
Tak terasa bergulirnya waktu, kini raden wira sanjaya sudah sebulan lama nya di tempa dan di latih serta di turunkan sebuah ilmu kanuragan tingkat tinggi oleh eyang hariang giri.
Kini saatnya dia melanjutkan perjalanan menuju gunung kidung pananjung, yaitu untuk berkunjung ke guru nya dan menemui kekasih nya. seperti peribahasa sekali mendayung satu dua tiga pulau terlampaui. niat hati ingin bersilaturahmi dengan sang guru mak lasmanah, raden wira sanjaya juga bisa bertemu dengan tambatan hati nya yang bernama nyi mas citrakala.
Pagi itu matahari sudah mulai terbit di upuk timur.
Raden wira sanjaya sudah mulai berkemas-kemas barang bawaan pribadinya. untuk melanjutkan perjalanan menuju daerah gunung kidung pananjung.
Hal ini atas ijin dari eyang hariang giri. yang sudah menurunkan semua ilmu kanuragan nya kepada raden wira sanjaya kusumah.
"Sekarang tiba saat nya kamu
melanjutkan perjalanan lagi"
"Ucap eyang hariang lingga"
"Iya eyang aku sudah tidak sabar
lagi untuk bertemu dengan nyi mas
citrakala"
"Dasar anak muda ucap eyang
hariang giri"
"Iya eyang aku sudah sangat rindu
padanya"
"Ucap eyang hariang giri"
"Ya sudah sekarang kau berangkat
saja ucap eyang hariang giri"
"Iya eyang aku pamit dulu" 🙏
"Mohon doa nya eyang"
"Tentu saja doa ku menyertaimu"
"Semoga kau selamat sampai
tujuan raden wira sanjaya"
"Terima kasih eyang hariang"
"Ucap raden wira sanjaya"
Kini raden wira, berjalan ke arah belakang rumah eyang hariang giri di sana dia akan mengambil kuda tunggang nya.
Dan bergegas untuk berpamitan lagi kepada eyang hariang giri.
"Sampurasun"
"Raden wira sanjaya memberikan
salam"
"Sampurasun"
"Jawab eyang hariang giri"
Kini raden wira, memecut kuda tunggang nya untuk berlari lebih cepat lagi, agar bisa memangkas waktu dalam perjalanan nya menuju gunung kidung pananjung.
__ADS_1
Tak terasa kini raden wira sanjaya. sudah keluar dari kadipaten haur koneng, daerah hutan batu aseupan tempat petilasan nya eyang aseupan. yang sangat di keramatkan, oleh warga pribumi sekitar dan luar daerah.
Hari pun sudah menjelang sore namun raden wira sanjaya masih berada di daerah kadipaten parakan saat. untuk sampai ke sana mungkin sekitar dua atau tiga kadipaten lagi. baru bisa sampai ke lereng gunung kidung pananjung.
Namun rupa nya raden wira sanjaya memilih untuk berkemah di sebuah hutan rimba yang berada di lereng gunung parimbunan yang jauh dari pemukiman penduduk. hal itu karena memilih jalur alternatif agar tidak melewati jalur kerajaan karena dampak nya bisa berbahaya. bila hati diri penyamaran nya di ketahui orang-orang sekitar.
kini dia mulai membuat api unggun.
untung saja dia menemukan sebuah batu bara yang ia dapat di lereng gunung parimbunan.
Perutnya sudah mulai keroncongan akibat perjalanan jauh nya.
secara kebetulan dia menemukan sebuah kelinci liar yang berkeliaran dalam rimbun nya rerumputan hutan. raden wira langsung mengeluarkan panah nya untuk mengincar hewan buruan nya di tengah-tengah hutan itu.
Sekali bidik saja kelinci liar itu bisa di bidik secara sempurna.
Dia langsung mengambil kelinci itu untuk di bakar sebagai santapan makan malam nya.
setelah selesai menyantap nya dia memutuskan untuk tidur dan beristirahat dengan alas tikar seadanya.
Namun hal tidak terduga datang dalam tidur nyenyak nya.
Sosok genderewo datang, menyambangi nya.
Dia merasa raden wira mengusik tempat istirahatnya itu.
Suaranya menggelegar dan tubuh nya menjulang tinggi.
wajah nya menyeramkan dan di tampak marah kepada raden wira sanjaya.
Genderewo itu menggulingkan badan raden wira dari batu besar itu.
hingga dia terguling-guling ke bawah semak-semak rerumputan.
Dia langsung terbangun dan melihat sosok genderewo usil itu.
"Genderewo itu memberi isyarat"
"Sampurasun"
"Ucap raden wira sanjaya"
Namun genderewo itu hanya menatap tajam dan mengusir raden wira sanjaya untuk pergi dari tempat wilayah kekuasaan ghaib nya genderewo itu.
