamat rayi"
"Iya rakak, alhamdulillah"
Dia sangat peduli dengan ku, aku pun bercerita akan pengalaman ku dalam perjalanan panjang itu.
dia terkesima atas, jiwa Ksatria ku.
Dan aku mengajak nya untuk bahu membahu melenyapkan ke angkara murkaan ki rawa daksa, karena. bila aku di temani Nyi mas citrakala selalu terhambat dan kunjung selalu ada masalah, di ceroboh dan gegabah, bertindak tidak dengan kepala dingin tidak berirama, jadi nya ngawur, tak karu-karuan.
Rakak askara pun memarahi adiknya Nyi mas citrakala, karena, tidak bisa mendampingi ku secara baik dan benar.
Namun aku melerai nya. dan aku anggap ini memang sudah takdirnya sang maha pencipta.
Ki lingga pun memberi nasihat padaku agar aku mengurungkan niat nya untuk segera, membasmi ki rawa daksa, dia sudah mengetahui penyebab kegagalan ku, yaitu karena sosok pendekar misterius itu.
Aku tak bisa melihat sosok wajahnya.
Ki lingga menerawang nya dari kejauhan, ternyata dia adalah Wasta kencana, salah satu muridnya ki lingga yang berbelot arah menjadi tukang pukul kerajaan Nasta Tunggal.
Dia menceritakan akan masa lalunya Wasta kencana, dia adalah seorang anak, prajurit kerajaan Nirwana, yang gugur di medan pertempuran laga.
dia di urus dan di besarkan, istrinya ki lingga bernama nini kadarsih yang sudah lama wafat.
Dari kesimpulan cerita ki lingga anak itu tidak tahu balas budi seperti apa yang di lakukan ,
Indrakala dan candrakala.
Memang sudah sepantasnya di beri peringatan, agar ada efek jera nya.
"Sudahlah, istirahat saja"
"Nanti kita susun siasat lagi"
"Agar kita tidak mengeluarkan,
energi lebih"
"Baiklah eyang lingga ucapku"
Dan aku kaget di luar sana ada suara kegaduhan.
Aku pun dan raka askara melihatnya dan itulah sosok pendekar bertopeng itu.
"Hai Wasta kencana, ucap rakak askara padanya"
"Rupanya kau sudah tahu akan jati diriku askara"
"Lancang sekali kau, menginjakan kaki mu yang kotor di padepokan cakrawala ini"
Ha.... Ha...... Ha......
"Laknat kau askara"
Dia beradu jurus dengan rakak askara, saat aku ingin maju membantu nya, rakak askara marah dan menyuruhku mundur.
__ADS_1
"Mundur.... Mundur rayi"
"Iya rakak"
Dia meminta diriku mundur, beberapa langkah, dia ingin bertarunh secara Ksatria satu lawan satu.
"Kau bukan tandingan ku askara"
"Kita buktikan saja Wasta kencana"
"kau murid durhaka"
"Dan tidak tahu balas budi"
"Tutup mulut mu askara"
"Atau kau akan menyesal seumur hidup mu"
Lantas, keduanya bertikai secara hebat, dan aku hanya menyaksikan saja.
Raka askara bertarung, aku lihat rakak askara tidak bisa mengontro emosi nya, jadi dia kurang fokus dengan jurus-jurus
ilmu kanuragan nya.
Sehingga dia dapat dengan mudah di tumbangkan wastu kancana.
Saat dia mau menghabisi rakak askara aku datang menghalangi nya. dan memukul dia dengan ajian munding wiladorna, ajian pemberian dari paman patih jaya ledra kencana.
Dan wasta kancana pun tersungkur luka parah.
Dia meringgis kesakitan dan saat aku akan habisi, ki lingga melarang nya.
"Tidak raden biarkan dia hidup"
"Tapi dia akan menjadi diri dalam daging ki"
"Kalau di biarkan hidup"
"Jangan biarkan dia jadi orang baik lagi"
Dan aku lantas mengurungkan niat ku, untuk menghabisi nyawa Wasta kencana.
Dia memohon ampun dan ingin bertobat, dan menjadi orang baik lagi, aku tak begitu percaya akan tipu muslihat nya.
Rakak askara pun sama dengan ku, dia menggangap bahwa Wasta kancana orang licik dan jahat. dan tidak sepantasnya di biarkan hidup.
Namun aku tak bisa berbuat banyak karena eyang lingga masih mempunyai naluri dan kebijaksanaan dari, hatinya.
Sungguh menjadi suri tauladan bagi murid-muridnya.
aku tak salah menimba ilmu dari nya.
Itu saja yang aku nilai dalam lubuk hatiku.
Wasta kencana di berikan satu kesempatan lagi untuk membalas dan bertanggung jawab atas perbuatan nya.
Dia menciumi kaki eyang lingga dan menangis sekencang kencang nya.
Dia angkatlah badan Wasta kancana dan ki lingga membawa nya ke sungai pamoyanan dia akan di mandikan secara, bersih agar ilmu negatif nya keluar dari dalam tubuhnya.
Aku pun lantas, mengikutinya. agar dia tidak melawan dan macam-macam dengan eyang lingga buana.
Saat Wasta kancan di guyur oleh air kali keramat itu.
menggerang kesakitan.
"Aduh sakit.... sakit..... "
Dia kesakitan karena efek ilmu negatif yang dia punya dari ki rawa daksa keluarga dari dalam tubuhnya itu.
Selesailah acara sakral pemandian itu.
Dia kini menjadi terlahir kembali dan badan nya menjadi lemas tidak berdaya.
Aku juga timbul rasa iba dan kasian melihat pendekar yang waktu mandraguna tidak berdaya sedikit pun.
begitulah ulah kalau kita menjadi orang yang salah, melangkah dalam memilih jalur kehidupan. kita bisa terjerembak ke dalam jurang-jurang kenestafaan hidup.
Dan akhirnya hanya sebuah penyesalan dan di rundung kepiluan hati.
__ADS_1