Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Harta, Tahta Dan Wanita.


__ADS_3

Raden Arya pun berhasil mempersunting nyi mas ayu ningsih, dia merasa menang atas raden askara.


Raden askara sangat terpukul dan berusaha tegar dalam menyikapi keadaan ini.


Dia berusaha tegar dan berlapang dada.


Acara pernikahan ini sangat megah sekali, tamu dari berbagai kerajaan, dari golongan bangsawan, dan priyayi berdarah biru, dari kalangan konglomerat, dan para saudagar negri sebrang datang silih berganti, sekedar mengucapkan selamat kepada kedua pasangan mempelai, yaitu raden Arya sanjaya kusumah dan nyi mas ayu ningsih.


Raden adipati adiwira sanjaya kusumah pun sebagai adik kandung datang untuk sekedar mengucapkan selamat, ia pun di sambut, dengan hangat. di sana dia bertemu dengan wasta kancana, paman patih jaya ledra, paman senopati dharma kusumah, dan kyai tunggul pancar, serta raden askara sebagai kakak angkat nya.


"Rayi akhirnya kita bisa bertemu lagi, ucap raden askara"


"Iya tak akan askara, kau yang sabar yah aku sudah tahu ceritanya"


"Iya rayi raden wira, aku sangat tegar,kau tak perlu khawatir"


Dan Majulah raden wira ke pelataran singgasana pelaminan itu.


"Rayi kau datang juga, ucap raden Arya, pada adiknya"


"Rakak, aku tak mengira kau akan sekeji itu"


"Maksud mu apa, kau membela si askara, semut pincang itu"


"Sudahlah rakak, aku kesini, datang dengan penuh hormat untuk mu"


"Iya Terima kasih kau masih menganggap ku sebagai seorang kakak"


"Nyi mas ayu, selamat menempuh bahtera rumah tangga, ucap ku padanya"


"Terima kasih rayi raden wira"


Dan di sana raden wira memandang wajah ayahandanya lalu menunduk meneteskan air mata. 😭😭😭


Air mata kesedihan itu tak bisa di bendung lagi, di bersujud di kaki ayahandanya.


"Ayahanda maapkan, ke egoisan ku ini"


"Kau menyesal ananda, tanya sang Maha prabu"


"Kalau kau menyesal, kesempatan itu sudah tertutup rapat-rapat bagimu ananda"


"Tidak ayah aku menangis bukan karena Tahta mahkota kerajaan"


"Lantas apa yang kau tangisi ananda"


"Aku menangis karena dosa ku, pada ayahahanda dan ibunda ratu"


"Lekaslah bangun ananda, ibunda ratu, menyayangimu"


"Tidak ibunda ratu, aku tidak pantas, menjadi seorang anak sanga Maha Raja Nirwana cakrabuana"


"Kau jangan berbicara begitu ananda"


"Ibunda jadi sedih" 😭😭


bangunlah, seorang raden wira dan mengusap usap air mata ibunya lalu dia meminta ijin air mata nya itu di usap tangan nya lalu di jilatkan ke lidahnya sendiri. dan meminta semoga air mata ibundanya. menjadi sebuah jimat kehidupan. untuk kejayaan hidupnya di masa depan.


"Aku mohon ibunda dengan ikhlas meridoi air mata ibunda sebagai ini masuk ke dalam aliran darahku"


"sebagai doa dan menyertaiku dalam tindak tanduku"


"Ibunda ikhlas ananda"


"Kau memang anak yang berbakti"


"semoga kamu bahagia selalu di luaran sana"


"Maap ibunda tidak bisa menjadi ibunda yang baik untuk anak-anak nya"

__ADS_1


Sesudah itu raden wira bertemu eyang lingga buana, dia pun meluapkqn ras rindunya itu denga memeluk eyang gurunya tersebut.


"Kau Ksatria kuat raden wira"


"Sudah hapus air matamu"


"Iya eyang lingga, aku tak kuasa menahan air mata ini"


Sekarang yang ada di hadapan nya adalah nyi mas citrakala.


Dan mereka saling bertatap-tatapan, lama sekali mereka seperti orang asing yang baru saling mengenal satu sama lain.


Dengan respon nya kuat nyi mas citrakala menangis dan memeluk raden wira, merek hanyut dalam buaian rindu.


