
Setelah beberapa hari aku beristirahat, di padepokan, keadaan tubuhku kini berangsur pulih kembali.
Aku lihat persediaan air mandi dan minum sudah habis.
Aku memutuskan untuk pergi ke kali dekat sungai pamoyanan yang berada di lereng bukit. dan yang menemani ku adalah adik seperguruan ku rayi indrakala.
"Wahai rakak raden Wira mau kemana kah engkau"
"Bertanya indrakala padaku"
"Rayi indrakala, aku mau turun bukit mengambil persediaan air minum"
"Aku ikut rakak, aku mau,
membantu mu"
"Lekaslah kesini rayi, kalau kau,
mau ikut dengan ku"
Dan kami berdua berjalan, menyusuri bukit yang terjal itu, Indrakala, berbicara padaku kenapa kita tidak buat sumur saja, agar tidak perlu turun bukit seperti ini, aku menjelaskan padanya, bahwa itu bukan wewenangku, tanyakan saja sama ki lingga buana. dia hanya tersenyum, saja.
Sudah ku baca dia segan dan takut untuk berbicara pada ki lingga buana, di tengah perjalanan, kami menemukan ular, babi hutan, dan monyet liar, yang sedang mencari makan. di sekitaran lereng hutan ini,
"Rakak apa kita tidak akan kemalaman, tanya indrakala"
"Memang nya kenapa kalau kita kemalaman rayi, tanyaku ke dia"
"Rakak tidak tau hutan ini angker, dan menakutkan"
"Sudahlah rayi, tak usah kau bergurau padaku"
"Jangan menakut-nakuti ku"
"Aku tidak takut sama sekali" 🙏
"Rakak aku tidak sedang bergurau padamu"
"Apa yang aku katakan itu benar
Adanya, semua sudah tau"
"Lantas kenapa kau memberanikan, diri ikut denganku"
"Aku jadi berani karena engkau ,
raka Wira" 😁
( Sambil menggaruk-garuk kepalanya)
"Ah kau ini melucu saja rayi"
Kami, terus melanjutkan perjalanan ini dan sampai lah kita di hulu sungai pamoyanan itu. hari sudah mulai gelap, dan kita harus ekstra hati-hati dalam melangkah, karena kita tidak membawa, alat penerangan seperti obor,
"Hati-hati rakak ucap, rayi,
indrakala"
__ADS_1
"Iya kau juga rayi, ucapku ke dia"
Dan berapa kagetnya saat itu kita mendengar suara pertunjukan gamelan, sangat nampak jelas, nyaring kedengaran nya, sampai-sampai, rayi indrakala panik dan terjatuh ke sungai, aku lantas menolong nya berdiri, dan dia terus memegangi tubuhku, karena sangat ketakutan.
"Sudahlah rayi aku ada di sini"
"Rakak sudah ku bilang apa"
"engkau nekad sih, rakak" 😞
"Sudah, itu kan hal ghaib yang
ada di sekitar kita"
Aku tenang saja, mengambil air, dan rayi indra kala, hanya menunggu di tepian sungai itu.
Badan nya gemeteran dan muka nya pucat pasi, saking ketakutan nya dengan suara gamelan ghaib itu.
Lantas aku pun permisi dulu. ke penunggu ghaib yang ada di sana.
"Sampurasun"
"Assalamualaikum Walaikum alam, ya ghoib"
Itu di tunjukan kepada para mahluk halus, ataupun kepada roh yang sudah meninggal,
Itu ajaran kyai tunggul pancar penasehat kerajaan Nirwana,
"Rakak sudah jangan lama-lama"
"Iya rayi tenang saja ucap ku ke dia"
kencing berdiri"
"Tidak rayi indrakala, kau jangan
buruk sangka padaku"
Setelah aku mengambil air itu, dan bergegas, pulang memutar balikan badan, terdengar suara sungai, yang aneh seperti orang yang sedang berendam di sungai, tapi aku pastikan dan ku tengok, tidak ada orang satu pun juga.
Dengan ras penasaran aku mencoba memakai ajian raga sukma, agar menembus alam ghaib itu, dan ku lihat memang ini kerajaan jin.