Walaupun raden wira sudah meminta ijin dan meminta maap kepadanya.
agar dia di ijinkan untuk beristirahat di tempat itu.
Dengan sangat terpaksa dia menjadi bertarung mengadu ilmu dengan sosok genderewo itu. rupanya genderewo itu salah orang karena dia akan menghadapi masalah yang sangat serius bila berhadapan dengan sosok raden wira sanjaya.
"Apa boleh buat kau sudah tidak bisa di ajak kerjasama"
"Ucap raden wira sanjaya"
Akhirnya pertempuran itu terjadi dan dengan ajian qulhu geni nya, sosok genderewo itu berhasil di lenyapkan karena terus mencoba melawan dan ingin membunuh nya.
"Maafkan aku genderewo ini salah
mu juga"
"Ucap raden wira sanjaya"
Dan saat jasad nya menghilang secara ghoib, raden wira menemukan sebuah batu yang berwarna hijau, cahaya nya menyilaukan. dan semakin mendekati diri nya. seperti hewan cika-cika yang kelap kelip di tengah malam.
Dan nampak ada suara yang terdengar ke daun telinga nya raden wira sanjaya bahwa, genderewo itu sudah menjadi bawahan raden wira sanjaya dan siap membantu bila raden wira mengalami kesulitan dan butuh bala bantuan. usap lah batu hijau itu niscaya para pasukan genderewo hutan parimbunan akan datang membantu nya.
__ADS_1
"Terima kasih genderewo"
"Ucap raden wira sanjaya"
"Panggil saja aku darwala tuan"
"Aku sekarang takluk dan jadi
bawahan mu tuan"
"Aku akan mengabdi padamu"
"Ucap darwala sosok genderewo
itu"
"Kau tak perlu mengabdi dan
menyembah padaku"
"Ucap raden wira sanjaya kusumah"
"Yang patut di sembah semua
mahluk adalah sang Maha pencipta"
"Jawab raden wira sanjaya"
Namun darwala, sudah di taklukan nya secara ghoib dia tentu sudah menjadi bawahan nya raden wira sanjaya kusumah.
"Maapkan aku tuan ucap darwala"
"Sekarang pergilah aku mau
istirahat dulu"
"Ucap raden wira sanjaya kusumah"
Setelah darwala itu pergi, raden wira sanjaya, melanjutkan tidur nya lagi yang terganggu oleh sosok darwala genderewo itu.
Tak terasa tidur nya raden wira sampai nyenyak sekali dan pagi itu matahari sudah terbit dan menyinari wilayah hutan parimbunan itu.
Dia langsung, melanjutkan perjalanan lagi dan bergegas mencari mata air untuk membasuh muka nya.
Dalam perjalanan itu raden wira sanjaya, rupanya sudah menemukan sebuah mata air yang keluar dari sebuah lereng bukit.
Ini bukti kekuasaan sang Maha pencipta.
Di sana raden wira minum dan membasuh muka nya.
air nya sangat jernih sekali dan menyegarkan dahaga nya raden wira sanjaya.
Kini dia akan melanjutkan perjalanan nya menuju gunung kidung pananjung. sekitar dua sampai tiga kadipaten harus di lewati dan mungkin saja. bisa bermalam di perjalanan lagi kalau saja, raden wira sanjaya kehilangan banyak waktu percuma. ataupun banyak halangan dan rintangan di dalam perjalanan nya.
Maka dari itu dia segera memecut kuda tunggang nya. agar cepat sampai ke tempat tujuan nya.
Dia juga selalu memikirkan keadaan kerajaan nirwana dan padepokan cakrawala. karena takut para pemberontak dan penyusup itu datang mengganggu ketentraman wilayah kekuasaan ayahandanya. yaitu istana kerajaan nirwana cakrabuana.
Raden wira sanjaya. belum bisa mengambil keputusan, akan masa depan nya seperti apa.
Entah menyanggupi untuk naik tahta ataupun bergulat dengan kehidupan di luar istana tanpa sebuah mahkota raja.
Namun dia juga harus memikirkan tentang masa depan nya dalam sebuah pernikahan.
Karena semakin hari usia nya sudah semakin matang. dan cukup umur untuk berkeluarga.
__ADS_1
Tentu saja calon istrinya adalah Nyi mas citrakala. yang sudah berhubungan sejak lama. dia adalah cucu kesayangan nya mendiang eyang lingga buana.
Mantan Menteri penasihat kerajaan nirwana cakrabuana. sekaligus pendiri dari padepokan perguruan silat cakrawala yang berasal dari kadipaten waringin jati kulon.