"Raden wira rindu ini sangat menyiksaku"


"Sama, nyi mas citrakala aku pun begitu"


"lantas mengapa kau tinggalkan aku"


"Ini sebuah keharusan, dan tidak bisa aku jelaskan di sini nyi mas"


"kau memuakan raden wira" 😠


Raden wira berusaha menenangkan emosi nyi mas citrakala, dan di bawa nya ke sebuah taman di belakang kerajaan Nirwana cakrabuana.


di sana mereka bebas untuk berdebat dan berbincang tanpa rasa malu dan canggung di lihat orang banyak.


"Lalu kapan kau mempersunting rade wira ucap nyi mas citrakala"


"Tidak sekarang nyi mas, tugas ku masih banyak bila kau sabar menunggu tunggulah aku, dan bila tidak sama sekali pun aku ikhlas melepasmu"


"Kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku kah"


"Bukan begitu"


"Dewasa dalam artian umur, bukan dalam artian pola pikir"


"Kita belum matang nyi mas"


"Kita harus, berpikir secara seksama, nikah itu bukan perkara mudah"


"Ya sudah bila aku ada yang melamar jangan salahkan aku"


"Iya tentu saja, jodoh itu sudah ada yang mengaturnya"


"sebagai manusia kita sekedar berencana dan wacana saja"


"Sang Esa tunggal, hyang Widi lah yang mengaturnya"


"Aku tak mengerti akan maumu"


"Sudahlah jangan berdebat, aku tak mau berdebat perihal asmara"


Lantas nyi mas citrakala di tinggalkan nya sendirian dalam ketidakpastian.


Kini raden wira menghampiri raden askara, yang sedang termenung sendirian di perataran istana.


"Rakak aku mau pamit kau baik-baik saja yah"


"kenapa kau tidak menginap di sini saja rayi"


"Aku tidak bisa rakak, tugas ku masih banyak"


"Aku titip nyi mas citrakala"


"Iya rayi tenang saja"


Kini raden askara meninggalkan istana Nirwana lagi, dengan hati yang sangat kacau.

__ADS_1


Di sana dia di tegur oleh sang panglima prajurit wasta kancana.


"Wahai raden wira ada apa kah gerangan raden"


"Tidak ada apa-apa wasta kancana"


"Aku titip ayahandaku dan ibunda ku, serta kedaulatan kerajaan ini"


"Tentu saja raden, itu sudah tugas ku mengabdi pada kerajaan ini"


"Dan satu lagi titip raden askara dan nyi mas citrakala"


"Dengan senang hati raden wira"


"Kau tak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja raden"


"Sampurasun"


"Rampes raden wira"


Aku pun, langsung menaiki kuda tunggang ku dan bergegas, melanjutkan perjalanan ke rumah ki sudrawirya.


Tugas ku belum selesai, aku korban batin dalam perihal belenggu asmara ini.


Aku tak mampu memberi kepastian pada sosok wanita yang aku cintai, karena berbagai hal yang menjadi bahan pertimbangan ku.


Dalam pecutan kuda itu, pikiran ku melayang tidak berada dalam konsentrasi penuh. seperti burung elang yang terbang melayang-layang tak tau arah dan tujuan nya. pergi berburu atau pergi mencari pasangan nya.


Itulah yang aku rasakan dilema cinta ini nyata aku rasakan.


Semoga saja nyi mas citrakala tidak, merasa di kecewakan oleh sikap ku.


Namun itu sekedar harapan bukan kenyataan.


Aku pulang dalam kebingbangan hati.


Itu tak bisa aku pungkiri.


Rasa itu terus berkecambuk dalam relung hatiku yang paling dalam.


Setelah melewati perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan tiba juga aku di rumah ki sudrawirya.


Mataku kosong dan langkahku seperti tidak berirama lagi.


"Sampurasun"


"Rampes"


"Eh sudah pulang raden wira"


"Ucap nyi mas laraswati"


Di sana aku bersandar pada tihang-tihang bambu kayu, penyangga rumah ki sudrawirya.


"Ada apa gerangan kang mas"


"kang mas sepertinya sedang banyak pikiran"


"Iya nyi mas, kang mas wira sedang banyak masalah"


"Ya sudah bercerita lah padaku"


"Mungkin bisa sedikit membuat hati kang mas lega"


Aku pun menumpahkan, segala masalah yang membelenggu dalam, dalam kehidupanku.


Dan dia cukup memahami dan dewasa dalam menyikapi nya.


Dia seorang, pendengar yang baik. tak ku kira kedewasaan nya mengalahkan ku. aku malu sebagai seorang Ksatria dan seorang raden putra mahkota, menjadi seperti kehilangan taring nya akan, biusan cinta. perihal asmara. sulit aku pahami dan aku mengerti. dengan keadaan ini.

__ADS_1


__ADS_2