Dan aku bertarung dengan raja jin yang aya di sana, karena sosok jin kafir itu mencoba mengunci ku di alam nya.
Lantas aku menggunakan ajian rajah kalacakra, dan Qulhu geni, untuk membunuhnya, dan aku bisa keluar dengan aman dari alam jin itu.
Sesudah mu bertempur habis-habisan dia menyerah dan aku tidak jadi membunuh nya , dia, sekarang menjadi bawahan ku.
Namun aku islam kan dulu dengan menyuruhnya membaca dua kalimah syahadat, dan dia menuruti ku.
Kalau saja dia tidak menuruti ku akan ku pastikan dia hancur lebur.
Ini ajian warisan, sunan kali jaga, yang di dapat, kyai tunggul pancar, dan di berikan padaku juga.
Aku kembali ke alam nyata, dan masuk ke dalam ragaku, lagi,
Ku lihat, rayi indrakala, sembunyu di semak-semak belukar sambil berteriak-teriak minta tolong, ada-ada saja rayi Indrakala, itu kelakuan nya, aku heran sekali sama dia.
__ADS_1
Tingkah laku nya kaya anak kecil saja.
"Rayi kau di mana, aku bertanya"
"Aku di sini rakak, kau kenapa diam saja"
"ku kira kau pingsan, rakak" 😁
"Ayo kita pulang"
Lantas aku, pun dan dia pulang dalam kegelapan malam, suara gamelan itu sudah tidak ada lagi, syukurlah, semoga saja tidak ada teror, lagi ke orang orang pribumi yang mau, mengambil air di hulu sungai, pamoyanan ini.
"Rayi tunggulah aku, kenapa kau lari" 😁
"Rakak ini tidak takut sama sekali"
"Ini hutan rakak, dan aku tidak
mau jadi santapan hewan buas"
"Lah kau ini sudah pikiran nya ngaco" 😁
"Rakak yang ngaco, bukan rayi"
Rayi indrakala berlari terbirit-birit, dan tidak menghiraukan ku sama sekali, dia panik kelimpungan sendiri. Tentu saja aku memahaminya biarkan dia saja dengan, tingkah laku nya yang lucu itu.
Aku pakai, jurus halimun saja, untuk mengelabui nya , dan aku sudah berada di depan nya dan tertawa. 😁
"Rakak, apakah ini rakak raden
wira, ucap dia sambil, memegangi tubuhku"
"Aku iseng saja, membasahi wajahnya dengan air"
"Ah rakak, ku kira hantu" 👻
"Tidak sopan kau rayi"
"Kau tinggalkan rakak mu sendirian"
"Maapkan aku rakak, aku takut" 😁
Kita sekarang sudah sampai di sebuah dusun, ligar kenanga, dan sudah, aman, dari hutan angker itu, sekarang dia terlihat lebih tenang dan kalem, mukanya sudah mulai sumringah lagi, ku kira indrakala itu pemberani, ternyata penakut dia, seperti, perempuan saja.
Setelah tiba di padepokan cakrawala, aku lantas di tanya ki lingga.
"Raden wira kau dari mana saja
kami semua mencari mu"
"Maap, ki lingga aku membuatmu jadi khawatir"
"Aku dan Indrakala habis mencari air "
"Oh ya sudah lekaslah beristirahat"
Saat aku mau menyimpan air di sebuah gentong yang, tersimpan di dapur, aku lihat, nyi mas citrakala sedang memasak, dan dia terus memandang ku dengan tajam, aku tak menghiraukan nya, di selalu menggoda hasrat lelaki ku, namun sampai saat ini aku kuat, menghadapinya,
__ADS_1
itu adalah godaan terbesar bagi kaum adam, bisa di bilang harta tahta dan wanita, seperti para kedudukan raja yang berkuasa di singgasana kerajaan, bukan maksud ku menyindir ayahku, dan rakak ku raden Arya. itu tidak baik karena mereka adalah ayah dan kakak ku sendiri, tidak bisa di pungkiri, dan menganggap lebih rendah derajat nya di banding pribadiku sendiri.
Aku hanya seorang manusia biasa tanpa ada yang harus aku banggakan, sama sekali.